
Bab 60 Memaafkan
"Bang, lepasin! Udah gak bisa nafas ini, kasihan si dedek ketekan gini." Dea menggeliat ingin melepaskan diri dari belutan kaki dan tangan Azka, ia merasa tidak nyaman dengan posisinya yang tengkurap di atas tubuh Azka.
"Sorry, sorry... abang terlalu semangat." Azka kemudian menurunkan tubuh Dea ke sisinya lagi dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya. "Maafin daddy yah, dedek!" Imbuhnya mengelus lembut perut Dea kemudian bangkit lalu memasukkan kepalanya ke dalam baju Dea, menciumi perut Dea tanpa henti.
"Abang.. ih.. geli tau!" Ucap Dea kegelian, kedua tangannya menangkap kepala Azka yang masih bersembunyi dibalik bajunya.
"Abang kangen banget sama kalian, jadi gak bisa nahan diri." Azka kemudian kembali berbaring di sisi Dea kemudian menariknya ke dalam pelukannya.
"Aku juga kangen, kangeeeeennnn banget sama abang. Kalo malam pasti yang aku rindukan hanya pelukan ini." Ucap Dea memainkan jari telunjukknya di dada Azka, seperti gerakan menggambar abstrak.
"Maafin daddy yah, sayang! Daddy salah." Azka mempererat pelukannya.
Air mata Dea meluncur begitu saja, ia juga merasa bersalah di sini.
Sejenak mereka dihinggapi kesunyian, meresapi degup jantung masing-masing yang bertalu-talu.
"Mbak Chyntia kabarnya gimana?" Tanya Dea tiba-tiba.
Sebenarnya Dea sudah tau kebenaran ceritanya saat membaca media gossip online, namun ia ingin mendengarnya langsung dari mulut Azka.
"Abang udah gak tau kabarnya sekarang," Azka menarik nafas panjang, pandangannya menerawang ke langit-langit kamar. Boleh dikata, kesalahfahaman dirinya dengan Dea semuanya datang dari Chyntia. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Dea, menatap mata Dea jauh ke dalam.
"Abang gak punya hubungan apa-apa dengannya. Hubungan kami hanya seperti friends of benefit gitu, gak lebih. Dia butuh abang untuk membantunya meraih mimpinya dan abang butuh status palsu agar tidak diganggu oleh perempuan lain dan juga orang tua mereka yang datang silih berganti ingin menjodohkan anak gadisnya dengan abang. Hanya kamu yang abang inginkan, bukan yang lain." Ucap Azka bersungguh-sungguh.
Perasaan hangat menjalari seluruh tubuh Dea, ia amat tersentuh dengan ucapan Azka. Ia tersenyum cerah, secerah mentari di luar sana.
"Kalau boleh abang tau, sejak kapan kamu cinta sama abang?" Tanya Azka serius.
Dea tersipu, ia tersenyum malu-malu.
__ADS_1
"Kalo suka, tentu saja dari dulu, sama seperti abang," Ucap Dea nyengir. "Tapi kalau cinta, tentu saja setelah menikah. Sesuka apapun aku sama abang dulu, aku masih punya akal sehat, apalagi setelah abang bikin aku patah hati, yaa sudah, perasaan lebih dari suka itu aku kembalikan ke titik nol, tapi bisa kupastikan ia tak pernah ke titik minus, karena aku benar-benar tidak bisa membenci abang,"
Azka begitu terpana menyaksikan pengakuan Dea.
"dan setelah kita menikah, inginnya tetap berada di titik nol setelah abang patahkan hati aku untuk kedua kalinya malam itu, sayangnya perasaan ini terus berkembang bergeser ke kanan, semakin besar, terus membesar dan akhirnya aku menyerah. Aku benar-benar sudah jatuh, jatuh sejatuh-jatuhnya mencintai abang. Akhirnya aku memberanikan diri mengambil lebih dari kesempatan selama kebersamaan kita, meski yang aku tau saat itu pada akhirnya kita akan berpisah, tapi tidak mengapa fikirku, mungkin aku bisa memiliki abang dengan cara yang lain," Dea mengambil tangan Azka, membawanya turun ke perutnya. "di sini! Dan sekarang aku sudah memilikinya, kabar bahagianya aku bukan hanya dikasi dia sama Allah, tapi bonus abang juga, cinta abang!" Dea tidak bisa membendung air matanya yang sudah menganak sungai kini.
"Terima kasih sudah mencintai abang, terima kasih sudah memaafkan abang, terima kasih karena tidak membenci abang, terima kasih sudah menjaga anak kita di sini." ucap Azka mengelus lembut perut Dea, kemudian tangannya naik menghapus air mata Dea.
"Besok-besok, kalau aku melakukan kesalahan, tegur aku, tapi tolong jangan bentak aku, kalau memang emosinya masih di puncak, abang boleh mengabaikan keberadaanku, agar aku mengerti bahwa abang tidak ingin diganggu, dan setelah hati abang mulai tenang, kasi tau aku agar aku bisa meminta maaf. Aku tidak ingin terlalu banyak kata menyakitkan yang keluar dari mulut kita, kelak akan ada anak kita yang hanya butuh mendengar kata-kata baik dari mulut kedua orang tuanya. Aku pun mungkin tidak akan tahan terus bersama abang kalau abang masih tidak bisa mengontrol emosi abang. Jika sekarang aku memaafkan abang, bukan berarti aku akan terus memaafkan abang. Satu hal yang perlu abang ingat, aku sama sekali tidak punya toleransi terhadap perselingkuhan. Jadi, kalau abang sudah tidak cinta sama aku, atau di luar sana sudah ada perempuan lain yang membuat abang jatuh cinta lagi, abang bilang baik-baik, aku tidak akan menahan abang, karena bagi aku, saat abang sudah menyimpan perempuan lain di hati abang selain aku, saat itu juga aku anggap itulah akhir dari kita. Aku memang mencintai abang, tapi cintaku ini tidak egois, cintaku ini penuh dengan logika, aku seorang yang realistis, aku tau kapan aku harus berjuang dan kapan waktunya merelakan."
