Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Tanda-tanda


__ADS_3

Bab 42 Tanda-tanda


"Loh.. Ca, kapan tiba?"


Dea masuk ke rumah dan mendapati adik iparnya itu sedang duduk menonton TV di ruang keluarga.


"Baru tadi pagi kak, ada urusan di kampus, besok balik lagi." Jawab Caca menghampirinya kemudian memeluknya. "Bang Azka mana, kak?"


"Bang Azka masih di kantor, pekerjaannya masih banyak, jadi aku pulang diantar sopir. Kakak ke atas dulu yah."


Caca mengangguk kemudian melanjutkan acara nontonnya.


Dea melangkah naik ke tangga menuju kamarnya. Entah kenapa dia merasa lemas beberapa hari terakhir ini.


Sebenarnya Dea ingin menghabiskan waktunya di kamar, namun karena ada Caca yang pulang ke rumah, membuatnya membatalkan rencananya.


Caca sendiri sedang mengikuti program pertukaran pelajar selama setahun di Kuala Lumpur, Malaysia. Sehari setelah resepsi pernikahan mereka, Caca langsung berangkat ke Kuala Lumpur.


Bunda Aya dan Ayah Arga sampai sekarang masih bertahan di Korea karena oma Andini sedang sakit. Dea dan Azka belum bisa mengunjungi Oma Andini dikarenakan urusan kantor yang sangat menyita waktu.


Dea senang, setidaknya malam ini ada Caca yang menemaninya di rumah. Karena bisa dipastikan Azka akan pulang larut malam ini.


Tok tok tok!


Dea mengetuk pintu kamar Caca setelah dirinya selesai sholat maghrib.


Caca kemudian muncul dengan masih memakai mukenahnya.


"Iya kak."


"Ayo makan sama-sama, mbak Sari udah siapin makanan kesukaan kamu." Ucap Dea berbinar karena makanan kesukaan Caca adalah makanan kesukaannya juga.


"Siap kakak Ipar, aku rapikan alat sholat dulu."


"Okay, kakak tunggu di bawah."

__ADS_1


"Gimana kak, udah ada tanda-tanda belum?" Tanya Caca saat mereka sedang makan.


"Tanda-tanda?" Dea mengernyitkan keningnya. "Maksudnya tanda apa, Ca?" Tanya Dea tidak mengerti.


"Itu loh kak, calon keponakan Caca. Udah ada tanda-tanda belum?" Ucap Caca memperjelas.


"Ooooo..." Dea hanya membulatkan mulutnya tanda mengerti maksud Caca. Ia hanya menggeleng kemudian lanjut mengunyah makanannya.


Tunggu dulu! Dea menghentikan kunyahannya, ia sedang berfikir, berusaha mengingat-ingat sesuatu.


"Ini udah hampir 2 bulan aku belum haid," mata Dea membola. "Atau jangan-jangan???" Dea menggelengkan kepalanya kemudian kembali melanjutkan makannya.


"Padahal Caca udah gak sabar pengen punya ponakan."


Dea tersenyum, "nikah sono, biar punya bayi sendiri, lebih afdhol!" Dea meledek.


"Belum ada ibu-ibu yang khilaf melamar aku buat anak gantengnya, kak."


Mereka berdua terkekeh.


"Nah, itu dia kak. Emak dan anaknya sama-sama gak mau khilaf, padahal aku udah buka pintu hati 25 jam sehari, sengaja dilebihin sejam kali aja kena macet atau nyangkut di pohon gitu."


lagi-lagi mereka berdua tertawa mendengar jawaban absurd Caca.


"Kamu ini Ca, emang monyet pake nyangkut di pohon segala?" Dea menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Oh ya Kak, besok kakak bisa gak anterin aku ke Bandara, tapi kita muter-muter dulu di mall?" Tanya Caca antusias.


Melihat wajah berbinar Caca, Dea rasanya tidak tega menolak, lagian pekerjaannya untuk besok bisa ia delegasikan ke planner lain.


"Mmmm... bisa, bisa kok!" jawab Dea. "memangnya di mall mau ngapain?"


"Gak ngapa-ngapain sih kak, Caca hanya pengen jalan aja berdua sama kakak, lagian udah lama banget kita gak nge-mall. Kangen sama pempek Pak Jenggot yang di pojokan foodcourt di mall A."


