
Bab 23 Kesepakatan
Dea
Aku sudah tidak sabar ingin menumpahkan semua kekesalanku pada bang Azka. Sikapnya benar-benar di luar dugaan.
Bukankah dia membenciku? Bukankah dia tidak sabar ingin melihatku menghilang dari hidupnya?
Tapi, sikapnya tadi sungguh berbeda 180°. Aku tidak tau apa motivasinya melakukan itu. Apa dia berharap agar aku terbuai kemudian setelah aku jatuh cinta padanya dia akan membuangku seenaknya?
Tidak! Aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya. Sudah cukup dulu dia mempermalukan aku tanpa ampun, sudah cukup dia menyakitiku dengan kata-kata tak berperasaannya tadi malam, cukup! Aku tidak ingin menambah luka lagi.
Aku benar-benar membenci keadaan ini, mengapa harus dengan bang Azka, mengapa bukan orang lain yang menikahiku? Aku tidak masalah menikah dengan cara dijodohkan, toh aku memang tidak dekat dengan laki-laki manapun. Aku pun tidak masalah membaktikan seluruh jiwa ragaku untuk suamiku seorang, tapi dengan bang Azka, entahlah, aku mulai dirundung rasa takut, takut kembali mengaguminya, dan yang paling aku takutkan adalah jatuh cinta padanya.
Aku hanyalah manusia biasa, hatiku juga bisa takluk bila terus berada di dekat bang Azka. Karena sesaat setelah bang Azka mengungkapkan sekali lagi kata-kata pedasnya tadi malam, lagi-lagi hatiku terluka. Hanya bang Azka yang bisa menyakitiku sedalam ini.
Beratahun-tahun kusiapkan diri dan mentalku, agar ketika takdir kembali mempertemukan kami, jantungku tak lagi berdetak hebat saat melihat wajahnya. Nyatanya aku gagal, bahkan terkadang aku lupa bernafas saat berada di dekatnya. Aku benci perasaan ini. Aku tidak ingin lemah, ingin kubuat dinding tinggi nan kokoh yang membentengi hatiku dan hatinya, karena sekali lagi, aku sudah tidak sanggup membawa perasaan ini pedanya. Perasaan berharap dan takut di waktu yang sama.
Sudah lama kucoba membunuh perasaanku padanya, entah itu sayang atau cinta atau bahkan mungkin obsesi, aku tidak pernah tau perasaanku yang sesungguhnya, namun yang kutau saat ini, orang yang paling ingin kuhindari dalam hidupku adalah bang Azka.
Tapi takdir seolah mempermainkan aku. Aku kini terjebak dalam sebuah ikatan suci bersamanya. Terlambat untuk mundur ke belakang, ada bunda yang berdiri diantara kami. Aku tidak sejahat itu bisa menghancurkan hati seorang ibu. Tapi saat ini aku telah menghancurkan hati kekasih bang Azka.
Bagaimana aku bisa menampakkan wajahku di depan mba Chyntia?
Apa yang akan dikatakan orang-orang tentangku?
Rasanya aku tidak sanggup menghadapi dunia saat hari sudah berganti besok!!!
"Apa maksud bapak bersikap seperti tadi di depan ayah sama bunda? Bukahkah bapak menikahiku karena terpaksa? Lalu kenapa bapak bersikap seolah-oleh pernikahan ini adalah pernikahan bahagia?" Cecarku saat bang Azka membuka pintu kamar. Ia berjalan lurus kemudian membuang tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia mengabaikan pertanyaanku.
"Pak Azka, saya lagi ngomong sama bapak?" Aku masih memburunya dengan pertanyaan, aku menarik selimut yang ia pakai menutupi kepalanya.
"Kita harus bicara!" Ucapku tajam sementara ia menatapku malas.
"Apa? Cepat ngomong!" Ucapnya kemudian menariik tubuhnya bersandar di kepala tempat tidur.
"Masalah yang tadi, kenapa bapak sok-sok mesra di depan bunda dan ayah? Apa gak kasihan sama mereka kalau sampai mereka tau kalau hubungan kita tidak seperti itu?"
__ADS_1
"Terus mau kamu saya cuekin atau kasarin gitu di depan mereka?"
"Kalau bapak mau cuekin saya, saya tidak peduli, tapi kalau bapak coba-coba bermain kasar, saya tidak terima!"
