Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Mood Swing


__ADS_3

Bab 68 Mood Swing


Beberapa bulan berlalu, usia kandungan Dea sekarang menginjak 6 bulan. Tak ada kendala berarti dalam masa kehamilannya, yang berbeda saat ini karena ***** makannya mulai meningkat dan tubuhnya pun mengalami kenaikan berat badan.


Terkadang Azka kewalahan menghadapi mood swing-nya Dea. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Dea keseringan membuatnya memijit kepala keras-keras. Seperti saat ini, saat mereka sedang bersantai di balkon kamar Azka menikmati udara pagi dan secangkir kopi hangat.


"Bang, aku gemuk gak?"


"Iya." Jawab Azka jujur.


Dea cemberut, "kalo aku gemuk, abang pasti malu punya istri bisa dijadikan pelampung seperti aku."


Azka menggeleng cepat. "Mau gemuk mau kurus yang penting abang tetap cinta."


"Bohong!" Dea memanyunkan bibirnya.


Azka melotot, berusaha menelan salivanya. "Abang gak bohong, sayang. Abang itu cintanya hanya sama kamu, bukan sama gemuk dan atau kurus." Tegas Azka.


"Kalau aku udah jadi nenek-nenek, abang pasti gak suka lagi sama aku." Dea masih dengan fikiran negatifnya.


"Sayang, kalau kamu sudah nenek-nenek, berarti abang juga udah kakek-kakek dong." Jawab Azka mengerlingkan mata kirinya.


"Iya.. kakek-kakek genit, apalagi kalau ada mahasiswi cantik-cantik yang magang di kantor." Dea masih bersungut manja.


"Ya udah, nanti kalau kamu udah jadi nenek-nenek, abang akan daftar kamu kuliah lagi."


"Buat apa?" Tanya Dea tidak mengerti.


"Yaa..supaya abang punya istri mahasiswa lagi." Ucap Azka tergelak tertawa keras. Dea ikut tertawa lalu mencubit perut rata dan keras milik suaminya itu.


"Abang bisa aja." Ucap Dea kemudian.

__ADS_1


"Abis kamunya sih, mikir kejauhan. Kalau kamu gemuk, ini memang karena lagi hamil, nanti kalo si dedek bayi lahir, saat kamu menyusui, mungkin berat badan kamu masih akan menukik tajam ke kanan, tapi buat abang gak masalah, yang penting kamu dan dedek bayi sehat dan bahagia. Dan saat kamu ingin kurus lagi, abang akan mendampingi kamu olahraga. Jadi kamu tenang aja. Oke!" Azka tersenyum dan mencubit mesra kedua pipi Dea yang memang mulai nampak seperti bakpao.


"Iisshhh.. sakit bang!" Protes Dea.


"Sorry, habis abang gemessss!"


Dea menyandarkan kepalanya di dada bidang Azka. Kebahagian melingkupi mereka, meski terkadang Dea merasa Azka menjengkelkan, tetapi tetap saja Azka adalah lelaki terbaiknya.


"Bang, aku boleh ikut yah ke Papua. Aku belum pernah ke sana, aku penasaran ke Raja Ampat, sekalian kita bulan madu gitu."


"Raja Ampat itu di Papua Barat, sayang. Sementara perusahaan kita ada di kota Jayapura, Papua. Beda provinsi!" Jelas Azka.


"Gak papa, pokoknya aku mau ikut abang, kata bang Aldo pemandangan kota Jayapura juga bagus, malah masih ada hutan di tengah kota." Ucap Dea ngotot.


"Tapi kamu lagi hamil besar gini, kamu yakin?" Tanya Azka khawatir.


"Yakin.. sangat-sangat yakin." Jawab Dea mantap.


"Iya, makanya.. aku juga mau sekalian lihat-lihat di sana. Punya rumah di sana mungkin bukan ide yang buruk, toh nantinya kita akan sering bolak-balik Jakarta-Jayapura karena pekerjaan." Ucap Dea menatap penuh arti ke mata Azka.


Azka balik menatap Dea penuh perhatian kemudian senyum terkembang di bibirnya.


"Good idea, padahal abang sempat kefikiran bagaimana nanti kalau harus sering-sering tinggalkan kalian." Azka mempererat pelukannya.


