
Bab 70 Pucat Pasi
Aldo
Sudah satu tahun lebih gue bolak-balik Jakarta - Jayapura, bertemu dengan berbagai orang dari latar belakang suku dan agama yang berbeda. Masyarakat Papua yang plural hidup berdampingan, namun tak bisa dipungkiri akan adanya gesekan di dalam kehidupan sosial mereka.
Ada perasaan terjajah, orang asli Papua ini merasa termarjinalkan terutama dalam hak ekonomi, mereka berfikir bahwa semua sendi-sendi ekonomi dikuasai oleh masyarakat imigran (pendatang luar Papua). Hal ini semakin ditegaskan dengan kesenjangan sosial yang memang menampak nyata. Bukan hanya dalam hal ekonomi, kesenjangan dalam dunia pendidikan pun juga sangat jelas terlihat, termasuk dalam hak politik mereka.
Karena itu, masyarakat asli Papua yang mengalami hal tersebut merasa terpinggirkan dan merasa hak-hak dasarnya tak diproteksi. Dan itulah salah satu yang membuat mereka berpikir untuk lebih baik merdeka agar hak-haknya kembali daripada berada di Indonesia.
Namun melihat perkembangannya, orang asli Papua saat ini benar-benar mendapatkan hak khusus dimana yang boleh menjadi orang nomor 1 dan nomor 2 adalah wajib dari orang asli Papua. Begitupun dalam penerimaan pegawai pemerintah, kuota untuk orang asli Papua juga sudah ditentukan lebih besar dibanding bagi para pendatang. Gue rasa gak ada yang punya hak politik sekhusus orang asli Papua di negeri ini.
Sementara untuk hak ekonomi dan penguasaan pasar, gue rasa hukum rimba berlaku, siapa yang kuat, ia akan bertahan. Siapa yang kreatif dan inovatif, ia yang tidak akan terlindas oleh zaman.
Gue sedang duduk menunggu antrian di apotek ketika mata gue tertuju pada sesosok yang sepertinya sangat gue kenal. Namun gue sedikit ragu melihat tubuhnya yang tertutup pakaian muslimah dan perutnya yang membuncit sempurna layakna wanita yang sedang hamil tua. Gue terkesima melihatnya berjalan kesusahan menuju ke parkiran.
Sesaat fikiran gue tersadar dan mengejarnya. Sayang sekali ia sudah melajukan motornya meninggalkan area parkir rumah sakit. Kebetulan sekali seorang ojek online sedang melintas dan gue langsung cegat.
Gue langsung duduk di jok motor, "Bang, kejar motor itu yang baru keluar dari pintu gerbang. Sekarang!"
Meski ragu, namun pengendara ojek online itu akhirnya sigap mengikuti instruksi gue.
Motornya belok ke arah mall Jayapura, kemudian masuk ke gang sempit daerah pemukiman padat. Beruntung ngejarnya pakai motor, kalau mobil, gue yakin bakal kehilangan jejaknya.
Ia berhenti di depan sebuah rumah yang gue yakin adalah rumah sewa sederhana atau tepatnya kos-kosan. Gue meminta ojeknya berhenti dan langsung memberi dua lembar uang merah tanpa fikir panjang. Gue masih memilih memperhatikannya yang sedang memarkirkan motornya di depan kamar kosnya yang sepertinya tidak menyadari kehadiran gue.
Saat ia sudah hendak menutup pintu, gue langsung menahannya.
"Chyntia..."
Ia mendongak, menatapku. Matanya membulat kemudian air mukanya berubah pucat pasi.
Ia langsung mendorong pintunya cepat namun gue tahan lagi dan langsung ikut masuk ke dalam. Gue cukup terperangah melihat kondisinya, ternyata ruangan ini adalah ruang tidurnya.
"Ngapain lo masuk ke sini? Keluar!" Ucapnya dengan nada ketus.
Tak peduli dengan kata-katanya, gue malah memilih menjatuhkan diri ke atas kasurnya yang lumayan empuk.
"Gue capek, gue pengen istirahat." Ucap gue sambil berbaring tengkurap.
"Hei, siapa yang izinin lo tidur di situ? Gue bilang keluar atau gue teriak maling." Sepertinya dia benar-benar kesal.
"Teriak saja, gue tinggal bilang kalau lo adalah istriku yang kabur dari rumah."
Sepertinya Chyntia sudah malas berdebat denganku kemudian meninggalkan gue masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Karena terlalu lelah dan mungkin juga pengaruh obat yang tadi disuntikkan di rumah sakit, tak terasa gue tertidur. Entah berapa lama, yang jelasnya gue baru tersadar saat mendengar suara adzan yang gue yakin sekarang sudah masuk waktu asar.
Chyntia terlihat masih tertidur dengan posisi duduk di satu-satunya sofa yang ada di dalam ruangan 3x3 meter ini. Gue melangkah ke kamar mandi yang ternyata bersebelahan dengan dapur mini di dalam ruangan ini. Beruntung punya sekat yang terbuat dari dinding tripleks yang memisahkannya dari ruang tidur.
Dea sudah terbangun saat gue keluar dari kamar mandi. Tanpa berkata apa-apa ia ke kamar mandi kemudian mendirikan sholat. Gue hanya bisa memandanginya, entah apa yang ada di dalam fikiran gue saat ini, yang jelasnya gue penasaran, mengapa ia bisa terdampar di tempat seperti ini, dan kandungannya? Apakah dia sudah menikah?
Atau...
Atau... jangan-jangan itu adalah anak gue? Tapi, buru-buru gue tepis perasaan itu. Bisa saja.ia sudah menikah dengan laki-laki lain.
