
Bab 12 Meeting
Azka
Gue sedang melakukan panggilan saat tiba-tiba ada benda yang menghantam keras mobil sport gue dari belakang. Gue kaget, kaget banget. Bibir gue sempat mencium gagang setir, untung seatbelt-nya belum gue lepas.
Emosi gue memuncak, ini hari pertama gue ngantor di sini dan disambut dengan cara seperti ini. Gue menoleh ke belakang, benar saja sebuah mobil berwarna merah sudah menempel rapat dengan mobil gue. Sebenarnya gue gak pusing dengan biaya kerusakannya nanti, ada asuransinya juga, gue hanya benci sama orang yang menghancurkan suasana hati gue sepagi ini.
Gue keluar mobil dan melihat seorang perempuan berjilbab berwarna navy sedang menyandarkan kepalanya di mobil sambil meremas-remas kepalanya dan menggerutu tidak jelas.
"Jadi ini mobil kamu?" Tanyaku mencoba menahan emosi yang sudah menumpuk di ubun-ubun.
Perempuan itu menegakkan tubuhnya, "Maaf pak!" Jawabnya menunduk.
Suara itu? Gue merasa pernah mendengarnya. Gue semakin penasaran.
"Dimana sopan santun anda? Mengapa tidak menatap lawan bicaranya saat berbicara?" Gue sengaja membentaknya agar dia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah gue.
"Sekali lagi saya minta maaf pak, saya benar-benar tidak sengaja. Saya buru-buru jadi lupa tarik rem tangan! Saya akan tanggung jawab, bapak tenang saja. Ini kartu nama saya, saya benar-benar sangat buru-buru saat ini. Sekali lagi maaf. Saya harus pergi sekarang."
Demi memandang wajahnya, waktu terasa bergerak seperti gambar slow motion.
Mata itu! Mata secerah burung merak.
Bibir itu! Bibir semerah buah persik.
Bukankah dia perempuan yang hampir 7 tahun ini hilang dalam hidup gue?
Iya, gue kenal dia. Gadis parasit gue! Abang boleh peluk gak dek???
Gue sudah tidak ingat apa yang dia ucapkan dengan mimik wajah panik tadi. Gue sampai tidak sadar kalau ternyata dia sudah menghilang dari pandangan gue. Nampak sebuah kartu nama di atas bagian belakang mobil gue;
Aulia Deandra Azkiya, Head of Planning Dept. BM Shipyard.
Oh.. Apakah ini yang dikatakan sengsara membawa nikmat?
Gue tersenyum licik, akhirnya ketemu juga, meskipun kesan pertemuannya buruk, tapi tidak mengapa, justru kejadian ini akan gue manfaatkan sebaik-baiknya untuk mengerjai Dea.
Salah sendiri tidak mengenali gue langsung, padahal sama Aufar langsung bilang kangen. Ciiih... Gue gak terima! Gue bakal membuat perhitungan yang sempurna.
__ADS_1
Gue langsung menuju ke ruangan gue lewat jalur rahasia. Gue yang mendesain gedung ini bersama Ayah, jadi gue hafal betul general arrangement gedung kantor perusahaan ini. Tiba di sana Aldo sudah menunggu gue dengan setelan yang luar biasa gagah, jas mahal membungkus tubuhnya, sepatu pantofel mengkilap, jam tangan mewah melingkar sempurna di tangannya, dan sisiran rambutnya yang klimis, kena angin p*ting beliung sekalipun gak akan merusak tata letak setiap lembaran rambutnya itu.
"Weitss... ganteng banget, bro! Kasihan sama ciwi-ciwi di kantor, nanti kepleset semua liat rambut lo!" Sapa gue yang membuat senyum Aldo sirna seketika.
"Ah, lo aja yang gak ngikutin trend fashion esmud-esmud zaman now, posisi GM, kostum kayak bapak-bapak penjual sate dekat rumah gue." Balas Aldo tak kalah sengitnya.
"Yang penting ketebalan dompetnya beda, bro." Gue segera mengeluarkan dompet dari saku celana jeans gue lalu duduk di kursi kebesaran gue.
"Udah siap meeting-nya"
"Udah, tinggal tunggu lo doang, pak GM!"
"Oke, ayo kita segera ke sana."
Kami berdua berjalan beriringan melewati lorong-lorong kantor menuju meeting room yang paling besar di lantai paling bawah. Sengaja tidak menggunakan Lift agar wajah gue dilihat oleh setiap karyawan yang bekerja di perusahaan ini. Jumlah karyawan tetap sendiri sekitar 750 orang, namun kami mempekerjakan ribuan tenaga kontrak berdasarkan kebutuhan proyek yang sedang berjalan.
