
Bab 20 Akad
Azka
Jika cinta itu adalah dahaga yang tak pernah tercukupi meski lautan air bah menyiramnya maka cukuplah dahaga ini menuju mata air-Mu yang jernih wahai Allah sang penggenggam hati ini. Karena hati ini sungguh telah terpaut pada sosoknya yang telah sejak kecil mengambil satu tempat tersendiri di sini, di hati ini. Dia telah lama tinggal di sana, tidak pernah sekalipun ia keluar dari sana karena tempat itu memang adalah miliknya, sejak dulu hingga akhir, selalu begitu, hanya miliknya seorang.
Azka melipat sajadahnya lalu meletakkanya di atas nakas. Ia mengambil Al-Qur'an kemudian membacanya beberapa lembar. Ia butuh ketenangan saat ini, ia butuh kekuatan, ia butuh petunjuk dan kemantapan hati. Tak ada daya upaya tanpa izin-Nya, apalah kita ini, hanya butiran debu yang hilang saat tertiup angin. Sungguh sombong jika mengambil keputusan besar tanpa melibatkan Allah di dalamnya.
"Tok tok tok." Terdengar suara ketukan pintu membuat Azka menghentikan aktifitas mengajinya.
"Iya, tunggu!" Azka beranjak membuka pintu.
"Bang, dipanggil bunda sama ayah!" Ucap Caca menyampaikan pesan bundanya.
"Iya, nanti abang menyusul ke sana."
Azka masuk ke dalam kamar orang tuanya, nampak di sana sudah ada Dea ikut duduk bersama ayahnya di sofa. Saat menyadari kehadirannya, lagi-lagi Dea kelihatan gugup dengan membuang pandangannya ke sembarang arah dan menghindari kontak mata dengan Azka.
"Azka, sini, duduk dekat kami." Ucap ayah memanggil Azka mendekat padanya.
Di dekat ayahnya ada sebuah tempat duduk yang terbuat dari keramik berbentuk bulat di atasnya menjadi pilihan untuk Azka, rasanya dia tidak mungkin ikut duduk di sofa panjang tempat ayahnya dan Dea duduk saat ini.
"Bagaimana? Sudah siap?" Tanya ayahnya lagi.
"Siap!" Jawab Azka singkat sambil melirik wajah Dea yang sejak kahadirannya memilih terus menunduk.
"Good boy!" Ucap ayah sambil menepuk-nepuk pundak Azka.
__ADS_1
"Ayah bangga sama kamu, ayah titip Dea. Jangan pernah sakiti dia, jika kelak kamu merasa sudah tidak menginginkannya lagi, ceraikan dia dan kembalikan pada ayah dan bunda di sini!" Azka menatap ayahnya penuh tanya, namun sorot mata ayahnya menyiratkan tatapan penuh keyakinan di sana.
"Dea memang bukan anak kandung ayah dan bunda, tapi setelah kedua orang tuanya meninggal, ayah dan bunda sudah berjanji akan menjaga Dea sebagaimana kami menjaga kalian anak-anak kami."
"Kamu tentu tau kalau Dea sudah tidak punya siapa-siapa lagi, hanya kita yang dimilikinya, sementara kamu, Aufar dan ayah bukan mahramnya Dea, maka dengan menikahkan kalian, maka tidak akan menjadi masalah jika ke depannya tugas dan tanggung jawab menjaga Dea ayah serahkan ke pundak kamu."
"Ayah ingatkan, saat menikah, kamu sudah tidak bisa menjalani hidupmu sebagaimana saat lajang, jika kamu melakukannya, maka tidak akan lama lagi kamu akan kembali lajang, ingat itu baik-baik! Dan jangan pernah coba-coba membanding-bandingkan istrimu dengan perempuan manapun, karena sejatinya dia pun sedang menahan diri untuk tidak melakukan hal yang sama denganmu. Apa kamu mengerti?"
"Iya, ayah. Azka akan belajar!"
"Alhamdulillah, bunda bahagia sekali mendengarnya. Impian bunda untuk menyatukan kalian selangkah lagi akan terwujud. Terima kasih sayang!" Ucap bunda bersyukur kemudian mengambil tangan Dea ke pangkuannya.
Jelas saat ini Dea begitu tegang, entah apa yang difikirkannya. Tertekankah? Terpaksakah? Apakah ia begitu menderita menerima keputusan ini hingga sedari tadi ia terus menunduk menatap ujung kakinya dan memainkan ujung jilbabnya hingga tanpa sadar sudah berbentuk seperti tali.
