Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Paling Serius


__ADS_3

Bab 58 Paling Serius


Mereka masih bertaut dalam cium*n panjang yang menuntut, tak ada yang ingin saling melepaskan seolah esok sudah tak ada waktu lagi. Sebuah pertautan fisik yang melarutkan hati, penuh perasaan dan rindu yang membuncah.


Tiada pertemuan yang paling indah selain bertemunya dua hati yang sempat terpisah karena amarah. Amarah telah membuat dua jiwa saling mencintai menjadi saling menjauh. Dan saat bertemunya, biarkan percikan-percikan  gair*h yang meggelora mengambil alih semua luka yang pernah tercipta, karena setiap sentuhan dari pertemuan itu adalah perwakilan dari semua rasa yang tak terucap.


Jika tidak memikirkan bayi di dalam kandungan Dea, mungkin Azka sudah menggila, ingin mengambil dan mengganti semua waktu yang telah dilewatinya tanpa Dea di sisinya. Barulah setelah ditinggal pergi, Azka mengerti betapa besarnya ia mencintai Dea dan betapa ia tidak ingin kehilangannya.


Mereka kini tengah berbaring, dengan Dea berada di dalam pelukan Azka.


Azka terus memainkan anak rambut Dea yang terlihat lebih panjang dari sebelumnya. Kecupsn-kecupan ringan juga tak ada hentinya ia lesatkan di kepala Dea yang wajahnya terus bersembunyi di d*da telanja*g Azka. Terdengar Dea menyusut kembali air matanya.


Azka sedikit panik mendorong sedikit tubuh Dea ke depan agar bisa melihat wajah kekasihnya itu.


"Apa abang melakukan kesalahan lagi?" Tanya Azka lembut.


Dea menggeleng. Ia menundukkan pandangannya yang entah mengapa tiba-tiba diserang rasa malu. Mungkin karena mengingat kelakuannya tadi yang begitu agresif menyerang suaminya dengan gair*hnya yang meletup-letup.


"Hei, tatap mata abang. Abang tidak ingin ada kesalahfahaman lagi diantara kita."


Kembali Dea menggeleng, kemudian masuk kembali ke dalam pelukan Azka, menyesap aroma cytrus yang begitu dirindukannya. "Aku hanya terharu, bahagia dan juga malu." Ucapnya.


"Kenapa malu?" Tanya Azka sambil mengusap air mata Dea.


"Yang tadi, abang pasti berfikir kalo aku memang perempuan murah--"


"Hussssss!" Sela Azka cepat kemudian menarik tubuh Dea sedikit ke atas agar wajah mereka sejajar. "Maaf jika pernah mengataimu seperti itu, abang salah, abang menyesal. Abang benar-benar tidak pernah bermaksud mengucapkan kata-kata itu sama kamu. Abang mengerti kok kalo gair*h seksu*l perempuan akan meningkat saat dalam kondisi hamil di trisemester pertama dan puncaknya trisemester ketiga nanti. Jadi kamu jangan malu, itu normal. Lagian abang suka kok melihat kamu seperti tadi, itu sek*i!" Ucap Azka mengedipkan satu matanya menggoda Dea.


Dea tersipu malu, wajahnya memerah.


"Kalau kamu mau lanjut ronde kedua, abang ikhlas kok. Ini ikhlas abang yang paling serius, sungguh!" Imbuhnya lagi membuat Dea semakin salah tingkah.


"Gak mau, bentar lagi maghrib, mandi!" Dea bangkit begitu saja kemudian memungut pakaian mereka yang tadi Azka buang sembarang.


Azka juga ikut bangkit mengekori Dea, "abang minta handuk, kita mandi bareng, biar cepat selesainya."

__ADS_1


"Modus!" cibir Dea dalam hati.


"Gak mau, nanti bukannya mandi tapi malah macam-macam. Capek!"


Dea masuk ke kamar mandi namun Azka memaksa ikut mandi bersamanya.


Azka mendekatkan tubuhnya saat mereka di bawah shower, memeluk Dea dari belakang, menyapu telinga Dea dengan bibirnya, kedua tangannya menjelajah bebas di depan sana membuat Dea lunglai hampir terjatuh jika Azka tak menahannya.


"Lagi ya sayang!" Ucap Azka dengan suara berat.


"Tapi ini di kamar mandi, bang!" Jawab Dea sedikit terbata-bata.


"Abang sudah baca doanya tadi diluar sebelum masuk kamar mandi kalo kamu ragu." Azka membujuk.


Dea sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak, apalagi ia pun sudah terbuai dan menikmati setiap perlakuan manis dan lembut yang Azka lakukan padanya.


Sekali lagi mereka melepaskan seluruh perasaan dan terbang tinggi menuju puncak-puncak kenikmatan dunia tanpa harus takut terjatuh dan terluka.


Azka tidak akan pernah menyesal menghabiskan masa lajangnya tanpa pernah mencoba menyentuh sesuatu yang tidak halal baginya karena melakukannya hanya dengan Dea membuat hatinya sangat terasa tenang. Tak ada beban dosa masa lalu yang menghalanginya meraup semua ketenangan yang Dea berikan.


