Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Nasehat


__ADS_3

Bab 53 Nasehat


Sebuah tangan menepuk pundakku pelan, "mikirin apa? Serius amat."


Aku berbalik ke arah uni Rika, istri kak Limpo yang asli dari Padang. Aku tersenyum lalu menggeleng, karena aku memang tidak memikirkan apa-apa saat ini, kosong begitu saja.


"Gak usah terlalu difikirin, berikan waktu untuk dirimu berfikir dan dewasa. Semua orang pernah melakukan kesalahan, semua orang pernah gagal, ada yang bisa diperbaiki dan dimaafkan, namun ada yang memang harus berakhir." Ucapnya lembut.


Uni Rika dan kak Limpo memang tau masalah yang kuhadapi saat ini, tak ada yang kututupi dari mereka bahwa sebenarnya saat ini aku sedang dalam pelarian. Satu hal yang tidak aku katakan, identitas suamiku. Dan mereka memaklumi itu. Mereka pasangan yang sangat harmonis, sangat bijaksana, mungkin karena faktor usia juga. Kak limpo yang aku tau 15 angkatan di atasku, berarti usia kami terpaut 15 tahun, bisa kuperkirakan, uni Rika seumuran dengan kak Limpo.


"Iya uni, terima kasih untuk kebaikan kalian." Ucapku berkaca-kaca.


"Sama-sama, kami senang kamu ada di sini. Ayok masuk, di sini cukup panas. Kita cerita di dalam aja."


Aku mengikuti langkah uni Rika kemudian duduk di sofa bersamanya.


"Anak-anak mana, uni?"


"Lagi pada tidur, kacapean main." Jawabnya tersenyum. "So, bagaimana rencananya sekarang? Tetap sembunyi atau sudah ada rencana menemui suami kamu?" Tanyanya serius.


"Entahlah, uni. Aku masih belum memikirkannya." Jawabku mendesah pelan.


"Gak papa, tapi jangan terlalu lama seperti ini, mau dengan suami kamu yang sekarang atau kelak kamu menikah lagi, semua pasti ada masalahnya, bahkan malah mungkin lebih pelik dari hari ini,"


Aku mengangguk setuju.


"jangankan masalah orang ketiga, masalah ekonomi atau masalah dari keluarga, mencintai orang yang sama dalam waktu yang lama sekalipun bisa jadi masalah loh bagi sebagian orang,


"Kebosanan, kehambaran, kegersangan, kelayuan cinta, sangat mungkin bisa didapatkan dalam masa yang lama tersebut.  Setiap hari ketemu orang yang sama, berinteraksi dengan orang yang sama, dalam sepanjang rentang waktu kehidupan berumah tangga. Hidup terasa monoton. Apalagi bagi istri seperti uni ini yang full time mother at home, bosan pasti kadang melanda, mungkin suami juga pernah merasa bosan, tapi kembalikan lagi pada niat awal saat menikah, bahwa pernikahan harus diniatkan untuk selamanya. Nikah tidak boleh diniatkan untuk sementara waktu atau untuk waktu yang terbatas."


Deg!


Bagai anak panah yang dilesatkan tepat pada sasaran. Kalimat panjang uni Rika semuanya menusuk-nusuk hatiku saat ini. Aku hanya bisa tertunduk, meresapi setiap kata yang dilesatkan uni Rika.


"Perceraian? Itu dibolehkan! Namun tidak boleh direncanakan sejak awal. Cerai adalah jalan keluar terakhir setelah semua cara ditempuh untuk menjaga keutuhan rumah tangga."

__ADS_1


Air mataku sudah menganak sungai, tissue sudah menggunung di atas meja.


"Uni harap kamu fikirkan semua ini masak-masak, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Terkadang, satu detik dari ketidaksabaran kita membuat kita menyesal seumur hidup. Fikirkan dirimu, fikirkan anakmu saat lahir nanti. Ia butuh sosok ayah kandungnya, ia tak tergantikan. Apalagi kalau anakmu nanti perempuan, kita tidak tau ayah sambung bagaimana yang akan menggantikan ayahnya nanti, banyak pelecehan seksual justru datang dari orang terdekat, fikirkan itu!"


Lagi aku hanya bisa menyeka air mataku dan menyusut cairan kental yang keluar dari hidungku. "Terima kasih, uni. Terima kasih nasehatnya!" Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.


Uni Rika pun mendekatiku kemudian memberikan pelukan menguatkan. Di saat-saat seperti ini, sungguh yang paling kurindukan adalah pelukan bang Azka. Salahkah jika aku merindukannya? Rasanya rindu ini tidak akan pernah selesai, karena di saat ia masih di depan mataku pun aku sudah merindukannya.


