
Bab 65 Hutang
Aldo
Gue bahagia melihat sahabat terbaik gue menemukan kebahagiaannya. Tak pernah gue temukan wajah bersemangat Azka sesemangat dirinya setelah menikahi Dea. Gue adalah saksi hidup bagaimana Azka menahan besarnya perasaannya kepada gadis tomboy yang manis itu sejak lama.
Dulu, gue benar-benar tidak mengerti, mengapa Azka bersikeras tidak mengungkapkan perasaannya, malah sikapnya berbanding terbalik 180° dengan perasaannya. Padahal saingannya cukup banyak, Dea memang tomboy, tapi aura kecantikannya tidak bisa ditepis begitu saja. Ia adalah salah satu primadona saat menjadi siswa baru di SMA kala itu. Namun, dari sekian banyak yang mendekatinya, semuanya seolah tak terlihat karena di matanya hanya ada Azka seorang, tetangganya, anak sahabat orang tuanya, sosok kakak yang dikaguminya dan mungkin segalanya.
Gue suka menggoda mereka, mereka adalah padangan yang serasi, sama-sama good looking dan juga sama-sama berotak encer. Tak ada perempuan yang berani menyentuh dan mendekati Azka selain Dea. Mau dijutekin bagaimanapun, Dea tetap menempel dan gue tahu, saat Dea tidak mengganggu Azka dalam sehari saja, justru yang tersiksa adalah Azka karena tidak bisa melihat wajah ceria Dea.
"Gue hanya ingin menjadikan Dea istri gue, bukan pacar, tapi bukan sekarang. Gue tidak ingin merusaknya, dia terlalu berharga buat gue." Ucapnya saat kami sedang menatap Dea yang sedang bermain basket bersama teman-teman kelasnya.
"Kalau Dea ternyata dimiliki laki-laki lain selain lo, lo siap? Yakin?"
"Dea adalah takdir gue, mau dia ke ujung dunia sekalipun, mau dia didekati oleh seribu lelaki pun, pada akhirnya gue yakin dia akan menjadi milik gue. Lo lihat saja nanti." Ucapnya tegas kemudian beranjak pergi ke kantin.
Keyakinan itu benar-benar mewujud menjadi kenyataan. Padahal saat Dea tiba-tiba menghilang, gue yakin banget kalau itulah akhir dari kisah mereka.
Gue selama ini tidak pernah merasa iri kepada Azka, bahkan saat tau Chyntia yang notabene adalah pacar gue ternyata memanfaatkan gue untuk mendekati Azka, gue tidak iri. Gue hanya iri dengan prinsip hidupnya untuk tetap menjaga keperjakaannya untuk istrinya dan tetap menjaga perempuan yang dicintainya dengan cara berbeda. Gue adalah pendosa, gue seorang pezina, sejak hari pertama jadian dengan Chyntia saat kelas satu SMA dulu, kami langsung making love. Hal inilah yang membuat gue tidak bisa berpaling dari Chyntia, gue kecanduan dengan setiap hal yang ada pada tubuhnya. Beberapa kali kami putus nyambung, tapi saat hasrat gue memuncak, gue akan selalu kembali kepadanya. Gue takut kehilangan dia, gue takut tidak mendapatkan kesenangan "itu' jika tidak dengannya.
Tetapi, semua berubah setelah Chyntia terang-terangan mengungkapkan perasaannya kepada Azka, gue merasa seperti laki-laki paling bodoh di dunia ini. Dan sejak itu, gue mulai berusaha berubah, berubah menjadi diri gue yang lebih baik.
Kadang terfikir ingin mencari perempuan baik-baik seperti Dea, tetapi nyali gue ciut, lelaki bajingan seperti gue mana pantas mendapatkan perempuan baik-baik?
Saat menemani Azka menjadi marbot masjid, pernah sekali gue ikut mendengarkan kultum, tiba-tiba gue tersentak, merasa disentil banget sama ceramah ustadznya.
Ustadznya bercerita, bahwa Imam Syafi'i pernah berkata bahwa zina adalah utang yang harus dibayarkan. Ini berawal dari seseorang yang datang dan bertanya kepada Imam Syafi'i, " Mengapa hukuman bagi para pezina sedemikian beratnya?"
__ADS_1
Maka wajah Imam Syafi'i pun memerah, pipinya merona. Lalu beliau berkata, " Karena zina adalah dosa yang bala' (besar resikonya). Akibatnya akan mengenai keluarganya, tetangganya, keturunannya hingga tikus di rumahnya dan semut di liang sekitar rumahnya."
