Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Diabaikan


__ADS_3

Bab 22 Diabaikan


Azka


Gue menunggu Dea sampai hampir jamuran di kamar, hampir-hampir gue terlewat sholat subuh, demi menunjukkan kepada Dea kalau gue juga bisa menjadi imam sholat yang kompoten buat dia. Tapi setelah ditunggu-tunggu, dia tidak kunjung balik-balik ke kamar.


Seperti biasa, saat weekend, gue lebih memilih menghabiskan waktu berjam-jam buat nge-Gym di salah ruang khusus di rumah ini. Begitupun saat senggang, dari kecil ayah dan bunda lebih senang melihat anak-anaknya menghabiskan waktu di rumah daripada keluyuran tidak jelas di luar. Makanya di rumah ini dipenuhi dengan berbagai fasilitas olahraga juga seni. Di belakang ada workshop membuat kerajinan dari tanah liat, ada juga workshop for carpentry, biasanya ayah lebih banyak menghabiskan waktunya di sana membuat berbagai furniture favorit bunda. Hampir semua furniture di dalam rumah kami adalah hasil dari tangan dingin ayah.


Di rumah juga ada ruang musik, saat Aufar di rumah, dia yang paling banyak menggunakan ruangan tersebut, bahkan dia sering mengajak temannya ke rumah. Buat ayah dan bunda, mereka lebih suka jika teman-teman kami yang datang ke rumah, agar mereka bisa tau dengan siapa saja anak-anaknya bergaul.


Bukan berarti kami dikekang atau sangat dibatasi ini itu, tidak juga. Ayah dan bunda hanya bersikap hati-hati, mereka tidak ingin kami salah bergaul, pada akhirnya, kami dibebaskan hidup jauh dari mereka. Dan saat kebebasan itu kami pegang, kami bukannya seperti burung yang dilepas dari sangkarnya, tapi kami malah merasa bangga karena mendapat kepercayaan besar dan penuh dari orang tua kami, dan kami akan menjaga kepercayaan itu dak tidak akan pernah mengecewakan mereka.


Selesai nge-Gym, gue ke dapur untuk mengambil air minum, rupanya di sana sudah ada Dea dan Caca sedang masak sambil membahas tentang malam pertama. Gue geli sendiri mendengar tema pembicaraan mereka, tapi gue juga penasaran ingin tau tanggapan Dea.


Apa katanya? Badannya remuk semua? Orang gue belum apa-apain juga. Kalau bunda yang dengar, bisa heboh sampai ujung kompleks. Nanti temanya, 'Azka berhasil unboxing Dea', secara sejak kecil tetangga-tetangga kompleks sini memang udah jodoh-jodohin kami. Semalam aja di masjid, udah pada heboh banget. Pake diumumin segala pake Toa masjid, makanya masjid rame banget. Pasangan impian para emak-emak kompleks akhirnya kenyataan juga setelah sekian puluh tahun. Mungkin ini yang dinamakan kata menjadi doa, doa yang terkabul.


Gue berdehem, kalau lama-lama dibiarin, bisa ketahuan kalau semalam gue dan Dea gak ngapa-ngapain. Gue gak mau diledek ayah, lemah! Bukannya gue lemah, gue hanya gak mau paksa Dea terima gue aja.


Baru aja gue pancing dia bilang kalau gue nikahin dia karena terpaksa, dia jawab apa coba?


Jawabannya nyelekit banget, gue hampir limbung mendengar semua ucapannya semalam. Gue patah hati, sumpah! Gue gak nyangka bakal sesakit ini rasanya tidak diinginkan oleh orang yang lo impikan sepanjang hidup lo.


Niat awalnya gue memang ingin membuat dia membenci gue selamanya, tapi setelah mengucapkan janji ijab kabul, hati gue terasa berdesir kemana-mana. Jantung gue berdetak kencang, apalagi saat Dea mencium punggung tangan gue dan gue balas mencium keningnya, saat itu juga gue yakin banget, kalau ini dia adalah wanita yang ingin gue jadikan teman, sahabat, istri sekaligus ibu dari anak-anak gue kelak. Dari situ gue sadar kalau gue ingin melindunginya dengan segenap jiwa raga.


Tapi, kata-katanya semalam sukses membuat egoku memenangkan perang kata-kata tersebut. Gue membalas kata-katanya dengan kata-kata yang lebih kejam dan menyakitkan. Bukan hanya Dea yang tersakiti, tapi gue yang paling tersakiti di sini, gue yang mencintai Dea, gue juga yang menyakitinya.


Harga diri gue rasanya tercabik-cabik, gue yang dengan pedenya merasa dicintai dan digilai oleh Dea, tapi ternyata gue salah. Lalu harus bagaimana lagi, pernikahan ini sudah terjadi.


Gue memang cinta sama Dea, tapi gue laki-laki yang punya banyak harga diri, pantang bagi gue mengemis cinta pada Dea.


