
Bab 7 Menikmati Kehilangan
Bunda Aya
Beliau bergerak cepat menuju ruang ICU tempat suaminya dirawat. Dalam kondisi seperti ini, ia betul-betul harus kuat dan berfikir jernih. Sesampainya di sana, dokter menyarankan agar suaminya segera diterbangkan ke Singapur untuk mendapatkan perawatan intensif.
"Yaa Allah, ujian apa lagi ini?"
Bunda Aya bergerak cepat, ia menghubungi kedua putranya yang masing-masing berada di Jepang dan German. Ia tidak bisa meninggalkan Dea dalam kondisi seperti ini. Mama Dea tidak punya keluarga di Jakarta sementara papanya keluarganya jauh di Surabaya. Itupun bunda Aya tidak tau mereka, ponsel Yudha dan Winny sudah tidak tau dimana, bunda Aya benar-benar harus berfikir cepat dan bertindak tepat.
Berat rasanya melihat kepergian suaminya tanpa didampingi dirinya dalam kondisi kritis seperti itu, namun ia terus menguatkan hati dan menyakinkan dirinya bahwa suaminya adalah laki-laki kuat dan Allah pasti melindungi-Nya. Ia benar-benar pasrah pada sang penggenggam hidup.
*****
Pagi menjelang, Dea merasa tubuhnya ada yang mengguncang.
"Dea, Dea..bangun sayang, sholat subuh dulu!" Panggil Bunda Aya dengan mukenah sudah menutupi tubuhnya.
Kesadarannya mulai kembali, ia tau apa yang sedang menimpanya. Air matanya mengucur seketika, namun ia paksakan mengambil air wudhu. Setelah sholat subuh, Dea menghampiri jenazah kedua orang tuanya. Ia tidak ingin menangis saat ini, ia hanya ingin terus berada di sisi keduanya sebelum mereka benar-benar tak bisa lagi dijangkau penglihatannya.
Tante Fira dan bunda Aya terus menguatkan Dea. Sementara om Bara sibuk mengurus semua persiapan pemakaman. Para tetangga di kompleks juga ramai memenuhi rumah. Mama papa orang yang sederhana dan ramah, banyak warga yang menyampaikan rasa duka dan merasa kehilangan.
Dea sudah tidak bisa fokus kepada siapapun yang mendekatinya, menguatkannya. Rasanya kosong, hilang, sepi dan tak berarti.
Tak terasa air matanya jatuh lagi, ia menangis tanpa suara. Sesekali ia tidak bisa menahan sesegukannya. Dadanya terhimpit sesak, sakit!
"Jadi sekarang Dea sebatang kara?" Gumaman Dea masih tertangkap di telinga bunda Aya. Membuatnya kembali menarik Dea ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ada bunda sayang, kamu gak sendiri. Ada bunda di sini, bunda gak akan pernah meninggalkan Dea." Ucap bunda Aya mantap.
"Ikhlas yah nak, kamu harus ikhlas dan sabar!"
*****
Bunda Aya membawaku ke rumahnya saat selesai pemakaman. Sebagaimana janjinya, beliau benar-benar tidak pernah meninggalkanku padahal pendengaranku sempat menangkap kabar bahwa om Arga saat ini sedang dirawat di Singapur. Aku belum punya kekuatan untuk menanyakan kabar om Arga. Aku takut, aku tidak akan kuat lagi jika harus mendapatkan satu lagi kabar duka.
Aku masuk ke kamar tamu yang sudah disiapkan untukku, sebuah aroma terapi terpasang di atas nakas mengeluarkan keharuman yang menenangkan.
"Kamu mandi dulu yah, bunda juga mau mandi, setelah itu kita makan. Dari semalam kamu belum makan apa-apa." Aku baru ingat, terakhir aku menyentuh makanan saat waktu istirahat kemarin. Pantasan aku merasa sangat lemas banget.
Setelah mandi, ternyata semua pakaian sudah disiapkan di atas tempat tidur. Aku kembali ke kamar mandi lalu berpakaian. Bunda Aya sudah menungguku dengan dua mangkuk sup rumput laut ia letakkan di atas meja rias.
