Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Hikmah


__ADS_3

Bab 56 Hikmah


Dea berdiri di balkon kamarnya dengan secangkir kopi di tangannya, memandangi gedung-gedung pencakar langit bersusun secara teratur di sisi kanan kiri gedung apartemennya. Namun, itu bukan hal yang terlalu menarik. Dari dulu Dea menyukai pantai dengan pasir putih dan gelombang pecahnya, menyukai laut dengan birunya, menyukai garis lurus pertemuan langit dan laut di ujung pandangan mata. Dan sekarang Dea bisa memandangnya setiap hari meskipun dari kejauhan.


"I have a cup of coffee for you, but i have to finish it by myself. It still feel like reguler coffee we have together, but it doesn't feel the same without you." Gumam Dea menyesap kopinya.


Entah kenapa, selama hamil ia lebih suka meminum kopi. Rasa mualnya akan hilang begitu saja saat ia meminum kopi, dan itu semakin menyiksanya karena selalu teringat kepada Azka.


"Really miss you, bang!" Air mata Dea menetes beberapa tetes.


Ia fikir, pergi dan menjauh dari kehidupan Azka akan membuatnya jauh lebih baik, namun itu hanya di fikirannya saja. Kenyataannya, ini berat, sangat berat. Apalagi jika memikirkan anak yang dikandungnya. Perasaan bersalah mulai mengganggunya.


"Apa keputusanku sudah benar?"


*****


Hari ini adalah hari terakhir Azka berada di Mekkah. Ia memilih tidur di hotelnya sejenak sebelum Bus yang akan membawanya ke Palestina berangkat siang nanti setelah sholat dzuhur. Matanya terlalu berat untuk diajak terbuka, seminggu beribadah umroh membuatnya sangat sedikit tidur.


Azka membuka mata, sepertinya ia cukup lama tertidur. Ia memeriksa ponselnya, nampak ada 20 panggilan tak terjawab, namun ia abaikan. Sejenak kemudian ia baru sadar, ia kembali melihat jam di ponselnya, berharap tadi matanya salah melihat.


"Astaghfirullah.."


Azka bergegas segera menghubungi pihak travel dan setelah tersambung dan menanyakan keberangkatannya, tubuh Azka lemas seketika, Busnya sudah berangkat dari satu jam yang lalu.


Azka hanya bisa bersabar dan jika ingin tetap ke Palestina, besok baru ada jadwal pemberangkatan lagi.


Azka menuju ke kamar mandi membersihkan tubuhnya kemudian mendirikan sholat. Ia tidak menyangka akan ketiduran seperti ini. Azka kemudian mulai berfikir, apa ia akan melanjutkan perjalanannya ke Palestina atau menerima tawaran kak Limpo?


Tak perlu waktu lama untuk mengambil keputusan. Azka menggendong tas carrier di belakangnya kemudian bergegas ke Bandara. Kak Limpo sendiri sudah take off dari tadi pagi karena beliau memang hanya tiga hari di Mekkah.


Azka mengirim pesan kepada kak Limpo kalau hari ini ia akan menyusulnya dan meminta referensi hotel yang dekat dari tempat tinggalnya agar saat sampai di Bandara nanti ia bisa langsung ke sana.


Perjalanan yang lumayan panjang, setelah tiga jam di udara, akhirnya tiba di Dubai. Setelah memilih beberapa referensi hotel yang diberikan kak Limpo, ia memutuskan akan menginap di JA Beach Hotel. Azka tiba di hotel sudah cukup malam. Capek juga dan memutuskan besok saja silaturrahim ke rumah kak Limpo. Kebetulan besok adalah hari jum'at, jadi libur.


Azka berusaha memejamkan matanya, namun terasa sulit diajak kompromi. Ia hanya terus berguling-guling tidak jelas di kasur. Lelah memaksa matanya, ia berjalan ke arah balkon. Dari atas sini ia bisa melihat jelas aktivitas kesibukan pelabuhan Jebel Ali yang begitu padat meskipun gelap sudah menyelimuti langit.


