Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Masih Sakit?


__ADS_3

Bab 35 Masih Sakit?


Dea merasa tidurnya terganggu saat ia membalik tubuhnya ke arah jendela. Matanya silau karena pantulan cahaya yang masuk menembus tirai. Ia berusaha membuka matanya walaupun masih terasa berat.


Dea menarik paksa tubuhnya bersandar di kepala tempat tidur. Ia benar-benar merasa seluruh tubuhnya remuk redam, terutama bagian bawahnya yang terasa sangat perih.


"Kalau bang Azka begini terus, aku bisa mati," gumam Dea namun sejurus kemudian wajahnya terasa panas karena malu mengingat kejadian semalam dan pagi ini.


Meskipun Dea belum tau bagaimana perasaan Azka padanya dan dirinya pun masih bingung dan belum yakin dengan perasaannya sendiri, tapi Dea tidak akan menyesali keputusannya memberikan mahkotanya kepada Azka, suaminya. Urusan apakah setelah ini mereka akan tetap berpisah, Dea tidak ingin memikirkannya.


Dea hanya ingin menjalani ini dengan sebaik-baiknya dan menikmati setiap kebahagiaan-kebahagian kecil yang dirasakannya di dalam rumah tangganya.


Tiba-tiba perutnya berbunyi, ia berdiri mencari pakaian, matanya tertuju pada koper Azka yang terbuka. Dea meraih satu baju kaos berwarna putih milik Azka kemudian mengambil pakaian dalamnya di kopernya. Dari pada memakai lingerie, lebih baik memakai baju Azka.


Dea berendam dengan air hangat beberapa menit agar rasa perihnya cepat berkurang. Setelah mandi ia mencoba ke dapur, mencari makanan atau bahan makanan di dalam kulkas yang bisa ia masak.


Ternyata ada bahan untuk membuat pasta, Dea pun akhirnya membuat pasta untuk dirinya dan Azka. Tak lupa membuat teh mint kesukaan Azka.


Saat Dea sedang menuang bumbu instant pasta masuk ke panci, tiba-tiba sepasang lengan kokoh melingkari perutnya dari belakang.


Deg!


"Kenapa masak? Aku udah pesan makanan tadi." Tanya Azka semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh belakang Dea kemudian mencium tengkuk Dea.


Jantung Dea memompa cepat, sekujur tubuhnya meremang mendapat perlakuan seperti ini.


"Aku udah lapar banget, lagian di sini ada banyak bahan yang bisa dimasak." Dea berusaha menenangkan kegugupannya dengan tetap sibuk mengaduk pastanya agar bumbunya tercampur rata.


Azka memilih tidak menanggapi lagi namun sangat enggan melepas pelukannya di tubuh Dea. Memeluk Dea sambil masak begini rasanya sangat menyenangkan.


"Loh, kok pake baju abang? Kangen yah? Baru juga ditinggal sejam." Tanya Azka heran melihat Dea memakai kaosnya yang terlihat longgar namun ia juga sangat senang melihatnya.


Dea mematikan kompor, mengambil piring untuk menaruh pastanya. Sementara Azka begitu setia mengikuti langkah Dea karena ia masih enggan melepas pelukannya.


Dea malu ketahuan memakai kaos Azka.


"Daripada pake lingerie sepanjang hari, mending pake ini." Sebenarnya Dea merasa tidak nyaman dipeluk terus seperti ini, tapi ia juga masih terlalu malu melihat wajah Azka, apalagi menatap matanya.


"Aku lebih suka kalo kamu gak pake apa-apa." Bisik Azka terdengar sensual di telinga Dea.


Wajah Dea kembali memerah, ia benar-benar sangat malu, jauh berbeda dengan Azka yang terlihat biasa-biasa saja. Mungkin ini yang biasa orang tua bilang bahwa tidak ada harga diri dalam mencintai seseorang. Harga diri apa lagi yang tersisa jika hal yang paling tersembunyi dan paling berharga di dalam hidup sudah diserahkan kepada orang yang kita cintai itu?


"Tapi bukankah bang Azka tidak mencintaiku? Bukankah ia menyentuhku hanya karena naluri lelakinya yang bergejolak dan tak bisa lagi dibendungnya? Tidak mungkin bukan bang Azka menyelesaikan hasratnya pada perempuan yang tidak halal baginya?"

__ADS_1


Dea sedang berada pada posisi perang batin saat ini.


"Kok bengong?"


Dea terkesiap, mengabaikan pertanyaan Azka, Dea berusaha membebaskan diri dari pelukan Azka dan membawa dua piring pasta yang sudah disiapkannya ke meja makan.


Dea lebih banyak menunduk saat menikmati sarapannya yang terlambat itu, berbeda dengan Azka yang matanya tidak pernah beralih dari wajah Dea meski tangan dan mulutnya ikut makan.


