
Bab 50 Good Bye, Daddy
Aku meminta sopir taksi yang kutumpangi membawaku ke stasiun Gambir. Rencananya aku akan ke Surabaya, bagaimana pun di sana masih ada beberapa sanak famili almarhum papa, mungkin aku bisa mampir di sana selama beberapa hari lalu membuat rencana yang tepat untuk masa depanku. Masa depan aku dan anakku.
Aku sudah memikirkan bagaimana caranya menghilang tanpa jejak, karena aku yakin, bang Azka tak akan tinggal diam dan mengerahkan orang-orangnya untuk mencariku dan itu mudah saja baginya mengingat latar belakang keluarganya dan tentu ujung tombaknya di sini adalah om Bara.
Om Bara sendiri mendirikan perusahaan Black Eye Detective yang bergerak dalam jasa keamanan, pengintai dan penyelidikan orang-orang tertentu berdasarkan permintaan client-nya. Konon perusahaan ini terinspirasi dari masa lalu bunda Aya.
Satu kelemahan om Bara, dia terlalu percaya pada orang terdekatnya, suatu waktu saat aku berkunjung ke kantornya, aku berhasil meretas sistem informasi mereka dan sampai sekarang mereka belum bisa memecahkan siapa pelakunya.
Aku tidak tau, bagaimana reaksi bang Azka saat tau kepergianku, sedih kah? Terluka kah? Kecewa kah? Atau malah tersenyum bahagia. Namun, mengingat karakternya yang punya banyak harga diri, ia pasti tidak terima dengan pilihan sikapku saat ini. Jika kaburnya diriku diketahui oleh publik, tentu ini akan mencemarkan nama besar keluarga Hutama dan Bahari yang mengalir di dalam darahnya.
Aku baru sadar, ternyata bayi yang kukandung ber-DNA sultan. Sepertinya aku memang harus menghilang tanpa sedikitpun meninggalkan jejak, ini terlalu berbahaya untuk diriku apalagi anakku, apalagi jika sampai ada musuh keluarga bang Azka yang menyadari kenyataan bahwa ada keturunan bang Azka yang tumbuh di dalam rahimku saat ini maka mudah saja memanfaatkan kehamilanku ini untuk memeras keluarganya.
Sesaat setelah diriku sudah duduk manis di dalam kereta kelas ekonomi yang kupilih, aku membuka laptopku, membuka emailku dan mengirim pesan perpisahan yang terakhir kalinya buat bang Azka.
"Good bye, Daddy. We will miss you! Maaf karena membawa beberapa kemeja daddy."
Send!
Di dunia maya, aku resmi sudah mati, semua akunku sudah kuhapus, sempurna.
Dan hidup dimulai lagi dari sekarang!
Bagaimanapun, menjalani hidup setelah mengalami kehilangan tidak akan pernah mudah. Akan tetapi, hidup ini masih layak untuk dilanjutkan dan diperjuangkan. Aku tidak tau, berapa banyak waktu yang akan kuhabiskan dan kubuang begitu saja hanya untuk meratapi diri dan menyembuhkan luka ini, tapi aku tau, ada saatnya aku harus bangkit dan harus bahagia.
Tak mengapa hari ini sedih, karena esok bahagia itu datangnya pasti. Ini hanya masalah waktu. Sampai ketemu di satu titik waktu yang terbaik menurut takdir!
*****
Azka meminta sopir kantor membawa Badai dan Rara datang ke rumah utama. Ia sangat yakin, dua sahabat Dea tersebut pasti tau dimana keberadaan Dea saat ini. Rara dan Badai cukup bingung, mengapa tiba-tiba mereka dijemput di kantor langsung atas permintaan pimpinan perusahaan tempat mereka bekerja.
Azka menatap tajam ke arah mereka saat memasuki rumah, "duduk!" Suaranya mengintimidasi.
Cepat-cepat Rara dan Badai mengambil tempat duduk di hadapan Azka.