"Iya, abang mengerti. Abang akan berusaha memperbaiki diri, asalkan kamu selalu ada di sisi abang. Abang tidak mau terlalu banyak berjanji, nanti bawaannya kayak hutang, bikin tidak tenang, tapi abang akan berusaha membawa rumah tangga kita ini sampai ke surga-Nya kelak. Dan abang butuh bantuan kamu untuk semua itu." Ucap Azka menatap lembut wajah Dea.
Dea mengangguk setuju, ia memang tidak butuh janji, tapi pembuktian.
Azka bangkit dari pembaringan, ia berdiri di dekat jendela, pandangannya menerawang jauh ke depan. Tidak lama Dea juga ikut berdiri di sampingnya.
"Jadi, kapan abang pulang?" Tanya Dea melirik ke Azka.
"Pulang ke rumah bunda maksud aku, bang!"
Azka memgangkat kedua bahunya, "Abang hanya ingin pulang ke rumah yang ada kamu di dalamnya, lagian bunda sama ayah sudah mengusirku, katanya gak boleh balik kalo belum jadi lelaki sejati."
Dea menggeleng dan terkekeh, "berarti abang homeless dong, jangan bilang abang juga udah jobless sekarang?" Tanya Dea berusaha menahan tawanya agar tidak membesar.
Azka langsung menarik tangan Dea sehingga membuat mereka saling menempel, tatapan mata mereka saling memgunci, "abang udah gak peduli semua itu, kalau tidak mengingat dosa, mungkin abang sudah bunuh diri setelah ayah dan bunda membuangku di saat kamu juga meninggalkanku. Hidupku rasanya sudah gak punya arti lagi," mata Azka sedikit memerah menahan sesaknya dadanya mengingat masa-masa sulit itu, "mungkin abang harus berterima kasih kepada Aldo setelah ini karena dia udah banyak membantu abang, termasuk menjadi ustdaz." Ucap Azka tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.
"Maafin Dea yah bang, aku gak tau sesulit itu kehidupan abang selama aku tinggal, ak--"
"Hussss.." Azka menempelkan jari telunjuknya di bibir Dea. "Bukan salah kamu, itu adalah akibat dari kebodohanku. Abang tau, apa yang kamu alami jauh lebih berat dari itu, abang yang harus meminta maaf. Harusnya kamu menghukum abang, karena abang memang pantas dihukum."
"Sudahlah, aku gak mau ribet aja bang, lelah loh hati ini kalau terus-terusan menyimpan sakit hati dan susah memaafkan. Lagian masalah kita murni hanya salah faham, reaksi kita berdua saja yang terlalu berlebihan menyikapinya. Aku ingat sebuah kalimat bijak, orang bodoh tidak belajar dari pengalaman, orang pintar belajar dari pengalaman, orang bijak belajar dari pengalaman orang lain," Dea diam sejenak menatap ke manik mata Azka, "sekarang kita hanya perlu jadi orang pintar, belajar dari pengalaman kita agar besok-besok kita menjadi orang bijak, hidup ini terlalu singkat untuk kita pake melakukan semua kesalahan hanya untuk tau mana yang benar dan mana yang salah."
__ADS_1
Azka tersenyum kemudian memberikan kecupan panjang di kepala Dea. "Gak salah bunda pilih kamu buat jadi istri abang, jadi makin cinta deh."
"Itu teori aja bang, prakteknya nanti kita lihat."
Mereka tertawa, sangat lepas.
"Jadi, apa rencana kamu setelah ini?" Tanya Azka setelah tawa mereka reda.
Dea menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar, ia mengurai pelukannya dan kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela, "masa kontrakku tiga bulan bang, setelah itu diangkat jadi karyawan permanen. Ini aja baru lebih sebulan. Kalau aku resign sekarang, tentu ada penalti. Sebenarnya bukan masalah penaltinya, tapi gak enak aja, perusahaan udah memenuhi semua persyaratan yang aku ajuin, eh di tengah jalan berhenti. Macam orang gak punya adab aja gitu bang."
Azka terdiam, benar kata Dea, namun ia juga tidak bisa lama-lama berada di sini, tanggung jawabnya di BM Shipyard terlalu besar saat ini.
"Jadi? Apa kamu mau long distance marriage gitu? Yakin? Jujur, abang rasanya udah gak bisa lagi jauh-jauh dari kamu. Apalagi kondisi kamu hamil muda seperti ini, abang tidak akan bisa tenang di sana meninggalkan kalian berdua di sini."
"Iya, aku juga gak mau pisah lagi sama abang." Dea mengerucutkan bibirnya, "maunya dimanja-manja aja terus sama abang." Air mata Dea tiba-tiba sudah jatuh.
Azka memeluk Dea lagi..
"Besok kita ke kantormu!"
"Untuk?" Tanya Dea mengernyitkan dahinya.
"Kita lihat aja besok."
Azka langsung menggendong tubuh Dea ke dalam pangkuannya dan membawanya ke kasur. Mereka kembali melepas rindu yang tak ada selesai-selesainya itu.
×××××
\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=
Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.
__ADS_1
Thanks, 😘