"Baiklah, sehabis isya nanti penghulunya akan segera datang. Semua dokumen-dokumennya sudah Bara urus, nanti kalian tinggal tanda tangan buku dan akta nikahnya!" Ucap ayahnya yang sukses membuat Azka dan Dea saling menatap namun Dea buru-buru kembali menunduk.
*****
"Akhirnya, kak Dea bakal jadi kakak ipar Caca. Alhamdulillah." Ucap Caca kegirangan saat kami memasuki kamarnya. Aku hanya bisa memberinya senyum kecut tak bersemangat.
Aku betul-betul tidak tau bagaimana harus menyikapinya. Haruskan aku bahagia seperti Caca? Tapi saat ini hatiku sedang menangis. Sebentar lagi aku akan menikah dengan laki-laki yang sudah punya kekasih dan dia membenciku. Lalu di bagian mananya yang membuatku merasa bahahagia?
Aku beranjak masuk ke kamar mandi, mengabaikan euforia Caca. Sebentar lagi masuk waktu sholat maghrib. Aku benar-benar sedang berdiri di persimpangan menuju masa depan yang sekarang terlihat semakin samar.
Kucoba memantapkan hati dan meneguhkannya, aku pasrah, aku tidak punya pilihan lain bukan?
Setelah sholat, mbo Ati memanggil kami, katanya om Arga dan bunda meminta beliau memanggil kami ke kamarnya. Setelah sampai di sana, Caca diminta memanggil bang Azka di kamarnya.
__ADS_1
Aku memilih duduk di sofa di sudut ruang kamar mereka. Om Arga mendorong kursi roda bunda Aya mendekat kepadaku, aku berdiri kemudian mengunci rem kuris roda beliau lalu duduk kembali setelahnya. Om Arga duduk di sampingku.
"Akad nikahnya akan kita laksanakan setelah sholat Isya nanti di masjid kompleks."
Deg!!!
Aku termangu, tidak tau harus berkata apa. Bunda Aya mengelus lembut punggung tanganku, mengembalikan kesadaranku dari perang batin yang menyiksaku kini.
"Apa yang kamu fikirkan? Apa bunda terlalu menekan kamu?" Tanyanya dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Aku menggeleng, kemudian berusaha memberi beliau senyum terbaik di wajahku.
"Enggak, bun! Jika ini memang yang terbaik buat Dea dan bang Azka, Dea ikhlas bun." Ucapku tulus.
"Jika ada yang masih mengganjal atau ada hal yang membuat kamu ragu, katakan saja, jangan dipendam sendiri. Ada om dan bunda di sini." Ucap om Arga tulus.
Lagi-lagi aku menggeleng, aku tidak ingin mengecewakan mereka, apapun akan aku lakukan agar mereka bahagia, papa dan mama akan bahagia di sana jika melihat om Arga dan bunda Aya bahagia di sini.
"Enggak ada, om. Dea ikut saja bagaimana baiknya. Om dan bunda yang paling tau mana yang terbaik buat Dea."
Bang Arga pun akhirnya ikut bergabung dengan kami. Rasanya aku tidak sanggup menatap wajahnya saat ini. Aku takut mendapatkan tatapan kebenciannya padaku. Maka biarlah aku memilih untuk menghindari kontak mata dengannya, agar hatiku sedikit tenang.
Setelah akad nikahnya dilaksanakan, aku tidak akan peduli lagi bagaimana bang Azka memandangku. Terserah, aku ikhlas. Bahkan jika dia ingin menceraikanku ssesaat setelah akad nikah, aku tidak peduli. Atau kelak dia akan membuangku saat bunda tidak ada lagi, terserah, aku sudah pasrah, aku sudah ikhlas. Inilah takdirku, menikah dengan laki-laki yang sangat membenciku.
Apa kabar dengan hatiku? Saat ini ia sedang mati rasa, terlalu takut untuk berharap, terlalu dingin untuk tersentuh.
Dan semua seperti mimpi yang membawaku kemanapun tanpa bisa kucegah. Aku kini telah resmi menjadi istri seorang Arazka Alifaturrizky Argantara.
__ADS_1
Satu lagi babak baru kehidupan menghampar luas untuk kuarungi, apakah biduk rumah tangga ini akan berlayar dengan dinahkodai oleh seorang nahkoda sejati, atau malah karam duluan tanpa pernah tersentuh oleh gelombang tinggi?
#Flashback Off