Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Begin With The End in Mind


__ADS_3

Bab 15 Begin With The End in Mind


Lagi-lagi Dea berangkat terburu-buru ke kantor, biasa, ketiduran lagi setelah sholat subuh. Saat keluar dari pintu unitnya, tampak ada Badai menunggunya.


"Tumben belum ke kantor?" Tanya Dea yang merasa heran jam segini Badai masih ada di apartemen.


"Sengaja nungguin kamu!"


"Oh, ayo jalan!"


Mereka langsung bergegas berjalan masuk ke lift.


"Kebiasaan tidur setelah sholat subuh akhir-akhir ini bikin telat ke kantor, gak boleh dibiarin, lama-lama bisa kacau hidup gue." Keluh Dea di dalam lift.


"Naik motor aja bareng aku, gak keburu kalau kamu bawa mobil." Tawaran Badai masuk akal. Dea akan telat kalau memaksakan naik mobil.


Tiba di kantor, Badai dengan baik hati menenteng tas ransel Dea yang lumayan berat sampai ke ruangannya. Dea memilih tidak ambil pusing kejadian kemarin, terserah orang mau memandangnya seperti apa.


Mau mereka fikir ia mengejar-ngejar bang Azka, terserah!


Mau mereka fikir ia lagi dekat sama Badai, oke!


Dea tidak peduli!!!


Dan alangkah terkejutnya Dea saat memasuki ruangannya sudah ada bang Azka yang duduk di kursi kebesarannya.


"Se..selamat pagi pak?"


"Selain ceroboh, suka telat, apa anda juga gagap?" Tanya Azka datar tanpa melihat ke Dea.


Dea benar-benar malas meladeni pertanyaannya, ia memilih mengambil tempat duduk di meja kecil yang membentuk letter L antara meja tempat Azka dengan dirinya. Tidak ada pilihan lain. Dea harus profesional, Azka adalah atasannya, tapi tentu saja Dea tidak akan membiarkan dirinya tertindas di sini.


Badai sendiri langsung melipir pergi setelah memberikan tas ransel Dea yang dibawanya tadi.

__ADS_1


Dea sibuk mengutak atik salah satu laptop yang ada di atas meja. Setelah satu jam, ia menggeser sedikit posisi laptop tersebut menghadap ke arah Azka.


"Mungkin data-data ini akan bermanfaat buat bapak untuk memulai aktifitas bapak selama di departemen kami."


"Saya harus permisi sebentar, ada weekly meeting bersama orang-orang kapal 48." Ucap Dea kemudian mengambil beberapa berkas yang ada di atas meja tempat Azka saat ini.


Posisi mereka cukup dekat, tanpa sadar Azka sangat menikmati aroma parfum Dea yang terasa manis.


"Permisi!" Dea meminta ijin Azka bergeser sedikit karena ingin membuka laci meja di dekat Azka.


"Oh!" Azka langsung menggeser sedikit kursinya ke belakang.


Dea mengambil sebuah map merah di dalam laci, setelah itu dia keluar menuju ke tempat meeting-nya diadakan.


Awalnya Dea tidak ingin menghadiri meeting tersebut karena oleh project planner juga sudah cukup mewakili, akan tetapi karena kehadiran Azka yang tiba-tiba ke Departemennya, lebih baik Dea cari alasan untuk sedikit bermain waktu dengan Azka.


*****


Ia penganut planning philosophy, begin with the end in mind. Berfikir dahulu pada tujuan yang ingin dicapai, baru kemudian langkah-langkah yang perlu diambil bisa segera ditentukan. Ilmu forcasting-nya bagus, cenayang mah lewat, bahkan pemain catur kelas dunia mungkin bisa kalah sama dia. Semua sudah ia perhitungkan langkah-langkahnya dari awal sampai akhir, lengkap dengan berbagai sekenario, dari skenario terbaik sampai skenario terburuk.


Sepertinya ia sengaja membuat semua ini untuk membungkam gue agar tidak ada komplain ataupun terlalu banyak bertanya.


Tapi tenang saja, selengkap apapun laporan tertulis yang ia buat, tetap saja nanti setelah jam kerja gue akan mengajaknya 'kencan'. Tidak ada satupun kepala departemen yang boleh lolos. Ini bukan masalah gue mau modus, tapi memang ini perlu gue lakukan agar ke depannya orang-orang yang berada dalam pos-pos penting di perusahaan ini bisa gue pegang ekornya, ibaratnya seperti itu.


