Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Mandi Wiladah


__ADS_3

Bab 75 Mandi Wiladah


Sudah tiga minggu kami tinggal di kota Jayapura, awalnya terasa membosankan, apalagi jika mengingat peristiwa mencekam di hari pertama bang Azka ke kantor, itu sungguh menakutkan, namun beberapa hari belakangan ini, aku malah mulai kerasan.


Adanya mbak Chyntia membuat aku mulai mencintai kota ini, beliau sering mengajakku ke beberapa tempat dimana aku bisa memandangi keindahan kota Jayapura dari berbagai sudut pandang. Entah itu memandangnya dari ketinggian, dan atau dari tempat rendah, terutama di malam hari saat bang Azka dan bang Aldo sedang lembur di kantor.


Kami berdua banyak menghabiskan waktu bersama, terkadang dari pagi hingga malam. Terkadang juga kami menghabiskan waktu dengan nonton ke bioskop, kami seperti dua remaja tidak tahu diri, keluyuran dengan membawa perut buncit masing-masing.


Salah satu hobby kami adalah adalah berjalan saat pagi di pantai depan kantor Gubernur, Papua. Orang di sini menyebutnya Pantai Kupang, apalagi terkadang ada yang jualan nasi ketan bakar yang dibungkus dengan daun, kami menyebutnya gogos, salah satu makanan khas asal Bugis-Makassar.


Aku tidak pernah menduga, mbak Chyntia bisa seasyik ini diajak ngobrol dan jalan santai. Kami bagai dua sahabat yang sudah saling mengenal sejak kecil.


Senja pun akhirnya turun memayungi langit, kami masih duduk dengan kaki terendam di air, kebetulan air laut sedang pasang besar sehingga gelombang pecah datang bergulung-gulung berlomba menggapai kaki kami.


"Terima kasih yah, De!" Ucap mbak Chyntia membuatku menoleh dan menatapnya dalam, ia pun menatapku penuh arti.


"Terima kasih karena mau jadi teman mba di sini, terima kasih sudah menjadi istri Azka, karena jika itu bukan kamu, jangankan dengan Azka, bahkan Aldo pun mungkin gak mau lagi melirikku." Ucapnya tersenyum kemudian melempar pandangannya ke matahari senja di ufuk barat yang jauh di sana.


"Aku yang harusnya berterima kasih sama mbak?" Ujarku yang kemudian membuatnya kembali menoleh kepadaku. "Kalau bukan karena mbak, mungkin aku dan bang Azka masih dengan ego masing-masing, cinta tapi gak ada yang mau ngaku, selama ini kami terlalu sibuk saling meraba-raba perasaan antara satu sama lain, padahal tinggal bilang tapi pake acara naik turun tanjakan berbelok-belok seperti masuk labirin, akhirnya tersesat sendiri. Tapi, Alhamdulillah, dengan kejadian yang dulu, justru itulah yang membuat kami semakin menyadari perasaan masing-masing, berawal dari rasa marah, tentu marah karena cemburu, tapi marahnya kami betul-betul hanya dari persepsi dalam fikiran masing-masing yang belum tentu sesuai dengan kenyataan sesungguhnya. Akhirnya bang Azka mengambil tindakan sesuai dengan fikirannya, aku pun juga begitu, karena fikirannya sudah salah sejak awal, jadi tindakan yang diambil juga pasti jadi salah, akhirnya aku kabur deh.. itu memalukan!" Ucapku tersipu malu.


Mbak Chyntia menggeleng.


"Sekali lagi maaf yah, De!" Ucapnya tulus dengan wajah yang masih menyimpan rasa bersalah.


"Iya mbak, aku udah maafin, aku udah lupain semuanya, gak baik menyimpan rasa sakit lama-lama di dalam hati, nanti malah jadi penyakit. Lagian gak baik kalo kita terlalu sering menjadikan kesedihan dan kesusahan jadi tema pembicaraan, lama-lama bisa jadi penghalang antara kita dengan kebahagiaan." Ucapku tersenyum mencoba membalikkan suasana ke kondisi ceria, bukan haru seperti saat ini.


"Iya, kamu betul juga. Ah..kenapa jadi cerita melow gini, sorry yah, mungkin bawaan hamil kali yak."


Aku tertawa menanggapi ucapan mbak Chyntia, kenyataannya akhir-akhir ini aku paling suka meneteskan air mata tanpa sebab, apalagi kalau bang Azka sibuk, aku suka ngambek, merasa bang Azka lebih mentingin pekerjaan daripada aku dan anaknya.


