Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Panggilan Alam


__ADS_3

Bab 72 Panggilan Alam


Azka mengajak Dea masuk kamar dengan menggendongnya ke atas pangkuannya.


"Bang, aku berat loh." Dea mencoba mengingatkan.


"Gak masalah, lebih berat dari ini juga abang masih sanggup." Ucap Azka sambil menutup pintu dengan ujung kakinya.


Dea hanya memutar bola matanya jengah merasa Azka sedang menggombal.


Azka meletakkan tubuh Dea hati-hati ke atas tempat tidur, ia ikut berbaring dan melingkupinya dengan pelukan.


"Abang kangen banget sama kamu." Ucapnya menghirup dalam-dalam aroma tubuh Dea.


Dea membalas pelukan Azka dan mengecup lembut kepala Azka. "Aku fikir abang kenapa-kenapa, aku takut sesuatu terjadi sama abang."


Azka mengangkat kepalanya, menatap Dea penuh damba. Mata Dea mulai berkaca-kaca.


"Aku gak mau lama-lama di sini, kita pulang aja secepatnya." Ucap Dea khawatir.


Azka menggeleng, "gak bisa begitu sayang. Kita sudah di sini sekarang, tak ada jalan untuk mundur. Doakan yang terbaik, abang benar-benar butuh dukungan kamu saat ini."


Dea menghela nafas, sesaat memejamkan mata yang pada akhirnya menumpahkan beberapa tetes air mata di dua sudut matanya.


"Aku hanya takut kejadian seperti hari ini terulang lagi. Aku gak mau terjadi hal buruk sama abang, aku takut kehilangan--"


"Hussshh.." satu jari telunjuk Azka menekan bibir Dea. "Abang akan baik-baik saja. Kita semua akan baik-baik saja di sini, abang janji. Heumm..!"


Tak ada lagi kata yang bisa Dea ucapkan, ia tahu keputusan Azka tidak akan berubah. Jika memperturutkan ketakutan, mau di belahan bumi manapun berada, bahaya akan datang silih berganti. Ia sadar akan itu, hanya saja kejadian hari ini sangat membuatnya ketakutan. Ia tidak sanggup membayangkan jika hal buruk terjadi kepada suaminya.


Azka mengusap lembut pipi Dea, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut kedua mata Dea.


"Abang akan selalu baik-baik saja selama ada kamu di sisi abang. Karena ada kamu, abang selalu bersemangat juga bergairah." Ucapnya lagi yang membuat wajah Dea menyembulkan semburat merah di sana.


Bagaimana tidak, di bawah sana Dea sudah merasakan sesuatu menusuk perutnya cukup keras.


"Isssh..abang mesum." Ucap Dea cemberut.


"Ini bukan mesum sayang, ini panggilan alam, kamu seksi banget sih hamil begini, bikin abang nagih, pengen bikin kamu hamil lagi deh.. auwww.."


Sebuah cubitan mendarat manis di perut keras Azka.


"Ini aja belum brojol bang, mana mau bikin hamil lagi."


"Nanti kalau si dedek bayi udah lahir, abang akan isi lagi sama dedek bayi baru." Azka menaik-turunkan kedua alisnya menggoda Dea.

__ADS_1


"No no no.. gak mau. Nanti anak-anak jaraknya harus diatur, minimal 2 tahun saat sudah lepas ASI. Aku mau fokus urus mereka satu-satu, biar aku juga gak berat, hamil saat menyusui itu berat loh bang. Aku ada teman, anak pertamanya belum 4 tahun, anak kedua belum 2 tahun, masih menyusui dan sekarang lagi hamil besar. Aku gak kebayang bagaimana dia menjalani harinya, aku yang hamil anak pertama aja udah kerasa beratnya, padahal aku gak perlu mikirin urusan pekerjaan rumah tangga, gak mikirin cari duit, gak mikirin besok makan apa, gak mikirin mertua yang kejam, gak mikirin suami yang gak perhatian, tapi tetap aja kadang muncul rasa lelah, tertekan dan entah perasaan apa lagi." Dea mendengus, sedikit kesal dengan ide hamil lagi setelah lahiran nanti.