Sejak hari pertama gue bekerja, gue memang sengaja berkantor di semua departemen yang ada. Gue ingin tau segala aspek kelebihan dan kelemahan dari perusahaan ini, terutama resources availability-nya.


Di yard, ada 10 proyek pembangunan kapal baru yang sedang berjalan, jika tidak diatur dengan baik, maka akan sangat sulit untuk selesai tepat waktu. Belum lagi kemungkinan persaingan antar project manager yang masing-masing ingin menunjukkan performanya dalam memimpin, bisa gontok-gontokkan di lapangan kalau ada yang terlalu bereambisi menyelesaikan proyeknya tanpa memperhatikan keterkaitan dan kebutuhan proyek lainnya.


Seperti kejadian dua hari yang lalu. Pak Raihan project manager kapal 50 ingin memakai crawler crane 500Ton, sementara pak Josh project manager kapal 70 juga ingin memakainya, di hari yang sama. Pak Tom ingin menggunakan workshop 5 untuk fit-up beberapa block di sana, sementara pak Chew juga sama. Tidak ada yang ingin mengalah.


Mungkin salah satu yang ingin gue bahas dengan Dea nanti adalah masalah tadi, bagaimana dengan yard planning-nya? bagaimana dengan fasility planning-nya?


Pusing gue lihat bapak-bapak yang terhormat itu berdebat seperti anak kecil. Eh bukan, tapi gue keingat para anggota DPR yang terhormat kalo lagi bertengkar pas sidang. Nah, seperti itu tuh kelakuan mereka di lapangan maupun di ruang meeting.

__ADS_1


Tapi setidaknya, kami tidak diliput media, tidak mewakili suara rakyat juga, jadi sah-sah saja sih berdebat. Apalagi dunia kerja kami memang keras dan diburu deadline, berbeda dengan mereka, tapi kalau dipikir-pikir lagi, mereka memang diburu waktu juga sih, 5 tahun doang buat balikin modal kampanye, mana lagi ngumpulin modal buat maju di periode berikutnya, anak istri butuh jajan lebih dan biaya travelling ke luar negeri, masuk akal sih kalau banyak diantara mereka yang tidak punya malu. Urat malunya sudah putus, kebanyakan makan duit rakyat. Kalau bisa menjabat seumur hidup, kenapa harus dibatasi dua periode??? Hahaha...


Tapi sudahlah, itu urusan orang-orang di wkwkwk land, ini urusan gue sama Dea gimana? Ini sudah hampir jam makan siang tapi Dea malah belum balik-balik juga.


Apa Dea fikir gue ini semacam manekin yang hanya dijadikan pajangan di ruangannya ini?


Ah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya Dea datang juga.


"Permisi, pak?" Sapanya duduk di kursi depan meja kecil yang ada di sisi kanan gue.


Ini yang berbeda dari dirinya sekarang, tidak ada lagi tatapan memuja dan gerak antusiasnya saat melihat gue, padahal waktu masih kecil, belum baligh, setiap liat gue pasti menghambur tuh ke pelukan gue. Waktu udah baligh sih memang udah gak ada kontak fisik, soalnya sama bunda dan tante Winny, kami betul-betul digembleng batasan-batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Hanya saja, gue agak longgar sih semenjak hidup di Jepang. Tapi gak sampai kebablasan juga. Gue masih takut dosa.


"Tolong pesankan saya makan siang di sini!" Ucapku setelah melihat jam di pergelangan tangan gue.


"Baik pak!" Ucapnya. "Bapak mau pesan apa?" Tanyanya kemudian.


"Terserah!" Jawab gue singkat.


"Tapi sa-"


"Samakan saja dengan pesanan kamu." Ucapku cepat.


Gue bisa lihat kedua alisnya berkerut, "kena lo Dea, temani gue makan siang di sini." Jujur, gue bersorak ria di dalam hati.


"Baik pak!" Ia kemudian berdiri berjalan memutar ke depan meja tempatku duduk kemudian mulai menelpon kantin.


"Halo mba, ini Dea dari Planning Department. Saya pesan sop tulang 2 porsi yah. Yang satu gak pake sambel sama seledri, kalo yang satunya dikasi lengkap aja seperti biasa. Minumnya, air mineral 2, biasa bukan yang dingin, sama jus Sirsak tanpa gula satu. Terima kasih."


Wow.. ingin rasanya gue jingkrak-jingkrak kegirangan saat ini juga. Ternyata dia masih ingat makanan dan minuman favorit gue, termasuk apa yang gue paling anti ada di dalam makanan gue.


Thanks God!!!


×××××

__ADS_1


__ADS_2