
Bab 46 Fight of Flight
Deg!!!
Belum selesai keterkejutannya melihat kondisi kamar saat ini, ia kembali dikejutkan oleh suara kemarahan dari bibir Azka.
Seluruh persendiannya terasa seperti lepas dari tempatnya. Dirinya terlalu shock mendengar kata-kata fitnah yang mengalir lancar dari mulut laki-laki yang sangat dicintainya itu, ayah dari bayi yang sedang dikandungnya.
Matanya memanas mengeluarkan cairan bening di kedua sudutnya. Jantungnya memompa darahnya dengan sangat cepat, bukan ini yang ingin dilihatnya, bukan hal seperti ini yang ingin di dengarnya setelah melangkahkan kaki masuk ke rumah ini.
"Aku gak nyangka, ternyata kamu semurahan itu!"
Azka langsung berdiri dari sofa yang sejak tadi menunggu Dea di sana. Ia berjalan melewati Dea keluar dari kamar dan membanting pintu sangat keras.
Dea tersentak, ia berlari mengejar Azka.
"Bang Azka, abang salah fah--"
Tak!
Kembali suara pintu berdentum kuat, Azka masuk ke kamar tamu dan menguncinya dari dalam.
"Bang Azka! Jangan gini.. dengerin dulu penjelasan Dea. Bang, buka pintunya, please!"
Dea mengetuk-ngetuk pintu namun tak ada jawaban. Cukup lama Dea duduk berselonjor kaki di depan pintu hingga akhirnya ia merasa lelah dan mengantuk, ia kembali ke kamar namun dengan sisa-sisa tenaganya, ia sempatkan merapikan kamar terlebih dahulu.
Dea membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur, tangisnya pecah, ia menangis pilu dalam sepi dan sendirinya. Berkali-kali ia coba menguatkan hatinya, namun ia tidak sekuat itu untuk kembali menerima ungkapan penghinaan dari Azka.
__ADS_1
Saat-saat seperti ini, ia benar-benar butuh tempat untuk membagi luka dan dukanya, ia butuh telinga untuk mendengar segala keluh kesah dan ketakutannya, namun ia sadar, ia tidak boleh terlalu egois dengan selalu menjadikan Rara sebagai tempat sampah pribadinya. Rara sudah punya kehidupan sendiri yang harus ia beri perhatian lebih.
Bunda Aya dan Caca? Rasanya tidak pantas menceritakan masalah rumah tangganya ini kepada mereka saat ini, takutnya menjadi beban fikiran.
Dea mengelus lembut perut ratanya, "maafin daddy sayang, ia hanya salah faham!"
Tak kuasa menahan kantuk, Dea akhirnya terlelap masih dengan pipi basah dan mata bengkaknya.
*****
Azka
Ia tak kuasa melihat wajah sendu Dea saat dirinya memakinya dengan kata-kata rendah dan merendahkan harga dirinya sebagai perempuan. Sebelum ia terlalu jauh menyakiti hati Dea, sebelum ia tidak bisa menahan amarahnya yang berkecamuk, ia memilih meninggalkan Dea sendiri dan mengurung diri di kamar tamu.
Memilih diam dan mengurung diri saat menghadapi masalah berat seperti saat ini adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukannya. Hormon adrenalin kelakiannya mengajaknya untuk menghadapi masalah dengan perlawanan, fight. Namun saat melihat wajah sendu dan terluka Dea membuatnya memilih pergi, menghilang dari pandangan mata Dea.
Ia sadar sepenuhnya bahwa ia tak boleh menyakiti istrinya. Untuk itu ia memilih menghilang, flight.
Lagi-lagi ia cemburu, lagi-lagi cemburu pada orang yang sama dan lagi-lagi reaksinya sama, sama-sama menyakiti Dea.
Ia tau Dea menunggunya di balik pintu, tapi emosinya saat ini belumlah padam. Rasa cintanya pada Dea begitu besar, namun kekecewaan yang dirasakannya jauh lebih besar saat ini.