Orang itu kembali bertanya, "Mengapa pelaksanaan hukumannya dengan itu ? Sebagaimana Allah SWT berfirman, "Dan janganlah rasa ibamu pada mereka menghalangimu untuk menegakkan agama.”
Maka Imam Syafi'i pun terdiam, ia menunduk lalu menangis. Setelah tangisnya berhenti, beliau berkata, "Sebab zina seringkali datang dari cinta dan cinta selalu membuat seseorang menjadi iba. Kemudian setan datang untuk membuat kita lebih mengasihi manusia daripada mencintai-Nya."
Lalu orang itu bertanya kembali, "Dan mengapa Allah SWT berfirman, "Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka (pezina) disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman ? Bukankah hukuman bagi pembunuh, orang murtad dan pencuri, Allah SWT tidak mensyaratkan menjadikannya tontonan?"
Seketika janggut imam Syafi'i basah, ia terguncang. Lalu beliau berkata, "Agar menjadi pelajaran." Ucapnya sambil terisak.
"Agar menjadi pelajaran." Beliau tersedu.
"Agar menjadi pelajaran." Beliau kembali terisak.
Kemudian ia bangkit dari duduknya dan matanya kembali menyala, ia kembali bersemangat dan berkata, "Sebab ketahuilah oleh kalian bahwa sesungguhnya zina adalah hutang. Dan sungguh hutang tetaplah hutang. Salah seorang dalam nasab/keturunan pelakunya pasti harus membayarnya."
Seketika tubuh gue terasa tak bertulang, tubuh gue bergetar, gue menangis sejadi-jadinya kala itu. Dengan lelaki sebrengsek gue, maka siapalah perempuan baik-baik yang akan gue buat keturunannya menjadi pezina untuk membayar hutang-hutang zina gue selama ini?
Meskipun banyak ceramah yang gue dengar mengatakan bahwa yang menentukan adalah bagaimana akhir hidup seseorang, seorang pezina bisa saja diakhir hidupnya bisa berubah menjadi ahli ibadah dan seorang ahli ibadah diakhir hidupnya bisa saja menjadi ahli zina, tapi itu tidak bisa membuat gue tenang karena gue pun tidak tahu bagaimana akhir hidup gue nanti.
Meskipun gue udah pensiun berzina beberapa bulan ini, tetapi menjadi orang baik itu masih sulit bagi gue. Di saat seperti ini, jujur gue rasanya pengen pulang ke rumah terus minta emak gue jodohin gue dengan siapapun, biar hati gue bisa tenang sedikit.
Gue jadi teringat Chyntia, bagaimana kabarnya kini? Gue benar-benar merasa bersalah telah merusaknya. Andai gue bisa menahan diri seperti Azka dulu...
"Do.. Aldo!!!"
Sebuah tepukan di pundak gue menyadarkan gue yang sedari tadi kepikiran masa lalu.
__ADS_1
"Azka, kapan lo ada di sini?" Tanya gue heran melihat dia ada di depan gue sedang menghabiskan sarapan pagi yang disiapkan mbak Nisa tadi.
"Lo ada masalah? Lo nangis?" Tanya Azka mendekatkan wajahnya ke wajah gue.
Refleks tangan gue mengusap pipi dan memang ada basah yang gue pegang. Sialan!
"Ini bukan nangis, tapi keringat, dodol." Ucapku mengelak.
"Masak sih? AC dingin gini kok." Ucapnya tak percaya.
Tapi gue tidak kehabisan akal mencari alasan. "Gue lagi habis olahraga, makanya keringatan." Kebetulan sekali ada treadmill di dalam ruangan gue.
"Alasan! Gue tau lo bohong. Ini berkas yang perlu lo bawa buat bahan meeting sama client di Restoran Sembarang nanti. Pelajari dulu, jangan bengong aja!" Ucap Azka meletakkan sebuah bundel tebal di atas meja kerja gue.
"Lo gak ikut?"
"Enggak, si mommy gak mau ditinggal lama-lama katanya, takut kangen!"
Gue benar-benar pengen muntah rasanya, Azka dan Dea seperti anak remaja yang lagi jatuh cinta. Tapi kok gue suka melihatnya?
×××××
\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=
Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.
Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.
__ADS_1
Thanks, 😘