"Katakan padaku, dimana Dea bersembunyi? Kalian pasti tau, bukan?"
"Maksud bapak?" Rara bertanya balik karena tidak mengerti pertanyaan Azka. Bukannya seharusnya Rara yang bertanya kenapa Dea tidak masuk kantor hari ini?
"Jangan pura-pura tidak mengerti. Saya yakin kalian tau dimana dia sekarang."
"Harusnya kami yang bertanya pada bapak, Dea dimana? Kenapa bisa bapak sampai tidak tau keberadaannya? Bukankah bapak adalah suaminya?" Badai sudah berapi-api menahan kemarahan. Ia yakin, sesuatu yang buruk telah terjadi pada Dea.
__ADS_1
"Saya tidak akan bertanya pada kalian jika saya tau." Azka menurunkan sedikit nada bicaranya. Merasa putus asa, mendengar jawaban sahabat Dea dan melihat kekhawatiran di wajah mereka, Azka tau jika mereka pun juga tidak tau keberadaan Dea.
Azka menjambak rambutnya frustasi kemudian berdiri menghadap ke jendela, menghela nafasnya kasar.
"Kamu kemana sih, Dea?"
"Apa yang terjadi? Kenapa Dea bisa pergi?" Rara memberanikan diri untuk bertanya.
Azka menggeleng lemah, "salah faham. Dua hari yang lalu aku melihatnya dengan Abimanaf membeli cincin. Aku marah padanya. Lalu tadi pagi ia dikirimi Chyntia sebuah foto yang membuatnya salah faham. Dea pergi."
Rara teringat pertemuan yang tak sengaja mereka di mall dengan Abimanaf. "Bapak salah faham, Dea tidak sengaja ketemu bang Abimanaf saat membeli cincin untuk melamar perempuan yang disukainya, saya ada di sana saat itu."
Rara memang ada di sana saat Abimanaf sudah menentukan cincin pilihannya, bahkan setelah itu mereka makan malam bertiga.
"Apa bapak tau kalau Dea sekarang hamil?"
"Dea hamil!" Badai terlihat kaget.
Azka mengangguk. "Dia meninggalkan hasil USG-nya." Tangan Azka mencengkeram kuat amplop putih yang masih ada di tangannya.
"Bapak tidak tau bagaimana bahagianya ia saat tau ia hamil. Ia sudah tidak sabar ingin segera pulang dan mengatakannya pada bapak," Air mata Rara sudah jatuh di pipinya. "Dan bapak pasti tidak tau bukan betapa Dea sangat mencintai bapak selama ini?" Ucap Rara mencemooh.
"Tentu saja bapak tidak tau, bapak kan taunya hanya menghina dan merendahkan Dea,"
Kata-kata itu terasa menusuk tepat di jantung Azka, kenyataannya apa yang dikatakan Rara adalah benar.
"Saya benar-benar menyesal sudah mendorong Dea mengambil resiko ini dengan membuka hatinya untuk bapak. Saya fikir bapak adalah laki-laki baik, nyatanya gak lebih dari bajingan kadal, banci, buaya ompong, Ceb--" Ucap Rara penuh emosi. Ia sudah lupa siapa yang sedang dimakinya saat ini.
Badai langsung membungkam mulut Rara dengan satu telapak tangannya karena jika dibiarkan, mulutnya tidak akan berhenti mengoceh dengan kecepatan cahaya dan semua nama-nama marga satwa akan diabsen satu-satu.
Badai menghentikan langkahnya sebentar. "kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama Dea, saya akan membuat perhitungan dengan Anda!"
Azka tidak menanggapi kemarahan kedua sahabat Dea itu, ia tau ia salah.
Tiba-tiba Azka berfikir untuk menemui Abimanaf, mungkin saja ia tau keberadaan Dea.