"Mungkin juga sih mbak." Ucapku kemudian.


"Aku hanya kefikiran dengan si baby kalo udah lahir nanti." Ucap mbak Chyntia kembali serius.


"Memang kenapa mba? Apa bang Aldo menyakiti mbak?" Tanyaku sedikit penasaran.

__ADS_1


"Tidak, bukan seperti itu." Selanya cepat. "Aku hanya kefikiran anak aku, soalnya dia perempuan, kasihan, saat nikah nanti dia gak bisa diwalikan oleh ayah kandungnya sendiri, gak bisa mendapatkan warisan dan entah apa lagi konsekuensi yang harus ia tanggung karena dosa-dosa kami." Ucapnya menghela nafas kasar.


Jujur, aku juga bingung menanggapinya. Karena apa yang diucapkan mbak Chyntia barusan memang benar, malah gak boleh bernasab ke ayahnya, melainkan hanya kepada ibunya. Dan tentang urusan hak waris, ia juga tidak akan memiliki hak waris kepada ayahnya bahkan mendapatkan nafkah pun gak punya hak sama sekali. Luar biasa sekali hukumannya.


"Gak usah terlalu difikirin mba, bagaimanapun ia adalah anak yang suci, ia tidak mewarisi dosa kedua orang tuanya. Yang terpenting ke depannya bagaimana menjelaskan ke dia tentang status kelahirannya agar calon suaminya juga kelak bisa mengerti, karena bagaimanapun masih ada orang yang mempermasalahkan tentang anak-anak yang lahir di luar pernikahan. Termasuk bang Aldo, jangan sampai dia ngotot jadi wali nikah pula nantinya, bisa gak sah nikahnya, ujung-ujungnya anak-anak yang lahir nanti jadinya anak hasil zina juga. Na'udzubillah.." Aku sendiri jika diberikan pilihan, tentu aku sangat ingin menjaga anak keturunanku lahir dari keturunan yang bersih nasabnya. Sebut saja aku kolot, tapi semua orang punya hak mendapatkan yang terbaik di dalam hidupnya bukan?


"Iya, kamu benar. Ah, udah hampir maghrib, pulang yuk." Ajaknya kemudian berdiri dari tempat duduknya.


Aku pun mengikuti mbak Chyntia, tidak terasa sudah adzan maghrib, padahal kami di sini dari habis sholat azar tadi.


Namun, baru beberapa langkah kami meninggalkan pantai, tiba-tiba mbak Chyntia memegang perutnya, merasa kesakitan dan hampir tidak kuat menahan tubuhnya sendiri. Aku mendekat dan memapahnya.


"Mbak kenapa?" Tanyaku panik.


"Sepertinya ini sudah waktunya." Ucapnya meringis.


Aku membolakkan mata, sedikit panik dan kebingungan.


"Telpon bang Aldo? Ah, kita ke rumah sakit sekarang, atau---"


"Ke rumah sakit." Mba Chyntia tampak tenang, aku yang panik. Beruntung ada grab yang sedang di lokasi dan kami langsung menuju ke rumah sakit. Di dekat mall yang tidak jauh dari sini, ada rumah sakit swasta yang lumayan bagus standar pelayanannya di kota ini dan memang mbak Chyntia rutin memeriksakan kandungannya di rumah sakit tersebut.


Kurang dari sepuluh menit kami sudah tiba di UGD, setelah diperiksa ternyata sudah pembukaan delapan. Ternyata mbak Chyntia sudah menyiapkan segalanya jauh-jauh hari, mengingat ia berfikir akan melahirkan tanpa dudampingi oleh siapapun, jadi di rumah sakit ia sudah mengkondisikan keadaannya dan petugas kesehatan yang merawatnya segera melarikannya ke ruang bersalin. Aku sendiri berjalan pelan mengikuti, aku tidak cukup kuat berjalan cepat.


Saat sampai di ruang bersalin, aku memberanikan diri mendampingi mbak Chyntia, aku tidak tega meninggalkannya meski aku mulai dilanda rasa takut dan entah perasaan apa lagi.


Keringat bercucuran membasahi wajahnya, aku tau ia sedang menahan sakit, namun ia tidak mengeluh, sesekali terdengar suara leguhan ringisannya, namun aku tau mbak Chyntia sedang berjuang menahan rasa sakitnya. Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya bang Azka dan bang Aldo datang.


Bang Aldo menggantikanku menunggui mbak Chyntia di ruang bersalin. Aku sendiri langsung menghambur ke pelukan bang Azka. Keringat dingin terasa membanjiri tubuhku, tanganku terasa dingin.