Tiba-tiba Azka melihat sesuatu seperti cahaya berwarna kuning dari arah pelebuhan, detik kemudian cahaya itu membesar kemudian---


Boom!!!


Ledakan besar terjadi di sana, bahkan Azka merasakan sedikit getaran akibat ledakan tersebut. Jika Azka tidak salah, ledakan itu berasal dari sebuah kapal peti kemas.


Nampak kendaraan pemadam kebakaran berlalu lalang di sekitar kota dan berusaha mematikan kebakaran yang diakibatkan oleh ledakan tersebut. Sempat terjadi kepanikan, bagaimanapun Dubai adalah wilayah yang dihuni 85%-nya adalah ekspatriat dari berbagai negara. Padahal Dubai dikenal sebagai negara teraman peringkat kedua di dunia.


Setelah melihat kejadian yang cukup luar biasa itu, Azka masuk ke kamarnya, rasa kantuk pun sudah menguasai dan akhirnya ia tertidur, memeluk Dea di dalam mimpinya. Mimpi indah bukan?


*****


Di unit kak Limpo..

__ADS_1


"Uni kok sibuk banget?" Tanya Dea merasa heran melihat uni Rika sibuk beres-beres rumah dan melihat bahan masakan yang cukup banyak. Bukannya istirahat dulu setelah tiba dari umroh kemarin.


"Abahnya anak-anak mau ada kedatangan tamu, ketemu waktu umroh kemarin. Kirain gak jadi ke sini karena katanya mau lanjut ke Palestina, Qodarullah ia ketinggalan Bus karena ketiduran." Jawab uni Rika sambil sibuk memungut mainan-mainan yang berserakan.


Anak-anak uni Rika ketiganya laki-laki semua, mereka anak-anak yang lucu, cerdas dan kreatif. Jadi jangan heran jika setiap sudut ruangan penuh dengan hasil kreatifitas mereka.


"Jam berapa datangnya, biar aku bantuin masak?"


"Ba'da jum'at, mereka janjian ketemu di Mesjid. Kamu nanti dandan yang cantik, orangnya cakep beud! Kali aja jodoh." Ucap uni Rika menggodanya.


"Uni ada-ada saja, aku ini masih status istri orang loh kalo uni lupa!"


"Oh, kirain udah lupa statusnya. Ini udah dua bulan loh kamu kabur, kalo kamu juga lupa." Ucap uni Rika sinis.


Uni Rika memang sudah kehabisan akal menasehati Dea agar membuka komunikasi dengan suaminya kembali.


Dea memeluk uni Rika, "jangan marah dong, uni. Kalo uni marah, mommy sedih, dede bayi juga ikut sedih deh." Dea benar-benar manja. Beruntung uni Rika orangnya sangat dewasa dan ke-ibuan. Ia sudah menganggap Dea seperti adiknya sendiri.


"Itu karena uni sayang sama dedek bayi dan mommy-nya." Ucapnya mengelus lembut tangan Dea.


Sementara di tempat lain, Azka dan kak Limpo sudah bertemu di Mesjid JB S Beach, dekat dari hotel Arga. Sengaja mereka janjian di mesjid tersebut karena Azka belum terlalu familiar dengan kota Dubai. Meskipun ini bukan pertama kalinya ia ke sini, tetapi selama ini ia ke Dubai hanya untuk alasan pekerjaan jadi belum pernah punya waktu untuk meng-eksplore kota ini secara keseluruhan. Waktu kecil juga pernah liburan ke sini, tapi guide-nya adalah orang tuanya.


"MaasyaAllah, ke Dubai juga!" Ucap kak Limpo tersenyum saat menyetir menuju apartemennya.


Azka ikut tersenyum, menikmati suguhan pemandangan yang dilewatinya selama di dalam mobil.