Rasanya tidak salah memutuskan ke sini, setelah tiba di Surabaya, saat taksi yang kukendarai sudah dekat dari rumah bulek Heny, mataku menangkap dua orang laki-laki berpenampilan rapi keluar dari pagar rumah beliau, aku yang sedikit panik segera meminta supir taksi agar terus saja nyetirnya dan memutuskan mencari penginapan yang kira-kira tidak akan terfikirkan oleh orang suruhan om Bara.


Setelah merasa situasi sudah aman, 3 hari berikutnya aku sempatkan datang lagi ke rumah bulek Heny. Sayangnya situasi di sana masih dalam pengawasan orang suruhan om Bara. Sudahlah, aku tidak mungkin terus berlama-lama di sini, akhirnya aku putuskan segera terbang ke Dubai. Tentu saja semua data diriku sudah kuhapus dari daftar keberangkatan penumpang. Jadi, bang Azka gak mungkin bisa mendapatkan dataku di bandara manapun di Indonesia ini.


*****


Azka


Dua minggu ini ia habiskan dengan menghukum dirinya sendiri. Ia menghukum dirinya dengan menjadi petugas kebersihan di Mesjid Istiqlal, ia juga meminta kepada pengelola mesjid untuk mengizinkannya tinggal di lingkungan mesjid selama masa hukuman ini ia jalani. Sebenarnya pengelola mesjid sempat ragu, seorang anak konglomerat mau menjadi tukang bersih-bersih, namun akhirnya diizinkan juga.


Di sini ia mulai menemukan ketenangan, bertemu dengan banyak orang baik dan mendengarkan nasehat-nasehat yang membuat dirinya begitu menyesali perbuatan buruknya yang telah lalu.


Azka mulai mengepak beberapa pakaian yang sempat ia bawa, mulai besok ia akan kembali ke kantor. Ia fikir dirinya sudah dibuang dari rumah dan perusahaan, ternyata ayahnya memintanya agar segera kembali ke kantor. Bukan berarti Azka sudah dimaafkan, ini hanya murni profesionalitas dalam bekerja. Tentu Azka tidak menolak, ibarat menaiki tangga, ini adalah tangga pertama untuk dirinya kembali ke rumah dan mendapatkan maaf kedua orang tuanya.


"Assalamu'alaikum ustadz, bro!" Aldo menyapanya dengan senyum lebar.


"Wa'alaikum salam. Lo telat 1 jam!" Jawab Azka  masih sibuk melipat pakaiannya.


"Santai.. tenang.. sabar, bro! Maklum, orang gue sibuk karena lagi rangkap jabatan, jadi asisten GM iya, jadi GM juga iya. Jadi boleh dibilang, gue ini GMnya asisten GM." Seloroh Aldo tertawa keras.


Plak!


Sajadah melayang di muka Aldo.


"Ini masjid, bukan tempat ngelawak!"


"Sensi amat, pantesan Dea pergi, sensian banget ngalah-ngalahin perempuan yang lagi PMS."

__ADS_1


"Ayok berangkat!" Mengabaikan protes Aldo, Azka langsung berjalan menuju mobil.


"Udah ada kabar Dea blom?" Tanya Aldo saat sudah melajukan mobil meninggalkan parkiran mesjid.


Azka menggeleng lemah, orang suruhan om Bara sama sekali tidak menemukan jejaknya.


"Jadi, apa rencana lo selanjutnya?"


"Cari Dea, cari Dea dan cari Dea terus, sampe ketemu."


"Gak ada niat nikah lagi gitu?"


"Sialan lo, emang gue laki apaan? Bini satu aja belum selesai, ini udah ngomong nikah lagi. Otak lo udah geser, Do."


"Ya.. makanya jadi laki jangan ngambekan, kayak cewek, itu ego diturunin sampai ke titik nol kalo yang dihadepin adalah istri sendiri. Kalo kata bokap, kalo diluar lo adalah singa, di rumah lo adalah kucing manis." Ucap Aldo menggurui.


"Ciihhh.. nikah sono! Udah banyak ilmu, tinggal prakteknya doang yang belum." Ucap Azka mendecih, "kantor bagaimana?"


"Aman bos, bokap lo udah kondisikan kalo Dea lagi keluar negeri, dan paling orang dikantor fikir lo gak masuk karena anterin Dea pergi."


Azka mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak menyangka efeknya akan seluas ini, jika orang kantor tau, tentu dirinya dan Dea akan menjadi bahan gunjingan. Ini benar-benar menjadi pelajaran yang sangat berarti bagi Azka, bagaimana sebuah kesalahan dalam menyikapi masalah bisa menghancurkan banyak hal. Termasuk harga diri.


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Hai readers,


Buat readers baru, sambil nunggu update novel ini, bisa klick profilku dan lihat karya lainnya. Ada novel "KAPAL CINTA AYANA" yang sudah tamat.


Dan tak bosan-bosannya author sampaikan, terus kasi like, comment dan vote-nya yah agar popularitas novel ini terus meningkat.


Terima kasih banyak buat supportnya yah..


_big hug_

__ADS_1


__ADS_2