
Bab 73 Seng Ada Lawan
Azka
Gue terbangun karena merasa sangat haus dan lapar, gue lihat jam di ponsel, masih jam 3 dini hari. Gue melangkah keluar kamar mencari sesuatu di kulkas yang bisa mengganjal perut. Ternyata masih ada sop tulang yang disiapkan bunda tadi malam lalu gue panaskan di microwave. Semalam kami melewatkan makan malam begitu saja, mungkin karena terlalu lelah hingga akhirnya tertidur.
Setelah makan, gue kembali ke kamar ingin melanjutkan tidur. Setelah beberapa menit mencoba masuk ke alam tidur, rasa kantuk gue malah menguap begitu saja. Gue menoleh memandangi wajah Dea yang tidur pulas dalam damai.
"Malang sekali nasibmu mendapatkan laki-laki seperti gue, laki yang sering berkata kasar, sementara papamu tidak pernah melakukan itu. Gue ingat lo sangat manja sama om Yudha, namun sekarang lo rela membaktikan hidup lo untuk gue, lelaki asing yang tidak punya prestasi apa-apa di dalam hidup lo. Lo bisa saja memilih menikmati hidup lo tanpa harus meminta izin kepada siapapun, tanpa ada yang mengatur-atur hidup lo, tanpa ada yang mengikat lo, tapi sekarang lo rela mengorbankan masa muda lo demi membahagiakan orang tua gue, dan juga gue." Gue mendesah panjang dalam gumaman yang menyesakkan dada.
Dari sini gue berfikir dan bertanya sendiri, "Kenapa sampai gampang bagi sebagian laki-laki untuk memukul istrinya dengan penuh kekerasan, setelah ia meninggalkan rumah keluarganya, kemudian datang kepadanya? Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki untuk keluar bersama teman-temannya, kemudian ia pergi ke restoran dan ia makan tanpa mempedulikan siapa yang ada di rumahnya? Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki menjadikan waktu duduknya di luar rumah lebih banyak dari pada duduk bersama istri dan anak-anaknya? Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki menjadikan rumahnya bagaikan penjara bagi istrinya, tidak ia ajak keluar dan juga tidak ia temani. Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki-laki membiarkan istrinya tidur, sementara di dalam hatinya ada kegetiran perasaan dan di matanya ada air mata tertahan?
Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki-laki pergi berjalan sementara anak-istrinya ia tinggalkan tanpa peduli dengan nasib mereka selama ia pergi, Kenapa bisa ringan bagi sebagian laki-laki berlepas diri dari tanggungjawab yang akan ia pertanggungjawabkan di akhirat nanti?"
Tidak terasa air mata gue menetes, menyesali setiap kata-kata dan perlakuan buruk gue kepada Dea yang dulu. Dia sungguh tidak layak diperlakukan sedemikian rupa oleh gue. Sungguh gue tidak punya hak untuk menyakitinya. Dia telah memilih gue sebagai pengganti ayahnya untuk membahagiakannya, namun dengan mudahnya gue menyakitinya.
"Maafin aku, De!" Ucap gue mengecup pipi tembemnya berkali-kali.
Dea menggeliat, sepertinya gue sudah mengganggu tidurnya.
"Abang sudah bangun? Ini jam berapa?" Tanyanya dengan suara khas bangun tidur.
"Lanjutin aja tidurnya, yang. Ini belum jam 4 subuh. Nanti abang bangunin kalo udah subuh." Ucap gue mengelus lembut rambutnya.
Ia menoleh ke arah gue, mengusap sudut mata gue, "abang nangis? Kenapa?"
"Enggak kok, yang. Abang gak nangis. Kamu bobo aja lagi." Gue sedikit gelagapan menjawabnya.
Dea menggeleng, "abang jangan bohong. Aku tau abang nangis." Ia mengusap pipinya kemudian memberikan tangannya ke gue, "ini basah. Sekarang abang jawab, abang kenapa?" Tanyanya kemudian menarik tubuhnya bersardar di kepala tempat tidur.
Gue ikut bersandar dengannya, menarik satu tangannya ke dalam pelukan gue, memainkan jemarinya dengan jemari gue. "Aku hanya bahagia juga terharu, merasa bersyukur karena memiliki kamu, tapi merasa sedih dan menyesal atas apa yang sudah abang lakuin ke kamu." Ucap gue tertunduk.
__ADS_1
Dea menyandarkan kepalanya ke dada gue, mengeratkan genggaman jemari kami yang saling bertaut.
"Aku juga bahagia memiliki abang, saking bahagianya, aku udah lupakan semua rasa sakit itu, aku benar-benar udah lupa rasanya patah hati sama abang, karena yang aku rasakan saat ini hanyalah kebahagiaan dan rasa syukur yang tak terhingga karena memiliki abang. Saat kehilangan mama dan papa, duniaku rasanya sudah hancur, tak ada lagi tempat yang dituju, lalu abang kembali lagi ke dalam hidup aku, meskipun diawal menyakitkan, tapi sekarang aku benar-benar bahagia. Aku tidak tau bagaimana caranya meyakinkan ke abang, tapi kenyataannya aku memang bahagia hidup sama abang. Jadi mulai sekarang, abang harus janji bahwa abang akan selalu baik-baik saja dan tidak akan pernah meninggalkan aku, karena aku tidak akan sanggup lagi menjalani hidupku kalau tidak ada abang di sisiku." Dada gue terasa basah oleh air mata Dea. Hangatnya sampai menembus ke ruang terdalam di hati gue.