"Aku gak masalah hidup nomaden, yang penting kita selalu bersama. Aku ingin seperti almarhum mama dan papa, kemana-mana selalu berdua, tak terpisahkan, tak pernah ada rasa bosan, tak ada rasa jenuh, mereka saling membutuhkan, terus menumbuhkan perasaan sayang diantara mereka. Aku gak mau lagi hidup jauh-jauh dari abang, sudah cukup yang kemarin, itu sangat menyiksa, bernafas aja rasanya susah, ak--"


"Hussss...Jangan dilanjutin lagi, abang juga gak mau jauh-jauh dari kamu dan anak-anak kita nantinya."


Mereka kembali saling mengeratkan pelukan, mencari dan saling meraup ketenangan dari tubuh masing-masing.


*****

__ADS_1


Bandara Sentani, Jayapura...


Masih dari atas langit Papua, keindahan pertama yang menyambut mereka adalah Danau Sentani yang membentang luas memanjakan mata dari balik jendela pesawat. Rasanya sangat cukup mengobati rasa lelah setelah menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam dari Jakarta. Sebuah pemandangan yang amat sangat sayang untuk dilewatkan karena ini hanya bisa dinikmati selama beberapa menit saja, mungkin hanya sekitar 10 menit lebih.


Hamparan air dan rerumputan hijau di sekeliling Danau Sentani semakin menegaskan keindahannya yang tampak seperti sebuah lukisan alam yang memesona. Papua benar-benar indah. Di atas pesawat kita juga bisa melihat ada beberapa pulau yang berada di tengah-tengah Danau Sentani yang sibuk dengan aktifitas pelayarannya. Tidak lama setelah melihat pemandangan indah itu, yang membuat seolah badan pesawat akan mendarat di atas air danau, tepat pukul 5 sore pesawat pun akhirnya mendarat di Bandara Sentani, Jayapura.


Dea dan Azka langsung menuju Hotel tempat dimana mereka akan menginap selama berada di kota Jayapura. Kembali perjalanan terasa memanjakan mata karena beberapa menit perjalanan menyusuri bibir Danau Sentani.


Dea fikir Papua masih di dominasi hutan-hutan, namun ternyata sudah banyak dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi. Belum lagi pemandangan kota yang luar biasa indah dengan kondisi topografi yang bervariasi. Mulai dari dataran hingga landai dan berbukit-bukit. Rumah-rumah bersusun mengikuti kontur perbukitan yang dari katinggian itu kembali disuguhi pemandangan laut yang membentang indah dengan segala pesonanya.


Tak terasa, perjalanan dengan mobil selama 45 menit dilewati begitu saja. Dea terlalu takjub dengan semua pemandangan yang didapatkannya. Satu hal yang mengganggu, jalanan-jalanan utamanya minim drainase, bahkan ada yang tudak punya drainase, entah bagaimana mengalirkan air saat hujan deras.


Mereka menginap di Hotel Swiss Bel, kota Jayapura. Bukannya langsung meluruskan badan saat memasuki kamarnya, Dea langsung menuju ke balkon kamar dan kembali ia disuguhi pemandangan indah kota Jayapura. Balkon kamar menghadap pantai, tidak jauh dari sana terlihat kerlap kerlip lampu memenuhi kota yang mulai menyambut datangnya malam. Dari sini juga Dea bisa melihat aktifitas pelabuhan kota Jayapura, kapal-kapal bersandar dan sebagiannya lagi sedang melepas sauh menunggu giliran untuk melakukan bongkar muat.


Azka datang melingkarinya dari belakang.


"Sholat yuk, istirahat dulu." Ajaknya menuntun Dea kembali ke kamar.


"Pemandangannya indah banget." Ucap Dea masih belum bisa melepaskan keterpesonaannya dengan sajian penyejuk mata yang didapatinya sejak menghirup udara Papua.


"Ini belum seberapa, letak kantor kita tak kalah menariknya. Abang yakin kamu bakal betah di sini."


Azka melepas Dea yang meninggalkannya masuk ke kamar mandi. Ia begitu bahagia melihat senyum Dea yang tidak pernah padam seharian ini. Sungguh, sejatinya itulah pemandangan yang paling indah buat Azka.


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.


Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.

__ADS_1


Thanks, 😘


__ADS_2