
Bab 28 Mempersulit
Azka
Azka menarik paksa Chyntia masuk ke ruangan Aldo. Nisa, sang sekertaris Azka, ibu dari 2 anak tersebut kembali dibuat melongo menyaksikan pemandangan yang tidak biasa ia lihat selama bekerja menjadi sekertaris Azka di sini. Jiwa emak-emaknya meronta penasaran ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada atasan dan gadis yang ia kenal sebagai kekasihnya itu.
Otak cerdasnya tiba-tiba lelet, ia mencoba mencerna apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Bukankah di dalam ruangan Azka tadi masih ada Dea, perempuan yang diakui Azka sebagai istrinya. Lalu Chyntia datang! Oh, gawat. Perang telah dimulai.
Maka siapakah yang akan keluar menjadi pemenangnya? Dea sang istri sah atau Chyntia sang kekasih?
Nisa menempelkan telinganya di balik pintu, namun yang terdengar hanya suara samar Chyntia yang sepertinya menangis dan sesekali berteriak.
"Kenapa lo nikah gak bilang gue, Ka? Gue gak bisa terima. Ini sama saja penghinaan buat gue!" Ucap Chyntia berap-api tidak terima dengan keputusan Azka.
"Gue mau nikah atau tidak itu bukan urusan lo, Chyn! Ini hidup gue, gak ada sangkut pautnya sama lo! Kita hanya teman, lo itu kekasih sahabat gue, gak lebih dan gak mungkin lebih. Jangan mempersulit diri sendiri." Tegas Azka.
"Do, tolong urus pacar lo!" Perintah Azka pada Aldo dan hendak keluar dari ruangan Aldo.
"Azka, lo gak bisa campakin gue begitu saja! Gue gak terima lo buat gue seperti ini! Gue gak terima, Ka. Lo jahat! Lo gak bisa gini ke gue!!!" Ucap Chyntia histeris kemudian mendekati Azka hendak memeluknya.
Azka menghindar kemudian menarik Aldo untuk menenangkan Chyntia.
"Chyn, udah.. dari awal gue udah ingetin lo. Azka gak mungkin sama lo. Jadi, please! Please lo pergi dari sini. Jangan ganggu Azka dan Dea. Jangan pisahkan mereka lagi, jangan pernah membuat fitnah lagi. Udah cukup, Chyn!" Aldo sudah tidak tahan dengan semua kelakuan Chyntia.
Selama ini Aldo bertahan karena ia memang sangat menyayangi Chyntia, namun hari ini ia baru menyadari sesuatu. Chyntia hanya memanfaatkan dirinya. Aldo tau mengapa dulu Azka bisa berkata jahat pada Dea, semua itu karena fitnah kejam dari Chyntia yang berhasil mempengaruhi Azka saat itu. Namun ia dan Azka masih mau memberikan kesempatan kepada Chyntia untuk berubah. Nyatanya, tak ada yang berubah dari sikap Chyntia pada Dea.
Aldo sudah cukup sabar dan banyak berkorban untuk Chyntia, rasanya ia begitu tersiksa berada di antara Chyntia dan Azka.
"Gak Do! Lo harus bantu gue. Lo sudah janji akan melakukan apa saja untuk membuat gue bahagia!"
"Azka, please! Jangan tinggalin gue. Gue cinta sama lo, Ka. Dari dulu, gue suka sama lo, Ka!" Chyntia masih berusaha meraih tubuh Azka namun terus ditahan oleh Aldo.
"Sorry, Chyn. Gue gak pernah menganggap lo lebih dari sahabat gue. Harusnya lo bersyukur ada laki-laki sebaik Aldo yang setia mendampingi lo. Jangan mengejar sesuatu yang tidak mungkin lo dapatkan, jangan sampai lo membuang berlian yang sudah ada di dalam genggaman lo,
"Gue ingetin sekali lagi, jangan pernah ganggu hidup gue lagi bersama Dea atau gue tidak akan pernah memaafkan lo, selamanya!"
__ADS_1
"Do, tolong urus dia!"
Azka langsung keluar namun hampir saja ia menabrak tubuh Nisa yang terhuyung masuk ruangan karena berdiri dan menumpukan berat badannya pada pintu. Azka hanya menatap Nisa tajam kemudian masuk ke ruangannya.
Rupanya Dea masih di tempat dengan posisi yang sama saat Azka meninggalkannya tadi. Ingin rasanya Azka menghambur memeluk Dea, melepaskan semua perasaannya dan meyakinkan Dea bahwa semuanya baik-baik saja, namun Azka tidak bisa melakukannya saat ini. Ia terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya, ia terlalu takut ditolak oleh Dea. Dan jika itu terjadi, maka runtuhlah dunianya, jiwanya dan hidupnya.
Azka bukan laki-laki kuat seperti yang orang-orang lihat dari luar. Hatinya terlalu rapuh dan takut untuk mendengar penolakan dari perempuan yang menjadi sebagiannya itu.
Azka masih menunggu, menunggu hati Dea menerima, menyukai dan mencintainya. Dan jika saat itu telah tiba maka Azka tidak akan ragu lagi mengungkapkan perasaannya pada Dea dan memberi tahu sesisi dunia bahwa Dea adalah perempuan penguasa hatinya.
Satu hal yang Azka tidak tau, Dea bukanlah perempuan yang pandai menunjukkan perasannya. Dan pantang bagi Dea menunjukkan rasa sukanya pada seorang laki-laki meski sebesar apapun perasaanya.
