
Bab 6 Tahun Kehilangan
Jepang
Azka
Enam bulan berlalu sejak bunda memintaku pulang dan menikah, gue masih tetap betah tinggal di Jepang. Gue benar-benar exited menjalani pekerjaan gue di Jepang sini. Baru-baru ini satu project FPSO dimana gue selaku Project Manager-nya sukses menyelesaikan project-nya ahead of schedule. Sudah jadi hal yang lumrah dimana project itu delay. Master schedule yang disepakati saat award kebanyakan hanya lip servis saja. Kebanyakan perusahaan fabrikan begitu bernafsu dalam menetapkan target, namun kenyataannya sulit untuk dipenuhi. Asalkan tender dimenangkan, belakangan baru atur strategi.
Hari ini Delivery Ceremony akan dirayakan di salah satu hotel berbintang di kota Tokyo. Semua karyawannya yang lebih dari 1.000 orang beserta keluarganya diundang. Acaranya berkonsep seperti family gatering. Sayangnya yang jomblo seperti gue. Datang sendiri, pulang juga sendiri.
Kali ini gue didapuk sebagai karyawan terbaik, sudah 2 tahun berturut-turut gelar ini disematkan pada nama gue. Gue cukup populer di industri ini, terutama di Jepang. Sudah berkali-kali profilku dimuat dalam surat kabar dan majalah lokal. Tawaran demi tawaran datang silih berganti. Namun gue memilih bertahan, setidaknya sampai sekarang karena memang project-project yang dikerjakan di Mitsui adalah impian setiap Engineer di bidang perkapalan juga oil and gas industry.
Ponsel gue berdering, namun gue hiraukan karena kesibukan menyapa rekan sesama karyawan Mitsui dan juga beberapa kolega perushaan tersebut. Boleh dibilang, guelah bintangnya malam ini. CEOnya mah lewat!
Setelah sampai di apartemen barulah ponselnya gue buka, ada 10 panggilan tak terjawab dari nomor ayah dan 5 dari bunda. Gue lirik jam dinding, disana menunjukkan jam 11 malam, berarti baru jam 9 malam di Jakarta.
Gue telpon balik ayah, yang angkat malah bunda.
"Assalamu'alaikum, Bunda!" Sapaku sopan.
"Wa'alaikum salam. Ka.. hikss." Tangis bunda malah pecah.
"Bunda, ada apa? Bunda kenapa?" Tanyaku mulai panik mendapati suara bunda yang bergetar.
"Ayah nak, ayah kecelakaan." Jawab bunda terbata.
Jantungku rasanya copot dari tempatnya. Seketika tubuhku terasa tak bertulang.
"Innalillahi..ayah sekarang bagaimana bun?" Tanyaku berusaha menekan rasa panikku.
"Alhamdulillah, ayah selamat, kondisinya masih kritis. Hanya saja, om Yudha dan tante Winny tidak selamat nak." Lagi-lagi tangis bunda pecah.
Om Yudha?
Tubuhku mencelos seketika. Gue belum sempat minta maaf sama beliau atas kesalahfahaman yang dulu. Arrggghhh.. kenapa gue gak dikasi kesempatan meminta maaf?
__ADS_1
"Sekarang ayah akan bunda terbangkan ke Singapur bersama Caca, nanti kamu dan Aufar menyusul langsung ke Singapur. Bunda tidak bisa ikut, bunda harus mengurus jenazah om Yudha dan tante Winny."
Gue segera mencari penerbangan pertama untuk ke Singapur. Kasihan bunda, pasti beliau sangat terpukul mengingat kondisi ayah yang masih kritis dan kedua sahabat sekaligus tetangga dekatnya telah berpulang.
*****
Dea
Ia sedang memanjat schafolding untuk naik ke atas main deck kapal Supply yang sedang ia in-charge saat ponselnya berdering. Matahari sedang panas-panasnya dari ufuk barat sana, meskipun ini sudah jam 5 sore, namun cahaya jingganya terasa begitu membara.
Dea membuka sarung tangannya kemudian merogoh saku warepacknya. Telpon dari bunda Aya.
"Assalamu'alaikum, bun!" Sapanya setengah berteriak mengingat suara gesekan baja dengan mesin pengelasan menguasai pendengaran.
