Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Ponsel


__ADS_3

Bab 14 Ponsel


Azka


Gue benar-benar marah besar pada Chyntia, kali ini dia sudah terlalu dalam mencampuri urusan pribadi gue, padahal gue izinkan dia datang ke kantor kapan pun dia mau atas asas keuntungan bersama. Salah satu alasan gue lama tinggal di Jepang adalah karena gue menghindari dikejar-kejar oleh anak-anak para kolega ayah, kemana-mana rasanya tidak nyaman. Gue tidak suka cara mereka memandang dan memperlakukan gue, tak ada yang tulus, semuanya palsu! Tidak berbeda dengan Aufar, bisa jadi dia akan memutuskan menetap di Frankfurt selamanya.


Gue tidak bisa melupakan wajah sedih dan tatapan sendu Dea yang seolah memohon untuk gue lindungi. Ini benar-benar membuat gue frustasi. Sepanjang hari gue hanya sibuk membolak balik dokumen, namun terasa sulit dan memuakkan. Konsentrasi gue buyar, gue memilih tidur di sofa setelah sholat maghrib.


Gue terbangun beberapa menit sebelum jam 10 malam. Dengan malas gue melangkah menuruni setiap anak tangga dari lantai 3 ke bawah, gue menghitung satu-satu anak tangga yang gue tapaki. Seperti orang yang tidak punya pekerjaan saja. Tiba-tiba gue berpapasan dengan Dea. Gue cukup kaget, sehingga sempat berdiri mematung beberapa saat di sana. Dia mengabaikan gue, tanpa menegur dia langsung berlalu ke parkiran. Gue berusaha mengikuti langkahnya lalu bergerak cepat berdiri di hadapannya. Sayang sekali, sepertinya dia benar-benar marah kali ini. Dia memutar bola matanya jengah dan membuang muka dariku. Gue terus menatapnya namun dia tetap mengabaikanku.


Bibir gue kelu, tidak tau harus memulai dari mana pembicaraan dengannya. Baiklah, kali ini gue mengalah dan bergerak beberapa langkah menjauh dari pintu mobilnya.


Dia pergi, lagi-lagi tanpa kata!


Sesampainya di rumah, rumah sudah sepi. Gue langsung ke kamar dan membersihkan diri. Seminggu terakhir gue punya hobbi baru sebelum tidur, hobbi barunya adalah membaca semua pesan-pesan yang ada di media sosial Dea, bahkan daftar kontaknya pun gue cek satu-satu.


Kesimpulan gue, Dea masih jomblo dan tidak pernah pecaran. Ini sungguh melegakan, lebih lega rasanya dibanding curhat sama si boy ikan ****** milik ayah.


Tapi jujur, gue agak cemburu sama si Badai Badai itu, perhatian banget sama Dea. Kalo Dea gak kuat iman, bisa jatuh juga dia di dalam pelukan laki-laki itu. Namanya perempuan, dikasi perhatian dikit pasti udah klepek-klepek, apalagi perhatian sebesar Badai. Gue harus melihat perkembangan hubungan mereka, gue termasuk penganut faham tak ada persahabatan di antara laki-laki dan perempuan yang tidak melibatkan perasaan lebih. Nothing!!!


Ada lagi yang bikin dada gue sesak! Nama Aufar dalam kontaknya adalah Babang Aufar Ganteng. Cuihhh..


Terus si Umar, nama kontaknya Abangku Umar. Apa-apaan?


Gue cari nama gue, kagak ada. Karena belum yakin, gue masukin kontak gue trus telpon sendiri, gak ada nama gue di dalam kontaknya.


Apa perlu gue kawinin dia secepatnya?


Yang paling menarik, ada 27 daftar kontak yang diberi nama playboy1 sampai playboy27. Ternyata dia punya banyak fans. Malah ada beberapa yang gue tau anak-anak BM Shipyard. Gue tersenyum licik, mereka mau coba saingan sama gue. Jangan harap karena sebentar lagi Dea bakal jadi milik gue selamanya, selamanya!!!


Gue benar-benar semakin tidak sabar ingin memiliki Dea secepatnya, dia benar-benar gadis yang masih murni. Gak ada yang aneh-aneh dalam ponselnya, bahkan gue cek semua historinya di mesin pencari, historinya bersih tanpa cela. Bandingkan dengan histori pencarian kalian di mesin pencari.


Yang gue suka lagi dari setelah membaca percakapan-percakapannya dengan daftar playboy tadi, Dea menolak dengan halus dan sopan, Dea menyampaikan alasannya lugas dan tegas. Gue benar-benar jatuh cinta dengan cara berfikirnya, dan bagi gue hal yang pertama yang akan gue sukai dari seorang perempuan adalah caranya dalam berfikir, karena nanti di sanalah tempat gue akan tinggal selamanya.


Tiba-tiba ponselnya berkedip-kedip di dalam genggamanku, tampak pemanggilnya adalah playboy25. Ponsel Dea gue silent, kalau malam para fansnya banyak yang telpon.


Kali ini niat jahatku mendominasi, gue angkat telponnya.


"Hallo, istri saya sedang mandi, nanti sa- tut tut tut." Sambungan telpon langsung putus.

__ADS_1


Gue tersenyum penuh kemenangan.


*****


Dea


Aku berjalan malas ke unit apartemenku, ternyata di sana ada Rara berdiri di depan pintu menungguku. Tanpa berkata apa-apa aku membuka pintu kemudian langsung masuk menuju ke dapur mengambil segelas air hangat. Aku duduk di kursi meja makan kemudian disusul Rara di kursi depanku.


"Dea, kamu marah?" Tanyanya sedikit ragu.


