Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Besar Kepala


__ADS_3

Bab 43 Besar Kepala


"Morning!"


Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Dea saat ia membuka matanya.


Nampak Azka setengah berbaring menumpukan berat badannya pada siku kanannya di sisi Dea.


"Morning." Balas Dea. "Ini sudah jam berapa?" Tanyanya kemudian.


"Udah jam 5 subuh. Tidur kamu lelap banget, abang gak tega bangunin kamu." Ucap Azka mengelus lembut pipi Dea.


Dea membuka selimut tebal yang menutupi tubuhnya kemudian bangkit dari tidurnya.


"Sholat dulu, kalo masih lemas biar mba Sari aja yang buat sarapan." Ucap Azka.


"Aku udah baikan kok, bang!" Dea segera berlalu ke kamar mandi.


Azka menuju meja kerjanya yang ada di dalam kamar untuk memeriksa apa ada email penting yang perlu diperiksanya.


Saat selesai sholat, Dea lagi-lagi memakai kemeja Azka. Dea paling suka memakai kemeja Azka kemudian dipadukan dengan hotpants. Semakin menampilkan tubuh seksi Dea yang amat digilai Azka.


"Suka banget sih make baju abang?"


"Abang marah?" Mata Dea sudah terasa panas, air mukanya tiba-tiba berubah mendung.


"Eh, abang salah ucap yah? Maaf, maksud abang, abang suka lihat kamu seperti ini. Seksi banget, bikin abang gak bisa tahan." Ucap Azka menyeringai nakal.


Dea cemberut, "bilang saja kalau abang gak suka kalo aku pake bajunya. Pelit!" Dea manyun.


"Aduh mak!" Azka membatin, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia heran, akhir-akhir ini Dea sangat sensitif.


"Suka kok, suka banget malah. Kan tadi abang sudah bilang kalo kamu seksi banget kalo pake baju abang. Abang senang lihatnya. Yang ada di dalam walk in closet adalah milik kamu semua, isi dompet abang yang kamu pegang juga udah milik kamu semua kok. Semua milik aku adalah milik kamu. Kamu boleh pakai semuanya. Sumpah!" Azka sedikit panik menghadapi perubahan mood Dea yang begitu cepat. Bagaimana pun Azka belum punya pengalaman menenangkan perempuan uang ngambek padanya. Apalagi ini adalah Dea, istrinya, mana tahan lihat dia ngambek?


"Beneran semua milik abang adalah milik aku juga?" Tanya Dea memperjelas.


Azka mengangguk cepat.


"Oke, kalau begitu nanti aku pake kartu abang buat Shopping bareng Caca di mall."


"Loh, bukannya Caca di Kuala Lumpur?"

__ADS_1


"Ada kok, kemarin tiba, tapi sore ini mau balik lagi ke sana. Makanya kami janjian jalan ke mall hari ini. Boleh yah, bang?" Tanya Dea dengan puppy eyes-nya.


Azka tanpak berfikir sebentar, "boleh, yang penting kalian diantar sopir!"


"Thank you." Senyum lebar terkembang di bibir Dea, tanpa sadar ia memeluk Azka erat, bahkan sangat erat sekali saking bahagianya.


Memang semenjak resepsi pernikahan mereka, Dea sudah tidak pernah lagi keluar rumah selain untuk urusan pekerjaan. Makanya dia bahagia banget karena dapat izin jalan bareng Caca.


Azka membalas pelukan Dea tak kalah eratnya. Rasanya menyenangkan sekali bisa memeluk orang yang dicintai seperti ini. Hati Azka menghangat, berkali-kali ia ucapkan syukur di dalam hatinya karena telah dipertemukan lagi dengan Dea di dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Tak ada jarak, tak ada kecanggungan, tak ada kekhawatiran, yang ada justru hati yang tenang karena pemiliknya sudah ada di dalam pelukannya.


"Aku mau bantu mbak Sari dulu siapin sarapan kita." Dea mengurai pelukannya. Ia merasa malu karena tiba-tiba memeluk Azka duluan.


"No! Gak boleh, kamu di sini aja." Azka menggeleng, enggan membiarkan Dea ke dapur.


"Kalo aku tetap di kamar, bawaannya ngantuk terus. Gak baik tidur pagi." Dea beralasan. Ia tau apa yang akan terjadi setelah ini jika dirinya tidak segera kabur.


"Kamu istirahat aja di sini. Abang janji gak bakal ngapa-ngapain kamu kecuali kalo kamu yang mau, aku sih yes terus!" Ucap Azka tersenyum nakal sambil menaik turunkan alisnya.


"Huuuu.. dasar. Mesum mulu otaknya." Umpat Dea dalam hati.


"Apa?"


"Apa?" Tanya Dea balik tidak mengerti pertanyaan Azka.


"Issshhh... pede banget. Orang gak ada ngomong apa-apa kok!" Dea berjalan menuju tempat tidur untuk menghindari pertanyaan Azka selanjutnya.


