Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Sederhana


__ADS_3

Bab 74 Sederhana


SAH..


SAH..


SAH..


Tiga kali kata "sah" bergema di dalam ruangan luas yang sepi Mesjid Raya Baiturrahim, Jayapura.


Akhirnya Aldo dan Chyntia resmi menjadi pasangan suami istri. Suasana haru melingkupi mereka, mengingat acara akad nikah ini terasa berbeda. Kondisi Chyntia yang sudah hamil berjalan 9 bulan dan kehadiran ayahnya untuk menjadi wali namun langsung memutuskan kembali ke bandara Sentani tanpa menyapa Chyntia.


Chyntia hanya bisa menangis di dalam pelukan bunda Aya dan Dea. Ia tidak menyangka akan seperti ini kisah hidup yang dijalaninya. Tidak ada perempuan yang ingin hamil diluar nikah, tak ada perempuan yang ingin pernikahannya hanya sekedar akad dengan membawa perut membuncit, tak ada perempuan yang ingin menikah tanpa senyum penuh arti dari bibir kedua orangtuanya.  Semua perempuan di dunia ini punya mimpi tersendiri tentang satu hari berbahagia di dalam hidupnya.


Ia pun bingung menyikapinya, entah harus bahagia atau sedih. Semua ini diluar keinginannya.


Bunda Aya dan Dea membawa Chyntia ke hadapan Aldo, dalam balutan gamis sederhana dan make up tipis, Chyntia tetaplah Chyntia, gadis cantik memesona yang selalu bisa mengalihkan dunia seorang Aldo.


Tangan Aldo terulur dan disambut oleh Chyntia. Ia menempelkan punggung tangan Aldo di dahinya, cukup lama hingga tangan Aldo yang bebas ia pakai untuk mengusap lembut puncak kepala Chyntia. Setelah Chyntia melepaskan tangan Aldo, giliran Aldo yang mencium kening Chyntia penuh khidmat. Setetes air mata sempat terjatuh dari sudut bola matanya. Impiannya untuk menghalalkan Chyntia sudah menyata kini, meski tidak di dalam kondisi normal, namun ia berjanji di dalam hatinya akan menjadikan Chyntia perempuan paling bahagia di sisinya nanti.


"Udah selesai?" Tegur Azka. "Nanti di kamar kalo mau lama-lama. Ini masih mau tanda tangan surat nikah. Gak sabaran amat sih." Keluh Azka yang melihat Aldo seolah enggan melepas kecupannya di kening Chyntia.


"Sorry, kebawa perasaan." Aldo hanya menyengir tanpa rasa bersalah.


Sementara wajah Chyntia sudah memerah menahan malu. Aldo memang keterlaluan!


"Nak Aldo." Panggil imam masjid yang tadi membimbingnya mengucapkan ijab kabul.


"Iya ustadz." Aldo menoleh ke pak Imam.


"Boleh bapak bicara sama kamu nak?"


"Boleh, boleh ustadz!" Jawab Aldo cepat.


"Bapak hanya ingin sampaikan bahwa ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai menikahi perempuan yang hamil dari hasil zina. Ada yang mengakatakan nikahnya sah, namun ada juga pendapat yang mengatakan nikahnya tidak sah. Karena kalian memaksa untuk menikah saat sedang hamil maka dianjurkan menikah lagi setelah bayinya lahir nanti. Karena nikahnya dianggap tidak sah artinya berhubungan suami istri di dalam pernikahan kalian masih dianggap maksiat." Paparnya.


Seketika wajah Aldo memerah kemudian tertunduk lesu. Ia sangat malu saat ini.


"Akan tetapi..." pak imam kembali melanjutkan. "Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nikahnya tetap sah dengan syarat selama menikah tidak melakukan hubungan badan hingga melahirkan. Jadi nikahnya tidak perlu diulang. Yang terpenting di sini juga nak Aldo harus yakin bahwa nak Aldolah yang menghamili perempuan yang barusan nak Aldo nikahi tadi. Karena jika tidak, maka pernikahan ulang wajib dilaksanakan."