Aku menghela nafas panjang kemudian menatapnya dengan mengedikkan kedua bahuku. Aku berdiri untuk mencuci gelas yang tadi kupakai, setelah itu aku menuju kamar mandi di dalam kamar tidurku, lagi-lagi Rara mengekori langkahku.


Rara duduk di atas tempat tidur, menatapku yang sibuk dengan diriku sendiri. Melepas jilbab, melepas kaos kaki, membersihkan wajah kemudian mengambil pakaian ganti lalu masuk ke kamar mandi..


Saat selesai, Rara masih setia menungguku di tempat semula.


"Dea, aku minta maaf!" Ucapnya saat melihatku mulai menarik selimut untuk tidur. Namun aku masih mengabaikannya.


"De, jangan abaikan aku gini dong. Aku mau curhat. Penting!" Ucapnya lagi sedikit memgguncang pundakku.


Sebenarnya aku bukan tipe orang yang punya tingkat keKEPOan yang tinggi mendengar curhatan orang apalagi kalau bahan curhatnya adalah orang lain karena bisa jadi jatuh-jatuhnya hanya gossip bahkan fitnah. Tapi melihat Rara yang sepertinya ngebet banget pengen curhat ditengah suasana hatiku yang hancur begini, aku yakin Rara memang serius kali ini.


Rara ikut berbaring, aku rasa dia tidur telentang saat ini.


"Aku dilamar Deon!"


Aku langsung mengubah posisi tidurku antusias menghadap dirinya.


"Serius? Kapan? Bagaimana bisa?" Tanyaku penasaran.


"Serius, dia bilangnya 3 hari yang lalu. Aku belum kasih jawaban sih."


"Kamu sendiri gimana ke dia?" Tanyaku lagi.


"Awalnya biasa saja sih, dua hari ini aku mencoba sholat istikharah dan jujur hatiku mendekat ke dia!" Jawabnya menatap lurus ke atas langit-langit kamar.


"Gila, baru juga sebulan kerja, udah dilamar aja. Gue udah setahun, hilal jodohnya belum kelihatan sama sekali." Candaku yang membuat kami sama-sama tertawa.


"Itu karena kamu aja yang gak mau, itu sih mas Priyo yang orang QC, sepertinya suka banget sama kamu! Pak Raihan yang orang Project juga keren. Keren banget malah."

__ADS_1


"Mas Priyo, enggak banget, orangnya terlalu agresif menunjukkan perasannya. Malah bikin gak nyaman! Kalau pak Raihan, entahlah, aku belum sempat memperhatikannya." Ujarku ikut berbaring telentang.


"So, bagaimana? Ini Deon lamar kamu hanya modus atau memang mau menemui orang tua kamu bersama keluarganya?"


"Aku bilang ke dia kalau kebetulan besok mama papa dari Makassar akan berkunjung ke sini, kalau memang dia serius ya temui mereka."


"Trus?"


"Dia bilang dia akan datang langsung bersama keluarganya. Kalau kedua belah keluarga setuju, malah dia mau langsung akad nikah secepatnya, nanti resepsinya setelah aku udah boleh ambil cuti panjang."


"MasyaaAllah.. laki banget!" Seru ku antusias.


"Tapi akunya yang kelabakan, kalau papa dan mama Oke, berarti sebentar lagi status jomblo high quality-ku tamat dong!"


"Alah.. gitu aja.. bukannya ini yang kamu impikan, tiba-tiba dilamar, tiba-tiba nikah, tiba-tiba jadi istri?" Ucapku mengingatkan cerita-cerita lalu saat kami memasuki tema membicarakan tentang jodoh.


"Iya juga, kejutan yang mengejutkan after wedding! Tapi bukannya itu impian kau juga?" Imbuhnya membuatku tersenyum.


"Gue dukung sih, Ra. Kebetulan Deon gak masuk dalam list playboy di daftar kontakku." Kali ini aku terpaksa mengingat wajah itu lagi, wajah bang Azka karena ponselku masih ditahan olehnya.


Aku baru kefikiran, jangan sampai dia mengutak-atik medsosku, terus kalau ada yang nelpon dia tidak mengangkatnya, bisa kacau kalau dia sudah bertindak lebih.


"Bagaimana dengan poselmu? Udah dibalikin pak Azka?" Aku menggeleng.


"Trus, mobilnya bagaimana? Belum dikasi tagihannya gitu?" Aku menggeleng lagi.


"Pak Azka itu aneh, kalau menurut aku yah, sebenarnya dia itu suka sama kamu. Cuma gengsinya tinggi, sepertinya masih terbebani masa lalu kalian itu!"


"Itu hanya perasaan kamu saja, bang Azka membenciku." Ucapku sendu.


"Kamu sendiri gimana? Masih jadi fans garis kerasnya?"


"No, itu dulu! Sekarang nyesel banget malah pernah mengidolakannya, untungnya belum sampe ke level terobsesi." Ucapku bergidik. "Sekarang orangnya menjengkelkan banget, sok ganteng, sok pintar, sombong, angkuh, enggak banget dah yang sekarang!" Imbuhku lagi.


"Hati-hati, nanti malah jatuh cinta. Kalian itu punya pondasi hubungan yang kuat, tinggal hapus kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan itu, klick, maka tersambunglah cerita lama itu menjadi cerita baru yang lebih indah."


"Ngomong apa sih, Ra?  Racauan kamu mulai gak nyambung. Ayo tidur, besok kerja!" Aku menarik selimut kemudian membelakangi Rara.


Besok aku akan meminta ponselku kembali!

__ADS_1


×××××


__ADS_2