Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
I Hate Monday


__ADS_3

Bab 27 I Hate Monday


Pak Robert membuka pintu mobil untuk Dea sesaat setelah sampai di depan lobby kantor disusul oleh Azka dan ayahnya. Ingin rasanya Dea memakai topeng atau apapun yang bisa membuatnya tidak dikenali oleh karyawan lain yang melihatnya. Namun tentu saja itu tidak mungkin dilakukannya. Ia kini berjalan didampingi oleh dua lelaki tampan dan dingin dari dua generasi yang berbeda. Mereka adalah CEO BM Corp. dan GM BM Shipyard yang tak lain dan tak bukan adalah mertua dan suaminya kini.


Dea ikut berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai 3 gedung kantor, harusnya ia berbelok ke kanan menuju ruangannya sendiri saat memasuki lobby tadi, namun tangannya langsung ditarik oleh Azka, maka hebohlah seisi kantor demi melihat Azka dan Dea bergandengan tangan hingga menghilang di balik lift.


Kabar-kabar pun menyebar begitu cepat melebihi kecepatan siaran radio. Dea sudah pasrah, terserah orang memandangnya seperti apa. Toh ia tidak melakukan kesalahan apapun, ia menikah dengan Azka karena perjodohan, bukan karena merayu apalagi menjual harga dirinya. Pernikahannya sah di mata hukum dan agama, tak ada yang salah, yang salah adalah pemikiran orang-orang yang suka menghukumi sesuatu tanpa pengetahuan yang baik dan benar.


"Ayah ingin kalian mengumumkan pernikahan kalian di kantor agar tak ada fitnah yang bisa merugikan kalian berdua nantinya!" Tegas ayah Arga melirik dengan sorot tajam ke arah Azka.


"Iya, nanti saja." Jawab Azka tetap menatap lurus ke depan pintu lift. Lift segera terbuka dan mereka semua berjalan ke ruangan Azka. Di sana sudah duduk rapi sekertaris Azka, Nisa dan juga Aldo yang tampak menunggu dari tadi.


Saat melewati meja Nisa, Azka berhenti sejenak membuat Dea dan ayahnya ikut menghentikan langkahnya.


"Tolong buatkan teh untuk ayah dan istri saya!"


Tanpa menunggu jawaban, Azka langsung masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh ayah Arga.


Nisa menatap bengong ke arah Dea dan Aldo bergantian seolah butuh jawaban pasti dari mereka berdua, namun Dea tidak ingin ambil pusing dengan rasa penasaran Nisa dan memilih masuk ke ruangan Azka.


"Mereka sudah menikah?" Ucap Aldo kemudian ikut masuk ke ruangan Azka meninggalkan Nisa yang masih terbengong-bengong, ia masih mencoba mencerna informasi yang baru saja di dengarnya.


"Bikin teh untuk istri pak Azka? Perempuan yang ada di situ hanya gue dan bu Dea. Kan gue gak pernah nikah sama pak Azka," gumam Bisa sambil berjalan ke pantry.


"Berarti..."


"Berarti bu Dea adalah istri pak Azka! Ya Allah.. ya Allah.. bu Dea sudah nikah sama pak Azka. Ya Allah.." Nisa histeris sendiri di dalam pantry setelah berhasil mencerna kalimat Azka dan Aldo tadi.


Dan terjadilah kebohan sekantor, setelah Nisa membuat teh untuk Dea dan pak Arga, Nisa langsung fokus membawa 10 jari lentiknya menari di atas keyboard di dalam ruang chat khusus karyawan BM Shipyard.


Chat-chat yang memang sudah riuh sejak tadi karena Dea dan Azka yang saling berpegangan tangan saat di lobby tadi, sekarang semakin membahana dengan kebenaran bahwa Dea dan Azka telah menikah.

__ADS_1


Terjadilah pro kontra, ada yang terang-terangan menyinggung Dea sebagai pelakor, membandingkannya dengan Chyntia yang menurut mereka sangat sempurna. Namun banyak juga yang mendukung pernikahan mereka, Dea juga tidak kalah cantik, ditambah lagi aura kecerdasan Dea yang sangat mengintimidasi, sangat cocok dengan karakter pak Azka yang perfectionist.


"Ruangan Azka ini sangat luas, mungkin sebaiknya kamu pindah ke sini saja." Ucap ayah Arga kepada Dea saat bersantai di sofa.


"Setuju, om!" Ucap Aldo mengacungkan dua jempol.


"Gak usah, Yah. Dea di ruangan biasa aja. Dea lebih banyak berhubungan dengan orang lapangan, gak mungkin keluar masuk ke ruangan ini." Tolak Dea merasa enggan satu ruangan denga Azka. Tak lupa Dea melotot tajam ke Aldo yang dianggapnya kompor namun Aldo hanya membalasnya dengan senyum jahil.


"Atau kamu pakai ruangan ayah saja, ayah sudah tidak akan sering-sering lagi ke sini, toh sudah ada Azka dan kamu!" Ayah Arga belum kehabisan akal membuat Dea merasa terpojok.


"Dea udah nyaman di ruang yang sekarang. Dea gak suka naik turun lantai atas bawah," Dea mendekati mertuanya itu kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga ayah Arga. "Lagian kalau aku dan bang Azka seruangan nanti bukannya kerja malah bisa main terus." Ucap Dea menyeringai nakal.


