Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Rindu


__ADS_3

Bab 31 Rindu


Azka akhirnya pulang ke rumah setelah tiga hari sebelum resepsi pernikahannya. Dia baru tiba dari Singapura siang tadi namun saat tiba di rumah ia tidak mendapati Dea karena sedang melakukan perawatan di salon langganan bundanya.


Suasana rumah cukup ramai riuh karena oma Andini, tante Lala dan keluarga sudah tiba dari Korea. Ada sahabat bunda sekaligus adik sepupu ayah, tante Alya. Dan tentu saja om Bara dan tante Fira sebagai seksi super sibuk.


Meskipun acaranya akan diadakan di hotel, namun keluarga bersepakat untuk berkumpul terlebih dahulu di rumah utama.


Tentu saja Dea merasa nyaman dengan kehadiran mereka. Sejak kecil Dea memang sudah mengenal mereka dengan dekat, jadi ia sama sekali tidak punya rasa canggung berada di tengah-tengah keluarga Azka.


Apalagi Aufar juga menyempatkan diri untuk datang, ada Umar juga. Dan satu lagi, Abimanaf putra tante Alya dan om Alif.


Untuk nama terakhir, Dea agak canggung bersamanya, Abimanaf pernah mengungkapkan perasaannya pada Dea beberapa hari sebelum ia resmi menjadi istri Azka. Bagaimana pun Dea merasa tidak enak, dan yang menjadi masalah karena Azka tau hal tersebut. Masih ingat bukan ponsel Dea yang disita Azka, sampai sekarang ponsel tersebut tidak pernah dikembalikan Azka, sementara Dea sudah merasa tidak membutuhkan lagi ponsel tersebut padahal nomor yang ada di dalam ponsel tersebut adalah nomor yang dikhususkan untuk diketahui orang lain, jadi sampai sekarang masih ada beberapa pesan pernyataan cinta yang masuk ke ponsel tersebut.


Dea sengaja membiarkan Azka menguasai ponselnya tersebut, satu sisi, biar itu jadi warning buat Azka, lelaki di dunia ini bukan hanya dia, sehari Azka menceraikannya, sudah banyak yang antri menunggunya. Setidaknya Dea yakin, Azka tidak akan berfikir lagi kalau Dea mengejar-ngejar dia sebagaimana dulu. Untuk apa mengejar Azka sementara yang mengejar Dea antriannya panjang?


Sisi lain, Dea senang saat Azka meng-cut pesan-pesan tersebut, karena lelah juga dikejar-kejar cinta, kadang Dea bingung mencari alasan untuk menolak mereka, contohnya Abimanaf itu, Dea benar-benar sungkan menolaknya, tapi hati tidak bisa dipaksakan.


Dea tau kalau Azka masih mengaktifkan ponsel tersebut setelah salah seorang fans-nya, seniornya di kampus dulu mengkonfirmasi langsung padanya karena saat ditelfon, yang angkat laki-laki yang mengaku suami Dea.


Sepulang dari salon, Dea langsung menghampiri para anak muda yang membentuk group kecil sendiri.


Saat mereka sedang asyik bercerita pengalaman masing-masing, yang paling heboh adalah Caca dan Pritha adik Abimanaf, sementara Abimanaf lebih banyak diam namun sering mencuri-curi pandang Dea, Dea sendiri memilih mengabaikannya dan pura-pura menyimak juga sesekali menanggapi cerita-cerita seru mereka.


Tiba-tiba Azka mengahampiri mereka, dan menyapa semuanya dengan sapaan khas cowok.


"Hai bro Umar? Sehat?"


"Alhamdulillah..selamat yah!"


"Bang Abimanaf, lama tak jumpa. Udah punya calon belum? Kenalin dong!" Sapa Azka bersikap ramah dan sebiasa mungkin.


"Ha ha ha.. calonnya keduluan diambil orang!" Ucap Abimanaf bercanda, tertawa kecut, namun itu cukup menghentakkan hati Dea, begitupun dengan Azka. Namun Azka berusaha menguasai hatinya dan tetap tersenyum cerah.


"Aufar! Kapan tiba?"


"Kemarin, bang!"


"Nah, you must be Pritha, right? Udah gede aja sekarang. Abang sampe pangling." Ucap Azka sambil mengelus kepala Caca kemudian mengambil tempat duduk di sisi Dea.

__ADS_1


"Iya dong, masak jadi anak kecil terus?" Jawab Pritha cemberut membuat semuanya tertawa menambah keriuhan mereka.


"Sayang!" Terakhir Azka menyapa Dea mesra tak lupa mengecup keningnya dan melingkarkan satu tangannya di pinggang Dea posesif.


Demi menjaga marwah suaminya, Dea pun tak kalah mesranya membalas pelukan suaminya itu. Toh, Dea memang merindukannya! Namun tak bisa ia pungkiri, hatinya menangis menyaksikan drama romantis rumah tangganya ini.