"Betul sekali, niatnya ke Palestina tapi jalannya malah ke Dubai. Semua ada hikmahnya." Ujar kak Limpo menimpali.


Azka mengangguk, "hikmah siapa kak?" Tanyanya bercanda.


"Hikmah yang hilang, milikmu, makanya kamu diarahkan ke sini untuk mengambilnya."


Azka tersenyum, "aamiin.. jadi gak sabar ketemu sama hikmah." Mereka berdua tertawa.


Tak ada lagi percakapan mereka di dalam mobil hingga kak Limpo memarkirkan mobilnya di basement apartemen.


"Ayok naik ke unit kami yang sederhana ini."


"Ah, kak Limpo bisa aja. Sederhana itu mewah!" Ucap Azka mengedipkan satu matanya.


Mereka kembali tertawa dan menaiki lift menuju unit kak Limpo.


*****


Setelah membantu uni Rika memasak dan menyiapkannya di meja makan, Dea kembali ke unitnya. Ia merasa tidak punya kepentingan dengan tamu kak Limpo tersebut, apalagi laki-laki. Mungkin jika tamunya adalah suami-istri, Dea mungkin berfikir untuk berbasa basi sebentar dengan istrinya. Tapi ini, tamunya laki-laki seorang, rasanya Dea benar-benar tidak berkepentingan dengannya.


Faiq anak bungsu kak Limpo berumur 3 tahun yang sangat dekat dengannya tadi merengek ikut dengannya ke unitnya. Setelah dua jam, ia mulai bosan dan meminta kembali ke uminya. Dea berusaha menenangkannya namun tidak berhasil dibujuk.


Dea menarik cardigan rajut panjang miliknya kemudian mengenakan jilbab rumahan menutupi kepalanya lalu menuju ke unit sebelah. Saat masuk, suasana sudah lengang.

__ADS_1


"Uni..! Panggilnya sambil mengetuk pintu kamar uni Rika.


Uni Rika keluar kemudian mengambil Faiq dari gendongan Dea.


"Dia ngantuk, tapi gak mau bobo di sebelah." Dea celingak-celinguk mencari kak Limpo dan tamunya. "Tamunya udah pulang yah, uni?"


"Gak, mereka lagi pergi sholat Azar."


Dea membulatkan bibirnya dan menganggukkan kepalanya. "Ya, udah. Aku ke sebelah dulu."


Ceklek..


Tiba-tiba kak Limpo masuk.


"Loh, ada Dea. Tinggal dulu, teman kakak ini orang BM Shipyard juga. Mungkin kalian kenal."


Deg!!!


Jantung Dea langsung berpacu, kakinya terasa lemas seketika.


"Mampus gua kalo ketahuan orang BM." Ucap Dea dalam hati dilanda rasa gugup.


"Iya kak, aku belum sholat Azar, nanti saja baru ke sini." Dea langsung melipir keluar membuat kak Limpo geleng-geleng kepala melihat Dea yang masih betah berada di dalam pelariannya.


"Temannya mana, kak?" Tanya uni Rika.


"Tadi lagi terima telpon diluar, jadi aku duluan."


Sementara Dea keluar dari unit kak Limpo dengan sangat terburu-buru hingga ia tidak sadar menabrak tubuh seseorang.


Brakkkk!


Sebuah ponsel terjatuh begitu saja dengan suara yang membuat hati si pemiliknya pasti perih melihatnya!


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Ekkhhmmmm...


Gimana Readers?😁


Thanks semuanya untuk supportnya, maaf, comment2nya belum bisa author balas satu2.


Terus author ingatkan, berikan like, comment dan votenya yah agar popularitas novel ini terus meningkat.


Buat readers baru, boleh baca novel author lainnya "KAPAL CINTA AYANA" sambil nunggu update-an novel ini🥰


_big hug_

__ADS_1


__ADS_2