"Ya, udah.. nanti aku izin dulu sama bang Azka. Yang penting sebelum bang Azka ke kantor, kamu pamit dulu sama dia."

__ADS_1


"Iya, siap kakak ipar. Lagian bang Azka kok lama banget di kantor?" Keluah Caca mengerucutkan bibirnya.


"Kerjaannya banyak, Ca. Ini aja oma Sakit tapi bang Azka belum bisa ke sana jenguk karena memang pekerjaan di sini belum bisa ditinggal." Dea berusaha memahamkan kondisi kesibukan mereka di kantor saat ini.


*****


Azka saat ini sedang melakukan meeting online dengan perwakilan PT. KURAWA STEEL, salah satu perusahaan baja terbesar di Indonesia untuk melakukan kerja sama dimana Azka ingin menjadikan perusahaan tersebut menjadi mitra mereka dalam pengadaan baja yang digunakan dalam proses produksi kapal.


Selama ini, baja yang BM Shipyard gunakan semuanya import, selain karena harga lebih murah, jalur kerjasamanya juga mulus tanpa ada intrik dan tendensi dari pihak-pihak tertentu.


Azka ingin menerobos sistem bobrok yang sudah mendarah daging di semua perusahaan milik negara tersebut. Terlalu banyak oknum-oknum pengemis dan pencuri berdasi yang memimpin di sana. Bagaimana perusahaan negara akan bertahan dan berdiri kokoh jika keberadannya hanya untuk dijadikan sebagai sapi perah bagi mereka?


Di saat keuangan perusahaan ini sedang berdarah-darah, para petinggi perusahaan ini justru tetap bisa hidup bergelimang harta. Mereka santai saja, toh negara tidak akan tinggal diam, negara pasti akan menyuntikkan dana segar ke perusahaan jika ada masalah keuangan di sana. Jadi mereka santai kayak di pantai, mau perusahaan bangkrut mau tidak, bukan urusan mereka, urusan mereka hanyalah bagaimana menambah pundi-pundi gunungan hartanya.


Pemisalan orang seperti itu, yang terus mengejar dunia, mereka laksana orang yang meminum air laut, semakin bertambah minumnya maka akan bertambah pula rasa hausnya hingga akhirnya membunuhnya.


Manusia serakah!!!


Mereka adalah orang-orang yang tak pernah merasa kenyang. Bahkan setelah ia tak bisa berhenti melahap bumi, ia masih takut esoknya akan mati kelaparan.


Bila ditanyakan kepada mereka, apakah mereka tidak pernah merasa cukup? Apakah laparnya tidak pernah terpuaskan? Apakah hausnya tidak pernah terpadamkan?


Maka mereka akan merjawab, "Ya, aku telah terpuaskan. Aku juga letih makan dan minum, tapi aku takut bila esok tak ada lagi bumi yang dapat kumakan dan lautan yang dapat kuminum."


Luar biasa bukan???


Manusia-manusia tanpa rasa malu dan harga diri. Merasa terhormat padahal sejatinya mereka adalah manusia paling hina di dunia ini.


Azka menghela nafasnya kasar. Pantas saja ayahnya tidak pernah bekerjasama dengan perusahaan tersebut, padahal ayahnya adalah salah satu orang yang mengutamakan menggunakan produk lokal dibanding produk asing. Ribet, terlalu banyak meminta fee, padahal Azka tau berapa margin biaya produksinya.


Ia menghentikan meeting-nya karena sudah lumayan larut dan segera bersiap-siap pulang ke rumah.


Ia tidak ingin Dea menunggunya terlalu lama, selain itu ia juga merasa sudah terlalu rindu pada istri kesayangannya itu, meskipun baru beberapa jam yang lalu Dea masih ada di kantor, tapi saat ini Azka sudah merasa tersiksa karena tidak melihat wajah Dea.


Azka juga sedikit khawatir dengan kondisi Dea yang beberapa hari ini terlihat lemas. Ia ingin memastikan Dea selalu baik-baik saja bersamanya. Sudah beberapa kali Azka mengajaknya ke Rumah Sakit, namun Dea terus menolak. Alasannya kelelahan. Dan itu masuk akal, mengingat pekerjaan di kantor yang luar biasa padatnya dan juga ditambah lagi dengan aktivitas panas mereka yang yang menguras tenaga.

__ADS_1


×××××


__ADS_2