Gue masih bingung, lihat situasi dulu, apa gue punya peluang untuk dapatin hati Dea, atau kesempatan itu memang tidak pernah ada. Gue bukan tipe pemaksa dalam hal perasaan, gue gak mau menghabiskan waktu gue bersama dengan orang yang tidak menginginkan gue.

__ADS_1


Ini bukan berarti gue pasrah, tentu saja gue akan memperjuangkan perasaan gue. Gue malah tertantang, seberapa kuat Dea bisa menolak pesona gue. Melihat tingkahnya yang cuek, seolah tidak punya ketertarikan terhadap gue benar-benar membuat gue penasaran, malah terkadang gue sakit hati sendiri karena tidak terima dicuekin Dea. Gue yang biasanya dikejar-kejar sama cewek, bahkan dia pun pernah masuk salah satunya, dulu, tapi sekarang semuanya berbalik. Gue dikadalin, gak dianggap seperti tidak nampak di matanya. Kurang ajar banget, bukan?


Gue melihat tatapannya yang seperti hendak melumatku bulat-bulat, gue pura-pura saja minta dibuatkan kopi sama Caca tapi Caca sungguh cerdas, permintaan gue ia lempar ke Dea.


Ini sungguh kopi terbaik yang pernah gue minum sepanjang hidup gue. Dia benar-benar mengerti selera gue.


Tunggu, tunggu dulu! Bukankah ini kabar baik yang sangat baik? Ia masih ingat dengan makanan kesukaanku, ia ingat minuman kesukaanku dan sekarang, kopi buatannya selalu yang terbaik, sejak dulu, gue jatuh cinta pada kopi buatannya.


Tak ingin ketahuan banget kalau gue amat menyukai kopi buatannya, gue memutuskan membawanya ke kamar untuk gue nikmati sendiri.


Sudah hampir siang, namun Dea tak juga kembali ke kamar, gue sekarang mulai gelisah. Sampai kapan ia akan bertahan mengabaikanku? Benar-benar keras kepala.


Gue sudah gak bisa sabar, gue gak terima diabaikan seperti ini di rumah gue sendiri, apa kata orang-orang di rumah ini? Bukankah semua pengantin baru itu akan menghabiskan siang dan malamnya di dalam kamar terus, berdua, hanya berdua?


Gue berjalan cepat keluar kamar, namun saat di tangga Dea tiba-tiba muncul. Nampak kaget melihatku yang sepertinya tidak ia sangka akan ketemu di tangga seperti ini.


"Bunda memanggil bapak makan siang?" Ucapnya cepat kemudian berbalik kembali menuruni tangga.


"Kalian ini pengantin baru, biasanya si istri yang di kamar mulu setelah malam pertama, la ini, si suami yang mengeram di kamar." Ucap ayah sambil tertawa meledek gue.


Gue hanya mengedikkan bahu malas menanggapi ayah.


"De, suaminya dilayani dulu dong sayang!"


"Thanks for saving me, bunda!" Gue benar-benar merasa terselamatkan oleh bunda.


Dea dengan cekatan, mengambilkan makanan memenuhi piringku. Menunya pas, yang masalah nasinya terlalu banyak. Sepertinya ini bentuk protes darinya.


Saat Dea hendak mengambil makanan untuk dirinya sendiri, gue menahannya.


"Bukannya kamu mau makan sepiring sama abang, makanya ambil makanan sebanyak ini?"

__ADS_1


Dea melongo menatapku, wajahnya berubah memerah. Gue menyeringai penuh kemenangan. Akhirnya ia duduk, menarik kursinya sedikit lebih dekat dan makan dari piring yang sama dengan gue. Gue bisa melihat bunda dan ayah geleng-geleng kepala.


Satu suap, dua suap, lebih.. Dea melirikku.


"Kenapa tidak makan?" Tanyanya membuka suara.


"Suap?" Ucap gue pura-pura bodoh.


Mata Dea melotot tajam, bahkan tangannya berani mencubit perut gue.


"Bapak apa-apaan sih, malu dilihat bunda sama ayah." Jawabnya gemas dengan suara seperti berbisik namun gue yakin bunda dan ayah pasti masih bisa mendengarnya.


Tapi akhirnya disuap juga sama dia meskipun gue tau dia tidak ikhlas.


"Azka, nanti antar Dea ke apartemennya ambil barang-barangnya di sana. Kalian sudah menikah, tidak mungkin tinggal terpisah bukan?"


Ucap bunda yang sudah terdengar seperti perintah buat gue.


"Iya bunda, sore aja baru ke sana. Iya kan sayang?"


Lagi-lagi wajah Dea memerah. Kesal bercampur malu menjadi satu, tapi gue tidak peduli, gue suka melihat wajahnya tiap kali ia gugup seperti ini.


×××××


Hai Readers,


Please, jangan lupa like and commentnya yah.


Dukungan kalian sangat berharga buat author.


Thanks😘

__ADS_1


__ADS_2