Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Sampai Nanti


__ADS_3

Bab 79 Sampai Nanti


Setahun berlalu, banyak peristiwa yang terjadi, tidak semuanya membahagiakan karena setelah tragedi jatuhnya block kapal di BM Shipyard kala itu, hampir saja perusahaan ditutup karena dianggap lalai memelihara fasilitas crane dan kabar buruk lainnya Badai masih mengalami koma hingga detik ini. Ternyata yang terluka bukan hanya di pinggang hingga perutnya, akan tetapi ada serpihan baja kecil yang menembus kepalanya. Hal inilah yang membuat kesadarannya belum juga kembali.


Beberapa bulan terakhir ini Azka dan Dea selalu menyempatkan diri mengunjungi Badai yang masih ditempatkan di salah satu rumah sakit di Singapur. Di awal-awal peristiwa itu, Dea sempat down, merasa bersalah belum lagi kondisi anaknya yang sempat dirawat secara intensif kurang lebih dua bulan di rumah sakit. Hal ini membuat Dea benar-benar merasa sekali lagi hidupnya berada di titik terendah kekuatannya.


Beruntung Azka dan keluarganya begitu setia dan sabar menghadapi naik turun emosinya yang labil.


"Mommy...!" Seorang bayi berusia 1 tahun berjalan terseok-seok mendekatinya.


Dea berjongkok sambil merentangkan tangan dan menunggu tubuhnya ditubruk bayi mungil menggemaskan itu. "Sini sayangnya mommy.. ayok!"


"Mommy...!"


"Yeeee... Gia hebat!" Ucap Dea menangkap tubuh mungil Gia kemudian sengaja menjatuhkan tubuhnya ke belakang yang membuat baby Gia semakin tertawa gemas.


Gianira Hiromi nama bayi menggemaskan itu, putri pertama dari Azka dan Dea. Ia mewarisi kecantikan dan ketampanan mommy dan daddy-nya. Siapa pun yang melihatnya akan berdecak kagum dan tidak kuat ingin menciumnya gemas. Apalagi kedua pipinya dihiasi lesung pipit yang cukup dalam. Di usianya yang baru satu tahun, ia sudah bisa menyebut beberapa kata dengan baik, terutama saat memanggil mommy dan daddy-nya. Jika melihat dari pola tingkahnya, bisa dipastikan bahwa otaknya juga mewarisi kecerdasan kedua orang tuanya. Meskipun Gia perempuan, namun ia sangat aktif dan senang melakukan hal-hal yang membuat spot jantung orang seisi rumah.


Seperti saat ini, ia turun dari lantai dua dengan meluncur dari tangga dengan posisi tengkurap. Tangga di rumah mereka memang memungkinkan untuk melakukan hal demikian dan aman dari kemungkinan tergores siku pijakan anak tangga karena sudah di desain menggunakan karpet tebal di sepanjang siku-siku tiap anak tangganya. Namun tetap saja ini berbahaya, jangan sampai gagal menyeimbangkan tubuhnya sehingga bisa terjuangkal dan kepalanya menghantam lantai saat mendarat di lantai bawah.


Baby Gia melakukannya seperti seorang profesional, ia sangat bersemangat melakukannya.


Dea bangkit sambil menggendong baby Gia kembali ke atas.


"Gia jangan lagi yah meluncur turun tangga, mommy gak bisa nafas tau.." Ucapnya pada baby Gia yang hanya dijawab celotehan seolah biasa saja dengan teguran mommy-nya itu.


Tentu saja Gia belum paham, apalah yang diharapkan dari anak usia satu tahun sepertinya? Apa kita para orang tua yang akan memaksa anak-anak untuk memahami kita atau kita yang berusaha memahami anak-anak dan terus bersabar mengingatkannya?


Hari ini Dea begitu lelah, kemarin ia dan Azka mendapatkan kabar bahwa Badai mulai tersadar sehingga dini hari tadi mereka memutuskan ke Singapur. Ia sendiri memilih pulang ke Jakarta mengingat baby Gia yang belum bisa ditinggal lama-lama sementara Azka memilih tetap tinggal untuk melihat perkembangan kesehatan Badai.