"Iya sayang, abang janji. Doakan abang yah!" Ucap gue mengecup punggung tangannya berkali-kali.
Tidak terasa adzan subuh kembali berkumandang kami kemudian membersihkan diri kemudian mendirikan sholat dan lanjut tilawah. Diusia kehamilan Dea yang sudah berjalan 6 bulan lebih, katanya bayi di dalam perut sudah bisa merespon suara yang didengarnya.
Dan benar saja, saat gue mengaji sambil berbaring dipangkuan Dea, si dedek bayi melakukan banyak manuver di dalam. Gue bisa melihat tonjolan kakinya yang menendang perut mommy-nya. Kami tertawa dan terharu melihatnya. MaasyaAllah.. ini juga adalah pengalaman dan pemandangan terindah yang pernah gue lihat disepanjang usia gue.
*****
Azka mengupas buah naga dan memotong-motongnya berbentuk dadu kemudian ia letakkan di atas meja sofa sambil menonton berita di televisi. Pagi ini Dea hanya ingin sarapan buah dan kebetulan di Jayapura sedang banjir-banjirnya buah naga dari kebun petani, tidak tanggung-tanggung, harganya hanya delapan ribu sekilo. Tentu ini adalah kabar buruk bagi para petani di sini, namun disisi lain, buah naga tidak lagi menjadi buah mahal di sini sehingga semua lapisan masyarakat bisa menikmatinya. Dengar-dengar, saat petani di sini belum mulai berkebun buah naga, harga sekilonya menyentuh harga delapan puluh ribu padahal saat itu di Jawa harganya sudah dibawah sepuluh ribu sekilo.
Papua ini tanahnya sangat subur, hanya saja kebanyakan kebutuhan pokok masih di-supply dari luar pulau Papua. Tdak ada yang tidak bisa tumbuh di tanah indah nan subur Papua ini, sayangnya entah bagaimana potensi luar biasa ini tidak dimaksimalkan. Seharusnya, negara kita ini tidak perlu lagi mengimpor beras jika mau membuka lahan persawahan di sini. Tidak perlu lagi mengimpor daging sapi jika mau membuka peternakan di sini. Tanah ini terlalu subur untuk membuat negara kita sebagai pengimpor terbesar semua kebutuhan pokok makanan di dunia. Harusnya kita menjadi negara pengekspor bahan baku makanan terbesar di dunia. Tapi entah apa yang salah. Petani seolah dimanjakan di negeri ini, "gak usah capek-capek nyangkul, biar pemerintah yang impor."
Petani kita jadi enak bukan? Mau makan nasi, tinggal beli beras, gak usah capek-capek tanam padi.
Pemerintah kita hebat bukan? Sayang banget sama rakyatnya, terutama petani. Saking sayangnya, petani disuruh gak usah capek-capek, panas-panas, lelah-lelah, kasihan!
"Abang lagi nonton, apa menghayal?" Tanya Dea mengagetkan Azka yang sedari tadi hanya kefikiran masalah di negeri wkwkwk land.
"Nonton kok, abang hanya terlalu khusyuk nontonnya." Ucap Azka berkilah.
Dea hanya mendelik menggelengkan kepalanya, melihat Azka yang kembali menatap televisi.
"Abang mau dibuatin kopi atau teh?" Tanya Dea memberi opsi.
"Teh aja, yang. Udah lama juga gak minum teh pagi-pagi begini."
"Mau... apa mau banget?" Tanya Dea mengerling nakal membuat Azka mulai fokus kepadanya.
__ADS_1
"Mau banget, yang." Jawabnya ikut menaik turunkan kedua alisnya kemudian diakhiri dengan kerlingan mata kiri.
Dea tergelak.
"Mau yang manis gak, bang?"
"Gak usah, yang?"
Dea mengerutkan keningnya, "ini orang mau minum teh pahit apa?" Dea membatin.
"Kenapa gak, bang?"
"Kan hanya kamu yang manis, yang. Seng ada lawan."
Azka dan Dea tergelak dalam tawa renyah yang menghangatkan pagi yang sedikit dingin karena diluar masih gerimis setelah hujan dari semalam.
Akhirnya Dea bergegas menyeduh secangkir teh dan menghidangkannya buat Azka.
"Selamat menikmati teh pahit bersama istri yang sangat manis se Papua." Ucap Dea tersenyum penuh kemenangan.
Azka membolakkan matanya, mengambil cangkir teh dengan ragu. "Beneran nih gak pake gula?"
×××××
\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=
Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.
Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.
Thanks, 😘
__ADS_1