Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Memalukan


__ADS_3

Bab 13 Memalukan


Sudah seminggu lebih berlalu semenjak pertemuan dengan bang Azka yang menjadi GM di BM Shipyard. Tersiar kabar kalau beberapa kali pacarnya, Chyntia datang mengunjunginya saat makan siang. Tak ada hal lain yang menjadi topik perbincangan selain tetang bang Azka, mba Chyntia dan bang Aldo di dalam group chat tersebut. Ingin rasanya left group, tapi takutnya ada yang bilang 'baper', karena pernah sekali terdengar di telingaku selentingan kabar bahwa aku dulu pernah mengejar-ngejar bang Azka namun ditolak mentah-mentah. Makanya meskipun kami adalah teman masa kecil akan tetapi hubungan kami nampak sangat kaku karena alasan tersebut.


Karena itu juga aku tidak pernah datang menemui bang Azka untuk mengambil ponselku. Toh jika ada urusan penting, semuanya pasti urusan kantor, tidak ada yang lain, jika butuh tinggal datang ke ruanganku atau tinggal menghubungi telpon ekstensi kantor. Badai dan Rara sudah aku beri tahu, jadi tidak ada masalah, dan lagi, aku masih ada ponsel cadangan.


Aku mengabaikan gossip-gossip tersebut, saat senggang, seperti biasa aku akan menghabiskan waktu dengan teman-teman di departemenku atau bareng Badai dan Rara beserta teman sedepartemen mereka, terutama yang seumuran dengan kami. Geng kami yang paling ribut saat di kantin kantor tapi jadi silent reader di group chat karyawan.


"Ssstttt... ssstttt... pak GM dengan pacarnya menuju ke sini." Ucap Deon teman Badai di Electrical Dept. setengah berbisik. Kebetulan posisi dia yang menghadap ke arah pintu kantin.


"Ganteng dan cantik, seksi! Perfect!" Sambung Sarah teman Rara. Aku dan Rara hanya diam, posisi kami membelakangi pintu kantin, tidak mungkin kami menoleh ke belakang. Ketahuan banget kalau lagi penasaran.


Suasana yang tadinya begitu riuh mendadak hening, banyak yang menyapa dengan membungkukkan sedikit tubuhnya saat bang Azka melewati mereka. Giliran kami yang dilewati, sontak Sarah, Deon dan Badai berdiri dari tempat duduknya memberi hormat pada bang Azka. Bang Azka hanya membalas dengan anggukan dan semua kembali ke tempat duduknya. Sementara aku? Aku pura-pura asyik makan dan tidak melihatnya. Lamas benget!


"Kalian yah, bos lewat gak disapa." Protes Sarah padaku dan Rara.


"Anggap aja kami tadi tidak tau." Jawabku nyengir dan dibalas tawa terkikik Badai dan Deon. Biasanya mereka suka tertawa keras, tapi kali ini mereka berhasil menahannya. Mungkin efek pak GM yang dingin dan sombong serta menjengkelkan itu.


Jujur, selera makanku tiba-tiba menguap begitu melihat mereka di kantin.


"Gimana Bad, pak GMnya? Dengar-dengar beliau rolling satu-satu depertemen setiap harinya seminggu ini. Udah ada korban belum?" Tanya Rara, karena tinggal departemen Rara dan punyaku yang belum kebagian kunjungan bang Azka.


"So far, aman sih. Beliau gak ada ngomong apa-apa sama kami. Tapi memang beliau cek semuanya, dokumen-dokumen dicariin, di lapangan juga dicek satu-satu. Malamnya si kepala departemen diajak ngopi di ruangannya. Gitu aja sih, setauku." Ucap Badai panjang lebar yang diangguki oleh Deon.


"Wah, siap-siap aja mba Dea diajak ngopi-ngopi romantis berdua sama pak GM dua atau tiga hari lagi ke depan." Celetuk Sarah yang membuat selera makanku semakin hancur.


"Apa nanti aku alasan sakit aja kali yah?" Tanyaku bodoh.


Sontak tawa mereka berempat meledak. Namun seperti menyadari sesuatu, tawa mereka bagai tertelan kembali secara bulat-bulat. Melihat ekspresi mereka, giliran aku yang tertawa sambil memukul-mukul ringan meja di hadapanku.

__ADS_1


"Muka kalian lucu banget!" Ucapku mengusap mataku karena saking lucunya tanpa sadar air mataku juga ikut menetes. Namun tak ada balasan dari mereka.


Badai, Deon dan Sarah memandangku memberi kode dengan gerak tubuh, bibir dan mata, tapi aku tidak mengerti maksud mereka, giliran Rara yang menginjak kakiku lumayan keras.


"Awww... apaan sih Ra? Sa-kit ta-?" Suaraku seperti tertelan di ujung, ternyata ada bang Azka di samping Rara sambil menatapku tajam.


