
Bab 18 Aku Dilamar
Dea
Akhirnya, hari yang paling dinanti dalam setiap minggu datang juga, weekend!!! Namun weekend kali ini akan berbeda. Bunda Aya memintaku ke rumahnya untuk menginap di sana. Kali ini aku tidak bisa membuat alasan.
Sebulan yang lalu beliau mengalami henti jantung, sempat dirawat selama 2 minggu di Rumah Sakit Melaka, Malaysia. Saat kembali ke rumah, aku memang menyempatkan diri untuk menjenguknya, namun hanya 2 jam di sana aku sudah pamit pulang. Sebenarnya aku ingin berlama-lama menemani bunda Aya, akan tetapi aku merasa tidak nyaman jika harus tinggal satu atap dengan bang Azka.
Aku hanya berharap semoga bang Azka sibuk di kantor weekend ini, kalau perlu lembur saja sekalian, agar kami tidak perlu bertemu di rumah. Tapi dia kan punya pacar, biasanya pasangan seperti ini akan menghabiskan weekend-nya bersama. Pemikiran itu cukup beralasan dan karenanya aku memantapkan hati untuk menjenguk bunda Aya kali ini.
Aku juga sudah merindukan beliau, bagaimanapun beliaulah yang selalu menemani dan menguatkan aku di masa-masa tersulitku dulu. Bahkan andai aku merawatnya di sepanjang usia sekalipun, rasanya belum cukup untuk membalas semua kebaikan dan pengorbanan yang telah beliau berikan padaku.
Tidak ada yang bisa memahami perasaanku saat itu sebaik yang bunda Aya lakukan padaku. Kadang aku bertanya, kebaikan apa yang pernah aku lakukan sehingga Allah mempertemukan aku dengan orang-orang sebaik bunda Aya dan om Arga?
Bukan, bukan aku! Tapi semua kebaikan dan kemudahan yang aku dapatkan saat ini adalah buah dari kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh kedua orang tuaku dulu, dan tentu saja ada doa-doa mereka yang terkabul.
Papa dan mama, fisiknya saja yang tak bisa kupeluk, namun aku bisa merasakan kehadiran mereka dalam setiap langkahku.
Sungguh hebat orang-orang yang berbuat baik itu. Akarnya menghujam dalam kemana-mana, pohonnya tumbuh menjulang tinggi, daunnya rimbun menaungi dan buahnya manis lagi menyegarkan. Sekarang, akulah yang menikmati hasil panen pohon kebaikan yang ditanam oleh kedua orang tuanku. Betapa bersyukurnya aku.
Terkadang aku merasa, kesepian adalah teman terbaik yang tidak akan pernah meninggalkan, lalu aku ditunjukkan kepada mereka sahabat-sahabat orang tuaku yang setia mendampingiku.
Adakalanya aku berfikir, betapa menyakitkan kehidupanku saat ini, tapi sungguh aku tidak kekurangan satu apapun hingga detik ini, aku kehilangan kasih sayang mama papa, tapi kasih sayang yang lain selalu menghujani hidupku.
Ketika aku merasa bahwa aku adalah orang yang paling menderita hidupnya, aku malah mendapati, betapa baik kehidupan ini kepadaku.
Allah Maha baik, dan aku masih baik-baik saja hingga detik ini. Masih bisa bernafas, masih bisa makan dan masih bisa bekerja. Lalu alasan apa yang membuatku tidak bersyukur hari ini?
Caca begitu heboh menyambutku, seperti orang yang baru bertemu setelah sekian puluh tahun tak bersua. Ia memelukku cukup lama, hingga kemudian aku merasakan tubuhnya bergetar. Aku mengurai pelukan kami dan menatapnya dalam..
"Hei, kamu kenapa? Kok nangis?"
Caca menggeleng, lalu memelukku kembali.
"Enggak kak, Caca hanya kangen. Bunda selalu nanyain kak Dea." Ucapnya sambil menyusut air matanya.
__ADS_1
"Udah..udah.. ayo kita temui bunda!" Ajakku kemudian.
Caca membawaku ke lantai 2 tempat kamar bunda Aya berada. Setelah itu dia berlalu pergi, sepertinya dia ingin memberi kami waktu berdua saja.
Saat memasuki kamar bunda Aya, aku mendapati beliau sedang duduk di atas kursi rodanya menikmati pemandangan senja dari balik kaca besar dinding kamarnya.
"Assalamu'alaikum bunda!" Aku berlutut kemudian memeluk beliau. "Dea kangen."
"Wa'alaikum salam. Bunda juga kangen, kangen banget malah." Ucapnya dengan senyum manis terbit dari wajah tuanya yang tetap terlihat cantik.
"Kenapa lama sekali baru ke sini?"
"Maaf bunda, Dea khilaf." Jawabku sambil bercanda. Tidak mungkin aku bilang karena menghindari anaknya.
"Khilafnya terlalu lama, nanti bunda hukum kalau besok-besok masih khilaf." Ancamnya namun wajahnya tetap memancarkan senyum manisnya.
