Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Setelah Menikah


__ADS_3

Bab 21 Setelah Menikah


Azka


Gue tiba-tiba terbangun, kulirik jam di ponsel, baru jam 3 dini hari. Gue masuk ke kamar mandi sebentar, setelah itu manarik selimut kemudian melanjutkan tidur. Tapi tunggu dulu, gue teringat akan Dea, gue menggeser tubuh gue ke sisi dimana ada Dea tidur di lantai beralaskan karpet. Sepertinya ia cukup kedinginan, tubuhnya hanya ditutupi oleh pakaian tidur panjang miliknya, tanpa selimut. Ia merinhkuk, memeluk tubuhnya seperti bayi yang masih ada di dalam rahim ibunya.


Pelan-pelan gue mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidur, gue gak mau ketahuan. Setelah itu gue bergabung tidur dengannya. Beberapa menit berusaha memejamkan mata, namun rasa kantukku sudah hilang menguap entah kemana.


Gue melirik wajah damai Dea yang masih terlelap dan begitu pulas, entah dapat bisikan dari mana, gue mengecup singkat bibirnya. Jantung gue memompa begitu cepat, gue seperti pencuri yang takut tertangkap basah. Bedanya, gue adalah pencuri ciuman istri sendiri.


Karena tidak puas, gue mengangkat pelan kepalanya kemudian menaruh satu lenganku untuk menjadi bantal buat Dea, setelah itu gue merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Berkali-kali gue kecup ubun-ubunnya, menyesapi aroma rambutnya yang menguar keluar dibalik jilbabnya. Dia masih memakai jilbabnya, padahal gue sudah penasaran setengah hidup ingin melihatnya tanpa penutup kepalanya ini.


Gue masih bisa mengingat setiap detail penampilannya saat masih remaja dulu, ia yang tomboy, meskipun ia belum tau merawat wajah dan tubuhnya, tapi kecantikan alaminya sudah memancar kuat, apalagi saat tersenyum, tak ada laki-laki yang sanggup memalingkan wajah darinya saat Dea memberikan senyum terbaiknya. Gue bisa jamin itu, apalagi saat ini, Dea bertransformasi menjadi gadis cantik dengan tinggi semampai, tubuhnya boleh ia ditutupi dengan pakaian tertutup, namun justru itu yang menambah kecantikannya. Kecantikan fisik dipadukan dengan kecantikan sifat, maka tidak heran jika banyak laki-laki di luar sana yang tergila-gila padanya.


Sebuah perasaan hangat menjalari sekujur tubuhku, untuk pertama kalinya gue merasakan sensasi berbeda namun memabukkan saat berada sedekat ini dengan Dea.


Gue benar-benar menikmati pengalaman ini, memeluk erat tubuh Dea yang begitu pas rasanya, tidak kurus sehingga yang terasa seperti hanya tulang, tidak gemuk sehingga yang terasa daging semua, ini pelukable banget.


Ingin rasanya gue hentikan waktu, agar gue bisa memeluk Dea sepuasnya. Namun gue tau, tak akan lama lagi Dea akan bangun, tapi biarlah. Gue sudah tidak sabar menunggu reaksinya nanti saat menyadari ia tidur di dalam pelukanku.


Menarik!


*****


Dea


Sudah menjadi kebiasaan sedari kecil, jam bangunku saat pagi adalah jam 4 lewat sedikit, kadang lewat 5 menit kadang sampai 10 menit. Ini sudah seperti alarm alamiah, sudah panggilan alam jadi aku tidak pernah memakai bantuan alarm ponselku untuk membangunkanku.


Ada yang berbeda di pagi ini, indera penciumanku menangkap aroma citrus yang menguar lembut memenuhi setiap udara yang kuhirup. Aku terus mengendus-endus aroma itu, menenggelamkan wajahku pada sesuatu yang terasa keras menempel pada hidungku. Aku merasakan sebuah kehangatan melingkupi seluruh tubuhku. Kehangatan dan aroma citrus yang menenangkan. Ini sangat luar biasa, jika saja azdan subuh belum berkumandang, ingin rasanya aku berlama-lama menikmati perasaan yang baru kudapati pagi ini.


