
Bab 37 Di Rumah Aja
Azka
Libur telah usai, suasana rumah akan kembali seperti semula, sunyi! Aufar lebih cepat kembali ke Jerman dari jadwalnya, katanya ada kuliahnya yang tidak bisa ia tinggalkan. Sementara Oma dan tante Lala harus cepat-cepat kembali ke Korea karena anak-anaknya masih sekolah semua.
"Nanti oma akan balik ke Jakarta saat kalian sudah punya bayi!" Ucap Oma sambil mengelus-elus perut Dea saat beliau pamit.
"Doakan yah, Oma!" Ucap Dea tulus.
"Oma akan selalu doakan kebaikan dan kebahagiaan rumah tangga kalian." Oma melirik ke gue. "Jaga istri kamu, jadi suami itu harus peka dan pengertian. Jangan terlalu cuek, kalau sama orang lain terserah, tapi sama istri sendiri tuh disayang-sayang. Jadi pendengar yang baik buat istri, jadi teman, jadi sahabat bahkan sekali-kali kamu harus bisa memposisikan diri sebagai ayah dari istrimu. Jangan pernah melakukan kekerasan, jangan membentaknya saat kamu marah, kalau memang kemarahanmu tak tertahankan, maka diam saja dulu, tenangkan fikiranmu. Karena jika kamu memperturutkan emosimu, kata-kata yang keluar tidak akan tersaring lagi oleh otakmu, jadi yang keluar hanyalah isi perutmu, sampah semua!!! Dan itu akan sangat menyakiti hati istrimu." Nasehat oma panjang lebar.
"Iya oma, iya.. makasih doa dan nasehatnya. Azka akan ingat selalu nasehat oma!"
"Jangan terlalu terbebani masalah anak, nikmati saja dulu masa pacaran kalian. Cari waktu buat kalian liburan biar bisa semakin mengenal karakter masing-masing. Pokoknya kalian harus bahagia dan saling membahagiakan!" Tante Lala menambahkan.
Dea mengangguk dan menyunggingkan senyum manisnya. Lihat, dia senyum seperti itu bikin gue tegang mulu, sepertinya gue bakal cepat punya anak, soalnya gue paling gak bisa kalau sehari saja gak sentuh Dea.
Dea itu sudah seperti candu, rasanya gue butuh dia sebanyak udara yang gue hirup saking berartinya dia buat hidup gue.
"Sudah, ayo berangkat!" Ayah menyela sesi pamit-pamitan oma dan tante Lala yang tiada jelas kapan berakhirnya.
Sebelum masuk ke mobil, ayah berpesan, "jaga menantu ayah, jangan dibikin lecet!" Seringai licik dari bibirnya melirik gue dan Dea bergantian.
"Bunda dan ayah berangkat dulu, kalian baik-baik di rumah."
"Iya bunda. Hati-hati di jalan. Semoga liburannya menyenangkan."
Gue merangkul Dea posesif di sisi gue sampai akhirnya mobil ayah sempurna meninggalkan rumah.
Ah, sekarang tinggal gue dan Dea di rumah. Ayah dan bunda ada-ada saja, ngotot anterin oma balik ke Korea, terus katanya ada urusan pekerjaan juga di sana.
Entahlah, gue hanya mencium ada aroma-aroma konspirasi di sini. Mereka sengaja meninggalkan gue dan Dea hanya berdua di rumah. Bahkan semua pembantu diliburkan, tinggal satpam doang yang bertugas, itupun cuman kebagian shift malam.
__ADS_1
Gue menarik tangan Dea masuk rumah, karena dia agak kesulitan mengejar langkah panjang-panjang gue, akhirnya gue angkat dia naik ke pundakku seperti sedang memikul karung beras.
"Bang Azka...turunin! Aku bisa jalan sendiri kok." Dea meronta ingin melepaskan diri tapi tentu saja itu tidak akan berhasil.
Akhirnya kami sampai di lantai 3 dimana di sini difasilitasi rooftop swimming pool. Gue langsung melompat ke kolam renang dengan masih menggendong Dea.
Aaaaaaaaa...!
Byurrrrrrrrrr!!!
Gue tergelak melihat reaksi Dea yang kepanikan, wajahnya pucat pasi, kedua tangganya memeluk leher gue sangat erat.
"Bang Azka jahat, aku gak bisa berenang, kalau aku tenggelam gimana?" Matanya sudah berkaca-kaca sepertinya sebentar lagi banjir, banjir air mata.
"Kan ada aku di sini, jadi kamu gak bakal tenggelam. Lagian kenapa kamu masih belum bisa-bisa berenang? Bukannya dulu abang udah beberapa kali ajar kamu?" Tanya gue dengan menautkan kedua alis gue, karena seingat gue, gue sempat mengajari Dea dan Caca berenang waktu Dea awal-awal masuk SMA.
