Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Berjuang Sendiri


__ADS_3

Bab 51 Berjuang Sendiri


Hari kedua Dea pergi, dan Azka belum menemukan tanda-tanda keberadaannya. Orang-orang yang diturunkan Om Bara sudah memastikan bahwa Dea tidak pulang ke Makassar juga tidak pula ke Surabaya. Azka masih sibuk berfikir kemungkinan-kemungkinan tempat yang mungkin Dea tuju.


Jika Dea masih tinggal di seputaran Jakarta atau masih di Indonesia, tentu tanpa perlu bekerja sekali pun, Dea masih bisa bertahan hidup bersama anaknya hingga puluhan tahun. Om Yudha punya aset dimana-mana, belum lagi peninggalan keluarga tante Winny di Makassar.


Namun, jika Dea memilih kabur ke luar negeri, mungkin akan lebih mudah melacaknya dengan mencarinya ke berbagai galangan kapal yang ada di berbagai negara di dunia ini, tentu dia membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup.


Azka tidak bisa fokus, apalagi tidak ada Aldo yang biasa ia andalkan. Meeting dengan pihak DNV-GL dari Norway hampir-hampir tidak membuahkan hasil karena ia sempat kehilangan fokus. Beruntung ia bisa menguasai dirinya dan kembali pada performa dan profesionalitasnya. Ia tidak boleh kehilangan kesempatan untuk mendapatkan proyek ini. BM Shipyard bersama dengan DNV-GL sama-sama sedang mengikuti bidding Tyra Gas Field Redevelopment.


DNV GL mengikuti tender untuk bagian penyediakan layanan verifikasi dan dukungan untuk pembangunan kembali lapangan Tyra. Perusahaan ini juga akan bertanggung jawab untuk menerbitkan sertifikasi dari semua kegiatan di lapangan apabila menang tender nanti.


Begitupun dengan BM Shipyard yang saat ini mengikuti bidding untuk rekayasa, pengadaan, konstruksi, dan komisioning (EPCC: Engineering, Procurement, Construction and Commissioning) untuk proyek tersebut.


Dan untuk alasan proyek inilah sehingga Azka rela melakukan apa saja agar bisa melakukan ekspansi perusahaannya ke Papua untuk kedepannya menjadi tempat fabrikasi mengingat yard di Jakarta sudah melebihi kapasitas.


(Mengapa memilih Papua? Suka-suka author yah, secara author sekarang domisili Papua😆)


Azka begitu lelah, bukan hanya lelah fisik, lelah hati pun iya. Mual-mualnya belum juga berakhir, ia fikir mungkin karena stress, ia ingin ke dokter namun belum sempat.


"Andai kamu ada di sini, De! Aku tidak akan stress seperti ini." Ucapnya memandangi foto Dea di ponselnya.


Azka pulang ke rumah tak bersemangat, sumber semangatnya sudah pergi, membawa kebahagiaannya dan keceriaan di wajahnya.


"Mana Dea?"


Plak! Pipi kiri Azka memerah.


"Mana menantu bunda?"


Plak! Giliran pipi kanan Azka


"Bunda kecewa sama kamu, Ka. Bunda tidak pernah mengajarkan kamu menjadi laki-laki pengecut seperti ini." Azka tertunduk memegang pipinya, tak kuasa menatap wajah sang bunda.

__ADS_1


"Dea lahir dari rahim ibunya dengan bertaruh nyawa, ayahnya mengurusnya dan menafkahinya, menyekolahkannya tinggi-tinggi hingga jadi seperti yang kamu nikahi sekarang. Dea bukan perempuan yang lahir langsung besar dan dewasa, dia lahir dan besar oleh perjuangan. Ada air mata, darah dan keringat orang tuanya. Lalu siapa yang mengizinkan kamu memakinya saat ia melakukan kesalahan kecil? Bahkan ia sama sekali tidak salah tapi kamu telah menyakitinya dengan begitu tidak berperasaan. Apa kamu suka jika Caca adikmu diperlakukan seperti itu oleh suaminya kelak? Apa kamu rela jika anak gadismu diperlakukan demikian? Jawab bunda!" Cecar bundanya berapi-api.


Seketika Azka berlutut memeluk kaki bundanya, belum pernah ia melihat kemarahan di wajah ayu bundanya itu.


"Maafin Azka bunda, maaf!" Ucap Azka memohon.


"Pergilah, lakukan apapun yang kamu mau, sekarang kamu tidak punya tanggung jawab lagi mengurusnya, biar Dea dan calon cucu bunda menjadi tanggung jawab bunda dan ayah." Ucap bundanya dengan nada tegas.


Azka menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya di kaki bundanya.


"Tidak bunda, Azka salah. Azka akan lakukan apa saja, tapi jangan pisahin aku sama anak dan istriku. Aku mohon!"


"Lepas!" Bunda Aya berusaha melepaskan diri.


