Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Toxic Parents


__ADS_3

Bab 63 Toxic Parents


Azka dan Dea kini duduk berlutut di depan bunda Aya dan ayah Arga. Mereka berdua tertunduk menunggu reaksi kedua orang tuanya melihat kedatangan mereka pagi ini. Mereka memang sengaja langsung meluncur ke rumah utama setelah mereka sholat subuh agar masih bisa mengejar ayah Arga sebelum berangkat ke kantor.


Bunda Aya dan ayah Arga yang sedang asyik menonton acara mamah Kiki cukup terkejut dengan kedatangan dua sosok yang amat sangat mereka rindukan. Namun mereka kompak tak memberi respon.


"Bunda.. ayah.. maafkan Azka!" Ucap Azka memecah kebungkaman mereka, sayup-sayup terdengar tawa khas mamah Kiki mengisi pendengaran di ruangan itu.


Dea hanya ikut mengangguk mencoba mengangkat wajahnya menatap wajah bunda Aya lalu melirik ayah Arga. Air matanya sudah menganak sungai, meski tanpa suara dan kata, namun tatapan mata dan air mukanya sudah cukup menggambarkan rasa bersalah dan permohonan maafnya.


"Oh, jadi kalian sudah ketemu? Bagus! Selamat!" Sarkas bunda Aya dengan muka datarnya. Azka tahu makna raut muka itu, bundanya masih marah.


"Iya, bunda. Azka sekarang membawa istri dan calon cucu bunda dan ayah kembali ke rumah." Ucap Azka tegas mengangkat kepalanya menatap sang bunda.


Sebenarnya, bunda Aya sudah tidak bisa menahan diri memeluk menantu perempuan yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri sedari kecil, namun beliau berusaha mengeraskan hatinya untuk tak memperlihatkan wajah antusiasnya. Baginya, anaknya itu harus diberi pelajaran, agar kelak, ketika menghadapai masalah besar di dalam rumah tangga mereka, tak ada lagi reaksi-reaksi kekanak-kanakan dari mereka berdua.


Malu, bunda Aya benar-benar merasa malu dengan kelakuan putra kebanggaannya itu. Otaknya saja yang terkenal cerdas, otak cerdasnya hanya berlaku pada urusan akademik dan pekerjaan, sementara untuk urusan mengelola emosinya, sungguh payah dan memalukan. Begitulah, terkadang orang pintar itu memang aneh, hal mudah dibuat sulit dan rumit, padahal sangat bisa disederhanakan.


Melihat bunda Aya dan ayah Arga acuh dengan kehadiran mereka, Dea semakin merasa bersalah, namun meskipun demikian, justru jiwa bar-barnya tiba-tiba bangkit, ia tidak tahan diacuhkan seperti ini. Ia berdiri kemudian mengambil remot di atas meja dan mematikan televisi.


Dea berkacak pinggang, "Kalau bunda dan ayah gak mau maafin kami, ya udah.. aku bobo aja. Ngantuk!" Ucapnya masa bodoh dan berbalik hendak naik ke atas kamarnya.


Namun belum sampai menginjakkan kaki di tangga pertama, sebuah tangan sudah menarik daun telinganya.


"Aduuwwww..awwww..awww..sakit.. awww.." keluhnya menahan sebuah tangan yang ia yakin itu adalah milik bunda Aya. "Lepasin bunda, sakit.. ampun..awwww!"


"Mulai berani yah melawan bunda, mana boleh hamil muda tidur pagi?" Ucapnya membawa Dea duduk di sofa.


Azka dan ayah Arga hanya bisa bengong melihat kelakuan dua perempuan cantik beda generasi tersebut.

__ADS_1


"Bunda yang mulai, orang aku baru balik dari kabur, bukannya disambut bunda dan ayah penuh haru, kok malah dicuekin gini, kan gak gitu skenarionya, bunda?"


Dea menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia keceplosan. Namun terlambat, Azka menatapnya penuh curiga.


"Skenario apa?" Tanya Azka menatap tajam kepada Dea dan bundanya.


Dea menggeleng cepat, menatap ayah Arga dan bunda Aya meminta perlindungan.


"Gak penting, ayo sarapan!" Ayah Arga bangkit kemudian menggandeng istrinya di sisi kanan dan Dea di sisi kirinya, mengabaikan rasa penasaran Azka yang diam mematung tidak mengerti dengan perubahan sikap kedua orang tuanya setelah Dea mengatakan kata 'skenario'.


"Tunggu sebentar!" Azka berusaha menahan mereka namun lagi-lagi ia diabaikan.


