Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Cemburu?


__ADS_3

Bab 76 Cemburu?


Bandara Sentani nampak cerah pagi ini, awan putih memayungi pegunungan Cycloops yang membentang jauh ke arah utara kota Sentani, Jayapura. Pegunungan inilah yang menjadi pembatas antara Danau Sentani dengan Samudera Pasifik juga menjadi tempat hidup fauna endemik Papua, seperti kaguru pohon, landak semut Irian, burung kasuari, burung cendrawasih dan kuskus. Khusus untuk kuskus, Dea sempat bergedik ngeri mengingat satu nama hewan itu, soalnya, dalam beberapa kali perjalanannya menuju daerah-daerah pedalaman sekitar kota, di sepanjang perjalanan, matanya beberapa kali menemui kuskus yang digantung untuk diperjualbelikan dagingnya.


Satu lagi yang membuat Dea bergedik ngeri selama tinggal di Papua, nemu babi di jalanan itu sudah hal biasa, mereka bebas berkeliaran karena saat matahari mulai terbit sudah dilepas dari kandangnya. Bahkan pernah sekali Dea mengunjungi rumah salah satu teman kuliahnya saat di Makassar dulu, ada kandang babi milik tetangganya. Kebayang gak, ada kandang babi di dalam kota, dekat rumah kamu pula? Jangan ditanya tentang aroma bau yang mengisi udara, sebelas dua belas dengan daerah pemukiman dekat TPA.


Babi bukan sekadar binatang peliharaan. Masyarakat Papua menganggap babi sebagai tabungan, alat pembayaran maskawin, menu utama dalam tradisi bakar batu, hingga membantu membajak lahan kebun. Berbagai persoalan adat dan perang suku juga bisa diselesaikan dengan babi.


Tidak peduli ukuran dan usianya, semua babi yang tertabrak senilai babi dewasa. Lebih apes lagi kalau yang tertabrak adalah babi betina karena punya cara penghitungan ganti ruginya berbeda. Harga seekor babi dewasa di Papua sekitar Rp 15 juta. Namun jika di pegunungan Papua harganya bisa mencapai Rp 30 juta per ekor.


Apabila menabrak babi betina, maka jumlah ganti ruginya semakin besar. Cara menghitungnya, harga babi dewasa tadi dikalikan jumlah ****** susu babi betina yang tertabrak.


Pengendara juga mesti bertanggung jawab jika menabrak babi. Sebab jika terjadi tabrak lari pada babi, maka masyarakat akan memberikan sanksi kepada pengendara lain yang melintasi jalan tersebut. Biasanya pengendara terkena sasaran adalah yang mengendarai mobil berwarna sama dengan penabrak.


Syukur-syukur jika kendaraan lain yang melintas hanya dipalak sekian rupiah hingga nilainya mencukupi seharga babi yang ditabrak, yang paling parah jika kendaraan yang dianggap mirip penabraknya disita dan dibakar beserta pengemudinya.


Namun dibalik cerita yang membuat bulu kuduk berdiri seperti di atas, masyarakat Papua adalah orang-orang yang ramah dan murah hati, seperti kebanyakan orang-orang Indonesia lainnya.


Akhirnya, panggilan untuk boarding pesawat yang akan membawa Dea dan Azka ke Jakarta sudah mengudara memenuhi ruang tunggu. Setelah sebulan di Papua, akhirnya mereka kembali ke ibu kota, Dea tidak ingin melahirkan di sini, ia sudah melihat bagaimana Chyntia yang tidak didampingi keluarga dekatnya saat proses persalinannya. Itu terasa memilukan.


Belum lagi tiga hari setelah Chyintia melahirkan, Aldo malah terkena malaria dan harus dirawat selama 3 hari di rumah sakit. Mungkin karena terlalu kelelahan, kurang tidur dan pola makan yang tidak teratur selama kelahiran bayinya sehingga membuatnya harus merasakan penyakit endemik Papua tersebut.


"Apa kamu dan dedek bayi baik-baik saja?" Tanya Azka setelah mereka duduk di dalam pesawat.


Dea mengangguk dan mengulas senyum manisnya, "InsyaaAllah bang, tenang aja."


"So, gimana? Masih mau balik lagi ke sini dan punya rumah di sini? Yakin gak kapok lagi?" Tanya Azka sambil mengedipkan satu matanya.