"Iya, iya, abang ngerti. Abang ikut aja bagaimana baiknya. Senyamannya kamu, di sini kamu adalah manager-nya. Abang ikut instruksi ibu manager aja."


Azka tidak ingin berdebat masalah jarak ataupun jumlah anak, ia pun tidak ingin membebani istrinya.


Dan ketika Dea masih ingin melanjutkan ucapannya, bibir Azka sudah lebih duluan melahap bibirnya. Pelan dan lembut, namun terasa menuntut membuat Dea tidak bisa mengabaikan sensasi hangat yang menjalari kewarasannya.


Azka begitu lihai membawa Dea melayang dan tenggelam ke dalam kenikmatan tiada tara dengan deru nafas yang memburu. Ini sangat menyenangkan sekali buat Azka, melihat Dea terbuai hanya dengan menyentuh titik-titik kelemahannya.


"Abang boleh kan mengunjungi dedek bayi sekarang juga?" Tanyanya dengan nada sensual di telinga Dea.


Dea tak punya lagi kekuatan untuk berkata-kata, ia sudah tenggelam dan terhanyut di dalam kejutan-kejutan hangat yang menggetarkan segala penjuru tubuhnya. Ia benar-benar larut, lalu membalik arah jalannya permainan, ia kini memimpin tanpa rasa malu.


Ah, malu apa lagi yang tersisa bagi para pecinta yang telah halal segala-galanya untuk dimiliki seutuhnya?


*****


Chyntia mengikuti Aldo tanpa protes, rasanya tidak ada guna melawan. Dari dulu Aldo selalu pemaksa, namun meskipun demikian, hanya Aldo yang selalu setia menemani dan mengerti perasaannya. Meski sering menyakitinya, Aldo tidak pernah menjauh dan meninggalkannya.


Salahnya terlalu percaya diri bahwa ia bisa menaklukkan laki-laki manapun yang diinginkannya, termasuk Azka, sahabatnya. Harusnya dari awal ia sadar, bahwa persahabatan Aldo dan Azka tidak akan keruh hanya karena seorang perempuan. Ia yang memaksa masuk ke dalam kehidupan Aldo dan Azka, dan akibatnya sudah ia tanggung.


Karirnya hancur, orang tuanya membuangnya karena merasa malu tidak jadi besanan dengan salah satu anak konglomerat di negeri ini. Mereka merasa Chyntia tak memberikan manfaat apa-apa lagi bagi keberlangsungan bisnisnya setelah Azka memilih menikah dengan perempuan lain.


Chyntia pergi membawa lukanya sendiri, membuang diri ke ujung timur negeri ini, ia berfikir, di sini ia akan menjadi orang baru, memulai segalanya dengan suasana yang baru bersama dengan orang baru, yaitu anak yang dikandungnya.


"Bersihin badan lo," ucap Aldo melemparkan sebuah handuk kepada Chyntia. "Gue akan siapkan makan malam untuk kita." Ucapnya kemudian berlalu keluar kamar.


Aldo memesan makanan ke petugas hotel untuk dibawa ke kamarnya, suasana diluar masih cukup mencekam, ratusan tentara dan polisi berjaga-jaga di sepanjang jalan dan beberapa titik rawan di dalam kota. Tidak mungkin juga baginya membawa Chyntia makan diluar dalam suasana canggung hubungan mereka. Azka menata makanan di atas meja makan. Meskipun mereka mengambil kamar tipe presidential suite, namun tak ada fasilitas dapur di dalamnya. Padahal ia sudah sangat rindu dengan makanan yang dimasak Chyntia. Ia sudah tidak sabar untuk segera menghalalkan Chyntia, dengan begitu ia akan bebas melakukan apa saja dengannya.


Sudah hampir satu jam sejak ia tinggalkan Chyntia di kamar, namun tak ada tanda-tanda ia akan keluar dari kamar.


Aldo mendekati pintu dan hendak mengetuknya, baru ia mengangkat tangannya ingin mengetuk pintu, Chyntia sudah muncul duluan di hadapannya. Tangannya masih melayang lalu ia tarik mengelus tengkuknya untuk menghilangkan kecanggungannya. Ia takut Chyntia menganggapnya sedang mengintip. Apalagi saat ini ia begitu terpesona melihat Chyntia dalam balutan pakaian yang tertutup rapat. Aroma sabun mandi atau entah itu shampo semakin membuat Aldo melayang.


