Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Terlalu Cepat


__ADS_3

Bab 19 Terlalu Cepat


Azka


Gue berdiri mematung di depan pintu, tanpa sadar tangan gue mencengkeram kuat daun pintu yang sekarang mulai terasa licin karena karingat yang mulai membasahi tubuhku.


Sepulang dari kantor, gue ingin melihat kondisi bunda terlebih dahulu. Saat hendak membuka pintu yang memang sudah terbuka sedikit, gue melihat sosok Dea sedang berlutut di hadapan bunda. Mereka saling melepas rindu, hubungan mereka benar-benar seperti seorang ibu dan anak kandungnya.


Saat gue hendak meninggalkan mereka, tiba-tiba telingaku menangkap permintaan bunda pada Dea menjadi istriku. Gue mengurungkan niat untuk pergi, kembali gue mengintip ke dalam, gue sekarang sempurna sedang menguping pembicaraan mereka.


Hati gue terasa di remas-remas demi melihat wajah Dea di balik pelukan tubuh bunda. Gue bisa melihat ada beban berat dan ketakutan yang menggantung di wajahnya. Jelas hatinya menolak meski bibirnya menerima di hadapan bunda.


Gue memang sangat ingin menjadikan Dea menjadi milikku seorang, tapi jika itu membuatnya menderita, gue tidak akan memaksanya. Namun di sini ada bunda di tengah-tengah kami. Jika Dea saja bisa menekan semua egonya dan mengirbankan masa depannya demi bunda, apalagi gue yang anak kandungnya. Gue sangat menyayangi bunda, dalam kondisinya yang lemah seperti saat ini, tak ada hal yang ingin gue lakukan selain membahagiakannya.


Selama ini gue kira Dea mempunyai perasaan lebih padaku, tapi ternyata gue salah. Gue terlalu naif melihat kegilaan Dea saat dulu yang selalu ingin bersamaku, gue menganggap itu karena Dea menyukai gue bahkan gue sempat berfikir bahwa gue adalah laki-laki impian masa depannya. Namun melihat wajahnya saat ini, gue sadar, tak pernah ada gue di dalam rencana masa depannya.


Baiklah, gue akan menerima rencana pernikahan perjodohan ini, tapi gue berjanji tidak akan menjadi penghambat untuknya mendapatkan cinta sejatinya. Biarlah gue simpan semua perasaan ini.


Mungkin dengan membuatnya semakin membenciku akan membuat perasaan ini akan hilang perlahan. Atau malah justru hatiku yang akan semakin terluka dan terpenjara oleh pesona Dea yang tak bisa kuhindari.


Aku kini yang terpesona pada paras cantiknya, tubuh tingginya yang terlihat padat namun proporsional dimana-mana, matanya yang selalu mampu menarikku tenggelam dalam kedalaman pesonanya, bibir semerah buah persiknya yang tak bisa memalingkan mataku untuk selalu menatapnya, ingin menyentuhnya dan merasakannya.


"Bang Azka, kok berdiri di sini?" Tiba-tiba Caca mengagetkanku yang gue sendiri tidak tau sejak kapan dia berada di sini.


"Oh..itu..itu.. abang baru saja mau menengok ibu." Gue cukup kebingungan mencari alasan.


"Ayo masuk, ada kak Dea tuh." Caca langsung membuka pintu lebar-lebar kemudian menghampiri bunda dan Dea.


Mau tidak mau gue terpaksa ikut bergabung dengan mereka, gue masuk seolah-olah gue tidak pernah mendengar apapun tentang semua pembicaraan mereka.

__ADS_1


Gue bisa melihat wajah tegang dan gugup Dea, saat-saat seperti ini, level kecantikannya meningkat 10x lipat dari biasanya. Kalau begini, bagaimanalah abang bisa membuat adek semakin membenci abang???


"Bunda, Dea sama Caca ke kamar Caca dulu, bentar lagi maghrib." Ucap Dea cepat dan tanpa menunggu jawaban bunda dia langsung menarik tangan Caca keluar dari kamar bunda.


Gue dicuekin.. sesak banget rasanya!


"Gimana bun? Sehat? Mau abang bantu naik ke tempat tidur?" Perhatianku sekarang mengarah ke bunda.


"Tanggung, sekalian tunggu sholat maghrib aja." Jawab bunda.


"Kamu sudah dengar semua pembicaraan bunda dan Dea tadi bukan?"


