Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Aku Kuat


__ADS_3

Bab 9 Aku Kuat


Azka


Gue sedang berusaha memejamkan mata saat Aufar tiba. Terlihat dia sangat lelah dan mengantuk, sama seperti gue. Setelah menanyakan kabar ayah dia berlalu ke kamar mandi.


Suara notifikasi email dari ponselku membuatku duduk lalu memeriksanya. Aufar keluar dari kamar mandi dan langsung berbaring. Gue ambil headset dan memasangnya di telinga, gue sedang membalas email penting, gue tidak mau diganggu Aufar saat ini.


Aufar menelpon bunda, sebenarnya gue pengen menyapa bunda juga tapi tiba-tiba Aufar menyebut nama itu. Nama yang beberapa hari ini terus terngiang-ngiang di fikiranku.


"Dea mana?"


Deg..


Jantungku berdetak kencang mendengar namanya disebut. Setelah beberapa saat, gue bisa mendengar suara manisnya yang terdengar dari ponsel Aufar. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba memenuhi rongga dadaku.


"Halo bang Aufar! Kapan abang pulang? Dea kangen sama abang."


Tunggu! Apa katanya? Dia kangen Aufar! Tanganku mengepal kuat mencengkeram ponsel yang ada di dalam genggamanku. Gue tidak terima!


"Doakan secepatnya, abang akan pulang melamar adek cantik kesayangannya bang Aufar!"


Apalagi ini? Aufar akan melamar Dea? Dada gue terasa panas. Gue tidak rela! Tidak bener ini, ini tidak bisa dibiarkan.


Terdengar suara Umar di seberang dan suara manja Dea semakin membuat dadaku kembang kempis.


"Oke, kamu baik-baik yah di situ? Gak mau bicara dulu sama bang Azka? Ini orangnya ada."


Jantungku kembali berdetak tak beraturan, ayolah, mau yah bicara sama abang! Namun sayang, tak ada jawaban. Hingga Aufar berbaring, tak terdengar lagi suara dari sana.


Jujur, gue kecewa. Apa Dea masih marah? Apa Dea benar-benar sudah membenciku? Sebegitu marahnyakah ia hingga ia tidak sudi menyapaku?


Lagian, gue penasaran, bagaimana tampangnya kini? Seberapa tingginya? Apa masih tomboy dan menjengkelkan seperti dulu?


Gue benar-benar iri dan cemburu pada Aufar. Dea bisa begitu lepas bicara padanya, bahkan bilang kangen padanya.


Kalau sama gue? Kangen gak?


*****

__ADS_1


Dea


Setelah tante Fira dan bang Umar pulang, aku kembali ke kamar dan membaca buku. Aku gak begitu mood membaca buku, aku hanya terus sibuk membolak-balik lembaran demi lembaran namun tidak ada yang nempel di kepala.


Aku mengambil ponselku yang sudah 3 hari ini kuabaikan. Aku membuka group percakapanku dengan Rara dan Badai. Ada ratusan pesan yang masuk dan terlihat mereka berdua mengkhawatirkanku.


Aku membalas semua pesan mereka dan memberi tau tentang kecelakaan mama dan papa. Ponselku langsung berdering, terlihat nama Badai yang memanggil, setelah itu muncul wajah Rara.


"Hai dear, yang sabar yah!" Ucap Rara duluan.


"Apa kami perlu ke situ?" Tanya Badai.


"No, aku gak papa. Kalian kuliahnya cepat dikelarin lalu susul gue ke sini. Okey!" Ucapku menenangkan mereka berdua.


"Kamu yakin sendiri di situ?" Tanya Rara khawatir.


"Iya, di sini ada bunda Aya. Ada tante Fira dan yang lainnya. Kalian tenang aja pokoknya." Jawabku mantap.


"Tapi kalau ada apa-apa, kabari kami yah, Dea." Ujar Badai kemudian.


"Iya, iya. Pasti!"


Hingga akhirnya aku merasa lelah dan mengantuk. Begitupun dengan Badai dan Rara, meskipun hari minggu libur kuliah, tapi mereka tetap sibuk bergelut dengan tugas-tugas kuliahnya  Kami mengakhiri panggilan video tersebut dan aku akhirnya terlelap.