"Gue baru mau panggil lo buat makan." Aldo berjalan duluan ke meja makan kemudian menarik satu kursi untuk Chyntia.


"Terima kasih." Ucap Chyntia mengambil tempat duduk yang disediakan Aldo.


Aldo tidak bisa melepaskan pandangannya dari Chyntia. Justru Chyntia semakin seksi di matanya dengan menggunakan pakaian tertutup seperti ini.


Mereka makan dalam keheningan, saling membiarkan satu sama lain menikmati hidangannya. Namun yang terjadi hanyalah keterdiaman semu, karena kepala mereka berdua sangat ramai dengan berbagai macam fikiran dan pertanyaan yang berkecamuk, namun tak mampu berubah menjadi kata. Semuanya tertelan bersama makanan yang terasa hambar.


"Chyn.."


"Do.."

__ADS_1


Ucap mereka bersamaan.


"Lo duluan.."


"Lo duluan.."


Kembali mereka berucap di dalam waktu yang sama.


"Lady's first!"


Chyntia tersenyum tipis, Aldo masih sama, selalu mendahulukan Chyntia meski itu dalam hal menyampaikan pendapat.


"Maaf!" Ucap Chyntia tertunduk sambil memainkan gelas yang ada di tangannya.


Aldo menghela nafas panjang.


"Gue juga minta maaf, tapi jujur gue belum bisa sepenuhnya maafin lo." Tak ada yang perlu ia tutupi, kenyataannya ia memang masih sakit setiap kali mengingat pengkhianatan hati Chyntia kepadanya.


"Iya, gue mengerti. Sebenarnya gue juga gak mau berharap lebih. Tapi jika ada hal yang paling ingin gue lakuin dalam hidup gue yaitu adalah meminta maaf sama lo." Ucap Chyntia memberanikan diri menatap jauh ke dalam manik mata Aldo.


"Tidak mudah mendapatkan maaf dari gue." Ucap Aldo mengetatkan rahangnya. Ada kilatan emosi yang memancar di sana.


Chyntia mengangguk faham. "Tidak masalah, gue akan berusaha mendapatkan maaf dari lo. Hanya saja, apa lo yakin mau menikah sama perempuan seperti gue? Lo itu orang baik, Do. Lo berhak mendapatkan perempuan baik-baik. Gue gak mau lo nyesel di kemudian hari."


"Lo tau alasan gue mau menikahi lo, jadi tidak usah dipertanyakan lagi."


"Kalo lo takut anak lo tidak kenal lo sebagai ayahnya atau lo gak mau dia nanti memanggil laki-laki lain sebagai ayahnya. Lo tenang aja. Gue udah gak punya lagi niatan untuk menjalin hubungan kedekatan dengan laki-laki manapun. Gue..gue udah gak mau lagi terluka. Sendiri lebih baik buat gue." Ucapnya menahan air mata yang mendesak ingin meluncur keluar.


"Anak itu butuh status, butuh kasih sayang kedua orang tuanya. Walau sesayang apapun lo sama dia, lo gak akan pernah bisa menggantikan peran ayah baginya."


Chyntia tertegun, "tapi gue gak mau lo menderita dengan menikahi perempuan yang udah nyakitin lo, lo tidak usah terlalu banyak berkorban, jangan memaksakan diri menikahi gue, perempuan yang lo benci." Tangis Chyntia sudah pecah. Ia sudah tidak mampu menguatkan dirinya.


"Gue memang membenci lo, tapi rasa cinta gue ke lo belum berkurang walau seujung kuku." Chyntia mendongak menatap sendu ke mata Aldo yang memerah penuh luka.


"Sudah lama gue ingin membunuh perasaan ini sama lo, tapi gak bisa. Lalu sekarang di perut lo tumbuh benih cinta gue ke lo, lalu bagaimana mungkin gue lepasin lo begitu saja?" Aldo menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Chyntia masih memilih bungkam mencoba mencerna ucapan Aldo.


"Gue hanya minta, mulai besok, belajarlah mencintai gue jika memang lo mau gue maafin."


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.

__ADS_1


Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.


Thanks, 😘


__ADS_2