Nampak ayah sudah ikut menunggu di kursi kebesarannya, ada deputi manager, para head of department dan para project manager sudah berkumpul di meeting room. Betul kata Aldo, gue doang yang ditunggu. Gue menarik kursi yang kosong menyusul Aldo di samping gue. Gue mengamati segala isi ruang dan akhirnya mata gue berhenti pada sosok yang sama dengan yang tadi pagi gue temui di parkiran. Pandangan gue sudah tidak kemana-mana lagi, cukup di dia saja. Lagian hanya dia satu-satunya perempuan yang ada di ruangan ini. Hingga beberapa detik kemudian pandangan kami bertemu, gue menguncinya, dia tidak bisa menghindar lagi dari menatap gue. Namun sialnya si Aldo menyadarkan gue dengan memberi kode menendang kaki gue di bawah meja agar segera memberi sambutan.
Gue benar-benar makin terpesona melihatnya, presentasi yang dipaparkannya begitu memukau. Apa dia pernah bekerja atau sekolah di Jepang? Mengapa metodology perencanaannya berkiblat ke Jepang? Padahal gue berniat memberinya sedikit pelajaran di ruangan ini tetapi malah gue yang diberi pelajaran sama dia. Pantas saja ayah sangat membanggakannya.
Tapi tunggu saja, banyak jalan menuju Roma, banyak cara membuat Dea jadi milik gue!
Saat Dea hendak keluar, tiba-tiba ayah menahannya dan memanggilnya mendekat ke kami.
"Dea, sini dulu sebentar!"
"Iya pak, ada apa?" Jawabnya terlihat santai bersama ayah.
"Gak usah formal gitu, gak ada orang lain juga."
"Iya om, kenapa?" Ucapnya lembut namun nampak ada raut tidak nyaman di wajahnya.
"Azka, kamu masih ingat Dea kan, anak almarhum om Yudha?" Tanya ayah padaku.
"Iya, yah."
"Hai Dea! Apa kabar?" Tanyaku mencoba bersikap ramah padanya dan menjulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Alhamdulillah, ba..baik bang!" Jawabnya gugup lalu menangkupkan dua tangannya di dadanya.
__ADS_1
Fixed! Dia jijik sama gue!
"Oke, ayah harus kembali ke kantor pusat. Kalian baik-baik di sini. Ayah harap kalian berdua bisa bersinergi sehingga perusahaan ini semakin berkembang pesat. Dea, om pamit yah!" Ucap ayah mengelus lembut kepala Dea kemudian keluar meninggalkan kami.
Sejenak kami sama-sama diam tidak tau harus berbicara apa.
"Ekkhhmmm.. kalau begitu saya permisi pak!"
"Tunggu dulu, urusan kita belum selesai." Dea membatalkan niatnya keluar dari ruangan kumudian berbalik ke arah gue?"
"Maksud bapak?" Tanyanya bodoh.
"Apa kamu sudah amnesia? Sudah lupa kejadian beberapa jam lalu di parkiran?" Tanyaku dengan suara tegas.
"Bapak tenang saja, bukankah sudah saya bilang kalau saya akan tanggung jawab?"
"Buktinya mana? Apa jaminannya?" Ia mulai nampak frustasi dan tidak sabaran. Gue tersenyum licik di dalam hati.
"Saya tidak punya apa-apa sekarang, tapi nanti akan saya transfer. Bapak catat saja nomor rekening bapak di ponsel saya." Jawabnya sambil memberikan ponselnya.
"Ahhha.."
"Oke, saya sita ponsel kamu jadi jaminannya." Ponselnya sekarang berpindah ke tangan gue. Sudah terlalu banyak ide cemerlang yang bermunculan satu-satu di dalam otak cerdas gue mau melakukan apa saja dengan ponselnya nanti.
"Gak bisa gitu dong pak, ponsel ini privasi saya!" Protesnya keras.
"Terserah, gue gak peduli. Kalau kamu tidak mau maka sekarang juga saya akan laporkan kamu ke polisi." Ancamku tidak main-main.
"What? Whatever!" Dea langsung pergi meninggalkan gue dengan wajah memerah menahan kemarahan.
Namun sungguh, itu terlihat sangat manis, sangat manis!!! Meleleh hati abang dek!
Gue menyimpan ponsel Dea ke dalam saku celana lalu kembali ke ruang kerjaku. Hari ini adalah hari pertamaku memimpin di sini, semoga gue bisa memenuhi harapan semua orang yang memberiku kepercayaan.
Hari-hari mendatang akan penuh ujian dan tantangan, tidak mudah memimpin 750 kepala yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Tapi bukan berarti tidak bisa, apalagi jika semuanya mau berpartisipasi dan memberikan yang terbaik untuk kemajuan perusahaan ini.
Mudah-mudahan usia gue yang masih terbilang muda tidak membuat karyawan senior di sini memandang rendah dan menganggap gue tidak kompeten. Biar waktu dan kerja keras yang membuktikan!!!
×××××
__ADS_1