
Bab 59 Pengakuan
Matahari kembali mulai menyapa, sinarnya mulai menembus kisi-kisi jendela yang menyilaukan mata. Dea terbangun dan mendapati Azka masih tertidur pulas di sampingnya. Setelah sholat subuh tadi, Azka tidak ingin melewatkan olahraga paginya yang sudah hampir dua bulan ini tidak pernah ia lakukan.
Tentu saja ia pasti sangat lelah, dan meski cahaya matahari yang menembus masuk menyilaukan mata, tetap saja tidurnya tak.tertanggu. Dea bangkit membersihkan diri namun sebelumnya ia mencuri satu kecupan singkat di bibir suaminya itu.
Azka terbangun, refleks tangannya meraba-raba keberadaan Dea di sisinya, namun tidak menemukannya. Cepat-cepat ia bangun dan buru-buru mencarinya.
Nafasnya baru bisa terasa lega saat mendapati Dea sedang beradu dengan wajan di dapur. Segera ia memeluk Dea dari belakang.
"Aku mencarimu, aku fikir kamu meninggalkanku lagi." Ucapnya penuh perasaan.
Dea mematikan kompor karena nasi goreng yang dibuatnya memang sudah mateng kemudian memutar tubuhnya menghadap Azka.
"Maaf karena sikap kekanak-kanakanku kemarin. Apapun yang terjadi, aku gak akan pergi lagi. Kalau abang nyakitin aku, aku tinggal lapor polisi aja, atau minta om Bara kasi pelajaran sama abang!" Ucap Dea dengan senyum lebar.
"Duh, abang takut, pengawal setia istriku sekarang makin bertambah banyak." Ujar Azka pura-pura takut.
Mereka saling melempar senyum, kemudian saling berpelukan. Erat sekali!
Setelah sarapan mereka kembali ke kamar, tidak ingin kemana-kemana, tidak ingin melakukan apa-apa, hanya ingin menghabiskan waktu dengan berpelukan saja. Meskipun sudah bertemu seperti ini, namu rasanya rindu mereka belum selesai malah tetap bergelora mengisi segala ruang di hati mereka.
Mereka sekarang berbaring dengan posisi yang mesra, terasa semakin menguatkan perasan cinta di antara mereka. Dea tidur miring ke kanan, dimana ia berada di depan, dengan kaki sedikit ditekuk. Sedangkan Azka berada di bagian belakang, dengan kaki juga sedikit ditekuk, sambil memeluknya. Saling menyatukan hati, Azka bahagia karena merasa memiliki istrinya sepenuhnya dan Dea bahagia karena merasa dimiliki suaminya sepenuhnya.
Mereka berbaring dengan suasana yang nyaman, tenang dan damai. Seakan mereka ingin menyatakan, bahwa tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka berdua. Sampai tidurpun tetap bersama.
"Bang!"
"Yes, mommy!"
Wajah Dea memerah seketika mendengar Azka menyebutnya mommy.
__ADS_1
"Abang gak bohong kan kalau abang suka sama Dea dari dulu?"
Dea bisa merasakan Azka sedang menggeleng sekarang.
"Abang gak bohong, bukan hanya suka, tapi cinta mati sama kamu." Ucap Azka di telinga Dea. Tangannya mengelus lembut perut Dea. "Apalagi ada dia di dalam sini, abang semakin tidak bisa bernafas setiap kepikiran kalian."
Dea memgubah posisinya menghadap ke kiri, kini mereka saling berhadapan, saling menatap dengan penuh cinta dan mendamba.
"Kenapa abang tidak pernah bilang? Sikap abang membuat aku bingung, kalau abang cinta, kenapa malah sering jutek sama aku?" Protes Dea.
