
Bab 8 Princess
Singapura
Azka
Azka terbang dari Tokyo jam 10 pagi dan tiba di Changi Airport sekitar jam 5 sore. Ia segera naik MRT dan turun di Stasiun Orchard Rd. Cukup berjalan 3 menit, ia akan sampai di Rumah Sakit Mount Elizabeth Hospital tempat ayahnya di rawat. Sesampainya di lobby Rumah Sakit, ia dijemput oleh pak Damar, salah satu asisten ayahnya di kantor.
"Assalamu'alaikum pak Damar. Ayah gimana sekarang?" Sapanya kemudian menjulurkan tangan untuk menjabat tangan laki-laki paruh baya itu.
Mereka langsung berjalan mengambil langkah panjang-panjang menuju lift.
"Wa'alaikum salam, Alhamdulillah, bapak sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja masih koma." Jawab pak Damar berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah Azka.
"Aufar sudah datang?"
"Belum pak, InsyaaAllah besok pagi jika pesawatnya tidak delay."
Azka sudah tidak berbicara lagi, ia sekarang sibuk memikirkan kondisi ayahnya. Ayahnya memiliki riwayat penyakit jantung, makanya dokter di Jakarta menyarankan beliau dirawat di RS Mount Elizabeth saja karena selama ini beliau memang melakukan perawatan di RS tersebut.
Mereka memasuki kamar Royal Suite tempat ayahnya dirawat, di dalamnya ada ruang khusus untuk penunggu dan juga ruang untuk tamu yang datang berkunjung. Namun untuk sementara mereka tidak menerima tamu terlebih dahulu kecuali keluarga.
Tante Lala dan Oma Andini sudah lebih duluan tiba dari Korea, Tante Lala menikah dengan warga negara Korea jadi lebih memilih berdomisili di sana, sementara Oma juga memilih ikut tinggal bersama tante Lala karena beliau masih punya anak kecil berumur 5 tahun.
Azka mencium tangan omanya dan juga tantenya, Caca menghambur dalam pelukan kakak tertuanya itu dengan sesegukan.
"Udah..udah..jangan nangis. Ayah pasti sembuh." Ucapnya lembut membelai jilbab adik kesayangannya itu.
Setelah suasana tenang, mereka mulai mengobrol ringan.
"Kapan bunda ke sini, Ca?" Tanya Azka pada Caca.
"Belum tau, bang. Lihat kondisi kak Dea dulu. Kasihan ditinggal sendiri."
"Iya, kasihan anak itu. Pasti jiwanya sangat terguncang saat ini." Ucap oma sendu, bagaimanapun Dea juga sudah dianggapnya seperti cucu kesayangan lainnya.
Tante Lala mengelus lembut lengan oma Andini, beliau mengerti bagaimana kesedihan ibunya itu melihat putra kesayangannya terbaring koma seperti ini.
Azka meraih ponselnya lalu melakukan panggilan video pada bundanya.
"Assalamu'alaikum, bun."
"Wa'alaikum salam. Abang udah ketemu ayah?"
"Udah, bun!" Jawabnya sambil mengarahkan layar ponselnya ke tempat ayahnya berbaring.
"Bunda sehat?" Tanyanya khawatir melihat wajah bundanya yang seperti membawa beban yang berat.
__ADS_1
"Sehat sayang, kalian semua jaga kesehatan di sana. Jangan sakit-sakit!"
"Iya bunda, bunda juga baik-baik di situ. Jangan sakit-sakit juga! Bunda jangan khawatir, ada kami di sini menjaga ayah."
"Iya, nanti kalau kondisi di sini membaik, bunda akan segera ke situ."
Azka dan bundanya mengakhiri panggilan tersebut saat azan maghrib terdengar jelas dari balik ponsel bundanya. Azka benar-benar berharap semuanya baik-baik saja dan ayahnya kembali pulih seperti semula.
*****
Dea
Pagi menyapa dengan kicauan burung yang terdengar mengalun indah, aku duduk di depan jendela, mengambil kursi dari meja rias dan membawanya ke sana. Sisa-sisa embun masih terlihat basah di atas dedaunan pohon jambu air yang ada tepat di belakang kamar yang aku tempati sekarang.
Hari ini hari minggu, tepat 3 hari papa dan mama pergi untuk selamanya. Aku menopang daguku dengan kedua tangan, menyimpan kedua sikuku di atas kusen jendela. Aku menatap kosong ke depan. Tiba-tiba ada dua tangan yang mengelus lembut pundakku dari belakang.
"Lagi mikirin apa?" Bunda Aya berdiri di sampingku, juga membawa pandangannya keluar jendela.
"Gak mikirin apa-apa, bun." Jawabku tanpa melirik beliau.
"Ayo sarapan, diluar ada tante Fira dan bang Umar anak tante Fira kalau kamu masih ingat." Ucap beliau menarik tanganku untuk berdiri.
Bang Umar, tentu saja aku ingat. Orangnya menjengkelkan seperti bang Aufar. Tapi perhatian juga, baik juga aslinya. Tapi Caca membencinya. Tanpa sadar aku menerbitkan senyum kecil di bibirku, mengingat cerita Caca tentang bang Umar yang tak sengaja ketemu di mall saat Caca sedang jalan dengan teman laki-lakinya. Caca langsung diseret pulang tidak pake permisi atau apa. Sampe Caca diancam bakal dilaporin ke om dan bunda. Orangnya over protectif banget.