"Masih sakit?" Tanya Azka memecah keheningan.


"Pertanyaan itu lagi. Bilang sakit sama tidak juga sama saja." Kesal Dea dalam hati.


Dea hanya mengangguk menunjukkan muka meringisnya namun tetap melanjutkan suapan pastanya.


"Kapan kita pulang?" Berdua dengan Azka saja membuat Dea terus merasa gugup, setidaknya kalau di rumah ada banyak orang selain Azka.


"Kamar ini di-booking sampai hari selasa." Jawab Azka kemudian menyesap teh mint-nya.


Dea mendesah kasar, ingin mengatakan sesuatu pada Azka namun ia ragu dan malu.


"Kenapa?" Azka tidak nyaman melihat Dea mendesah kasar seperti sedang memikirkan hal berat.


Dea mengangkat wajahnya menatap Azka.


"Untuk?" Azka mengerutkan keningnya.


"Beli pakaian. Dompetku kosong, isinya disabotase Rara. Ponselku juga gak bisa dipake, kecelup di bathtup tadi."


Azka merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan dompet dan ponselnya.


"Ini!" Azka menggeser dompet dan ponselnya ke depan Dea.


Dea termangu melihat dua barang tersebut. Ia menggeser kembali dompet Azka.


"Aku hanya mau pinjam duit, bukan dompetnya."


Azka balik menggeser lagi dompetnya.


"Mulai sekarang kamu yang pegang dompet dan ponselku." Ucap Azka santai.


"Trus bang Azka pake apa?" Tanya Dea tidak mengerti.


"Kita kan tinggal serumah, kerja sekantor juga. Lagian saat masuk kantor nanti, ruanganku akan menjadi ruang kerja kamu juga."

__ADS_1


"Loh.. gak bisa gitu, aku gak mau!" Dea memanyunkan bibirnya karena kesal.


"Barang-barang kamu sudah dipindahkan ke atas dan ruangan kamu sudah dialih fungsikan jadi komputer room buat anak-anak lapangan."


"Kok bang Azka ambil keputusan sendiri gitu sih?"


"Ingat, di kantor aku adalah atasan kamu, sedangkan di rumah aku adalah suami kamu. Jadi kamu wajib taat sama aku 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 52 minggu setahun."


Azka bangkit membawa piringnya kemudian mengambil piring Dea yang juga sudah kosong ke wastafel.


Dea mengikutinya dari belakang. Azka mencuci piring dan peralatan dapur tadi. Ia memang sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan dapur seperti ini. Apalagi saat tinggal di Jepang, semuanya ia kerjakan sendiri.


"Tapi kalo bang Azka lagi perjalanan dinas keluar kota atau keluar negeri, kan aku gak mungkin ikut, ponsel dan dompetnya bagaimana?"


"Aku bisa beli dompet dan ponsel lagi!"


"Bukan masalah dompetnya bang, isinya ini loh."


Azka mematikan keran air kemudian menatap Dea dengan serius.


"Isi dompetnya kamu pindahin ke dompet kamu semua, tinggalkan SIM dan KTP saja. Jadi aku tidak perlu beli dompet lagi."


Dea mengerutkan keningnya. "Terus, kalo butuh uang, uang dari mana?"


"Minta sama kamulah. Kan kamu yang pegang semua uang aku." Azka kembali melanjutkan aktifitas mencuci piringnya, mengabaikan Dea yang kini terdiam.


"Dasar! Tinggal ngomong doang kalo mulai sekarang gue yang jadi manager keuangan pribadinya susah amat, pake mutar-mutar dari Sabang sampe Sabang lagi." Umpat Dea dalam hati.


"Bang Azka..."


"Kenapa lagi? Pokoknya keputusan tadi udah fixed. Sekarang kamu pesan pakaian atau ponsel dan dompet aku ambil balik." Azka tau Dea akan berusaha bernegosiasi namun ia tidak ingin dibantah kali ini.


Malas berdebat dengan Azka, Dea pun memilih mengambil ponsel Azka. Namun alangkah kagetnya Dea saat melihat foto wallpaper ponsel Azka.


"Bang Azkaaaa!!!"


Azka tertawa terpingkal-pingkal sendiri di dapur. Ia sudah memprediksi reaksi Dea akan histeris seperti ini saat mendapati wallpaper ponselnya.


Foto itu Azka ambil pagi tadi saat Dea masih terlelap dalam tidurnya.


Ternyata, bahagia itu sederhana. Karena di dalam amarah seorang istri pun tersimpan kebahagiaan di sana, hanya saja cuman sedikit suami yang menyadarinya.


Bukankah muka manyun itu terlihat lucu dan seksi???

__ADS_1


×××××


__ADS_2