Kami makan bersama dalam diam. Sebenarnya sup rumput lautnya sangat enak dan segar, hanya saja aku benar-benar kehilangan selera makan.
"Om gimana, bun?" Tanyaku akhirnya pada beliau, rasanya tidak tenang jika belum tau kondisi kesehatan om Arga.
"Alhamdulillah, om sudah melewati masa kritisnya, hanya saja sampai sekarang masih koma." Jawabnya sendu.
Aku meletakkan mangkuk di tanganku di atas meja rias, begitupun dengan bunda, kami saling menggenggam tangan, saling menyalurkan energi dan kekuatan agar bersabar dan ikhlas menerima ketentuan yang sudah ditetapkan-Nya.
"Dea gak papa bunda tinggal, bunda susul om aja ke sana." Ucapku meyakinkan namun beliau menggeleng tidak setuju.
"Sekarang kamu adalah prioritas bunda, disana ada Caca dan abang-abangnya, InsyaaAllah om orang yang kuat, beliau pasti akan marah kalau tau bunda meninggalkan Dea sendiri di sini."
Aku meletakkan kepalaku di atas paha beliau, kurasakan usapan lembut penuh kasih sayang dari tangan halusnya. Air mataku jatuh lagi.
__ADS_1
"Dea kangen mama, kangen papa."
"Ikhlas yah sayang, doakan keselamatan mereka. Kamu harus kuat. Menangis boleh, sedih juga boleh, tapi kamu harus ingat satu hal, mereka di sana tidak butuh banyak air matamu, yang mereka butuhkan adalah doamu dan amal kebaikanmu." Ucap beliau penuh sayang.
Aku bangun dari pangkuan beliau, mataku menatapnya penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih, bunda. Dea sayang bunda."
Aku memeluk beliau erat dan dibalasnya tak kalah erat. Beliau kemudian mengurai pelukan kami dan menghapus air mataku dengan punggung jari telunjuknya.
"Udah, calon menantu bunda gak boleh nangis lagi, ntar cantiknya hilang, bisa gagal deh jadi mantu kesayangan bunda." Candanya mengelus-elus rambut sebahuku.
"Ih, bunda apaan sih, calon menantu apaan, becanda mulu. Nanti diaminkan malaikat, bunda sendiri yang rugi, masa dapat menantu jelek macam Dea." Ucapku manja dan ikut mencandai beliau.
"Sekarang kamu tidur, istirahat yang cukup. Okey!" Beliau menarik selimut menutupi tubuhku dari kaki hingga dada. Aku merasa seperti bocah 5 tahun yang sedang dibujuk untuk segera tidur.
Beliau memberikan satu kecupan di dahiku, kemudian mematikan semua lampu menyisakan satu lampu tidur yang cahayanya remang menemaniku tidur di malam ini. Beliau keluar dari kamar lalu menutup pintu perlahan.
Aku berusaha menutup mataku, kepalaku terasa sangat berat, bayangan wajah mama dan papa terus membayang di pelupuk mata tiap kali berusaha menutupnya. Aku menggigit bibir bawahku, menahan tangis yang mendesak ingin meledak.
Kutenggelamkan wajahku di atas bantal, biar luruh semua luka dan perasaan kehilangan yang datang bertubi-tubi. Mereka pergi tanpa pesan, aku kehilangan mereka selamanya.
Aku hanya manusia lemah, aku benar-benar tidak menyangka akan secepat ini ditinggalkan oleh kedua orang tuaku. Aku tidak akan pernah siap ditinggalkan oleh mereka, bahkan saat aku tuapun aku pasti tetap tidak akan pernah siap ditinggalkan seperti ini.
Aku teringat dengan dua sahabatku yang ada jauh di pulau lain, ingin rasanya menumpahkan semua perasaanku pada mereka, tapi aku tidak ingin mengganggu konsentrasi belajar mereka.
Tidak semua luka harus dibagi, karena setiap orang juga punya luka sendiri yang ingin disembuhkannya. Biarkan kali ini aku egois, biarkan kunikmati rasa kehilanganku sendiri, karena hari ini yang akan membuatku jauh lebih kuat di masa depan. Aku percaya itu.
__ADS_1
×××××