"Kalau mau kangen-kangenan di kamar sono! Di sini semuanya jomblo, kasihanilah kami!" Protes Umar.


"Yakin masih jomblo?" Cibir Caca.


"Anak kecil main lego sono!" Umar sewot.


"Yahhhh...Biang keringat ngomong keringat!" Balas Caca tak mau kalah.


Lagi-lagi tawa mereka semua pecah.


"Bang Umar sama Caca cocok, biangnya Caca, keringatnya bang Umar!" Celetuk Pritha yang lagi-lagi membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal.


*****


Azka masuk ke dalam kamarnya diikuti Dea yang mengekor di belakangnya. Dea sebenarnya bingung harus melakukan apa di kamar berdua sama Azka. Biasanya mereka di kamar saat waktu tidur saja, tapi ini masih terlalu siang untuk masuk kamar, tapi tidak mungkin juga tidur karena ini sudah jam 4 sore.


Saat mati gaya seperti ini, Dea memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Azka sendiri juga sejak masuk kamar memilih duduk bersandar di kepala ranjang juga memainkan ponselnya.


"Ekkkmmm.." Azka berdehem, namun Dea seperti menulikan telinganya.


"Kamu sudah makan?" Saking bingungnya mau bicara apa, sampai hanya pertanyaan bodoh itu yang bisa diucapkan mulutnya.


Dea mengangkat wajahnya menatap Azka.


"Sudah!" Jawab Dea singkat.


"Oh..." kembali hening.


"Abang belum makan?" Tanya Dea kemudian setelah diam beberapa saat.


Azka menggeleng cepat, padahal tadi sudah makan siang saat baru tiba di rumah.


"Mau aku temani makan di bawah atau aku ambilin ke sini?" Usul Dea semangat dengan wajah yang tampak berbinar.

__ADS_1


"Bawa ke sini saja, aku masih sedikit capek. Malas turun." Ucap Azka namun masih fokus memandangi layar ponsel pintarnya.


Dea bergerak cepat, mengabaikan sikap acuh Azka. Sudah biasa, mau apa lagi, mungkin sudah bawaan dari orok, kenyataannya memang sejak kecil Azka irit bicara, ngomong yang penting-penting saja, kalau ditanya jawabnya juga kadang hanya bilang, "hmmm, iya, oke, tidak, sudah, belum," dan entah apalagi.


Kalau begini, mana ada perempuan yang tahan hidup sama dia?


Tidak perlu menunggu lama, Dea kembali membawa sepiring nasi bersama lauknya, air minum dan juga kue brownis kukus yang sempat dibuatnya bersama Caca pagi tadi.


Dea meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja depan sofa.


Ia kemudian menghampiri Azka yang berbaring memunggunginya.


"Bang Azka!"


Tak ada respon.


"Bang Azka..."


Masih tidak ada jawaban.


Dea menepuk-nepuk lengan Azka pelan, "bang Azka, bangun..makanannya udah siap."


Azka terkesiap, sepertinya ia sempat tertidur beberapa detik. Azka bangun sambil mengucek-ngucek matanya.


"Maaf kalau aku ganggu, bang Azka istirahat saja kalau memang masih capek. Nanti aku bangunin kalo udah masuk maghrib."


Dea hendak berdiri meninggalkan Azka namun dengan cepat Azka menarik tangan Dea hingga tubuh Dea terhuyung dan jatuh menimpa tubuhnya.


Tanpa aba-aba, Azka langsung membalik posisi mereka membawa Dea berada dibawahnya. Ia memandang Dea dengan mata berkabut, sejenak mata mereka saling bersitatap, namun Dea dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Azka langsung menyambar bibir merah muda milik Dea, menyesapnya jauh ke dalam dengan sangat lembut. Menumpahkan semua kerinduannya, menciumnya seperti orang yang sedang takut kehilangan.


Dea sadar kali ini ciuman Azka tidak semenggebu-gebu seperti biasanya, kadang sedikit kasar sehingga Dea merasa seperti dilecehkan. Namun, kali ini berbeda. Dea tidak yakin, namun ia merasa seperti dipuja, diharapkan, dirindukan dan dicintai.


Entahlah.. Dea tidak mau terlalu banyak berfikir, karena ia ingin menikmati dan merekam di dalam otaknya setiap sikap manis Azka padanya.


Azka menghentikan aksinya saat keduanya sudah kehabisan pasokan oksigen. Tanpa rasa bersalah, ia kemudian bangkit menuju sofa kemudian menyantap makanannya.


Dea yang sempat terlena merasa malu sendiri. Lagi-lagi dia dibuat seperti ini. Mungkin benar kata Rara, dirinya tidak menarik makanya Azka tidak tertarik padanya. Entahlah!

__ADS_1


Sebenarnya Dea merasa harga dirinya sudah dipermainkan oleh Azka, namun ia berusaha menutupinya. Jika Azka bisa bersikap biasa saja setelah menciumnya, Dea juga bisa!


×××××


__ADS_2