
Bab 48 Mulai Ragu
Aku naik ke ruangan melalui pintu khusus yang langsung menghubungkan lantai dasar dengan ruangan bang Azka. Berharap bisa melihat wajahnya saat pintu lift terbuka. Namun aku harus menelan rasa kecewaku karena yang kuharapkan ternyata tidak ada.
Aku berjalan malas ke meja kerjaku, meletakkan tas ransel yang selalu kugunakan saat ke kantor.
Beginilah kenyataan hidup jadi Engineer, apalagi perempuan, gaji boleh tinggi, tapi penampilan gak ada bening-beningnya macam SPG di mall-mall sono. Toh kerjaannya hanya berkutat dengan laptop kemudian turun ke lapangan melihat kondisi proyek yang sedang berjalan, memastikan apakah yang dikerjakan di lapangan sesuai dengan gambar desainnya, apakah sudah sesuai dengan jadwal pengerjaannya, dll.
Aku punya teman, gajinya pake dollar, tapi kerjaannya adalah merangkak di dalam lambung kapal melalui beberapa manhole (lubang manusia). Namanya manhole, ukurannya benar-benar hanya cukup buat dilewati satu orang, kemudian masuk ke lambung kapal, lambung kapal ini kurang udara, gelap, di dalamnya gak bisa berdiri tegak, untuk melewatinya harus dengan merangkak. Saat keluar, bisa kebayang penampakannya, oppa Hyun Bin pun gak bakal ada lagi jejak-jejak kegantengannya kalau kerjaannya seperti itu, tapi yah itu, duitnya banyak.
Gajiku? Alhamdulillah, beli skincare jutaan juga gak akan menggoyang saldoku di ATM. Tapi terkadang merasa rugi perawatan, udah facial mahal-mahal di salon, besoknya turun ke lapangan, aduh..aroma laut bercampur dengan debu besi baja, panas matahari menyengat membakar kulit wajah, belum lagi terkadang udara dipenuhi dengan biji pasir yang digunakan untuk kegiatan sandblasting. Jadi, sandblasting ini adalah proses pembersihan pada bagian yang berkarat pada kapal, sebagai pembersihan tahap awal sebelum kapalnya di cat berlapis-lapis sehingga kelihatan cantik, kuat dan tahan terhadap korosi, ini dilakukan dengan menembakkan material pasir blasting dengan tekanan tinggi. Jangan coba-coba mendekat saat kegiatan ini dilakukan, atau tubuhmu akan sempurna menjadi daging cincang. Sebenarnya, aturannya, sandblasting ini dilakukan di dalam ruangan tertutup karena akan mencemari kebersihan udara, namun dalam kondisi proyek sebanyak sekarang ini, kapasitas workshop tidak mencukupi, jadi nakal sedikit tidak apa-apa.
Saat ini aku berdiri di balkon ruangan yang menghadap ke laut lepas, kami menyebutnya anjungan, kebetulan langit sedang mendung, berdiri lama-lama di sini rasanya menyejukkan, angin bertiup menerbangkan ujung-ujung jilbabku, terasa lumayan menyegarkan kepalaku yang sejak semalam terasa ingin pecah.
"Bu Dea!"
Aku sedikit kaget mendengar mbak Nisa sudah ada di sampingku ikut menikmati keindahan pemandangan awan hitam yang menggumpal-gumpal di garis pertemuan laut dan langit yang terlihat dari kejauhan.
"Ternyata di sini memang nyaman banget, pantesan dari tadi saya panggil-panggil ibu gak didenger." Seloroh mbak Nisa lagi.
Aku hanya tersenyum menanggapinya, di sini memang terasa sangat nyaman.
"Pak Azka kemana sih bu? Ini ada client yang marah-marah karena pak Azka membatalkan meeting begitu saja dengan mereka, padahal mereka udah jauh-jauh datang dari Norway." Ucap mbak Nisa lagi sambil menghela nafasnya.
Sejenak aku menatap mbak Nisa mencoba mencari jawaban yang pas.
"Ada urusan keluarga yang mendesak, urgent!" Jawabku mencari alasan. "Apa client-nya sudah pulang?" Tanyaku kemudian.
__ADS_1
"Udah bu, besok mereka akan datang lagi katanya."
"Ya udah kalo gitu, mbak sampaikan permohonan maaf pak Azka sekali lagi kepada mereka, pak Azkanya benar-benar ada urusan urgent, gak bisa ditinggal sama sekali." Ucapku tersenyum kecut.
Sepenting apa urusan bang Azka dengan mbak Chyntia sampai meeting dengan client penting bisa ia re-schedule sesuka hatinya? Padahal, setauku mereka ini adalah client yang sangat diburu bang Azka karena jika mereka sepakat melakukan kerjasama, maka ini akan menjadi jalan pembuka untuk bang Azka melalui BM Shipyard mengambil proyek pembangunan Offshore Construction (Anjungan pengeboran minyak di lepas pantai). Nilai investasinya adalah trillyunan rupiah, ini adalah mega proyek yang sangat luar biasa.
Aku merasakan gerimis mulai jatuh satu-satu ke kulit wajahku.