Azka berlari keluar rumah, melewati Badai dan Rara yang masih menunggu sopir membawa mereka kembali ke kantor.
"Bapak mau kemana?" Tanya Rara yang melihat Azka terburu-buru masuk mobilnya.
"Mencari Dea."
"Tunggu, kami ikut!" Kini Rara menarik tangan Badai naik ke mobil Azka karena sepertinya Badai masih tersulut emosi jika melihat wajah Azka.
__ADS_1
Tiba di rumah Abimanaf, Azka langsung menghambur masuk mencari Abimanaf. Abimanaf yang sedang santai menonton TV terlihat kaget melihat adik sepupunya itu datang ke rumahnya.
"Tumben!"
"Dimana Dea?" Tanya Azka to the point.
"Maksud kamu?" Abimanaf terlihat kebingungan.
"Dea pergi, pasti kamu tau kan?" Tanya Azka mendesak.
"Kamu suaminya, harusnya kamu yang lebih tau!" Bentak Abimanaf berdiri dari duduknya. Ia tidak suka melihat arogansi Azka.
"Jangan pura-pura tidak tau, dua hari yang lalu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu memasangkan cincin di jari Dea." Mata Azka terlihat nyalang berusaha menekan emosinya.
"Oh, jadi kamu melihatnya? Setelah melihat itu, apa yang kamu lakukan? Memaki Dea lagi, menghina Dea lagi?" Abimanaf bertepuk tangan dengan senyum merendahkan. "Ternyata kamu masih Azka yang bodoh seperti dulu. Andai saja Dea mau menerimaku, tentu aku akan menjadikannya wanita yang paling bahagia di dunia ini, sayang hatinya sudah ada laki-laki lain di sana. Dan bodohnya lagi, laki-laki itu adalah laki-laki bodoh seperti kamu."
Bughhh!
Bogem mentah mendarat di wajah tampan Abimanaf, Azka terbakar mendengar makiannya.
Bugghhh! Abimanaf balik meninju wajah Azka. Dan terjadilah perkelahian di antara dua saudara sepupu karena seorang perempuan bernama Dea. Azka yang sejak kemarin tidak enak badan kalah kekuatan, posisinya sekarang ada dibawah dengan Abimanaf duduk di atas perutnya dengan melayangkan beberapa pukulan.
"Harusnya Dea tidak menikah dengan kamu."
Bugghhh!
Badai langsung memeluk tubuh Abimanaf kemudian menariknya, kasihan juga melihat Azka yang sudah tidak berdaya, ia tidak ingin Dea jadi janda, apalagi kasihan ponakannya jika harus lahir bapaknya sudah almarhum.
"Lepas!!! Bajingan tengik ini harus diberi pelajaran, dari dulu bisanya hanya menyakiti Dea. ******!!!" Abimanaf melepaskan diri dari kungkungan Badai. Ia melempar sebuah asbak yang terbuat dari kaca hampir mengenai kepala Azka. Tentu saja target Abimanaf bukan kepala Azka, namun ia benar-benar sudah hampir kehilangan akal melihat adik sepupunya yang bodoh itu.
"Cari istri kamu, jika aku yang duluan menemukannya, maka bersiap-siaplah menjadi duda. Karena aku tidak akan melepas dia lagi kali ini." Setelah mengancam Azka, Abimanaf berlalu pergi meninggalkan mereka.
Rara sampai gemetaran melihat situasi memegangkan tadi, beruntung Badai bisa menenangkannya.
×××××
\=\=\=\=\=\=\=\=
Gimana, udah puas kasi pelajaran sama Azka? Atau masih minta tambah?😆
Lagi dan lagi author ingatkan untuk memberikan like, comment dan votenya yah. Jika kalian tidak ingin ketinggalan update terbarunya, maka klick Favorite yah.
Buat Readers baru, boleh main ke novel KAPAL CINTA AYANA sambil nunggu novel ini update. Okey...
__ADS_1
Thanks😘