"Tidak, bunda harus maafkan Azka dulu. Bunda jangan marah, aku sudah tidak sanggup lagi jika bunda juga ikut membenciku." Azka bersujud di kaki bundanya, menciuminya berkali-kali berharap hati bundanya tersentuh dan mau memaafkannya. Ia tidak akan bisa tenang jika bundanya tidak ridha kepadanya.


Ayahnya yang sudah tidak kuat melihat adegan anak dan ibu itu mendekati mereka, kemudian menarik tubuh Azka untuk berdiri.


Azka menatap sendu pada ayahnya.


Apa ia sudah menjadi anak terbuang?


Azka tertunduk lesu, "baiklah. Aku pamit. Bunda dan ayah jangan sakit-sakit agar aku bisa membawa istri dan anakku kembali ke rumah ini."


Azka meninggalkan rumah dengan langkah kaki gontai, ia tidak menyangka akan seperti ini kejadiannya. Gara-gara mulutnya yang tidak punya saringan, gara-gara emosinya yang tak terkendali, ia kehilangan keluarga seperti ini.


Azka sadar kesalahannya kali ini sulit dimaafkan. Namun Azka tau pasti, mereka adalah orang-orang yang menyayanginya dengan tulus, tanpa meminta maaf pun, maaf mereka akan selalu ada, bahkan jauh dari lubuk hatinya, mereka tidak pernah membencimu sama sekali.


Begitulah cara kerja cinta, ia akan memaafkan sebelum diminta. Ia tidak akan membenci karena tersakiti. Ia adalah kumpulan harapan baik kepada orang yang disayangi.


*****


Arga membawa istrinya masuk ke kamar, berusaha menenangkan agar masalah rumah tangga Azka dan Dea tidak terlalu menjadi beban di fikirannya. Semua masalah pasti ada solusinya, namun hal pertama yang bisa dilakukan adalah bersabar lalu kemudian pasrah kepada yang Maha memberi solusi. Jika semua memperturutkan emosi, justru masalah akan semakin membesar dan melebar kemana-mana.

__ADS_1


Mereka berdua masih sangat lelah setelah perjalanan cukup panjang dari Korea ke Jakarta. Mendengar informasi dari Bara membuat Aya tidak bisa lagi ditahan untuk tidak segera pulang ke Jakarta.


"Sayang, kamu harus istirahat dulu, jangan ikut-ikutan terbawa emosi, anak-anak butuh kebijaksanaan kita sebagai orang tuanya, mereka masih terlalu muda untuk menanggung semuanya." Ucap Arga lembut membelai rambut istrinya yang mulai banyak ditumbuhi uban.


"Iya, mas gak usah khawatir, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin memberi anak itu pelajaran supaya besok-besok berfikir dulu sebelum bicara, apalagi dalam kondisi marah. Apa salahnya dan susahnya ia mencari dulu kebenarannya, tapi ini dia malah seperti orang yang tidak punya otak." Ucapnya kesalnya.


Arga tersenyum, "anaknya siapa?" Tanya Arga meledek.


"Anak mas! Kalo menjengkelkan seperti ini, itu anak mas, kalo yang baik-baiknya dan manis-manisnya itu anak aku."


Tawa mereka pecah.


"Ya ya ya.. pasal satu, perempuan selalu benar. Jika salah, kembali ke pasal satu." Seloroh Arga pura-pura cemberut.


Aya tersenyum kemudian memeluk erat suaminya itu.


"Semoga Dea dan calon cucu kita baik-baik saja."


"Aamiin.. kamu tenang saja, Dea anak yang kuat dan cerdas, ia tidak akan kesulitan di luar sana. Khawatirin tuh putra kesayangan kamu itu, udah ditinggal istri dan anaknya yang masih dalam kandungan, diusir pula sama bundanya. Pasti sekarang dia sedang menghukum dirinya sendiri." Ucap Arga mengingat kebiasaan Azka yang ketika melakukan kesalahan besar akan menghukum dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum dihukum orang tuanya.


"Ia sudah dewasa, biarkan ia berjuang sendiri."


×××××


\=\=\=\=***\=\=\=\=


Update untuk hari ini cukup yah, InsyaaAllah lanjut lagi besok😊


Jangan lupa like, comment dan votenya yah agar popularitas novel ini meningkat. Klick favorit untuk tau lebih cepat bila ada update part baru.


Btw, ceritanya gampang ketebak yah? tapi jujur author malah senang. Author terinspirasi dari film Thailand yg judulnya Little Thing Called Love, ceritanya tuh sederhana banget, gampang ketebak, tapi berkesan. Dari situ author berfikir, bahwa membuat cerita itu tidak mesti selalu yang berat-berat. Tidak usah membuat pembaca banyak berfikir, cukup menikmati saja apa yang dibacanya😊


Thanks yah..

__ADS_1


__ADS_2