Tapi, tunggu dulu. Kenapa badanku susah digerakkan?


Mengapa ada sesuatu yang berat menimpa perutku dan kakiku?


Mengapa guling yang kupeluk terasa keras dan hangat?


Aku mulai membuka mata, mencari kebenaran di balik temaram lampu tidur yang cahayanya masih terlihat sangat redup. 5 detik kemudian, setelah mataku bisa menyesuaikan dengan cahaya di dalam kamar.


Deg!!!


Astaghfirulllah.. aku melonjak kaget, refleks menjauh. Gerakanku rupanya mengganggu tidur bang Azka. Ia menatapku tajam, aku pun menatapnya tak kalah tajam. Saling menyelami kedalaman manik mata masing-masing. Bagaimana mungkin ada manusia yang tetap tampan saat bangun tidur seperti ini? Aku terhipnotis oleh pesonanya.

__ADS_1


"Ceklek"


Bang Azka menyalakan lampu yang sakelarnya ada di dekat kepalanya.


Kesadaranku kembali menguasai, hingga beberapa detik kemudian, aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya.


"Kenapa aku bisa tidur di sini?" Tanyaku curiga.


"Menurut kamu?" Jawabnya balas bertanya, menatapku dengan sorot mata tajam namun sulit kuartikan.


Aku menggeleng, tanpa sadar aku menarik selimut merapatkannya ke dalam pelukanku, kedua tanganku meremas keras selimut tersebut, fikiranku sudah kemana-mana. Jangan-jangan bang Azka sudah melakukan 'itu' padaku. Kalau aku hamil, bagaimana? Aku tidak ingin menjadi single mother di usia yang masih muda seperti ini.


Namun kelakuanku tadi malah menyingkap selimut yang tadi menutupi tubuh bang Azka, sialnya ia hanya hanya menggunakan boxer spongebob pendek menutupi tubuhnya.


Aku melongo menatap perut kotak-kotaknya, mirip seperti milik para aktor-aktor yang banyak digilai kaum hawa di TV.


"Sudah puas melihatnya? Saya tau kalau saya tampan dan pelukable, tapi saya bukan laki-laki murahan yang bisa dipeluk oleh perempuan sembarangan!" Ucapnya mengejekku.


Sesaat wajahku memerah seperti buah tomat yang baru dipanen, tapi mendengar ujung kalimatnya membuatku benar-benar mual, ingin rasanya kumuntahkan semua isi perutku ke dalam mulutnya yang tidak punya filter itu.


Apa katanya? Perempuan sembarangan? Itu maksudnya aku? Kurang ajar, begini-begini aku ini perempuan yang masih suci, belum ada satupun laki-laki yang pernah menyentuhku melebihi jabat tangan saja. Kecuali dia, semalam waktu akad nikah, dia sudah berhasil mencium keningku, arrrggghhhh.. fixed, keningku sudah tidak perawan lagi. Gila! Aku bersumpah, aku sangat membenci laki-laki yang sudah resmi menjadi suamiku ini.


Bagus sekali, dua orang yang saling membenci disatukan dengan sebuah ikatan pernikahan. Rumah tangga seperti apa yang akan tercipta di dalam kondisi seperti itu?


Tanpa mengetuk, aku langsung masuk kamar Caca, ia sudah siap dengan mukenahnya.


"Kita jamaah, tunggu kakak wudhu dulu."


Caca hanya bengong menatapku namun aku tidak peduli kemudian berlalu masuk kamar mandi di salah satu sudut kamarnya.


"Kok kak Dea gak sholat sama bang Azka? Imamnya sekarang kan bang Azka, bukan Caca." Tanya Caca penasaran.


"Sholat..sholat, keburu habis waktunya!" Mengabaikan pertanyaan Caca, kami akhirnya sholat subuh berdua.


Bang Azka? Malas banget sama dia. Gimana caranya coba jadi makmum dari imam yang kita benci?


Aku dan Caca sibuk menyiapkan sarapan di dapur, semenjak bunda Aya sakit, saat Caca senggang, Caca yang lebih banyak menyiapkan makanan untuk keluarganya, tentu saja dibantu sama mbo Ati dan mba Sari, anak mbo Ati yang juga ikut membantu pekerjaan di rumah ini.


