Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Salah Paham


__ADS_3

Bab 26 Salah Paham


Badai dan Rara sudah ramai di salah satu aplikasi group percakapan mereka. Sejak dari tadi bunyi notifikasi membom-bardir ponsel Dea. Karena tidak nyaman dengan Azka yang serius menyetir di sampingnya, akhirnya ponselnya dibuat ke mode silent.


Tidak berbeda dengan Azka, ponselnya pun tak berhenti bergetar di balik sakunya. Saat di lamou merah, ia cek dan ternyata itu dari Chyntia, namun diabaikan Azka, ia pun mengatur ponselnya ke mode silent.


Mereka sempat beradu mata karena kesibukan ponsel masing-masing menerima notifikasi. Dea begitu malas membahasnya, ia memutus kontak mata mereka terlebih dahulu kemudian memalingkan pandangannya ke luar jendela kaca mobil.


Sesampainya di rumah, Dea langsung buru-buru ke kamar kemudian mendirikan sholat isya setelah itu ia sibuk dengan ponselnya.


Dea harus super sabar memanjat naik ke semua percakapan yang dilewatkannya.


"Woi Dea.. mana??? Dea Ali!!!  Muncul dulu!" Pesan Rara.


"Lagi sibuk main bola kali, ini sudah jam berapa tapi tidak muncul-muncul?" Keluh Badai.


"Hadir..hadir..hadir! Ribut banget!" Dea mulai merespon.


"Sekarang jelasin ke kita, tadi kenapa bisa sama pak Azka ke apartemen trus ngapain sampe nginap segala di rumahnya?" Tanya badai mendesak.


"Ok, aku jelasin tapi kalian harus janji dulu, cukup kalian yang tau. Apapun yang terjadi, kalian tidak akan pernah menyambung mulut ke orang lain!"


"Oke!" Rara.


"Oke!" Badai.


"Aku udah nikah sama pak Azka!"


"What?" Badai.


"Yang bener lo, Dea?" Rara.


"Iya, sumpah! Kemarin malam akadnya."


"Wah.. jahat lo Dea. Kabar besar seperti ini tapi kami malah gak tau sama sekali." Rara.

__ADS_1


"Aku kecewa sama kamu, Dea. Kami ini kamu anggap apa? Kabar besar seperti ini dan kami tidak tau." Badai.


"Bro..sis! Maaf! Semuanya terjadi begitu saja. Tiba-tiba saja bunda Aya dan om Arga berencana menikahkan kami. Aku ditanya sore, habis Isya udah akad. Kalian tidak tau bagaimana shock-nya aku saat itu. Aku sudah tidak tau dan mengingat apa-apa lagi. Aku terlalu kalut, aku bingung harus berbuat apa. Kalian tau sendiri, bagi aku om Arga dan bunda Aya udah aku anggap seperti orang tuaku sendiri, tidak mungkin aku melawan kehendak mereka. Aku tidak ingin menyakiti mereka. Jadi, please. Aku benar-benar mohon kalian bisa mengerti posisi aku saat ini. Kalian adalah sahabat terbaikku, please, jangan marah!" Dea sudah mulai berkaca-kaca. Ia khawatir Rara dan Badai kecewa padanya.


"Aku tuh sebenarnya udah gak masalahin kalo memang kondisinya seperti itu, tapi apa kamu bahagia sama pak Azka?"


Pertanyaan Rara begitu menusuk ke hati Dea.


Bahagia? Dea lupa kalau semua orang yang menikah salah satu tujuannya adalah bahagia.


"Iya De, kalau kamu bahagia, kami juga ikut bahagia. Tapi kalau pak Azka menyakiti kamu, bilang sama aku, aku pasti akan membuat perhitungan sama dia." Balas Badai berapi-api.


"Thanks guys, i love you both! Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh doa dan dukungan kalian!"


*****


Azka langsung menuju kamar orang tuanya saat tiba di rumah. Sudah menjadi kebiasaan Azka semenjak bundanya jatuh sakit, tidak tenang rasanya jika tidak melihat wajah bundanya terlebih dahulu.