"Apa ada yang lucu, nona?" Tanyanya sarkastik.


Aku spontan berdiri sampai membuat kursi yang tadi kududuki hampir terjungkang.


"Bang.. pak Azka. Ma..maaf pak, gak..gak ada yang lucu kok!" Jawabku gelagapan..


"Kalau tidak ada yang lucu, kenapa anda tertawa seperti tadi? Atau jangan-jangan anda sudah tidak waras?" Ucapnya meremehkan.


"Dasar! Ingin rasanya kuulek-ulek bibir jahatnya itu trus dijadikan umpan sama bapak-bapak worker yang suka nyambi mancing di pinggir dermaga kalau lagi senggang." Umpatku dalam hati.


"Jangan mengumpatku di dalam hati nona, saya tidak suka!"


"Kenapa diam?"


"Azka, sudah ih!" Tegur mba Chyntia tiba-tiba datang menghampiri kami bersama bang Aldo.


"Hei..Dea kan? Dea yang dulu sering uber-uber Azka di sekolah?" Tanya mba Chyntia dengan suara cukup keras saking semangatnya melihatku.


"Oh No!!! Habis aku! Apa aku boleh menghilang sekarang?" Ini sangat memalukan, semua mata karyawan yang ada di kantin sekarang tertuju padaku.


Wajahku sudah memerah menahan rasa malu, mataku memanas, sebentar lagi akan ada hujan air mata turun di pipiku.


"Lo ngomong apaan sih Chyn? Kasihan Dea tau. Elo juga!" Entah kenapa Bang Aldo marah kepada mereka berdua, lalu menarik tanganku keluar dari kantin. Namun aku refleks menghempas tangan bang Aldo.

__ADS_1


"Terima kasih!" Ucapku lalu berlalu pergi dari hadapan mereka.


Kali ini, aku benar-benar kecewa sama bang Azka. Tega banget dia membiarkan mba Chyntia mempermalukan aku di depan banyak orang. Apa salahku padanya?


Aku mengurung diri di dalam toilet khusus ruang kerjaku. Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan dari ke-empat teman kurang ajarku itu. Aku benar-benar kesal sama mereka saat ini. Bisa-bisanya mereka meninggalkanku di kantin sendiri seperti itu.


"Aku pengen sendiri, kalian tolong tinggalin aku." Usirku dari balik pintu.


"De, kamu gak papa kan?" Tanya Badai khawatir.


"Kami minta maaf, Dea. Please!" Ucap Rara.


"Please, tinggalin gue sendiri!"


Akhirnya tak ada lagi suara-suara ketukan dan bujukan dari mereka dari luar. Aku membasuh wajahku berkali-kali, sekalian mengambil wudhu untuk sholat dzuhur. Dalam kondisi seperti ini, mau kemana lagi aku mengadu selain kepada pemilik dunia dan seisinya ini?


Aku memilih sholat di ruanganku sendiri, malas ke musholla, pasti kejadian tadi akan menjadi trending topik selama berhari-hari di kantor. Tapi sudahlah, mau diapa lagi, lebih baik aku menerima keadaan dan tidak membenci mereka, tidak membenci kehidupanku yang rasanya selalu penuh dengan ujian.


Waktu terus berlalu, aku melirik jam di ponselku, waktu sudah menunjukan jam 10 malam, seharusnya jam 9 tadi semua karyawan kecuali OB di gedung ini sudah pulang. Aku bersiap-siap lalu keluar menuju ke parkiran.


Tidak sengaja aku berpapasan dengan bang Azka saat keluar dari gedung kantor. Aku berjalan cepat dan tidak peduli dengannya. Kalau memang dia sudah tidak menganggapku lagi sebagai teman masa kecilnya atau anak sahabat orang tuanya, oke, aku pun bisa seperti itu. Memang sebaiknya kami berlaku sebagaimana mestinya, atasan dan bawahan, tidak lebih.


Aku tau dia terus mengikuti langkahku di belakang, jarak pintu lobby ke tempatku memarkirkan mobil sekitar 100 meter, cukup jauh rasanya dalam suasana sepi seperti ini.


Saat hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba dia sudah lebih duluan berdiri di hadapan pintu mobilku menahan diriku tidak membuka pintu mobil.


Aku memutar bola mataku jengah, aku muak melihat wajahnya. Aku mendiamkannya dan memandang ke arah lain menunggu dia pindah dari hadapanku.


Aku menghitung sampai 10 dalam hati ketika akhirnya dia menggeser tubuhnya. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan, aku langsung masuk mobil kemudian menancap gas meninggalkannya.

__ADS_1


Mengapa dia sangat menjengkelkan? Baru sekarang aku memyesalinya pernah menjadikannya sebagai idola. Sungguh perbuatan yang sia-sia!!!


×××××


__ADS_2