"Iya, tapi kan waktu itu aku memang belum bisa sampai akhirnya aku pin--" Dea menelan ujung kalimatnya. Ia tidak sanggup melanjutkannya, karena mengingat itu sama saja dengan mencungkil luka lama.
Gue mengerti, sesuatu mengganggu fikiran Dea saat ini, mau tidak mau fikiran gue pun ikut melayang ke masa itu, masa dimana gue menghancurkan hati Dea dengan kata-kata pedas dari bibir sialan gue.
"Kamu tidak apa-apa?" Gue melihat tidak ada semangat di wajahnya. Gue membuka jilbabnya yang sudah basah kemudian merapikan anak rambutnya dengan ujung jari gue. Mungkin dengan bersikap manis seperti ini Dea akan bisa lebih terbuka ke gue.
Dea menggeleng, seulas senyum ia berikan.
"MaasyaAllah.. manisnya senyum istriku ini." Pengen banget ngomong gitu ke Dea, tapi belum saatnya. Gue akan tunggu sampai dia menyerahkan hatinya ke gue. Tinggal selangkah lagi dan jiwa raganya, hatinya, cintanya akan menjadi milik gue seutuhnya, selamanya.
"Besok mau ke kantor atau masih mau di rumah aja?" Gue mencari topik yang bisa mengalihkan gue dari keinginan memangsa Dea saat ini juga. Dia sangat menggoda!
"Ke kantor aja, di rumah juga gak ada siapa-siapa. Sepi!" Dea hendak keluar dari kolam tapi gue tahan.
"Mau kemana?"
"Mau duduk-duduk aja di pinggir kolam, mau berenang juga tapi gak bisa."
__ADS_1
"Sini biar aku ajarin lagi."
"Gak mau, nanti bukannya berenang tapi malah gaya batu, nyemplung gitu aja!"
"Gak akan, kita dipinggir sini aja, agak dangkal, kamu gak bakal tenggelam. Lagian berenang itu penting biar tubuh kamu sehat, terutama untuk jantung dan paru-paru kamu. Biar nafasnya bagus, gak cepat lelah dan bisa mengimbangi aku saat di ranjang."
Wajah Dea tiba-tiba memerah, gue tau dia sedang malu karena gue membahas perihal urusan ranjang.
Gue benar-benar gemas melihat wajah malu-malunya. Meskipun gue udah mengeksplore setiap titik dan setiap jengkal tubuhnya, tetap saja dia masih terlihat malu. Gue pernah nonton video ceramah ustadz Oemar Mita, Lc., katanya salah satu ciri perempuan yang layak dijadikan istri itu adalah karena sifat pemalunya. Dan sekarang gue meng-amininya. Ustadz betul sekali, istri gue ini, sama gue aja yang suaminya masih sangat pemalu saat gue sentuh dan melihat auratnya, apalagi jika itu laki-laki yang bukan mahramnya. Dia sungguh menjaga dirinya, dan gue merasa menjadi laki-laki yang paling beruntung karena mendapatkan perempuan yang masih murni kesucian dan kehormatannya.
Di zaman sekarang, mencari perempuan yang masih murni itu susah. Mungkin saja masih perawan, tapi tinggal selaput daranya saja yang belum robek, selebihnya sudah tidak perawan lagi.
"Mau diajarin gak?"
"Lain kali aja!" Kali ini Dea benar-benar keluar kolam dan gue mengikutinya.
"Yaaahhh.. gimana caranya ke kamar pake pakaian basah begini?" Tanya Dea pelan, tapi pertanyaan itu ia arahkan ke dirinya sendiri, bukan gue.
"Kita berjemur dulu di sini." Gue menarik Dea ke kursi santai lonjer pantai di tepi kolam.
Gue melepas kaos dan celana menyisakan kain kecil di tubuh gue kemudian berbaring di kursi samping Dea. Nampak Dea mengalihkan pandangannya.
"Baju sama roknya dilepas aja, biar semua kulit kamu kena matahari. Kulit kamu juga butuh haknya mendapatkan asupan vitamin D. Mumpung gak ada orang lain di sini, gak mungkin bukan kamu pake bikini kalau di tempat lain? Di sini aman, bunda sering berjemur di sini berdua aja dengan ayah."
Gue tau Dea enggan mengikuti saran gue, pasti dia akan berfikir kalau itu hanya modus gue saja. Memang sih, gue cukup penasaran melihatnya dalam balutan pakaian minim saat di luar kamar. Melihat tubuh seksinya dibasahi sinar matahari, itu pasti sangat menggairahkan.
Itu hanya fantasi liar gue aja, tapi tentu saja gue hanya ingin menikmatinya sendiri, gue gak rela membaginya kepada siapapun. Jika ada kebahagiaan yang tidak ingin gue bagi, itu adalah Dea. Gue menyukai setiap apa yang ada padanya.
Gue mendekatinya yang sepertinya ia tidak menyadari, sepertinya melamun!
"Mau buka sendiri atau abang yang bukain?"
×××××
__ADS_1