"Itu urusan kamu, saya juga tidak peduli. Saya hanya peduli pada kesehatan bunda. Pernikahan ini adalah keinginannya, bunda akan sangat kecewa dan terluka jika melihat kita tidak bahagia."
"Tapi-"
"Bersikaplah seperti layaknya seorang istri yang baik di depan bunda dan ayah, dan saya juga akan bersikap demikian!" Potongnya membuatku tak bisa lagi berkata apa-apa.
Setelah berfikir sejenak, ada benarnya apa yang dikatakan bang Azka, tidak mungkin kami menunjukkan kepada bunda bagaimana kebenaran hubungan kami ini. Seperti bang Azka, aku pun tidak ada niat untuk mengecewakan bunda. Aku bisa sampai sejauh ini semata-mata karena menginginkan kebahagiaan bunda.
"Baik, ayo kita buat kesepakatan. Saya ingin ada batas-batasan yang jelas. Saya tidak ingin bunda terlalu banyak berharap sehingga ketika saatnya saya pergi, bunda tidak terlalu kecewa dengan keputusan yang kita ambil." Ucapku mencari jalan tengah.
"Oke, tidak masalah."
"Aku mau kita pisah kamar!"
"Gak bisa!" Tolaknya.
"Apa kata bunda kalau melihat kita tidur di kamar terpisah?"
"Kalau begitu kita tinggal di rumah sendiri, atau di apartemen juga boleh." Usulku lagi tidak kehilangan ide.
"Oke, tapi tidak sekarang. Tunggu kondisi bunda sedikit lebih baik lagi."
"Saya mau selama saya tinggal di sini kita gantian tidur di atas tempat tidur. Kalau malam ini saya yang tidur di atas, besok baru giliran bapak."
"Terus?"
"Saya tidak mau pernikahan kita diketahui orang kantor, kecuali teman dekat masing-masing boleh."
"Terus?"
"Tolong jangan libatkan saya dengan mba Chyntia!" Iya, aku benar-benar tidak ingin berurusan dengan pacar bang Azka itu.
"Terus?"
__ADS_1
"Karena pernikahan kita hanya sementara, jadi bapak tidak boleh menyentuh saya!" Ucapku tegas.
"Terus? Apa masih ada lagi?"
"Saya kira untuk sementara cukup."
"Sekarang giliran saya." Ucapnya dengan seringai tajam.
"Pertama, saya tidak akan tidur di tempat lain selain di atas tempat tidur ini. Kalau kamu tidak mau tidur bersama saya, silahkan tidur di karpet atau di sofa sana."
"Tap-"
"Kedua," ia langsung menyela cepat tanpa memberiku kesempatan melayangkan protes. "Saya tidak peduli orang-orang kantor tau atau tidak tau tentang pernikahan kita. Silahkan kamu tutupi jika bisa."
"Ketiga..." ia sekarang menatapku dari bawah sampai atas kemudian mendekatkan wajahnya hingga membuat aku sedikit mencondongkan badan ke belakang. "Jangan menggodaku jika kamu tidak mau aku sentuh. Saya ini laki-laki normal, dikurung berdua sama perempuan di dalam kamar seperti ini tidak tertutup kemungkinan membuat saya bisa khilaf."
Aku hampir kehabisan nafas dengan posisi kami yang sedekat ini.
"Kamu itu halal untuk saya sentuh, kamu itu sekarang milik saya, terserah saya mau apakan kamu sah-sah saja. Jadi, bersikap baiklah padaku." Bisiknya di telingaku membuat semua bulu di tubuhku meremang.
Aku hampir limbung ke belakang jika saja satu tangannya tidak sigap manahan tubuhku.
"Cup..." sebuah kecupan singkat mendarat di bibirku.
"Itu hukuman buat kamu karena sudah menggodaku saat ini. Lain kali saya akan memberikan hukuman yang lebih kalau kamu kembali menggodaku."
Ia menarik tubuhku agar duduk tegap kemudian meninggalkanku ke kamar mandi.
Aku masih terdiam mematung. Aku sangat shock mendapat serangan tiba-tiba seperti tadi.
Aku menggodanya? Di bagian mananya aku menggodanya?
Aku menghentak-hentakkan kaki ke lantai kemudian menenggelamkan wajahku di selimut tebal yang tadi digunakan bang Azka. Wajahku mungkin sudah seperti kepiting rebus saat ini.
Lagi, bibirku sudah tidak perawan lagi. Besok apa lagi?
×××××
__ADS_1