
Bab 11 Buru-buru
Caca
Bunda nampak menguatkan diri sejenak saat melangkah masuk ke Rumah Sakit. Sepertinya beliau sulit menenangkan dirinya saat melihat kondisi ayah nanti. Ikatan mereka sangat kuat, ayah sangat menyayangi bunda, begitupun sebaliknya. Jika ditanya siapa yang paling banyak mencintai dari mereka, maka kami anak-anaknya akan kesulitan menjawabnya.
Saat masuk ke ruangan ayah, wajah bunda nampak datar. Tidak ada ekspresi berlebihan, aku fikir bunda akan seperti emak-emak kebanyakan, menangis meraung-raung meratapi kondisi suaminya yang memprihatinkan.
Bunda duduk di kursi sisi kepala ayah. Kami bertiga hanya memilih diam, tak ada niat mengganggu kebersamaan mereka. Setelah lama bunda mengelus-elus kepala ayah, bunda menunduk lalu membisikan kalimat singkat nan sederhana,
"Bangun, yang! Aku sudah di sini!"
Demi Allah, tubuhku bergetar saat melihat ayah langsung bereaksi setelah mendengar bisikan bunda. Ada air mata yang tiba-tiba menetes dari sudut mata ayah. Bunda mengecup lembut kedua mata ayah.
"Mas, anak-anak belum ada yang nikah loh, katanya mas mau nimang cucu!" Ucap bunda tersenyum pada ayah.
Ah, bunda! Dalam kondisi seperti ini, bisa-bisanya bahas cucu. Apa memang orang tua seumuran mereka ini yang difikin hanya masalah cucu dan cucu terus???
*****
Dea
Waktu terus berjalan, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan hidup terus bergerak ke depan. Dea mengisi hari-harinya dengan bekerja dan terus mengasah skill-nya. Tidak heran jika saat ini ia didapuk menjadi manager dari Planning Department. Experience baru satu tahun bekerja, namun ia berhasil mendapatkan sebuah kepercayaan besar dari management perusahaan.
Dea sempat protes pada om Arga, namun om Arga bersikeras bahwa itu bukan karena campur tangannya, melainkan bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Dea takut dianggap Nepotisme, semua orang tau bahwa dia adalah anak pak Yudha, tidak tertutup kemungkinan akan banyak fihak yang berfikir macam-macam, terutama senior-seniornya di Department yang sama.
Pada akhirnya, Dea menerima posisi tersebut namun dengan syarat dia tetap ingin in-charge penuh dalam satu project. Tentu saja semua itu bukan masalah, bukankah Planning Department ada dalam kendali Dea saat ini???
Kabar baik lainnya, Badai dan Rara sudah sebulan terakhir ikut bekerja dengan Dea. Badai sendiri diterima sebagai Electrical Engineer, sementara Rara di bagian Design Engineering.
Mereka bertiga tinggal di apartemen yang sama, di lantai yang sama, dan bertetangga unit. Mereka sengaja mengambil unit sendiri-sendiri agar setiap mereka tetap memiliki privasi. Sengaja juga bertetanggan unit agar tetap bisa saling menjaga.
Dea butuh waktu lama untuk meyakinkan bunda Aya dan om Arga melepasnya tinggal sendiri di apartemen. Kedatangan Rara dan Badai benar-benar menolong Dea, jika tidak, mau sampai menangis darah sekalipun, Dea tidak akan pernah diizinkan tinggal di apartemen.
__ADS_1
Meskipun mereka bekerja di perusahaan yang sama, tapi job description mereka berbeda, jadi sudah pasti masing-masing akan punya kesibukan sendiri bersama dengan orang-orang yang berbeda pula.
Untuk hangout sendiri, sebulan kedatangan Badai dan Rara, baru sekali mereka jalan bareng, itupun waktu mereka berdua belum mulai bekerja. Setelah mereka bekerja, paling ketemunya saat waktu makan siang saja. Dan jadilah Badai supir pribadi mereka mengendarai Nissan Juke merah kesayangan Dea.
Meskipun demikian, Badai memilih memakai motor sendiri ke kantor, begitupun dengan Rara. Takutnya membuat saling menunggu karena masih ada yang punya pekerjaan yang mewajibkannya lembur. Kasihan yang pulang jam 4 sore tapi harus menunggu sampai jam 9 malam. Dan lagi, ada Bus perusahaan yang jalurnya melalui apartemen mereka, jadi mereka benar-benar sepakat untuk tidak menjadi beban atas satu sama lainnya.
Satu kabar lagi, tapi bukan kabar baik bagi Dea. Bulan depan, General Manager (GM) baru BM Shipyard akan segera mulai berkantor menggantikan GM lama yang dianggap Management Perusahaan tidak perform.
Kenapa ini menjadi bukan kabar baik bagi Dea? Karena GM barunya adalah anak CEO BM Corp. Berarti anaknya om Arga, yang katanya masih di Jepang. Dan anak om Arga yang di Jepang itu tidak lain dan tidak bukan adalah bang Azka.
Dea sendiri hingga detik ini belum tau bagaimana tampang bang Azka. Meskipun Dea berbulan-bulan tinggal di rumah orang tua bang Azka, namun tidak ada satupun Foto yang bisa memberinya petunjuk. Bunda Aya paling anti memajang foto di dinding rumahnya, katanya nanti malaikat tidak mau masuk ke dalam rumah kita. Dan lagi, mereka ingin menjaga privasi anak-anak mereka. Menjadi pengusaha besar dan sukses di negara ini cukup merepotkan bagi mereka, karena banyak yang memburu informasi tentang anak-anak mereka.