Aldo mengangguk tegas. "Baik ustadz, terima kasih wejangan dan nasehatnya."


"Sama-sama, bapak harap nak Aldo dan nak Chyntia segera bertobat dengan sebenar-benarnya taubat, agar rumah tangga kalian dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan."


"Aamiin..aamiin.. iya ustadz, sekali lagi saya ucapkan terima kasih."


Jarak hotel dengan Masjid tempat dilangsungkannya akad nikah tadi tidak begitu jauh, kurang 10 menit, rombongan mereka sudah sampai di hotel setelah tadi melaksanakan sholat dhuhur di sana kemudian membagikan bingkisan makanan untuk para jamaah yang datang untuk sholat dhuhur di Masjid.


Dea dan Azka mengikuti Aldo dan Chyntia masuk ke kamar hotel mereka, sementara ayah Arga dan bunda Aya kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.

__ADS_1


"So, bulan madu kemana nih?" Tanya Azka setelah mereka duduk santai di sofa.


"Bagaimana kalau kita ke pantai Tablanusu? Di sana pemandangannya bagus, pantainya beda dari yang lain, bukan pasir putih yang kita injak di bibir pantainya, tapi kerikil-kerikil kecil, cocok untuk ibu hamil." Ucap Aldo bersemangat.


"Dekat gak?"


Seketika semangat Aldo luntur. Ia tidak mungkin membawa Chyntia ke sana mengingat jalanannya belum semuanya beraspal, bergelombang, bisa brojol dintengah jalan kalau dipaksakan ke sana.


"Sekitar 3 jam perjalanan, belum lagi jalanannya. Tidak mendukung banget buat Chyntia dan Dea yang lagi hamil." Ucap Aldo lesu.


"Ya sudah, yang dekat-dekat aja kalau begitu, ke Danau Sentani saja atau bawa mereka berendam di laut dekat kantor. Di sana cukup ramai kalau pagi dan sore, orang-orang gak pernah berhenti berdatangan. Sunset-nya juga indah parah. Pasti mereka suka." Usul Azka berusaha menyenangkan Aldo.


"Itu mah bukan bulan madu, Ka!" Keluh Aldo kesal.


"Emang lo mau ngapain saat bulan madu? Lupa apa kata pak imam tadi?"


"Iya, iya, gue ingat kok. Yang dilarang kan berhubungan intim, kalau semi-semi enggak kan?"


"Sialan lo, Do. Awas kebablasan! Kalau sama istri itu udah beda, Do. Ngapain semi-semian? Orang halal kok buat lakuin semuanya. Tapi kalo lo sih kasusnya beda. Jadi, selamat berpuasa hingga beberapa bulan ke depan." Tawa Azka pecah sementata Aldo malah bermuka muram durja.


"Bahagia banget lo, Ka. Gue sih pernah dengar ceramah di youtube, katanya jadi istri itu harus kreatif saat sedang berhalangan melayani suami. Nah, sekarang gue punya banyak ide hal-hal kreatif apa yang bisa dilakukan Chyntia nantinya biar nasib gue gak mengenaskan banget jadi penganten baru." Ucap Aldo tersenyum licik.


Azka hanya bisa menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan semua ide nakal yang muncul di kepala mesum milik sahabatnya itu.


"Seru amat, lagi ngomongin apa sih?" Tanya Dea yang tiba-tiba muncul bersama Chyntia dari dalam kamar.


Dea mengambil tempat di sisi Azka sementara Chyntia masih terlihat ragu dan memilih tetap berdiri.


Azka yang mengerti dan ingin memberi waktu berdua bagi pasangan yang baru resmi menikah itu berinisiatif menarik tubuh Dea agar kembali berdiri dan kembali ke kamar mereka.


"Kami pamit yah.." ucap Azka.