Dan jam 10 malam seperti saat ini baby Gia masih bermain, sepertinya ia kesulitan tidur karena bukan mommy-nya yang memeluknya.


"Aku udah berusaha kasi tidur Gia, tapi emoh, dia maunya sama kak Dea aja." Ucap Caca lemas setelah seharian menjadi baby sitter untuk baby Gia.


"Bagus dong, itung-itung latihan buat aunty Caca, kali aja enteng jodoh karena pahala rajin jaga baby Gia." Ucap Dea tersenyum lebar yang hanya dijawab dengan mata berputar oleh Caca.

__ADS_1


Mereka memang sengaja tidak mengambil baby sitter, toh di rumah sesekali ada Caca dan bunda Aya. Ada mba Sari juga dan aisisten rumah tangga lainnya. Bukannya tidak mau memakai jasa baby sitter, hanya saja Dea masih merasa mampu mengurus anaknya sendiri. Ia selalu ingin menjadi orang pertama yang tahu perkembangan anaknya.


Ia ingin menjadi orang pertama yang melihat baby Gia saat pertama kali bisa tengkurap.


Ia ingin menjadi orang pertama yang melihat baby Gia merangkak.


Ia ingin menjadi orang pertama yang melihat baby Gia berjalan.


Ia ingin mendengar kata pertama yang disebut oleh baby Gia. Meskipun kata pertama yang di sebutnya adalah daddy, namun Dea tidak cemburu, dia malah merasa sangat bahagia.


"Bagaimana kondisi kak Badai?" Tanya Caca penasaran.


"Masih observasi, tapi bang Azka mau bawa ke Indonesia secepatnya kalo kondisinya memungkinkan, kasihan orang tuanya di Toraja sana." Dea menghela nafas mengingat tatapan sendu kedua orang tua Badai saat mengetahui kondisi putra semata wayang mereka.


"Iya juga sih kak. Lagian kita bisa lanjutkan perawatannya di rumah sakit kita kalo udah dibawa di sini, ada aku dan bunda yang bisa mengawasinya. Orang tua kak Badai juga sudah bisa kapan saja menjenguknya."


"Kak Badai udah punya pacar blum, kak?" Tiba-tiba Caca begitu semangat ingin tahu status Badai.


"Emmm... sependek yang aku tau, dia jomblo sejak dari dulu. Dia itu tukang PHP anak gadis orang, dia suka tebar umpan kemana-mana, giliran umpannya kemakan, eh..dilepas begitu aja. Katanya udah tidak menarik lagi, udah habis seru-seruannya, udah gak ada lagi tantangannya. Makanya dia gak pernah "officially" punya pacar, mentok di gebetan doang."


"Gila.. ada gitu cowok segila kak Badai? Minimal digrepe-***** dulu gitu baru ditinggal!" Caca berdecak heran. "Itu mah playboy tanggung." Imbuhya lagi.


Caca mengangguk setuju dengan ucapan kakak iparnya itu. "Kak Badai kulitnya putih dan matanya sedikit sipit. Postur tubuhnya juga bagus, meskipun bang Azka dan bang Aufar masih lebih ganteng sih dari dia." Ucapnya di dalam hati.


"Kenapa memangnya?" Tanya Dea penasaran. "Jangan bilang kalo kamu ada hati sama dia?" Cecar Dea menyelidik.


"Eng..enggak kok kak, gak ada maksud ke situ." Ucap Caca gelagapan. "Aku..aku hanya penasaran aja, soalnya waktu nungguin kak Badai selama beberapa bulan di Singapur, ponselnya kan aku pegang, otomatis semua pesan dan telpon yang masuk aku yang terima, tapi gak ada satu pun yang ngaku sebagai pacarnya. Gitu aja sih, kak."