Suara azan dzuhur membangunkanku, rasa-rasanya aku baru memejamkan mata dan sekarang sudah terbangun lagi.


"Nyenyak banget tidurnya!" Ternyata ada bunda Aya yang entah sejak kapan ada di sini.


"Dea ketiduran yah, bun?" Tanyaku polos lalu merenggangkan seluruh otot-otot tangan hingga kakiku.


"Ada dua jam mungkin, tadi kamu ketiduran masih pegang HP."


"Ooo.." jawabku nyengir.


"Udah, ayo bangun, sholat, makan!" Perintahnya khas emak-emak yang tidak suka melihat anak gadisnya bangun kesiangan.


"Siap boss!" Ucapku mengacungkan dua jempol kemudian berlalu ke kamar mandi.


Setelah makan siang, aku mengajak bunda membicarakan sesuatu yang menurutku penting. Aku benar-benar merasa berat tinggal di rumah bunda Aya hanya makan tidur tidak melakukan apa-apa. Belum lagi ada om di sana dibandingkan aku yang bukan anak kandungnya di sini.

__ADS_1


Saat kami sudah duduk di sofa sambil menyaksikan channel Nat Geo. Bunda Aya terlihat sangat serius menyimak, kebetulan sedang membahas peristiwa Deepwater Horizon yang sempat dibuatkan film dengan judul film yang sama dan diperankan oleh Mark Wahlberg seingatku.


"Serius amat, bun?"


"Hmmm.. Enggak, bunda hanya ingat ayah Arga, dulu beliau sering ke Anjungan lepas pantai seperti ini. Keren banget melihat fotonya di atas Helydeck." Ucap bunda Aya terkenang suaminya.


"Bun...!"


"Hmmm.." jawabnya menggumam dengan mata masih betah di layar TV.


"Bun, besok aku akan mulai masuk office." Ucapku ragu.


Bunda Aya mengalihkan pandangannya ke arahku, beliau melihatku lamat-lamat.


"Apa kamu yakin?" Aku mengangguk mantap. "Baiklah, bunda senang kalau kamu memang sudah merasa lebih baik."


"Bunda juga boleh jenguk om Arga di sana. Dea udah gakpapa kok ditinggal bunda."


"Tapi, nak. Bun-"


"Bunda harus kesana, om lebih membutuhkan bunda saat ini. Please!" Ucapku menyela cepat.


"Bunda gak bisa ninggalin kamu, De!"


"Harus bisa bunda. Dea janji akan baik-baik saja di sini. Dea akan lakukan apa saja yang bunda minta asal bunda segera ke Singapur. Orang yang paling dibutuhkan om saat ini di sisinya adalah bunda. Dea mohon, please!" Kali ini aku benar-benar memohon dengan sungguh-sungguh.


Aku tidak bisa membayangan bagaimana jika om Arga pergi dan tidak ada bunda Aya di sisinya. Aku akan merasa sangat bersalah dan selamanya aku akan menyesalinya seumur hidupku.


Akhirnya bunda Aya menyerah.


"Baiklah, tapi kamu harus baik-baik di sini dan tetap tinggal di rumah. Kamu boleh pergi bekerja, tapi tidak boleh capek-capek dan cepat pulang. Okey!"


"Oke, Dea janji!" Ucapku mantap penuh keyakinan.


Aku harus baik-baik saja di sini, aku harus terlihat kuat, aku tidak ingin terlihat lemah. Hatiku boleh menangis setiap saat yang diinginkannya, tapi aku akan pastikan hanya senyum manis yang akan aku tebar kepada mereka orang-orang yang peduli kepadaku. Aku tidak ingin menjadi beban, aku tidak ingin mengecewakan bunda Aya dan om Arga. Aku tidak ingin mengecewakan mama dan papa di sana, mereka membutuhkan doaku, mereka membutuhkan aku yang kuat berbuat baik, karena itulah tambahan bekal mereka di sana.


Mungkin setelah ini aku akan menangis lagi, mungkin sesekali aku lemah, tapi aku yakin, Allah tidak akan mengujiku diluar batas kemampuanku. Aku kuat, InsyaaAllah!


×××××

__ADS_1


__ADS_2