"Suami lo mana?" Tanya gue saat melihatnya selesai sholat.
"Bukan urusan lo." Jawabnya ketus tanpa mau melakukan kontak mata dengan gue.
Gue mengedarkan pandangan, dan gue yakin di dalam ruangan ini Chyntia hanya tinggal sendiri. Gue masih berusaha menepis semua perasaan yang tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda.
"Udah berapa bulan?"
"Itu juga bukan urusan lo. Tolong keluarlah, gue juga mau istirahat." Ia mengusir gue.
"Apa itu anak gue?" Entah mengapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut gue.
Akhirnya ia menatap gue, wajahnya terlihat gugup, namun kembali ia membuang pandangannya. "Sekali lagi gue katakan, ini bukan urusan lo."
"Itu akan menjadi urusan gue kalau anak yang lo kandung adalah anak gue."
Gue menggertakkan gigi demi mendengar ucapannya. Gue tahu, gue adalah laki-laki pertama yang menyentuhnya dan Chyntia hanya melakukannya dengan gue, ia bukan penganut sek* bebas dengan sembarang lelaki.
"Kemasi barang-barang lo dan ikut gue."
Ia menatap gue tajam. Gue bisa melihat banyak luka dibalik tatapannya itu. Sungguh, gue benar-benar ingin memeluknya. Hanya saja gue masih sangat kecewa kepadanya, tetapi sekarang gue semakin yakin kalau anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak gue.
Chyntia bukan gadis murahan, guelah yang merusaknya.
"Sorry, lo gak punya hak untuk mengatur-atur gue. Gue mohon, keluar dari sini. Gue udah melakukan semua yang lo minta, lo minta gue tidak muncul lagi dalam kehidupan lo dan Azka, gue udah lakuin, tapi kenapa lo yang muncul di sini? Hidup gue sudah hancur, gue sudah tidak punya siapa-siapa lagi, jadi gue mohon, jangan minta gue pergi lagi dari sini. Gue janji gak akan ganggu hidup kalian lagi, anggap saja lo gak pernah lihat gue di sini, jadi pergilah, please!" Ucapnya terbata-bata dengan isak tangis yang menyayat hati.
"Gue hanya ingin yang terbaik buat anak gue, setelah ia lahir, terserah lo mau bagaimana, gue hanya peduli dengan anak gue."
Ia tersentak menatapku sendu.
"Ini anak gue, bukan anak lo. Dia milik gue satu-satunya, lo gak punya hak sama sekali memisahkan kami." Ucapnya menatap nanar.
"Kalo lo tidak ingin berpisah sama anak lo, maka kemasi pakaianmu sekarang dan ikut gue. Lo tau gue gak pernah main-main dengan ucapan gue." Ucap gue tegas.
Ah, melihatnya tak berdaya seperti ini membuat hati gue seperti tercabik-cabik. Cinta ini ternyata masih menjadi miliknya, apalagi gue sangat yakin kalau anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak gue.
__ADS_1
Gadis periang, cantik, ambisius dan mandiri itu kini terlihat rapuh tak berdaya. Kesalahannya karena jatuh cinta pada sahabatnya hingga membuatnya jatuh pada titik terendah di dalam hidupnya.
Tak tahan melihatnya terluka, gue menariknya ke dalam pelukan gue. Ia menumpahkan semua tangisnya hingga beberapa saat kemudian ia tenang dan melepaskan tubuhnya dari pelukan gue dengan wajah tertunduk.
"Kita akan segera menikah."
Lagi-lagi ia hanya menatapku bingung.
"Sekarang lo siap-siap, kita akan ke hotel tempat gue menginap, di sana ada Azka dan Dea, sebentar lagi tante Aya dan om Arga juga tiba. Mereka akan menjadi saksi saat akad nikah nanti."
Gue kemudian bangkit mengambil kopernya lalu membuka lemarinya, ia manahan tangan gue.
"Gue malu ketemu mereka." Ucapnya menunduk.
Melihatnya seperti ini sungguh mencairkan sedikit demi sedikit rasa benciku kepadanya.
"Itu urusan lo."
"Do, please.. gue gak mau nikah."
Gue menatapnya dengan hati yang diselimuti emosi, rasanya ingin meledak seketika.
"Apa karena lo masih mencintai Azka?"
Chyntia menggeleng, "bukan, bukan karena itu, gue sadar, gue salah dan itu hanyalah obsesi gue. Gue hanya tidak ingin terluka lagi, gue tau lo benci sama gue, untuk apa gue menikah dengan laki-laki yang membenci gue?"
"Gue memang benci sama lo, tapi gue tidak membenci anak yang ada di dalam kandungan lo, gue gak mau anak gue tidak kenal ayahnya dan gue tidak mau anak gue memanggil laki-laki lain sebagai ayahnya."
"Kenapa lo yakin banget kalo ini anak lo?"
"Karena gue kenal lo."
Nampak wajahnya bersemu, gue pastikan ia sekarang salah tingkah. Gue berharap suatu saat nanti ia akan jatuh cinta sama gue, untuk sementara gue akan mengikatnya dengan kehadiran anak kami, setelah itu gue akan membuat dia tidak bisa lagi berpaling dari gue.
×××××
Author kasi hadiah pict Stadion Sepakbola yang terletak di kota Jayapura, pemandangannya cantik banget bukan. Oh yah, sisi depan dari stadion ini adalah Danau Sentani yang indah.
\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=
*Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.
Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.
__ADS_1
Thanks, 😘*