"Maksud bunda?" Gue balik bertanya pura-pura tidak tau apa-apa.


"Tidak usah pura-pura tidak tau begitu. Bunda tadi lihat kamu mengintip."


"Kok bunda bisa tau?" Gue heran, apa bunda punya sepasang mata di belakang tubuhnya?


Gue tidak bisa menghindar lagi.


"Iya bunda..." gue hanya bisa tertunduk. Tidak tau harus bagaimana bereaksi.


"Jadi bagaimana? Apa kamu sudah siap?" Tanya bunda menatapku dengan sorot mata penuh arti.


"Tapi Dea tidak menyukaiku, bunda!"


Bunda menggeleng dan menyunggingkan senyumnya, namun senyum itu seolah meremehkan gue.


"Hati perempuan itu seperti batu karang di lautan, sekeras apapun, ia akan meleleh juga seiring terpaan gelombang yang menyapunya terus-menerus tiada henti."

__ADS_1


"Cukup hujani terus dengan kasih sayang dan perhatian-perhatian kecil namun berkesan, maka dia akan lebih mencintaimu lebih besar dari yang kamu harapkan."


"Pernikahan yang berhasil bukanlah bab menemukan pasangan yang ideal dan sempurna. Juga bukan tentang bagaimana bisa selalu rukun tanpa konflik di sepanjang kehidupan berumah tangga. Pada kenyataannya, tidak ada manusia sempurna di zaman kita hidup sekarang ini. Semua orang memiliki kekurangan, kelemahan dan sisi negatif lainnya. Juga tidak pernah ada keluarga yang selalu rukun adem ayem tanpa konflik."


"Jika kamu melihat ada banyak kekurangan pada pasanganmu, ingatlah selalu, bahwa pada dirimu pun ada banyak kekurangan, mungkin saja kami tidak menyadarinya. Lalu bagaimana kamu selalu menyalahkan kekurangannya, sementara kamu juga memiliki sisi kekurangan?"


"Jika kamu menikah dengan orang lain pun, kamu juga akan menemukan banyak kekurangan pada orang lain itu. Jangan mengira jika kamu menikah dengan orang lain maka kamu akan menemukan seseorang yang ideal dan sempurna. Tidak ada manusia ideal dan sempurna yang hidup di zaman kita sekarang ini. Semua orang memiliki kekurangan dan kelemahan."


Nasehat panjang lebar itu mengalir lembut dari bibir bunda dan terasa menembus ke jantung hati, seperti kata orang-orang, sesuatu yang disampaikan dengan hati pasti akan sampai ke hati yang mendengarkannya.


Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib berkumandang memanggil-manggil jiwa-jiwa yang yang mencintai Tuhannya.


"Sudah maghrib, kita sholat dulu, setelah ini kalian akan langsung menikah?"


"Apa??? Tapi bunda, apa ini tidak terlalu cepat?" Gue shock mendengarnya, mengapa harus secepat itu?


"Terus, kalau tidak sekarang, kapan? Tunggu kamu berubah fikiran lagi dan menolak menikah dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal?" Oceh bunda tidak terima.


"Baik bunda, apapun buat bunda!" Ujarku pasrah. Gue gak akan pernah menang melawan bunda.


Gue membantu bunda ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah itu gue kembali ke kamar gue sendiri, badan gue terasa lengket, butuh mandi, butuh menyegarkan tubuh, terutama menyegarkan fikiran.


Beberapa jam lagi ke depan, gue akan ganti status, gue tidak sendiri lagi, akan ada satu jiwa yang akan menjadi tanggung jawabku baik di dunia maupun di akhirat kelak.


Gue tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Dea nanti saat bunda memberi tahunya kalau akad nikahnya akan dilaksanakan malam ini juga. Gue tidak mengerti bagaimana bunda mengatur semuanya, yang gue tau, ini bukan hal yang sulit buat ayah dan bunda.


Kemungkinan, rencana ini sudah mereka atur sedemikian rupa, tinggal meminta persetujuan kami, setelah itu, abrakadabra, bukan sulap bukan rekayasa, maka terwujudlah keinginan mereka.


×××××

__ADS_1


PS: Nasehat2 bunda Aya tadi sebagian saya ambil dari tulisan ustad Cahyadi Takariawan dengan sedikit perubahan menyesuaikan cerita.


__ADS_2