"Siap bunda, apapun buat bunda. Asalkan itu bisa membuat bunda bahagia dan cepat sembuh, Dea selalu, Yes!" Ujarku nakal sambil mengedipkan satu mata padanya.
Aku berdiri mengambil kursi meja rias agar bisa duduk di dekat bunda Aya. Lama-lama dengan posisi kaki berlutut seperti ini capek juga, pegel malah.
"Iya bunda. Apapun. Yang penting bunda sembuh dulu biar kita bisa masak-masak lagi sama shopping bareng, atau kita wisata kulineran lagi. Udah lama kita gak menghabiskan waktu bersama. Ajakin Caca juga, om Arga gak usah, ajak tante Fira, oma dan tante Lala. Pokoknya itu adalah harinya kita semua, girls day out gitu deh pokoknya!" Ucapku panjang lebar, sesekali menerawang mengingat masa-masa kecil dulu saat kami pergi ke pantai bersama sekeluarga.
"Kalau begitu, jadilah anak bunda!" Pintanya tegas.
Aku mengerutkan kening, aku tidak mengerti, bukankah sedari kecil beliau sudah menganggapku seperti anak kandungnya sendiri?
"Kan udah dari dulu Dea jadi anak bunda, sampe bikin Caca sempat cemburu." Ujarku mengingatkan.
Bunda Aya menggeleng.
"Bukan itu maksud bunda, menikahlah dengan Azka. Bunda sekarang melamar kamu untuk menjadi istri Azka dan menjadi anak menantu bunda dan om Arga!"
Deg...
"Aku dilamar! Apa ada yang bisa membangunkan aku? Tolong katakan bahwa ini hanya mimpi!" Aku termangu, larut dalam perang batin yang panjang.
__ADS_1
"Bagaimana? Kamu mau kan sayang?"
Pertanyaan beliau menyadarkanku. Aku sungguh gamang, aku tidak tau harus menjawab apa. Sungguh, hingga usiaku yang sudah masuk 23 tahun ini, aku belum pernah betul-betul memikirkan pernikahan. Apalagi menikah dengan bang Azka, tak pernah sekalipun terlintas di fikiranku.
Menikah dengan bang Azka? Tidak! Aku tidak bisa. Itu bukan pilihan terbaik. Aku ingin menikah hanya sekali seumur hidupku, lalu bagaimana mungkin aku menikah dengan orang yang masih membenciku hingga detik ini. Bagaimana mungkin aku menikah dengan orang yang menganggapku parasit di dalam hidupnya.
Jika menikah dengannya, bukan surga dunia yang kudapatkan melainkan neraka dunia.
"Dea!" Beliau kembali mencoba mengambil perhatianku.
"Ma..maaf bunda?" Aku menunduk, mataku mulai terasa panas, dan setetes air mata sudah mulai jatuh di sudut mataku.
"Kenapa aku bunda? Aku hanya perempuan biasa dari keluarga biasa-biasa saja, bunda tau itu. Bang Azka berhak mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dan lebih layak di atasku, bunda. Aku.. aku bukanlah perempuan yang pantas mendampingi bang Azka. Bang Azka juga sudah punya kekasih, aku tidak mau menjadi perempuan penghancur hati perempuan lain." Aku mengeluarkan semua ketakutan-ketakutanku, aku berharap bunda Aya mau memahami dan mengerti penolakanku.
Bunda Aya mengambil tanganku, menggenggamnya penuh kasih sayang kemudian menatapku penuh arti.
"Bunda memilih kamu bukan tanpa alasan, namun apapun alasan bunda, itu tidak penting kamu ketahui untuk saat ini. Satu hal yang perlu kamu tau, kamu layak dan sangat layak menjadi istri Azka. Tidak ada yang lebih pantas selain kamu. Kamu mau kan sayang? Bunda mohon...!"
"Jangan seperti ini bunda! Dea akan selalu jadi anak bunda, selalu..selamanya! Tapi bang Azka, pasti ini tidak akan mudah baginya. Aku takut bang Azka tidak mau menerima Dea." Jawabku menunduk.
Entahlah, aku tidak tau, apa ini keputusan terbaik atau akan menjadi keputusan yang akan aku sesali seumur hidupku nanti, tapi melihat bunda Aya memohon seperti ini padaku, hatiku perih melihatnya. Bagaimana mungkin aku membuat seorang ibu memohon padaku, bagaimana mungkin aku tidak memenuhi permohonannya?
"Itu urusan bunda, Azka pasti tidak akan menolak. Kamu percayakan semuanya sama bunda." Ucap beliau meyakinkan.
Aku hanya bisa mengangguk, berusaha menampakkan senyum terbaik untuk perempuan baik yang ada dihadapanku ini, kemudian memeluk beliau dengan menangis tanpa suara. Sungguh hatiku menjerit saat ini. Rasa takut bersamaan rasa deg-degan menguasai diriku saat ini.
Bagaimana aku menghadapi bang Azka setelah ini???
Dan tanpa mereka sadari, sejak tadi, ada seseorang berdiri di balik pintu mendengar semua pembicaraan mereka...
×××××
Siapa yah? Siapa yah?
Hehehe..
__ADS_1