"Terus, setelah abang ngomong suka sama kamu, apa yang akan terjadi? Kita pacaran gitu? Padahal kamu masih SD dan abang masih SMP. Kita masih terlalu kecil, otak kita juga kecil, tapi gairah kita belum tentu juga kecil. Mungkin aku sudah mengambil ciuman pertamamu saat itu, mungkin bukan hanya itu, mungkin aku juga sudah mengambil perawanmu saat itu padahal kita masih sama-sama remaja dan bukan suami istri. Lalu kamu hamil, kita sama-sama tidak siap, maka hancurlah semuanya, mungkin cinta kita yang awalnya serius berubah jadi benci dan kemungkinan lain, kamu gak akan jadi seperti sekarang begitupun dengan diriku jika saja aku tidak bisa menahan diri saat itu. Aku tau kamu tidak akan pernah menolak abang, mungkin kamu belum mengerti saat itu, perasaanmu masih tak bernama dan terdefenisikan saat itu, tapi abang tau, hatimu, jiwamu sejak awal sudah condong kepadaku. Semakin kita beranjak dewasa, puncaknya saat kita sudah sama-sama SMA, abang tidak siap punya banyak pesaing. Abang takut kamu mulai melihat laki-laki lain selain abang, mereka bisa memberimu sesuatu yang tidak bisa abang berikan," Azka menjeda kalimatnya menatap sayu pada Dea, "pengakuan!"
Dea mengecup singkat bibir Azka!
"Maaf untuk kata-kata kasarku saat itu, aku tersulut emosi melihat video kamu jadian sama Abimanaf, dan lagi saat pulang ke rumah aku mendengar Ayah bicara ditelpon tentang papa kamu,"
Dea mengernyit, ia merasa tidak pernah jadian dengan Abimanaf, lalu kemudian ia tersadar, teringat hari itu.
"Abang patah hati!" Azka menundukkan pandangannya, satu bulir air mata lolos begitu saja di sudut matanya.
"Iya, tau. Masalahnya dalam video itu kamu terima dia kan?"
"Iya, tapi hanya untuk menjaga nama baik bang Abi saja." Jawab Dea mengerucutkan bibirnya.
"Terus, kenapa kamu menghilang dan kemana kamu saat itu?"
"Aku mau pamit sama abang, soalnya aku sudah putuskan untuk tinggal di Makassar karena kakek nenek sakit, gak ada yang temani. Tapi abang malah bikin aku sakit hati, patah hati juga mungkin namanya." Dea menatap Azka penuh arti.
"Maaf!" Hanya itu yang bisa Azka ucapkan, Dea menggeleng.
"Terima kasih!" Ucap Dea kemudian.
__ADS_1
Kedua kening Azka bertaut, "kenapa terima kasih?"
"Karena jika saat itu aku tidak terluka, mungkin aku akan mudah berpindah ke hati laki-laki lain, dan seperti ucapan abang tadi, jika sudah seperti itu, apa yang akan terjadi, bukan hanya hatiku yang dimilikinya, tubuhku juga mungkin. Aku hanya perempuan yang lemah hatinya saat sudah jatuh cinta kepada seseorang, dan aku akan melakukan apa saja, apapun itu, untuk orang itu."
"Dan orang itu adalah abang?"
"Yes, the one and only, just you."
Azka langsung menyambar bibir Dea penuh perasaan, tapi kali ini ciumannya berbeda, bukan ciuman yang menuntut dan dipenuhi gairah, ciuman yang datang dari dorongan hati dan cintanya yang besar dan tak terwakilkan dengan hanya sebuah kata yang disebut cinta.
"I LOVE YOU, mommy!" Ucapnya dengan nafas tersengal-sengal setelah melepas ciumannya.
"Love you more, daddy!" Azka langsung menarik Dea naik ke atas tubuhnya kemudian membelitnya dengan kedua tangan dan kaki.
"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu."
"Maka jangan lepaskan aku!"
"Aku akan selalu menjaga kamu dan anak kita."
"Maka kami akan selalu berada di sisi abang."
Kembali mereka menautkan bibir saling memuja dan saling membutuhkan. Mereka terseyum bahagia, merasakan kemerdekaan menjadi lega, lega dengan perasaan masing-masing, lega dari keraguan dan ketakutan yang sempat memberi jarak pada hati mereka.
×××××
\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=
Alhamdulillah.. akhirnya bisa update juga😍
Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.
__ADS_1
Dan jangan lupa kunjungi novel author lainnya, "KAPAL CINTA AYANA"
Thanks, 😘