Padahal tadi ia berniat memberi kejutan pada Dea saat pulang kantor. Sengaja ia melacak keberadaan Dea melalui GPS dan langsung mendatanginya tanpa memberi kabar. Namun, semua diluar dugaannya. Bagaimana bisa ia melihat di depan mata kepalanya sendiri Abimanaf memasangkan cincin di jari Dea dan mereka berdua tampak sangat bahagia.
"Apa aku salah menilai Dea selama ini?"
"Aku fikir Abimanaf hanyalah cinta monyetnya saat remaja dulu, meskipun sebelum menikah kembali Abimanaf mengungkapkan perasaannya, tapi bukankah Dea menolaknya?"
__ADS_1
"Tapi kenapa sekarang mereka justru membeli cincin bersama?"
"Apa Dea serendah itu berhubungan dengan lelaki lain disaat dia sudah bersama aku?"
"Atau aku yang salah faham? Tidak, tidak mungkin penglihatanku salah. Mereka berdua adalah pengkhianat!"
Arrrggggghhhhhhh...
Lampu tidur melayang menghantam kaca lemari, membuatnya mengeluarkan suara gaduh dan beling berserakan dimana-mana. Namun, tak ada satupun yang mendengarnya karena semua kamar di rumah ini sudah dirancang kedap suara.
Ada satu hal yang luput dari perhatian Azka, bahwa pandangan mata bisa menipu! Terkadang apa yang dilihat mata kita tidak seperti dengan apa yang ditangkap oleh otak kita.
Namun begitulah jika yang dikedepankan hanyalah emosi sesaat, maka keluarlah kata-kata tanpa filter. Padahal baru pagi tadi bundanya mengingatkan, bahwa sebuah kata yang diucapkan bisa menjadikan istri menjauh sejauh bintang di langit, dan dengan sebuah kata pula bisa menjadikan istri dekat hingga tepat di sisimu. Tapi sepertinya semua nasehat bundanya menguap begitu saja.
Sungguh, marah itu tercela, marah adalah sifat buruk, etika tercela, virus mematikan, keburukan pandemik dan penyakit yang berbahaya.
Kemarahan telah meluluh lantakkan kebijaksanaan hatinya, kemarahannya seperti nyala api, menyambar apa saja tak tentu arah, bergerak liar, bergelombang, menyala-nyala dan meledak-ledak. Azka mungkin lupa, bahwa kemarahan adalah kunci segala keburukan, bahkan ia adalah kumpulan dari segala macam keburukan.
Azka merasa tidurnya terganggu saat ia merasakan ada pergerakan di atas tempat tidur. Sebuah tangan lembut yang terasa dingin memeluknya erat dari belakang tubuhnya, sangat erat! Ia tau kalau itu adalah Dea, namun ia tetap pura-pura tidur, ia takut hatinya masih belum siap mendengar apapun penjelasan Dea, karena Azka sangat mempercayai pandangan matanya saat itu, jadi dalam kondisi seperti ini, diam adalah solusi terbaik yang bisa ia fikirkan.
Berkonfrontasi dengan Dea hanya akan menambah luka baru.
"Maaf!" Ucap Dea terguncang di dalam tangisnya. Mempererat pelukannya, berusaha menghirup sebanyak-banyaknya aroma tubuh menenangkan suaminya itu.
Sekali lagi hati Azka terasa teriris mendengarnya menangis pilu seperti ini.
Azka berusaha menulikan telinganya dan membatukan hatinya. Untuk sementara, biarlah seperti ini, biarkan ia merasakan rasa sakit karena merasa dikhianati dan biarkan Dea merasakan sakit karena diabaikan. Karena besok-besok ini akan menjadi pengingat bagi mereka agar kesalahan-kesalahan hari ini tidak terulang lagi di masa depan.
__ADS_1
Azka kembali melanjutkan tidurnya, tidak berniat sama sekali menenangkan tangis Dea. Ia sendiri tidak bisa menghitung, entah sudah berapa banyak kata maaf yang diucapkan Dea, karena tak ada kata yang ia bisikkan disela tangisnya delain satu kata itu, maaf!
×××××