"Hei.. samua akan baik-baik saja, kamu jangan khawatir, Chyntia dan anaknya akan baik-baik saja." Seperti mengerti ketakutanku saat ini, bang Azka terus mengelus pundakku penuh sayang.


"Darahnya banyak banget bang, aku takut."


"Gakpapa sayang, memang seperti itu prosesnya. Kamu jangan kepikiran yah, kamu harus kuat, kamu juga pasti bisa, okey."

__ADS_1


Aku hanya mengangguk masih di dalam pelukan bang Azka. Sejujurnya, aku cukup terpengaruh melihat wajah kesakitan mbak Chyntia tadi. Sungguh perjuangan yang luar biasa, aku belum pernah melihat orang kesakitan sesakit yang tergambar di wajah mbak Chyntia tadi.


Tidak lama kemudian terdengar suara tangis bayi dari dalam sana, aku mengurai pelukan bang Azka dan kami saling menatap. Selang lima menit kemudian bang Aldo keluar menghampiri kami. Barulah aku bisa bernafas lega setelah mendengar keadaan ibu dan bayinya semua sehat


"Alhamdulillah..." Ucapan syukur terus kupanjatkan, tak terasa air mataku meleleh saat melihat dari jendela sang bayi dimasukkan ke ruang bayi. Bang Azka memeluk pundakku, memberikan ketenangan tersendiri dan memang selalu berhasil membuatku tenang.


Setelah beberapa saat, kami mengikuti mbak Chyntia yang dipindahkan ke ruang inap bersama bayinya. Alhamdulillah, prosesnya berjalan cepat dan bisa melahirkan dengan normal.


"Bang Aldo, nanti kalau mbak Chyntia mau ke toilet, sekalian saja mandi wajib untuk ibu yang baru sudah melahirkan, namanya mandi wiladah, jadi diniatin aja buat mandi wiladah, jadi ini beda dengan mandi wajib setelah nifas nanti. Aku ingatin aja, soalnya masih banyak yang gak tau tentang hal ini, padahal, bagi perempuan yang habis bersalin, jika tidak melakukan mandi wiladah, maka sholat dan semua ibadahnya akan tertolak semuanya. Karena kita tidak pernah tau kapan ajal datang menjemput, bisa jadi sebelum nifas selesai ternyata ajal datang, jadi ketika itu terjadi, kita sudah dalam keadaan bersuci." Ucapku menjelaskan panjang lebar.


"MaasyaAllah, De. Mbak benar-benar gak tau, mbak fikir nanti mandi wajibnya setelah selesai nifas. Thanks yah.."


"Iya mbak, udah tugas aku mengingatkan, soalnya masih banyak perempuan yang gak tau tentang ini."


"Thanks yah, De." Ucap bang Aldo kemudian.


"Ya sudah, kalian istirahat aja, kami kembali dulu ke hotel, besok pagi kami ke sini lagi. Selamat yah Bro." Ucap bang Azka merangkul bang Aldo. "Selamat yah, Chyn. Sehat-sehat yah, kami balik dulu ke hotel."


Hari yang melelahkan, namun melegakan. Melihat kelahiran putri mbak Chyntia dan bang Aldo sungguh memberi kebahagiaan tersendiri, bayinya sangat cantik dan menggemaskan, sayangnya aku belum berani menggendongnya. Membuat aku juga sudah tidak sabar menunggu kelahiran anakku yang sengaja tidak ingin kami ketahui jenis kelaminnya. Biar nanti jadi kejutan.


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.


Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.


Thanks, 😘


+++++++++++++


Hai readers tersayang, maaf, baru sempat update sekarang, kemarin ada sedikit pekerjaan jadi benar-benar gak sempat buat nulis.


Dan sebenarnya author udah kehabisan ide juga, karena memang rencana awalnya akan end di part Azka dan Dea ketemu di Dubai kemarin, namun dilanjutin ke beberapa bab selanjutnya. Nah, sekarang author benar-benar ingin menuju ending, author menulis di sini niatnya memang buat belajar nulis dan punya target yang jelas biar nulisnya gak molor dan akhirnya hanya berakhir di isi kepala kemudian menguap begitu saja.

__ADS_1


Author memang menghindari bikin novel yang panjang-panjang yang sampai ratusan bab. Sepertinya itu belum level saya. hehe..


Buat yang selalu sabar nungguin, thanks yah.. thanks banget atas supportnya. InsyaaAllah masih akan ada bbrapa bab hingga menuju tamat. 😊


__ADS_2