Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Menyembuhkan Luka


__ADS_3

Bab 10 Menyembuhkan Luka


Subuh-subuh sekali bunda Aya diantar sopir ke Bandara. Sebenarnya Dea ingin ikut mengantar beliau, tapi beliau menolak. Alasannya, Dea nanti sudah mulai bekerja lagi, jangan sampai di kantor jadi ngantuk.


Akhirnya Dea mengalah. Bunda Aya termasuk orang yang keras kepala, keputusannya susah dibantah.


Dea sebenarnya penasaran dengan kondisi om Arga saat ini, namun untuk melihat beliau secara langsung, rasanya Dea belum sanggup. Ia ingat betul bagaimana kondisi akhir kedua orang tuanya. Itu terlalu menyakitkan jika mengingatnya.


Biarlah Dea menyembuhkan lukanya dulu, sambil berharap om Arga segera pulih dan kembali ke Jakarta. Karena kesembuhan om Arga adalah obat juga baginya. Dea tau bagaimana peran besar om Arga mengangkat derajat papanya sejak dari muda.


Sulit menemukan orang sebaik om Arga, makanya papanya tetap setia menjadi tangan kanan om Arga dibanding membangun perusahaan sendiri, padahal papanya mampu untuk itu.


Papanya bukan kacang yang lupa pada kulitnya, papanya bukan pagar yang makan tanaman, papanya bukan sahabat yang menikam dari belakang. Berapa banyak orang yang setelah dibantu, diberi kepercayaan, diberi ilmu dalam bebisnis dan berusaha lalu kemudian setelah orang itu merasa mampu, ia berubah menjadi kompetitor yang mematikan dan tidak berbelas kasih.


Papanya pernah berpesan saat mereka sedang bersantai sore sambil bermain catur, "punya sahabat itu tidak usah terlalu banyak, tapi cari yang baik, yang mau melirikmu di saat dirimu masih bukan siapa-siapa, yang mau mendorongmu menapaki tangga kesuksesan, yang tidak pernah meninggalkanmu seburuk apapun kondisimu. Kalau dapat itu, pegang kuat-kuat, jaga baik-baik, karena bisa jadi kamu tidak akan pernah lagi menemui orang sebaik itu."


"Orang baik itu, percayanya hanya sekali, jadi jangan coba-coba mengkhianatinya."


"Dan...jangan terlalu mudah percaya sama orang lain, bahkan simpankan sedikit keraguan dan rasa tidak percaya pada dirimu sendiri, karena kamu itu masih manusia. Karena bisa jadi, kamulah yang jadi penjahatnya, bukan sahabatmu!" Satu pion dea diembat kuda hitam papanya. Lalu dibalas Dea memakan kuda papanya.


"Kalau kamu berbuat baik pada orang lain hari ini, bisa jadi besok sudah lupa. Tapi tetaplah berbuat baik. Karena semua ini adalah antara kamu dan Allah, bukan antara kamu dan orang lain. Skakmat!!!" Tanpa sadar Dea kalah lagi dari papanya.


*****


Singapura


Azka


Azka dan Caca menjemput bundanya di Bandara Changi, sudah hampir setahun mereka tidak bertemu, meskipun rajin melakukan panggilan video, akan tetapi tetap saja rasanya berbeda, tidak ada rindu yang berkurang, malah terkadang rindunya yang jadi bertambah-tambah.

__ADS_1


Mereka sengaja tiba lebih dahulu di Bandara dari jadwal kedatangan bundanya. Takut membuat bundanya menunggu, sementara mereka tau bagaimana kerasnya bundanya menekan keinginan dan kerinduannya pada suaminya yang sangat disayanginya.


"Gimana kuliah kamu, Ca?" Tanyanya memecah kesunyian diantara mereka berdua.


"Alhamdulillah, lancar bang!" Ucap Caca tidak bergeming menatap layar ponselnya.


"Lagi baca apa sih? Serius banget sampe abang dianggurin gini." Protesnya pura-pura bersungut.


"Iiiihhh.. lagi baca novel, bang. Tanggung, ini lagi seru-serunya. Ada sedih-sedihnya gitu, tapi lucunya banyak. Abang mau baca?"


"Gak level sama novel begituan! Awalnya menjual penderitaan, ujung-ujungnya cerita po*no. Abang gak suka yah kalo kamu baca novel gendre seperti itu. Ada banyak novel yang berkualitas, bukan hanya punya penulis kenamaan dunia, di Indonesia juga banyak!"