Sebagaimana prinsip Dea, perempuan itu dikejar, bukan mengejar. Ia sudah pernah merasakan sakitnya mengejar-ngejar Azka dulu. Satu kebodohan yang tidak akan mungkin diulanginya lagi.
Andai itu adalah pakaian, maka Dea tak akan pernah memakai pakaian itu lagi.
Andai itu adalah pohon, maka Dea pastikan tidak akan pernah lagi lewat di bawah pohon tersebut.
Dea adalah pembelajar sejati, ia tidak akan mudah membiarkan dirinya jatuh pada kesalahan yang sama.
Dea menoleh karena menyadari kehadiran Azka yang ikut berdiri di sampingnya.
Dea tersenyum sumir ke arah Azka kemudian kembali melempar pandangannya jauh ke depan.
"Terima kasih, itu tidak perlu."
"Terserah kamu," Azka berbalik meninggalkan Dea yang masih setia dengan posisinya. "Istirahatlah." Imbuhnya kemudian membuka sebuah pintu geser di belakang meja kerjanya yang membuat Dea memgalihkan pandangannya ke arah sumber suara pintu tadi.
"Pakai ruangan ini!" Perintahnya kemudian.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dea melangkah masuk ke ruangan tersebut kemudian menguncinya dari dalam. Dea menghempaskan tubuhnya ke atas kasur king size di sana. Ia sungguh lelah, lelah berdiri beberapa puluh menit dengan posisi yang sama dan yang paling utama lelah jiwa dan hatinya. Ia benar-benar butuh istirahat.
Masih terlalu pagi untuk tidur, dan rasanya sangat tidak sopan tidur di kantor di dalam ruangan pribadi atasannya pula, namun Dea memilih mengabaikan semua itu. Ia butuh tidur untuk sejenak mengistirahatkan hati dan fikirannya.
*****
__ADS_1
Aldo menarik paksa Chyntia keluar dari kantor. Meski banyak mata memandang mereka, namun Aldo tidak peduli. Rasanya kesabarannya sudah habis. Untuk apa lagi ia bertahan dalam hubungan ini jika ternyata hati Chyntia tidak pernah tertuju padanya.
"Lepasin, Do. Gue bisa jalan sendiri!" Bentak Chyntia berusaha menghempaskan tangan Aldo namun Aldo bagai orang kesurupan yang tidak peduli pada sekitarnya lagi.
"Do, jangan buat gue semakin membenci lo! Atau jangan-jangan lo yang mengatur semua ini agar lo bisa dapatin gue?"
Aldo mendorong tubuh Chyntia masuk ke dalam mobilnya dengan kasar. Kemudian ia ikut masuk dan duduk di kursi kemudi.
"Diam! Jangan paksa gue berlaku kasar sama lo. Gue udah cukup sabar sama lo, gue bisa menghancurkan hidup lo kalo gue mau." Ucap Aldo penuh emosi menampakkan wajahnya yang memerah dan otot-ototnya menegang.
Aldo langsung menancap gas keluar dari area perusahaan. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Chyntia gemetar ketakutan.
"Lo mau bawa gue kemana, Do?" Tanya Chyntia bergetar.
"Pulang!"
"Jangan, Do. Orang tua gue gak boleh tau hal ini. Please Do! Jangan lakuin ini ke gue." Chyntia menangis tersedu, ia sangat frustasi dengan kenyataan yang dihadapinya. Selama ini orang tuanya selalu berharap akan menjadi besan seorang Arga Pramudya Hutama.
Siapa yang tidak ingin menjadi menantu dan besan salah satu orang terkaya dan berpengaruh di negeri ini?
Berstatus pacar Azka saja, Chyntia kebanjiran job, apalagi jika sudah resmi menjadi istri Azka.
"Sudah saatnya lo bangun dari tidur panjang lo, agar lo tidak terus bermimpi hal-hal yang tidak mungkin buat lo. Berhentilah selagi bisa, jangan mengedepankan hawa nafsu dan gengsimu, bukan itu yang menjadi sumber kebahagiaan."
Aldo berhenti di depan rumah orang tua Chyntia. Ia tidak berminat singgah, ia menekan tombol kunci otomatis di sisi kanannya.
"Masuklah, gue harap ini pertemuan terakhir kita."
Chyntia langsung membuka mobil dan melangkah keluar, menutup pintu dengan keras. Aldo membuka kaca jendela mobilnya kemudian mengingatkan Chyntia.
"Jangan pernah coba-coba mengganggu hidup Azka dan Dea atau lo akan menyesalinya seumur hidup lo!" Imbuhnya lagi kemudian meninggalkan Chyntia yang menatapnya nanar penuh luka.
Hari ini, Chyntia sempurna kehilangan dua orang sahabat terbaiknya sekaligus dua orang yang mengisi hatinya.
Serakah memang, tapi begitulah manusia. Terkadang dahaganya tidak akan pernah terpuaskan meski telah meneguk seisi samudera.
__ADS_1
Tak ada sesuatu yang lebih berat bagi jiwa selain keikhlasan, karena di dalamnya hawa nafsu tidak ambil bagian sama sekali. Sayangnya, itu sulit bagi jiwa-jiwa kerdil yang terlalu menggilai kehidupan dunia yang fana ini.
×××××