Menu pagi ini adalah bubur Ayam, katanya bunda kangen makan bubur ayam buatanku. Tanpa jadi menantu beliaupun, aku pasti akan memasakkan apa saja yang ingin beliau makan, apalagi saat ini aku sudah resmi menjadi menantunya.


Karena anaknya sepertinya tidak butuh baktiku sebagai istrinya, maka dengan senang hati aku akan melimpahkan baktiku untuk kedua mertuaku yang sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri.

__ADS_1


"Kak Dea, gimana malam pertamanya? Enak gak?" Tanya Caca seperti berbisik di telingaku.


Mendapat pertanyaan seperti ini bukannya membuatku malu dan tersipu seperti kebanyakan pengantin baru pada umumnya, pertanyaan ini malah seperti pertanyaan mengejek.


"Yang bilang enak siapa, Ca?"


"Aku punya beberapa teman kuliah yang udah nikah, katanya malam pertama itu sangat-sangat memabukkan dan bikin nyesel kenapa gak nikah dari dulu. Katanya seperti candu! Bikin pengen terus..lagi dan lagi." Jawab Caca polos.


"Wah, itu mah teman toxic banget, Ca!" Jawabku santai sambil mengaduk-aduk bubur di dalam panci.


"Jadi, temanku itu bohong yah kak?" Tanya Caca penasaran lagi.


"Iya, mereka bohong, malam pertama itu gak ada enaknya sama sekali, badan rasa remuk semua, bikin nyesek di sini." Ucapku sambil menunjuk dadaku. Aku tidak bohong bukan? Memang semalam itu gak ada enak-enaknya sama sekali, malah tubuhku sekarang rasanya remuk redam karena tidur di lantai.


"Ekkkhhmmm..." tiba-tiba bang Azka sudah berdiri bersandar di kulkas dekat dapur.


Jantungku rasanya mau melompat keluar dari dadaku. Sejak kapan dia ada di situ, merusak mood saja.


"Ca, buatin abang kopi!"


"Minta sama bininya kenapa, bang?" Tolak Caca malas.


"Oh, abang lupa kalo abang udah punya bini sekarang. Soalnya sepertinya dia juga lupa kalo udah punya laki." Sindirnya padaku dengan seringai nakal di bibirnya.


Hampir saja centong di tanganku melayang ke bibirnya yang seksi itu. Tapi aku masih menghargainya, lagian di sini aku kan hanya menantu. Cie.. merasa menantu juga, padahal betul kata bang Azka tadi, aku memang sempat lupa kalo aku udah punya laki sejak semalam.


Aku menyerahkan centong ke Caca dan memintanya tetap mengaduk bubur tadi.


Dengan cekatan kopi yang diminta bang Azka sudah siap, aku sempat termangu, otakku mengatakan sudah melupakan semuanya tentang bang Azka, namun gerak tubuhku masih begitu kuat menghafal dan mengingat segala hal tentangnya.


Lihatlah kopi ini, kopi dengan takaran sesuai yang sesuai dengan selera lidah bang Azka.


"Bagaimana kopinya bang?" Tanya Caca saat melihat bang Azka menyeruput kopinya beberapa teguk. "Beda bukan kalo kopi buatan istri dibanding buatan adik?"


"Hmmm..." jawab bang azka ambigu. Tidak jelas banget. Ia akhirnya pergi membawa gelas kopinya meninggalkan aku dan Caca di dapur.


Fiuuhhhh.. akhirnya bisa bernafas lega! Berada satu ruangan dengan bang Azka itu rasanya selalu seperti pasokan udaranya selalu kurang bagiku. Aku butuh lebih dan lebih lagi udara agar nafasku dan jantungku bisa berjalan teratur sebagaimana mestinya.


×××××


Hai readers,

__ADS_1


Thanks untuk supportnya, tetap kasi Like, Comment and Vote-nya yah, termasuk jadikan Novel ini masuk dalam List Novel Favorit kamu agar popularitas Novel ini meningkat setiap harinya.


Like dan Comment kalian adalah suplemen buat author 🥰


__ADS_2