"Kamu pacaran gak?" Tanyanya lagi penuh selidik.


"Enggak bang, sumpah!" Jawab Caca mengangkat satu jari telunjuknya.


"Abang bukannya mau menekan kamu tapi abang merasa punya kewajiban mengingatkan dan menjaga kamu."


"Abang hanya gak mau kamu kebablasan karena udah terlanjur sayang. Sekarang zaman udah gila, kamu bisa melihat apa saja hanya dari ponsel pintarmu ini. Di dunia ini, mungkin tinggal 1% laki-laki yang suci matanya dari hal-hal yang berbau por*o, dan buat laki-laki yang belum punya pasangan seperti abang, kemana melampiaskan hasratnya kalau bukan sama pacar?"


"Jadi abang suka nonton begituan?" Tanya Caca gagal fokus.


"Kalo suka, enggak. Tapi kalo pernah nonton, abang gak munafik, abang bukan laki-laki suci. Dan itu efeknya lama nempel di otak, gak mau hilang. Rasanya ada yang mendesak meminta dilepaskan, kalau posisinya saat itu abang punya pacar, kemungkinan besar abang akan khilaf, abang tidak akan tahan lagi. Makanya abang selalu kefikiran kamu, jangan sampai kamu menjadi fantasi liar laki-laki diluar sana setelah nonton video aneh-aneh, dan na'udzubillah banget, abang benar-benar gak bisa kebayang kalo ada laki-laki yang berniat memacari kamu hanya demi mendapatkan tubuhmu secara mudah dan cuma-cuma. Mudah-mudahan kamu dihindarkan dari laki-laki pezina, Ca!"


"Aamiin.. na'udzubillah bang. Maaf kalo Caca kadang bandel, tapi Caca akan selalu berusaha menjaga kesucian diri Caca dan menjaga kehormatan keluarga." Ucap Caca mantap.


"Ini baru adek kesayangan abang!" Azka lalu merangkul leher Caca dengan satu lengannya lalu menariknya ke dadanya. Satu kecupan lembut mendarat di pelipis Caca.


Azka merasakan getaran ponselnya dari balik saku celananya. Ternyata itu bundanya, mereka segera mendekati pintu kedatangan penumpang di Terminal 4 bandara Changi. Setelah bertemu bundanya, mereka memilih naik taksi menuju Rumah Sakit.

__ADS_1


"Sehat, bun?" Tanya Azka saat sudah duduk di dalam taksi. Ia sendiri duduk di samping supir, sementara Caca dan bundanya di kursi penumpang belakang.


"Alhamdulillah, bunda sehat."


"Kabar kak Dea gimana?" Tanya Caca.


"Ia selalu terlihat kuat, namun siapa yang tau apa yang dirasakannya?" Jawab bunda lalu menghela nafas.


"Anak itu sangat keras kepala, dia berhasil memaksa bunda ke sini." Keluh bunda.


"Bunda gak usah khawatir, kak Dea gadis yang kuat. Lagian kalo bunda tetap memilih di sana menemaninya, justru itu akan membuatnya tertekan. Dia akan merasa bersalah sama ayah dan bisa jadi malah merasa menjadi penyebab ayah dan bunda berpisah." Ucap Caca menenangkan bunda.


"Iya, kamu benar." Jawab bunda Aya kemudian melempar pandangannya keluar jendela. Ia masih kepikiran tentang kondisi Dea saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, suaminya lebih membutuhkannya dalam kondisi seperti ini.


Caca meraih satu tangan bundanya lalu menggenggamnya.


"Bunda gak usah kefikiran terus, biar besok Caca pulang." Caca bisa membaca raut kekhawatiran di wajah tua bundanya itu. Ia tak ingin membuat bundanya terlalu banyak fikiran.


Azka hanya diam menyimak perbincangan dua perempuan beda generasi di belakangnya itu, mereka yang membicarakan satu sosok perempuan yang tidak pernah bisa dilupakan Azka.


Ingin rasanya Azka berlari menuju Dea lalu memberinya pelukan hangat dan menenangkan. Namun apalah dayanya.


Dirinya siapa?


Teman bukan!


Suami, apa lagi!


Bisa-bisa dia dikasi bogem mentah oleh Dea. Malu dong, seorang Azka kena KDRT. Gak banget!!!

__ADS_1


×××××


__ADS_2