Azka ikut duduk di samping Dea, menunggu Dea mengambil sarapan untuknya. Tak ada yang berniat membuka suara kepadanya. Ia sebenarnya tidak tahan diabaikan oleh seisi rumah seperti ini, tetapi demi mendapatkan maaf dari ayah dan bundanya, ia berusaha menebalkan muka. Tak mengapa, sedikit merendah untuk meroket tak masalah.


Dea mengedipkan sebelah matanya sesaat setelah ia mengambilkan sarapan dan duduk di sisi Azka. Seolah ia ingin mengatakan, "nanti kujelaskan."


Azka pasrah, tidak ingin membuat singa betina mengamuk, alias bundanya.


"Bundaaa... kangen!" Dea memeluk lengan kanan bunda Aya manja.


"Ini dia nih yang bikin kamu lemah sama anak itu, sama emaknya aja kangen begini apalagi sama anaknya. Pantesan maafnya langsung ACC (Accepted), kirain bikin drama dulu, bikin dia memohon-mohon tujuh hari tujuh malam berlutut di depan pintu kamu, eh.. ini belum apa-apa udah klepek-klepek."


"Bawaan si baby kali, bun!" Dea nyengir.


"Alasan, bilang aja itu kamu."


Kembali Dea tersenyum menampakkan gigi putihnya, "habis cinta, bunda. Anak bunda sih gantengnya gak ada dua di dunia ini bikin hati kembang kempis kalo udah ada di dekatnya."


"Dasar, anak gak tau diri gitu dikasi hati." Rupanya bunda Aya masih belum bisa menghilangkan kekesalannya.

__ADS_1


"Ingat yah bunda, bang Azka itu adalah anak bunda, Dea ini menantu bunda, kok di sini yang berasa menantu itu bang Azka yah? Biasanya, di sinetron yang aku tonton, mertua durhaka sama menantu perempuannya, macam nenek-nenek lampir gitu, lah..bunda? Ini anak sendiri dijutekin mulu." Protes Dea merasa tidak terima suaminya belum diberi maaf sama bundanya.


Padahal yang paling tersakiti di sini adalah Dea, lalu kenapa yang paling cepat memaafkan adalah Dea juga? Sementara yang lain masih sibuk menghukum Azka.


"Bunda yang bingung, hati kamu terbuat dari apa sih nak, sampai bisa begitu mudah memaafkan kesalahan suamimu? Bunda sendiri belum ikhlas dengan perlakuannya ke kamu." Ucap bunda Aya sendu.


Dea mengeratkan pelukannya di lengan bunda Aya, "Dea mohon, bunda maafin bang Azka yah. Jangan sampai kekesalan bunda ini menjadi penghambat baginya mendapatkan keberkahan hidup. Ridha bunda adalah penerang jalannya saat ia di kegelapan. Lagian, kalo bunda bersikap seperti ini, kok rasanya bunda jadi toxic parent gitu. Gak seru ah." Dea mengerucutkan bibirnya.


"Bahasamu..." Bunda Aya menjewer telinga Dea pelan.


"Toxic parents itu kalo orang tuanya suka ngebandingin, suka berprasangka buruk sama anak sendiri, mengekang kebebasannya, tidak menghargai keinginannya, tidak peka, menuntut anak membahagiakan orang tuanya, terus memintanya dewasa sebelum waktunya. Salahnya bunda dimana? Azka itu sudah dewasa, harusnya sudah bisa lebih bijak dalam bersikap dan bertindak, terutama terhadap istrinya, tapi apa yang dilakukannya? Bikin kamu kabur?" Protes bunda Aya balik tidak terima dengan istilah toxic parent yang dikatakan Dea tadi.


Dea terpaksa nyengir kuda, "maaf bunda. Bukan maksud Dea menyinggung perasaan bunda." Ucap Dea tulus merasa bersalah. Padahal yang dilakukan bunda Aya semata-mata untuk kebaikannya.


"Kamu harus tau, kalian itu anak-anak bunda, tak ada yang bunda inginkan selain kebaikan untuk kalian semua. Maaf jika cara bunda menurut kalian salah atau itu terasa berat untuk kalian, tapi bunda benar-benar hanya berusaha memberikan yang terbaik buat kalian."


"Iya bunda. Terima kasih.. maaf!" Ucap Dea menyesal.


"Udah, gak usah dibawa kepikiran. Menantu bunda harus bahagia, biar calon cucu bunda juga ikut bahagia." Ucap bunda Aya mengelus lembut perut Dea yang sudah mulai tampak sedikit membuncit.


Dea merasa sangat bersyukur mendapatkan ibu mertua yang begitu perhatian dan menyayangi dirinya. Tidak terasa beberapa bulir air matanya jatuh menetes begitu saja.


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.


Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.

__ADS_1


Thanks, 😘


__ADS_2