Dea berfikir sebentar, "Emmm...sepertinya boleh-boleh aja sih bang, aku suka pemandangannya, aku suka udaranya, masih segerrrr!" Ucapnya tersenyum.


"Good! Nanti kalau rumahnya udah selesai dibangun abang akan bawa kalian ke sini lagi."


"Aamiin.."


Mereka saling berpegangan tangan saat pesawat mulai take off meninggalkan landasan pacu dan menukik naik menuju angkasa. Kembali Dea menoleh ke arah jendela dan menikmati pemandangan yang dilalui pesawat yang mulai mengudara. Lagi dan lagi, Dea hanya bisa terpesona dengan hamparan keelokan tanah Papua yang memanjakan mata.


*****

__ADS_1


Kandungan Dea kini sudah menginjak usia delapan bulan, meskipun demikian, ia masih bersikeras masuk kantor. Ia merasa bosan jika harus tinggal di rumah seorang diri, karena bunda Aya dan ayah Arga sama-sama masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing, terlebih lagi dengan Azka yang lebih sering bekerja hingga larut malam di kantor.


Dea merasa lebih baik berada di kantor, ia bisa banyak membantu pekerjaan Azka di sana, dan memang Dea benar-benar ingin memastikan project-project yang sedang berjalan saat ini tidak ada yang delay mengingat sebentar lagi beberapa project pembangunan kapal baru akan dimulai dan Galangan yang ada di Papua juga akan segera dimulai operasionalnya.


Namun ada satu hal yang membuat Dea tidak bisa meninggalkan Azka sendiri di kantor. Bukannya Dea tidak percaya kepada suaminya itu, hanya saja ia melihat gelagat seorang karyawan baru di bagian HRD kerap kelihatan bersikap ganjen dengan pakaian terbukanya di depan Azka. Tentu Azka mengabaikan, seolah tak pernah terlihat di matanya, namun tetap saja Dea tidak bisa merasa tenang.


Cemburu?


Cemburu adalah konsekuensi logis dari cinta, jika tak ada cemburu, maka mustahil ada cinta. Dea sangat mencintai Azka, ia tidak ingin kehilangannya maka ia akan berjuang menutup pintu-pintu yang sekiranya punya potensi membuat rumah tangga mereka tercerai berai.


Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, bukan?


Seperti saat ini, jelas-jelas ada Dea di meja kerjanya, dan Azka sedang memeriksa berkas para kandidat yang akan mengisi posisi manager untuk Galangan di Papua. Ririn, dari bagian HRD menjelaskan satu persatu data pribadi dari para kandidat tersebut dengan suara dibuat mendayu-dayu seseksi mungkin, membuat Dea merasa mual mendengarnya. Gadis tersebut seolah mengabaikan keberadaan Dea di ruangan itu, terlihat jelas berusaha keras mencari perhatian Azka.


"Sayang!" Panggil Azka lembut menatap Dea.


Dea menoleh karena ia sangat yakin bahwa dirinyalah yang dimaksud dari panggilan sayang tadi.


"Abang minta tolong kamu temani ibu Ririn seleksi berkas-berkas ini dulu, abang sama Deon ada meeting di lapangan." Ucap Azka tersenyum nakal ke arah Dea.


Azka berdiri lalu membantu Dea penuh sayang duduk di kursi kebesarannya. "Hati-hati sayang."


Wajah Ririn tiba-tiba berubah pias, ia hanya bisa menyunggingkan senyum masam melihat kemesraan pasangan suami istri yang ada di depannya. Sungguh ia merasa iri, berharap dirinya yang berada di posisi Dea saat ini, pasti ia akan menjadi perempuan paling bahagia sedunia.


"Silahkan ibu lanjutkan dengan istri saya, dia lebih jeli dibanding saya." Ucapnya kepada Ririn.


Lalu Azka kembali menoleh ke Dea, "abang pergi dulu." Azka kemudian mengecup kepala Dea dan berlalu keluar ruangan.


Sungguh pemandangan yang sangat membakar jiwa Ririn.


"Ah..iya bu Ririn, sampai dimana tadi yah?" Tanya Dea memecah lamunan Ririn.


Ririn tergagap namun ia dengan cepat bisa menguasai diri lalu menjawab dengan santai.


"Ini tinggal 10 berkas lagi, bu."