Ponsel Azka terus berkedip membuatnya tidak bisa fokus saat bercengkerama dengan bundanya.


"Biasa bun, Chyntia!" Jawab Azka malas.


"Ka, bunda ingatkan ke kamu. Ini tidak baik untuk hubungan kamu dengan Dea ke depannya. Jangan buat Chyntia berharap sama kamu!"


"Enggak kok, bun. Kesepakatan kita jelas dari awal. Hanya teman, tidak lebih. Kalaupun dia ngaku-ngaku pacar Azka, tidak masalah selama aku tidak diganggu. Lagian dia kan pacar Aldo. Aku bukan laki-laki perebut wanita orang, bun. Apalagi sekarang sudah ada Dea."


"Iya, bunda ngerti. Tapi sebagai perempuan, bunda bisa merasakan kalau Chyntia itu tidak menganggap kamu teman atau sahabatnya, dia sudah punya rasa ke kamu, Ka. Bunda tidak mau kamu terjebak di sini. Kasihan Chyntia yang berharap lebih ke kamu, lebih kasihan Dea lagi sebagai istri sah kamu. Setelah bunda sehat, bunda akan melaksanakan resepsi pernikahan kalian, bunda tidak mau ada kesalahpahaman di masyarakat. Apalagi Chyntia itu seorang model dan artis yang lagi naik daun, pasti punya banyak fans, jangan sampai fans-nya ini membully Dea. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Dea?"


"Gak mungkin Chyntia seperti itu. We are just a friends of benefit. No more!" Tegas Azka.


"Bunda hanya mengingatkan. Ada perasaan istri kamu yang harus kamu jaga di sini. Sebagai laki-laki yang sudah beristri, sudah selayaknya kamu punya batas-batasan sendiri dengan perempuan lain, meskipun itu sahabatmu. Kepentingan istrimu adalah yang utama di atas kepentingan kamu yang lain. Bunda tidak ingin kamu mengabaikan atau meninggalkan Dea saat Chyntia butuh kamu untuk menghadiri acara ini itu. Meskipun Dea belum mencintai kamu, tapi sebagai istri, harga dirinya akan sangat terluka. Mana ada istri yang terima suaminya diakui oleh perempuan lain di luar sana sementara suaminya seolah meng-amini."


Hati Azka mencelos, bagaimana dengan Chyntia yang masih membutuhkan status palsunya bersamanya?


"Bunda tegaskan ke kamu, Ka. Sekali kamu mengatakan di luar sana bahwa kamu masih lajang atau tidak mengakui bahwa kamu adalah laki-laki yang sudah menikah, maka seketika talak sudah kamu jatuhkan ke istri kamu. Ingat, talak itu hanya 3 kali, jika kamu mengingkari pernikahanmu meskipun hanya bercanda, tetap itu sudah dinyatakan jatuh talak. Talak satu! Misalnya, ada lagi orang berbeda yang bertanya apa kamu sudah menikah atau belum kemudian kamu jawab belum, talak dua sudah jatuh! Kemudian sekali waktu kamu bercanda dengan teman kamu kalau Dea itu bukan istri kamu maka itu sudah terhitung talak tiga! Jadi jangan main-main di sini. Status kamu harus jelas, status Chyntia harus jelas, begitupun dengan Dea."

__ADS_1


Azka menggenggam tangan bundanya erat, mereka saling menatap jauh ke dalam manik mata masing-masing, saling menyelami perasaan masing-masing.


"Iya bunda. Doakan Azka bisa memgambil hati Dea kembali. Azka tidak ingin kehilangan Dea lagi. Untuk urusan Chyntia, aku akan tegas. Terima kasih sudah diingatkan. Azka sayang bunda."


Mereka berpelukan dengan haru.  Azka benar-benar berterima kasih pada bundanya yang tak pernah lelah memberinya petuah-petuah menyejukkan di saat dirinya berada dalam masalah pelik seperti ini.