Namun dari desas desus yang beredar dari karyawan perempuan di kantor, kebetulan ada group chat dari aplikasi portable khusus karyawan yang bisa mereka akses melalui PC masing-masing,
Mita: "GM baru ini orangnya sangat tampan, tapi sombong dan angkuh."
Dian: "Sudah punya pacar juga katanya, model yang lagi naik daun, namanya Chyntia Putri."
Sisi: "Tau dari mana kalian?"
Dea mengerutkan kening membaca percakapan mereka, seingatnya Chyntia adalah pacar sahabat bang Azka, bang Aldo.
"Mungkin bang Azka tipe laki-laki yang mantan sahabat juga boleh diembat." Gumam Dea dalam hati lalu bergidik membayangkannya.
"Jijik!!!" Dea ingat bagaimana gaya berpacaran bang Aldo dan Chyntia saat di Sekolah dulu. Enggak banget!
Dea menutup ruang chat tersebut, dia sudah tidak berminat lagi mengikuti percakapan yang dianggap issue ter-Hot memenuhi ruang-ruang percakapan para karyawan akhir-akhir ini di kantor.
Dea tidak mau ambil pusing, apalagi terlalu memikirkannya. Ia yakin bang Azka pasti sudah melupakannya dan mungkin juga masih membencinya seperti yang dulu pernah ia katakan padanya. Meskipun ia tidak begitu mengerti mengapa bang Azka mengatakan bahwa dirinya dan keluarganya adalah parasit, tapi tidak mengapa. Itu urusan bang Azka dengan segala prasangkanya.
Kita tidak punya kuasa mengatur fikiran orang lain bagaimana dalam menilai kita, kita hanya bisa terus berbuat baik dan jangan berhenti. Karena tidak semua orang tidak menghargai kebaikan kita, kita hanya butuh menemukan orang yang tepat sehingga kebaikan itu memiliki daya kejut yang menginspirasi.
*****
__ADS_1
Dea
Pagi ini Dea terburu-buru ke kantor, semalam sesampainya di apartemen, dia masih lanjut lembur sampai jam 2 dini hari. Selepas sholat subuh, ia ketiduran. Padahal jam 7.30 pagi mereka ada meeting dengan GM baru BM Shipyard. Setiap Departemen Manager diwajibkan mempersentasikan kinerja departemennya masing-masing.
Sudah jam 7 pagi sementara Dea masih berkutat dengan jilbabnya di depan cermin. Saat kondisi genting seperti ini, malah si jilbab yang tidak bisa diatur. Ini gak mau rapi-rapi, udah pake pentul disana-sini, tetap saja gak memuaskan. Dea sudah frustasi, mau ganti jilbab juga rasanya waktu sudah mengejar. Mau pake jilbab instant tapi rasa-rasanya tidak sopan untuk dipake meeting nanti. Betul-betul suasana pagi yang buruk.
Tiba di kantor, ia memarkirkan mobilnya di tempat biasanya. Saking terburu-burunya, ia lupa menarik tuas rem tangan mobilnya. Setelah berjalan lima langkah meninggalkan mobilnya, tiba-tiba terdengar suara hantaman keras di belakangnya.
"Braakkkkkk."
Sekitar 3 detik dea berdiri mematung memeluk mackbook-nya karena shock mendengar bunyi keras di belakangnya. Bunyi alarm mobil bersahut-sahutan. Ia berbalik dan mendapati mobilnya menabrak sebuah mobil sport orange metalik yang baru hari ini dilihatnya.
Dea berjalan mendekati mobilnya, nampak si mobil sport sudah dalam kondisi buruk di bagian belakangnya. Pun dengan mobilnya. Bamper belakang ketemu bamper belakang. Memang tempat parkir di sana sedikit curam, jadi kalau tidak memasang rem tangan bisa dipastikan mobil akan meluncur ke belakang.
Dea meremas kepalanya frustasi. Menghentak-hentakkan kakinya lalu menyandarkan jidatnya di body mobilnya.
"Tidak..tidak.. ya Allah, kok gini banget sih paginya?"
"Jadi ini mobil kamu?" Sebuah suara bariton penuh nada kemarahan mengalihkan perhatiannya.
Dea mengangkat wajahnya mencari sumber suara tadi yang di dengarnya.
"Maaf pak!" Jawabnya memelas namun tidak sanggup memandang wajah laki-laki pemilik mobil yang ditabraknya. Ini mobil mahal, pasti pemiliknya sangat marah saat ini.
"Dimana sopan santun anda? Mengapa tidak menatap lawan bicaranya saat berbicara?" Bentaknya membuat nyali Dea ciut.
Posisi mereka saat ini bersebrangan, dipisahkan oleh mobil mereka yang sedang bersatu.
"Sekali lagi saya minta maaf pak, saya benar-benar tidak sengaja. Saya buru-buru jadi lupa tarik rem tangan! Saya akan tanggung jawab, bapak tenang saja. Ini kartu nama saya, saya benar-benar sangat buru-buru saat ini. Sekali lagi maaf. Saya harus pergi sekarang." Jawab Dea panik. Dia begitu lancar menjelaskan alasannya pada sosok laki-laki yang diam mematung menatapnya.
Dea berlari masuk ke dalam gedung kantor, dia tadi bisa menangkap ekspresi menyeramkan dari laki-laki yang ditemuinya di parkiran, rasa-rasanya Dea tidak asing dengan wajahnya, hanya saja ia tidak punya waktu untuk memikirkannya.
Sementara di parkiran, sosok laki-laki itu sedang menatap kartu nama Dea yang ada di dalam genggamannya. Senyum licik kini menghiasi wajahnya. Hanya dirinya yang tau, apa yang sedang ada di dalam fikirannya saat ini.
__ADS_1
×××××