"Oh, oke.. baik, mari kita lanjutkan."

__ADS_1


Dea sejenak serius membaca beberapa lembar berkas yang diberi Ririn, perhatiannya tiba-tiba berhenti ketika Ririn mulai tampak gelisah seolah ingin segera pergi.


"Kalau ibu Ririn tidak ada yang ingin disampaikan lagi, ibu boleh kembali bekerja lagi. Kebetulan berkas seperti ini bisa saya baca dan pelajari sendiri tanpa perlu ibu jelaskan. Sama dengan pak Azka, beliau lebih faham lagi dengan urusan seperti ini, jadi lain kali ibu tidak perlu repot-repot." Ucap Dea satire namun tetap dengan wajah ramah dan bersahabat.


"Oh..begitu yah bu, maaf, soalnya di tempat saya sebelumnya biasanya kami dari HRD dimintai penjelasan juga mengenai kualifikasi para pelamar kerja." Ucap Ririn ngeles.


"Di sini, kalau karyawan biasa, cukup ditujukan ke para head department saja, GM gak punya urusan di situ, yang ini karena untuk kandidat project manager aja, makanya pak Azka ingin memastikannya langsung."


"Baik bu, kalau begitu saya permisi." Ucap Ririn buru-buru berdiri dan langsung berjalan keluar.


"Tunggu!"


Pintu terbuka, langkah Ririn berhenti kemudian berbalik menghadap Dea dengan tangan masih menahan pintu.


"Saya sarankan roknya di panjangin dikit dan atasannya lebih ditinggikan sedikit lagi biar belahan dadanya tidak terlalu terekspos bebas. Saya khawatir, jangan sampai ibu mengalami kekerasan seksual, baik secara verbal maupun non-verbal. Ibu tau sendiri bukan kalau di perusahaan kita ini diisi oleh sekitar tujuh ribuan laki-laki dan hanya 150 perempuan di sini. Di sini sarangnya lelaki, banyak diantara mereka yang terpisah jauh dari pasangannya, kasihan mereka jika melihat penampilan ibu seperti ini. Jangan memancing di air jernih." Ucap Dea panjang lebar. "Itu saja, silahkan kembali ke ruangannya." Imbuhnya kemudian.


Demi apapun, Ririn benar-benar tidak terima dengan perkataan Dea. Ini adalah tubuhnya, terserah dia mau berpakaian seperti apa, Dea tidak punya hak mengaturnya.


"Maaf bu, sepertinya ibu sudah terlalu jauh mengurusi saya, ini adalah wilayah privasi saya, saya bebas melakukan apa saja dengan tubuh saya." Ririn mengepalkan tangannya menatap tajam kepada Dea.


"Saya hanya mengingatkan, sebagai sesama saudara muslim, ibu beragama Islam bukan? Jadi sudah selayaknya saling mengingatkan. Ibu memang bebas melakukan apa saja, tapi ada batasnya. Batasnya adalah hukum negara kita, hukum agama kita dan yang lebih penting lagi adalah bahwa kebebasan kita itu dibatasi oleh kebebasan orang lain. Ibu bebas berpenampilan seksi, bahkan telanjang pun itu juga terserah ibu, tetapi saya, suami saya dan orang-orang di sekitar ibu berhak mendapatkan pemandangan yang baik, yang sopan. Di sini kantor, tempat untuk bekerja mencari nafkah, bukan tempat untuk pamer dada dan paha." Ketus Dea yang merasa cukup sebal melihat Ririn yang tampak emosi menanggapinya.


"Terima kasih, tapi maaf, sekali lagi saya tegaskan kalau ini bukan urusan ibu. Saya permisi." Tanpa menunggu tanggapan Dea lagi, Ririn langsung melangkah keluar dan menutup pintu dengan sedikit keras membuat Dea hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Melihat penampilan Ririn seperti itu sungguh membuatnya risih dan malu sebagai perempuan. Sementara Ririn sendiri merasa biasa saja tanpa malu dan justru malah bangga.


Andai Ririn tahu bahwa wajah yang dihiasi rasa malu bagaikan permata yang tersimpan dalam sebuah bejana bening. Tidak ada seorang pun yang memakai perhiasan lebih indah dan memukau daripada perhiasan rasa malu.


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.


Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.


Thanks, 😘

__ADS_1


__ADS_2