Ayah Arga ikut tersenyum menggelengkan kepalanya melihat anak menantunya itu yang ia fikir mulai nakal.


Azka yang sejak tadi duduk di kursi kebesarannya memilih diam dan mengerjakan sesuatu padahal ia sama sekali hanya pura-pura sibuk. Telinganya terus ia pasang untuk mendengarkan pembicaraan ayah dan istri cantiknya itu. Namun ia tidak bisa mendengar kalimat terakhir Dea yang membuat Ayahnya tersenyum geli.


"Terserah kamu saja, asal nanti kamu gak cemburuan terus datang ke ayah sama bunda nangis karena banyak cewek-cewek yang dekati suami kamu..." ayah Arga menjeda kalimatnya kemudian giliran dia yang mendekatkan mulutnya ke telinga Dea. "yang sok cool itu!"


"Ayah tenang saja, Dea akan baik-baik saja."


"Baik, ayah percaya sama kamu." Ayah Arga mengelus lembut kepala Dea kemudian bergerak ke dekat Azka.


"Ayah ke ruangan ayah dulu, titip menantu ayah." Ucap ayah Arga mengerlingkan satu matanya pada Azka dan dibalas dengan anggukan dan senyum yang tidak bisa diartikan.


Tak ingin menjadi obat nyamuk, Aldo pun keluar menyusul ayah Arga.


Suasana canggung menguasai mereka. Dea berdiri di sisi dinding yang menghadap ke laut lepas. Dea bukan tipe orang yang suka bermain ponsel untuk membunuh waktunya. Ia memandang jauh ke depan. Entah apa yang difikirkannya saat ini.


Sebenarnya Dea sudah tidak tahan ingin segera meninggalkan ruangan ini yang tiba-tiba dirasakannya sesak seperti kekurangan pasokan oksigen, namun ia tidak memiliki alasan yang cukup masuk akal untuk kabur.


Seperti pesan bunda saat sarapan di rumah tadi, "hari ini kamu di ruangan Azka saja. Jangan kemana-mana dulu, gak usah fikirkan pekerjaan dulu, fokus aja temani suami kamu!" Dea melirik Azka meminta pembelaan namun Azka malah menatapnya tajam seolah mengatakan untuk ikuti saja apa yang bunda katakan.

__ADS_1


Dea menghela nafas panjang.


Sementara Azka tetap duduk dan sibuk dengan monitor yang ada di hadapannya, suara klick-an mouse sesekali memecah kesunyian di antara mereka.


"Kalau kamu bosan, kamu bisa-"


Tak! Tiba-tiba pintu terbuka lalu ditutup dengan keras.


"Azka! Kita harus bicara!" Chyntia mendekati Azka dengan wajah memerah menahan kemarahan.


Dengan tenang Azka berdiri kemudian menarik tangan Chyntia hendak menuju ke ruangan Aldo. Azka tidak ingin Dea terganggu dengan kehadiran Chyntia di kantornya.


"Setelah ini kamu!" Chyntia menunjuk Dea penuh emosi kemudian menghilang dibalik pintu karena diseret Azka.


Dea hanya bisa menghela nafas kasar kemudian mengusap dadanya berkali-kali.


Ada perasaan tidak nyaman, ada perasaan bersalah yang berkecamuk meremukkan akal sehatnya. Salah satu hal yang paling dibencinya adalah bermasalah dengan perempuan lain hanya karena urusan laki-laki.


Bagi Dea, memperebutkan laki-laki yang bukan siapa-siapa, apalagi hanya berstatus pacar atau gebetan rasanya adalah hal yang paling memalukan dan mengusik harga dirinya sebagai perempuan.


Fitrah perempuan adalah dikejar dan diperebutkan, bukan malah perempuan yang memperebutkan satu laki-laki. Malu!


Dea ingat betul nasehat mamanya beberapa hari sebelum beliau mengalami kecelakaan. Saat itu entah kenapa Dea sangat ingin tidur ditemani mamanya dan mamanya tidak keberatan memenuhi permintaan putri kesayangannya itu .


"Jadi perempuan itu harus punya banyak rasa malu. Laki-laki berzina karena sholatnya yang tidak beres, sementara perempuan berzina karena hilangnya rasa malunya. Perempuan itu harus seperti matahari, dipandang aja susah bagaimana mau disentuh. Jangan seperti bulan yang semua orang bisa dengan mudah menikmati keindahannya. Jangan mudah terbuai kata-kata manis laki-laki yang mendekatimu, jangan sampai mereka hanya penasaran dengan rasa manismu, setelah didapat, ia membuangmu. Cari laki-laki yang pantang menyentuhmu sebelum kamu halal baginya."


Dea menyusut air matanya. Ingatannya pada kedua orangtuanya membawanya pada kekosongan yang menghimpit. Ia kini telah punya suami namun tak bisa ia sentuh, jangan hatinya, bahkan fisiknya pun tak bisa ia gapai.


Sungguh hidup yang luar biasa berat, namun Dea tidak punya pilihan lain selain menjalaninya atau ia akan terhempas dan patah.


Ini hari yang berat, senin yang berat!!!

__ADS_1


×××××


__ADS_2