"Wa'alaikum salam wr.wb. Dea sayang, om Arga kecelakaan, sekarang kamu segera ke RS yah." Suara bunda Aya begitu berat terdengar dari balik sana. Dea hanya diam mematung sejenak, ia ingat baru sekitar 30 menit yang lalu mamanya nelpon penuh semangat mengabarinya bahwa mereka sudah tiba di Jakarta setelah perjalanan mereka dari Singapur.
"Mama sama papa gimana, bun?" Tanyanya lirih.
"Mereka sedang dirawat, sekarang kamu segera pulang. Bunda tunggu!"
Pak Robert supir kantor sudah menunggunya dan langsung membawanya ke Rumah Sakit. Dea berlari kencang menyusuri lorong-lorong Rumah Sakit, beberapa kali ia bertabrakan dengan petugas Rumah Sakit dan pengunjung namun diabaikannya.
Sesampainya di ruang ICU, dari balik kaca besar, ia bisa melihat kondisi mama dan papanya sangat memprihatinkan. Berbagai jenis selang terpasang di tubuh mereka. Dea tidak sanggup melihatnya. Ia memaksa masuk ke dalam dan akhirnya dokter jaga mengizinkannya.
"Mama.. papa!" Tangis Dea tertahan di kerongkongan. Dadanya begitu sesak tak terperih. Dua tubuh orang yang paling dicintainya di dunia ini sedang terbaring lemah. Suara monitor milik keduanya begitu terdengar mencekam di gendang telinganya.
"Ma.. bangun!" Ucapnya memegang erat tangan mamanya, ia lalu berbalik memandang wajah lainnya. "Pa, bangun pa! Ini Dea. Please, Dea mohon, papa sama mama bangun!" Air mata Dea sudah tumpah ruah membasahi jilbabnya.
"Dea masih butuh mama dan papa di sini, please, jangan tinggalin Dea." Ratapan Dea semakin pilu, bunda Aya yang melihatnya mengambil Dea masuk ke dalam pelukannya.
"Doakan mereka yah, sayang. Mama sama papa kamu orang kuat." Bisiknya menguatkan.
"Mama sama papa, bun!"
"Iya, iya sayang. Kamu tenang yah!"
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar panggilan lemah dari mamanya, Dea dan bunda Aya mendekat .
Mama memandang lekat dengan tatapan lemah pada Dea kemudian memindahkan netranya pada bunda Aya.
"Mba, aku titip Dea. Sayangi dia, jaga dia!" Ucapnya terbata-bata dan sangat lemah.
Air mata bunda Aya sudah membanjiri wajahnya, ia hanya bisa mengangguk dan memeluk pundak Dea erat.
"Istighfar mba, ucapkan kalimat tauhid!" Bunda Aya menuntun mama, Dea sudah tidak bisa menahan tangisnya.
"Ma... mama.. jangan gini, please! Please ma!!!" Ucap Dea setengah berteriak.
Namun sepertinya takdir tidak berpihak padanya, dalam satu waktu, dua monitor membunyikan suara panjangnya dan menampakkan garis datar di sana.
"Mama! Papa!" Dea mengguncang-guncang tubuh mama dan papanya bergantian. Tubuh Dea melemah lalu gelap.
Tak bisakah Tuhan menunda sedikit waktu untuknya?
Apakah ini nyata? Tiga kehilangan dalam setahun. Dea tidak sekuat itu, Tuhan!!!
"Dea! Dea, istighfar nak. Yaa Allah, Dea!" Bunda Aya berusaha menyadarkan Dea yang terkulai lemah di dalam pelukannya. Ia membaluri hidung Dea dengan minyak kayu putih, hingga akhirnya Dea tersadar.
Dea bangkit lalu lagi-lagi mengguncang tubuh mama dan papanya bergantian.
"Dea, sadar nak. Ikhlaskan, Dea harus kuat!" Kembali Dea kehilangan kesadarannya. Para perawat dan dokter membantu bunda Aya membawa Dea keluar dari ruang ICU sementara petugas yang lain melepaskan semua alat-alat di tubuh keduanya.
Caca berlari menghampiri mereka dengan wajah paniknya, "Bunda, saat ini ayah kritis."
"Yaa Allah.. Caca jaga kak Dea, bunda lihat ayah dulu."
"Tapi, bun!"
"Please, Ca. Dea butuh seseorang. Kamu ngerti? heumm?" Tatapnya penuh arti pada Caca. Akhirnya Caca pun mengangguk dan terus menunggui Dea sadar.
×××××
__ADS_1