"Masuk yuk, bu.. gerimis!" Ajak mbak Nisa dan aku pun mengikutinya masuk ke ruangan.
"Ibu kok gak semangat gitu? Kangen yah?" Mbak Nisa ini memang cerewet. Masih sempat-sempatnya menggodaku.
"Memangnya mbak Nisa gak kangen sama suaminya?" Jawabku balik bertanya.
Mbak Nisa tertawa sambil menggeleng, "kangen sih kangen, tapi sudah tidak semenggebu-gebu seperti dulu. Biasa aja, toh nanti sore juga ketemu."
"Duh, pengantin baru. Emang gitu sih, dulu waktu masih penganten baru juga gitu. Tapi akhirnya kita harus sama-sama mengerti, gak mungkin kita ngurung diri di kamar terus, ada perut yang butuh diisi" jawabnya nyengir.
"Iya juga. Ya udah mba, tolong fotokopikan ini buat bahan meeting nanti." Ucapku mengalihkan pembicaraan karena kulihat gak bakal ada ujungnya kalau sudah cerita sama mbak Nisa. Dan memang sangat jarang kami bisa bicara sedekat ini karena selalu ada bang Azka, mbak Nisa tentu saja segan.
"Baik, bu. Saya permisi dulu." Jawabnya kemudian keluar membawa makalah yang tadi kuberi padanya.
Hari ini aku sengaja pulang cepat dari kantor, berharap bang Azka langsung pulang ke rumah setelah urusannya selesai dengan mbak Chyntia. Saat sampai di rumah, lagi-lagi aku harus kembali kecewa, tak ada tanda-tanda bang Azka pulang ke rumah.
Aku berjalan gontai ke kamar mandi, rasanya semangatku sudah tercabut meninggalkan rasa lelah dan ketidaknyamanan yang bertumpuk-tumpuk.
Aku berendam dengan air hangat, cukup lama aku di kamar mandi, air mataku kembali luruh di bawah shower saat aku membersihkan tubuhku. Mengapa sakitnya diabaikan terasa sesakit ini?
__ADS_1
Andai bisa memutar waktu, aku akan memilih memulai dari hari nol pernikahan kami dan tetap menjaga hatiku agar tidak jatuh sekali lagi pada pesona bang Azka.
Aku sekarang seperti keledai yang suka jatuh pada lubang yang sama. Bodoh? Kenapa cinta terkadang membuat orang pintar menjadi bodoh, bahkan menjadi gila karena cinta? Apa sebesar itu pengaruhnya sampai hal-hal diluar nalar bisa dilakukan dengan sengaja?
Matahari sudah tenggelam tanpa meninggalkan panas, bebeda dengan mataku yang lagi-lagi memanas saat semua kegelisahan dan masalahku kuceritakan pada Allah diujung sholat maghribku.
Aku tidak punya siapa-siapa untuk mengadu saat ini selain kepada Allah, seketika fikiranku melayang pada anak yang kukandung, bagaimana dengannya nanti? Apakah ia akan hidup sepi seperti aku? Kasihan sekali nasibmu, nak.
Aku sekarang mulai ragu, jangan-jangan kehamilanku sudah tidak lagi diinginkan bang Azka? Aku harus bagaimana? Bagaimana aku bisa membesarkan anakku seorang diri tanpa seorang suami di sisiku?
Namun haruskah aku bertahan dalam hubungan yang rapuh ini? Atau aku akan terbakar hingga menjadi debu dan terlupakan.
Aku masih terus berusaha menghilangkan semua fikiran buruk yang datang silih berganti melemahkan keteguhanku. Kusiapkan makan malam kesukaan bang Azka, berharap malam ini ia akan pulang dan memakan makanan yang kumasak dengan begitu lahapnya. Kata bunda Aya, salah satu cara menaklukkan hati laki-laki adalah dengan memuaskan perutnya.
Hingga aku lelah duduk memandangi makanan yang tersaji di atas meja makan yang mulai tak mengeluarkan kepulan asap penggugah selera, bang Azka tak kunjung pulang.
Aku tertunduk lesu, apakah ini sudah berakhir? Apa hanya sampai di sini saja?
Jika memang ini akhirnya, apa kehadiran anak di dalam rahimku adalah pengganti yang disiapkan Tuhan atas kehilangan bang Azka?
Aku sudah lelah berfikir, lelah menduga-duga yang akhirnya hanya membuat hatiku semakin sesak dan perasaanku seperti akan gila saat ini juga. Kulangkahkan kaki menapaki tangga menuju kamar, rasanya lebih berat mendaki setiap anak tangga ini dibanding saat mendaki gunung Latimojong saat diriku masih berstatus mahasiswa di Makassar dulu.
Sepertinya aku memang harus menyiapkan diri untuk kembali kehilangan. Baiklah, aku sudah terbiasa dengan kehilangan, seharusnya ini akan lebih mudah bagiku, apalagi kehilangan ini adalah kehilangan sesuatu yang sedari awal tidak pernah menjadi milikku.
Aku memasuki gelap dan sepi, biarkan gelap ini yang melindungiku malam ini karena mungkin besok dan seterusnya hanya sepi yang tak pernah pergi meninggalkanku!
×××××
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan vote-nya yah😘