Dea merapi-rapikan tempat tidur mereka. Baru saja ia selesai mengatur posisi bantal, Azka sudah datang berbaring di sana kemudian menarik Dea masuk ke pelukannya.


Dea sedikit memberontak ingin melepaskan diri.


"Bang Azka, lepas ih. Udah dirapiin juga kok diberantakin lagi sih?"


Azka tertawa lebar namun tanpa suara.


"Gak papa, nanti dirapikan lagi. Begini aja dulu, abang masih pengen peluk-peluk kamu."


Mau tidak mau Dea hanya bisa pasrah, tidak baik menolak suami, dosa! Apalagi dia hanya meminta ditemani baring-baring. Entah kenapa Azka sangat manja padanya akhir-akhir ini. Dea heran sendiri, sepanjang yang ia tau, Azka adalah orang yang cukup dingin dan lebih banyak menyendiri. Namun ketika bersamanya, Azka terlihat seperti anak kecil yang haus perhatian.


"Bang Azka!"


"Hmmmm."

__ADS_1


"Turun yuk, mungkin Caca juga udah di dapur sama mbak Sari. Memangnya abang gak mau menyapa Caca gitu sebelum ia balik ke Kuala Lumpur?"


Azka mendongakkan kepalanya yang sedari tadi bersembunyi di dada Dea, menatap Dea lembut kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Dea. Cukup lama mereka beradu bibir, hanya itu, tidak lebih namun efeknya membuat jantung mereka berdetak kencang layaknya orang yang baru habis lari marathon.


Azka melepas tautan bibir mereka, menempelkan dahinya di dahi Dea. Ia menarik kepalanya memberi jarak pada mereka, Azka mengelus bibir Dea dengan jempolnya.


"Ayo.." Azka berdiri kemudian menarik tangan Dea agar berdiri bersamanya. Berjalan bersama menuju lantai bawah.


Benar saja, Caca sudah sibuk memainkan spatula di atas wajan mengaduk-aduk nasi goreng seafood andalannya.


"Wiiihhhh... harum banget, Ca!" Azka langsung mencubit nasi yang masih di dalam penggorengan kemudian langsung ia masukkan ke mulutnya. "Mmmm.. skill masak kamu makin oke." Tanpa ragu Azka memberikan dua jempolnya pada Caca.


"Caca gitu loh! Chef yang diacara Monster Chef mah lewat. Dari segi tampang aja udah kalah jauh, syeremmmm banget lihatnya, tampangnya sangar-sangar, sangarnya ngalah-ngalahin senior kak Dea di Fakultas Teknik saat ospek di kampusnya di Makassar. Senyumku aja mengandung madu, lah mereka? Kalo ngomong macam ada racun-racunnya gitu." Caca tertawa lepas membayangkan wajah-wajah jutek para juri di acara Monster Chef yang biasa ditontonnya.


"Hussshhhh.. gak boleh ngomong gitu. Mereka kan hanya mengikuti skenario aja!" Sela Dea mengingatkan. "Lagian kakak paling suka banget sama Chef Juno-juno itu, cool banget!" Ujar Dea sambil membayangkan wajah dingin si chef favoritnya itu.


"Seperti bang Azka dong!" Suara tawa Caca kembali pecah. "Cieee...cie...cieeeee... eekkkhhhhmmmm... dengerin tuh bang Azka. Kak Dea suka banget sama laki-laki lain loh, bang Azka gak cemburu?"


Plak!


Jidat Dea kena sentil jari tengah Azka. "Masih mau?" Tanya Azka melotot kelada Caca.


"Bang Azkaaaaa..." Caca memukul-mukul lengan kakaknya itu. "Sakit tauuuu!"


Azka hanya tersenyum miring kemudian meninggalkan mereka berdua di dapur.


Sementara Dea sudah terdiam membisu karena keceplosan suka laki-laki cool seperti Chef Juno, wah...bisa besar kepala dia sekarang!!!


×××××


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dear Readers tersayang..


Thanks untuk supportnya.


Maaf jika ada beberapa part yang isinya banyak memakai istilah-istilah yang banyak digunakan di dunia Teknik/Rekayasa, khususnya galangan kapal. Author gak keburu membuat footnote untuk menjelaskan satu-satu. Jika memang penasaran, semuanya bisa digoogling yah.


Dan tidak tertutup kemungkinan ada pembaca yang berasal dari background yang sama, mohon koreksinya jika ada yang salah, author sendiri sudah lama vakum di dunia Shipbuilding Structure dan Oil and Gas Indstry, jadi sudah lupa-lupa juga.


Tak lupa author ingatkan buat Readers yang baru mengikuti karya author, silahkan kunjungi juga novel KAPAL CINTA AYANA, karena cerita ini adalah kelanjutan dari novel tersebut.

__ADS_1


Thanks😘


\=\=≈\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≈\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2