Aku dan bunda Aya menuju ruang makan. Tante Fira menyambutku dan memberiku pelukan hangat.
"Morning abang!" Jawabku berusaha memberi senyum terbaik yang aku mampu saat ini.
"Makin cantik aja princess abang, tapi jahat, udah 6 bulan di Jakarta tapi gak pernah kasi kabar." Protes bang Umar padaku.
"Aku udah tanya om Bara di kantor, katanya abang kuliah di Jogja."
"He he.. iya sih, abang lupa." Jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Udah, ayo makan dulu, nanti aja nostalgianya." Ucap bunda menyela perbincangan kami.
"Ini baru sama si Umar, nanti kalau Caca, Aufar sama Azka sudah pada balik, udah dak kebayang bagaimana ramenya mereka." Ujar tante Fira semangat.
"Oh No, jangan sampe kejadian, aku tidak mau ketemu sama si Azka Azka itu." Batinku menolak keras.
Setelah sarapan, aku dan bang Umar menghabiskan waktu bercerita bersama di kursi ayunan taman belakang. Meskipun matahari pagi mulai meninggi namun banyak pepohonan rindang yang menghalangi sinar matahari menyentuh kami.
Bang Umar tampak sangat dewasa, sopan dan mengayomi. Beberapa nasehat terus ia dengungkan agar aku tidak terpuruk dan larut dalam kesedihan. Aku benar-benar merasa beruntung dikelilingi oleh orang-orang baik di sekitarku.
"Kalau kamu butuh sesuatu, jangan pernah sungkan bilang sama abang. Abang akan selalu usahakan. Kamu tau kan kalo dari dulu abang menganggapmu sudah seperti adik sendiri?"
"Iya..iya.. Dea tau kok. Abang gak usah khawatir, Dea kuat kok." Ucapku sambil mengangkat satu tangan dengan terkepal kuat.
__ADS_1
Sampai bunda mengalihkan perhatian kami memberi ponselnya padaku.
"Aufar!"
*****
Singapura
Aufar
Perjalanan panjang dari Frankfurt ke Singapura yang memakan waktu hampir 24 jam membuatku cukup lelah. Aku tiba di Rumah Sakit dan hanya menemukan bang Azka dan pak Damar.
"Kemana yang lain?"
"Mereka gue suruh nginap di York Hotel, kasihan oma dan tante Lala, mana bawa si kecil Nara." Jawabnya dengan wajah lelah dan mengantuk.
Aku membenarkan keputusan bang Azka, oma sudah sangat tua untuk menunggui ayah di sini.
"Bagaimana perkembangan ayah?" Tanyaku setelah membersihkan tubuhku di kamar mandi dan bersiap untuk tidur.
"Belum ada perkembangan signifikan." Bang Azka mendesah pelan, beban kini ada di pundaknya sebagai anak tertua.
Aku sudah tidak ingin membahas tentang kondisi ayah saat ini, teringat bunda yang masih berada di Jakarta. Aku mengambil ponselku dari dalam tas kecilku lalu membuat panggilan video.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam bunda. Bunda sehat? Dea mana?" Tanyaku beruntun.
"Alhamdulillah, itu lagi sama Umar di taman belakang." Jawab bunda sambil berjalan menuju taman belakang.
"Aufar!" Terdengar bunda menyebut namaku lalu ponselnya menampakkan wajah Dea yang terlihat pucat dan matanya nampak bengkak.
"Halo bang Aufar! Kapan abang pulang? Dea kangen sama abang." Sapanya tersenyum menampakkan lesung pipi manisnya di sisi kiri pipinya.
"Doakan secepatnya, abang akan pulang melamar adek cantik kesayangannya bang Aufar!" Jawabku semangat sambil melirik bang Azka yang nampak tidak terganggu dan asik memainkan ponselnya.
"Asssyeeeeekkkk." Teriak bang Umar kompor.
"Iihhh.. abang apaan sih, mau dikemanain tuh si cantik manis yang tinggal di ujung kompleks? Om gimana sekarang?" Ah, dia mengingatkan sama teman Caca yang dulu sering aku bully.
"Ayah gitu-gitu aja, masih belum sadar. Itu orangnya!" Aku mengubah mode kamera ponselku menujukkan ayah yang terbaring di sana. Sengaja kameranya juga kuarahkan pada bang Azka yang hanya merekam punggung kekarnya. Aku tau dia pura-pura tidak mendengar, dia diselamatkan headset yang terpasang di telinganya.
"Ya udah, abang istirahat aja sekarang, abang pasti lelah bukan? Frankfurt Singapur itu jauh banget jaraknya."
"Oke, kamu baik-baik yah di situ? Gak mau bicara dulu sama bang Azka? Ini orangnya ada." Seketika raut wajah Dea terlihat berubah tegang. Dea hanya diam tidak menjawab. "Oke, abang tutup yah. Salam sama bang Umar dan bunda. Assalamu'alaikum."
Aku mengakhiri panggilanku dan kembali berbaring. Kasihan Dea, ujian yang dialaminya sangat berat. Saat seperti ini, aku merasa sangat beruntung, ada orang tua yang masih lengkap, ada oma, tante Lala, Caca dan bang Azka. Sementara Dea sebatang kara. Pantas bundanya memilih tetap tinggal mendampingi Dea di sana, membiarkan belahan jiwanya terbaring jauh dari sisinya.
__ADS_1
×××××