Azka, Dea, kak Limpo dan uni Rika sekarang duduk berhadap-hadapan di meja makan unit kak Limpo. Mereka berdua seperti pesakitan yang bersiap menerima hukuman.


Setelah sholat Isya, Azka mengajak Dea ke unit kak Limpo, meskipun Azka sudah menyampaikan kebenarannya lewat ponsel Dea sore tadi, namun menghilang berdua terlalu lama juga rasanya tidak enak.


"MaasyaAllah.. Azka adalah suami Dea, Dea adalah istri Azka dan sekarang ketemu di sini. Drama kalian sudah ngalah-ngalahin sinetron. Gak lucu!" Ucap kak Limpo menatap tajam Azka.


"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya.” Ucap kak Limpo mengutip sebuah Hadits.


"Kami sudah anggap Dea seperti adik sendiri, jadi kalau kamu masih ada niatan untuk menyakitinya, sebaiknya kamu pulang sekarang dan ceraikan dia!" Sejenak kak Limpo terdiam menekan emosinya yang sudah naik sejak sedari pertama mendapat kabar dari Azka.


Ia masih bisa mengingat bagaimana Dea terlihat begitu kacau saat pertama kali bertemu ketika menjemputnya di Bandara. Dan setelah mendengar kisahnya, ingin rasanya kak Limpo mematahkan leher dan memotong lidah laki-laki yang sudah tega menyakiti istrinya hingga kabur dengan kondisi hamil muda.


"Tapi kalau kamu mau berjanji akan menjadi suami yang paling baik perilakunya kepada istrinya, memuliakannya, maka bawalah istrimu pulang bersamamu. Masalah Dea dan McDermott, biar menjadi urusan saya."


Azka tertunduk malu, sungguh ia merasa sangat malu, Dea terlalu baik baginya, seharusnya Dea tidak memaafkannya secepat ini, namun betapa mulianya istrinya itu, dengan mudahnya membuka tangan dan menyambutnya.

__ADS_1


Dea menggenggam tangan Azka memberi kekuatan. Azka melirik Dea dan menemukan Dea juga menatapnya penuh keyakinan.


"InsyaaAllah, saya akan berusaha selalu membahagiakan dan memuliakan Dea kak, saya berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik  dan memperlakukan Dea jauh lebih baik lagi." Ucap Azka tegas dan penuh keyakinan.


"Saya pegang kata-kata kamu, tapi jika suatu saat Dea terluka lagi, maka orang pertama yang akan mencarimu adalah saya." Tegas kak Limpo.


Begitulah lelaki Makassar yang memegang prinsip Siri' Na Pacce, yaitu orang-orang yang menjunjung tinggi rasa malu dan harga diri, mereka adalah orang-orang yang keras dan kokoh pendiriannya memegang prinsip kebenaran yang diyakininya.


Ini tentang solidaritas dan empati! Tentang memiliki sifat rasa malu, harga diri, dan kepedulian sosial yang tinggi.


"Iya, kak. Saya mengerti." Balas Azka meyakinkan.


"Uni titip Dea yah, bang Azka. Kalau Dea salah, nasehati, luruskan dengan lembut. Hati perempuan itu seperti cermin, mudah retak dan tersentuh. Bisa berdebu dan salah. Padanya, tersimpan sifat-sifat kebaikan atau bahkan keburukan seorang pria. Sikap seorang perempuan itu sangat ditentukan oleh sikap suaminya kepadanya. Jadi ketika ia melakukan kesalahan, jangan langsung dibawa kepada kemarahan, tapi tanyakanlah kepada dirimu terlebih dahulu, kamu salah dan kurang di bagian mana mendidiknya sehingga istrimu berlaku demikian?" Ucap uni Rika menambahkan.


"Dan buat Dea, sepantasnya kamu menjauhkan diri dari segala hal yang membuat suami membenci kepadamu, baik itu akhlak, penampilan, penggunaan harta suami dan lain sebagainya. Intinya jauhi semua sesuatu yang dibenci suamimu meskipun itu adalah hal yang remeh temeh." Imbuhnya lagi.


"Iya, uni. Terima kasih banyak, maaf sudah merepotkan uni dan kak Limpo selama di sini. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian." Ucap Dea tulus.


"Kamu ngomong apa sih, De? Kami adalah saudara kamu, sesama saudara wajar saling membantu." Ucap uni Rika lagi dan mempersilahkan mereka menikmati masakan nasi biryani yang sedari tadi tak tersentuh.


Mereka menghabiskan waktu beberapa jam untuk saling berbagi cerita sebelum Dea dan Azka kembali ke unitnya.


Di unit Dea...


"Jadi apa rencana kamu selanjutnya?" Tanya Azka saat mereka sudah berbaring sambil berpelukan dan bersiap hendak tidur.


"Kita bicarakan besok aja, aku udah ngantuk banget, bang."


"Baiklah, istirahatlah. Good night, mommy!"


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.

__ADS_1


Thanks, 😘


__ADS_2