"Kok pamit?" Akhirnya Chyntia membuka suara merasa canggung karena ditinggal bersama Aldo.


Azka dan Dea tersenyum lebar. "Aku takut sama bang Aldo mbak, dia tuh udah dari tadi kasi kode mata buat usir kami." Ucap Dea kemudian menarik tangan Azka menghambur keluar karena ia hanya sengaja mengerjai Aldo.


"Ingat kata-kata pak ustadz tadi, Do!" Teriak Azka sebelum mereka benar-benar menghilang di balik pintu.


Suasana canggung melingkupi mereka berdua dan Chyntia masih tetap berdiri di tempatnya semula. Entah kenapa ia merasa sungkan kepada Aldo setelah sah menjadi istrinya.


"Apa kamu tidak capek berdiri terus seperti itu?" Tanya Aldo.


"Ah..emmm.. enggak kok." Jawab Chyntia berbohong, padahal ia sudah merasa pegal di kakinya.


Aldo berdiri kemudian mendekatinya, memangkas jarak di antara mereka.


"Kamu cantik," Ucapnya seperti berbisik. "Aku suka melihat kamu berpakaian seperti ini, jadi aku harap ke depannya hanya aku seorang yang boleh memandangi kecantikan dan kemolekan tubuhmu ini." Imbuhnya dengan suara berat.


Tubuh Chyntia meremang. Meskipun dulu mereka sering berhubungan suami istri, namun entah mengapa ada getar aneh dan berbeda yang dirasakannya saat ini.

__ADS_1


Aldo mengambil jilbab Chyntia kemudian perlahan membukanya.


"Kalau hanya kita berdua, aku mau melihat kamu melepas pakaian ini."


Saat tangannya hendak membuka gamis yang dipakainya, tangan Chyntia menahannya. Kemudian memberanikan diri menetap mata sayu berkabut milik Aldo lalu menggeleng.


"Aku tidak akan melakukan apa-apa sama kamu, aku hanya ingin melihatnya. Boleh?"


Pandangan mereka saling bertaut dan saling mengunci, tatapan Aldo yang mendamba dan tatapan Chyntia yang penuh haru.


Pada akhirnya Chyntia mengangguk yang membuat senyum kebahagiaan terbit di bibir Aldo.


Aldo yang begitu bersemangat karena begitu bahagia menggendong Chyntia ala bridal style, mengabaikan berat badan Chyntia yang sudah hampir menyentuh angka 70 kilogram.


"Kamu lumayan berat sayang." Ucap Aldo sedikit ngos-ngosan meletakkan tubuh Chyntia perlahan di atas tempat tidur.


"15 kilonya milik anak kamu." Ucap Chyntia terkikik.


"Wow.. anak ayah luar biasa yah.." Aldo kemudian mengelus lembut perut Chyntia kemudian mengecupnya berkali-kali.


"Hai anak ayah, apa kabar sayang? Maaf jika ayah baru menyapamu." Ada kegetiran menusuk perasaannya.


Chyntia menarik tubuhnya dengan susah payah bersandar di kepala tempat tidur.


"Maaf!" Ucapnya dengan berlinang air mata.


Aldo berpindah dari perut Chyntia kemudian ikut bersandar di kepala tempat tidur.


"Maafmu akan aku terima setelah kamu jatuh cinta sama aku." Ucap Aldo menoel hidung Chyntia.


Chyntia hanya bisa terisak di dada Aldo, meskipun ia belum tahu perasaannya kepada Aldo, namun ia juga telah berjanji kepada dirinya untuk belajar mencintai ayah dari anaknya tersebut.


Bukankah memilih mencintai laki-laki yang mencintaimu adalah hal yang paling masuk akal?



Pantai Tablanusu dengan kerikilnya.


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.


Buat yang kasi gift banyak2, thanks berat yah. lumayan bisa masuk 200 besar gift terbanyak bulanan😍😘


Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.


Thanks, 😘

__ADS_1


__ADS_2