Azka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, sudah cukup ia diberi kepercayaan oleh bundanya. Ia ingat betapa marahnya bundanya saat tau apa yang dilakukannya pada Dea saat di sekolah dulu. Hampir saja ia dicoret dalam daftar kartu keluarga. Beruntung om Yudha dan tante Winny membelanya saat itu. Sayang sekali, Azka terlalu malu dan pengecut sehingga tidak pernah meminta maaf pada kedua orang tua Dea. Azka sangat menyesal!


Saat ini Azka sedang berada di ruang perpustakaan di rumahnya. Azka penasaran, kenapa Chyntia menelponnya terus menerus. Ia memang langsung mengirim pesan kepada Chyntia dan Aldo sesaat setelah keputusan orang tuanya sudah bulat menikahkan mereka malam itu juga. Hanya Aldo yang datang, sementara Chyntia sedang pemotretan di Bandung dan tidak bisa dihubungi.


Ada 110 panggilan tidak terjawab dari Chyntia. Azka kemudian menelpon balik.


"Hallo Azka, elo kok jahat banget sama gue. Kok bisa elo nikah sama orang lain? Gue sekarang harus gimana, Ka? Mau ditaruh dimana muka gue, satu Indonesia taunya elo itu pacar gue. Elo mikir gak sih?" Tanpa basa-basi Chyntia memberondong Azka dengan semua kegelisahannya dan tangis tersedu.


"Chyn! Bukankah dari awal sudah jelas? Kita tidak boleh mencampuri hidup masing-masing. Gue punya kehidupan sendiri, lo juga begitu. Sekarang gue udah nikah, dan gue rasa itu bukan urusan lo!" Tegas Azka.


"Gak bisa gitu dong, Ka! Orang-orang di luar sana taunya kita itu pacaran. Bagaimana dengan fans-fans gue yang berharap banget hubungan kita langgeng, orang tua gue juga sudah berharap banget, Ka! Gue mohon, Ka. Lo gak bisa gini ke gue."


"Tunggu.. tunggu dulu! Apa maksud lo dengan orang tua lo berharap dengan hubungan kita? Bukankah orang tua lo tau kalau lo sama Aldo sejak dari dulu? Dan lagian, bukahkah kita sudah bicarakan ini jauh-jauh hari sebelumnya kalau status kita ini hanya hubungan saling memanfaatkan dan tidak berlaku saat kita masing-masing sudah tidak membutuhkan hubungan ini. Sekarang, gue sudah tidak butuh, gue sudah menikah dan gue tidak mau disangkut pautkan lagi dengan urusan lo dengan fans-fans lo itu!"


"Lo jahat banget, Ka. Gue suka sama lo, Ka. Dari dulu, dari kita masih sekolah. Gue cinta sama lo. Kenapa lo gak pernah mengerti perasaan gue. Kenapa, Ka?"


Seketika persendian lutut Azka terasa lemas. Ternyata benar, Chyntia menyukainya. Sudah banyak temannya yang mengingatkannya dulu, bahkan bundanya juga. Chyntia hanya memanfaatkan Aldo untuk mendekatinya.


"Gue minta maaf, Chyn! Lo tau sendiri kalau gue tidak pernah menganggap lo lebih dari sahabat. Lupakan perasaan lo itu dan mulai sekarang gue harap kita tidak saling berhubungan lagi. Gue anggap ini selesai. Sorry!"


Azka langsung memutus sambungan teleponnya. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding, menatap langit-langit ruang perpustakaan tempatnya saat ini. Ini benar-benar di luar dugaannya.


Bagaimana bisa Chyntia melakukan ini pada dirinya dan Aldo? Apa Aldo tau tentang ini?


Arrrggghhh!!!


Azka menjambak rambutnya sendiri. Inilah yang paling dibencinya bersahabat dengan perempuan. Ujung-ujungnya ada perasaan lebih dan menginginkan lebih darinya.


×××××

__ADS_1


__ADS_2