Caca memang sempat menunggui Badai selama 3 bulan di Singapur karena saat itu kuliahnya sudah selesai di Kuala Lumpur. Bagi Caca, itu adalah hal yang wajar dilakukannya mengingat pengorbanan Badai untuk Azka, abang kesayangannya.


"Gak masalah kok Ca kalo kamu memang suka sama Badai. Orangnya baik banget, penyayang juga, aku yakin dia bisa jadi imam yang baik buat kamu nanti."


"Apaan sih kak Dea ini, orang aku hanya tanya-tanya doang. Lagian kalo pun aku suka, belum tentu juga dia suka sama Caca." Dea mendengus mengerucutkan bibirnya.


"Kakau aku sama Rara udah ACC (Accepted), Badai gak bakal nolak. Percaya deh sama kakak." Ucap Dea sambil mengedipkan mata kirinya ke Caca.

__ADS_1


"Udah ah, malas ngomong sama kak Dea. Ngantuk juga. Bye sayangnya aunty." Caca mencium kening baby Gia yang sudah tertidur di pangkuan mommy-nya.


Akhirnya Caca melipir keluar kamar Dea. Ia benar-benar merasa malu karena kakak iparnya itu terlalu jauh mikirnya. Ia merasa tidak suka atau tertarik sama Badai. Ia hanya penasaran saja. Entahlah.


Dea meletakkan tubuh baby Gia di atas tempat tidur dengan hati-hati sekali, ia tidak ingin mengganggu tidurnya. Untuk sementara Azka dan Dea memang sepakat baby Gia tetap tidur bersama mereka, ini untuk memudahkan Dea saat malam-malam baby Gia butuh ASI. Setahun berlalu, baby Gia tidak pernah membuat mommy dan daddy-nya itu kewalahan saat tengah malam.


Tidur mereka malah boleh dibilang tetap normal saat malam hari. Dea paling terbangun 3 hingga 5 kali sampai subuh tiba. Itupun dia terbangun hanya untuk membawa baby Gia ke dadanya kemudian setelahnya kembali melanjutkan tidurnya. Dea bersyukur ASInya melimpah dan baby Gia tidak menolak susu badan, jadi tidak perlu repot-repot bagun malam-malam berkali-kali pula hanya untuk membuat susu.


Dea beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badannya kemudian ikut bergabung dengan baby Gia di kasur. Meskipun ini bukan pertama kalinya Azka meninggalkannya keluar kota atau ke luar negeri, namun tetap saja hati Dea seperti kosong setengahnya setiap kali dalam kondisi seperti ini.


Dea mengusap tempat tidur, tempat dimana Azka selalu berada. "Miss you, bang!" Setitik air mata lolos begitu saja. Ia membalik badannya, menatap lembut baby Gia yang lelap kemudian mengambil kecupan sayang di keningnya. Seulas senyum terbit di bibirnya.


Sudah menjadi kebiasaannya, menatapi lamat-lamat wajah kedua orang yang paling berharga baginya. Menoleh ke kanan, ada baby Gia, menoleh ke kiri ada Azka. Selalu begitu. Meski saat ini Azka tidak di sisinya namun pelukan hangat darinya selalu menempel diingatannya. Tak akan terlupakan, tak akan tergantikan, selamanya, sampai nanti, sampai ajal menjemput, sampai di surga-Nya kelak.


_END_


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.


Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.


Thanks, 😘


\=\=\=\=\=≈\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum Readers,


Finally, tamat juga.


Terima kasih sebesar-besarnya untuk semua dukungan kalian selama ini. Untuk penulis pemula seperti saya, satu like, satu komentar dari kalian sudah seperti mendapatkan 1 kilo emas saking senangnya.


Author minta maaf jika author banyak kekurangan dalam penulisan dan juga terkadang tidak memenuhi ekspektasi kalian. Sekali lagi, maaf yah🤗🤗🤗

__ADS_1


Semoga kalian semua baik-baik saja dan jangan sakit-sakit yah.


Thanks😘😘😘


__ADS_2