
Bab 45 Hamil
Azka masuk ke dalam mobilnya dengan membanting pintu sangat keras. Ia memukul-mukul setir, setelah lelah ia menempelkan wajahnya di atas setir.
Amarah.. cemburu.. kecewa.. terluka melebur menjadi satu membawa jiwanya serasa jatuh ke jurang terdalam di hatinya.
Ia belum pernah merasakan sakit sesakit ini, kecewa, merasa dikhianati oleh istri yang begitu dicintainya.
Azka memutar setirnya ke arah pantai yang dilewatinya. Ia berteriak seperti orang kesetanan seorang diri di sana. Ia benci dengan perasaan yang dirasakannya saat ini.
Tenggorokannya terasa kering, namun lukanya tetap basah, tak terobati.
Setelah lelah melampiaskan segala emosinya, Azka menuju pulang ke rumah. Kali ini Azka menyetir dengan kecepatan rata-rata, bebeda saat dari mall tadi, Azka menyetir seperti orang gila.
Tiba di rumah, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia langsung naik ke kamar, namun tanda-tanda keberadaan Dea sama sekali tidak ada. Kembali hatinya terasa panas terbakar api amarah yang menyala-nyala.
Ia melangkah masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan suasana hati dan kepalanya. Cukup lama ia di kamar mandi, namun Dea belum juga pulang ke rumah.
Perasaan Azka semakin tak karuan, ia berusaha memejamkan matanya namun tidak bisa. Meskipun marah, namun sedikit rasa khawatir tetap menghampirinya.
Azka sudah meraih ponselnya hendak memeriksa posisi Dea berada sekarang melalu GPS, namun egonya terlalu tinggi. Ia menyimpan kembali ponselnya kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Jangan tanyakan kondisi kamarnya saat ini, karena suasananya sudah tidak berbentuk dikarenakan hampir semua barang sudah berpindah tempat ke lantai.
*****
Abimanaf berpamitan pada Dea dan Rara setelah mereka makan malam bersama. Tentu saja Dea tidak ingin Abimanaf tau kemana tujuannya setelah ini yang sebelumnya menawarkan tumpangan untuk pulang.
Meskipun Dea dan Rara tiba sekitar pukul 8 di tempat praktek dokter kandungan yang mereka tuju, namun mereka masih harus antri hingga jam 9 lewat 30 menit. Dea merasa gelisah, ponselnya sudah lowbat, begitupun dengan Rara, mau pinjam ponsel orang lain namun ia tidak hafal nomor Azka. Dea pasrah, toh sepulangnya nanti ia akan mengatakan pada Azka apapun hasil pemeriksaan dokter nanti.
Dea dan Rara masuk ke ruangan dokter setelah nomor antrian mereka dipanggil.
"Selamat malam ibu, ada yang bisa dibantu." Tanya dokter dengan senyum ramah.
__ADS_1
"Saya mau cek kandungan, dok. Sebenarnya saya sudah testpack tapi hasilnya masih samar-samar. Makanya saya ke sini untuk meyakinkan." Jawab Dea sedikit gugup.
"Oke, ibu. Kapan terakhir haid pertamanya?"
"Kalau saya hitung di kalender, ini sudah hari ke 40, dok. Padahal saya haidnya siklusnya normal 28-30 hari."
"Baik, kalo begitu ibu Dea baring dulu di sana biar kita lihat di USG dulu."
Dea akhirnya mengikuti anjuran dokter, seorang perawat mengoleskan gel yang terasa sangat dingin di atas perutnya. Kemudian dokter Vita menggerakkan alat berupa stick menggosokkannya di atas perut Dea menampilkan gambarnya di monitor besar yang terpampang di dinding depan Dea.
"Selamat yah, ibu. Ibu hamil, sekarang usianya sudah 5 minggu, hampir 6 minggu."
"Alhamdulillah." Ucapnya bersamaan dengan Rara. Rara memegang kuat tangan Dea, ia juga sangat bahagia mendengar sahabatnya ini hamil.
Mata Dea berkaca-kaca, hatinya terus mengucap syukur, ia begitu bahagia sekaligus haru saat ini. Ia sudah tidak sabar untuk pulang menemui Azka dan menyampaikan kabar bahagia ini.
"Selamat yah, De! Alhamdulillah, kamu sekarang hamil. Pak Azka pasti bakal semakin sayang sama kamu setelah tau ada darah dagingnya di dalam perut kamu. MaasyaAllah." Ucap Rara saat mereka sudah di dalam mobil menuju pulang ke rumah.
"Alhamdulillah.. aku senang banget, Ra!" Ucap Dea sesegukan.
Dea menggeleng, "gak, aku hanya terlalu bahagia, Ra. Sekarang aku sudah punya seseorang yang orang sebut keluarga." Ucap Dea menyusut air matanya.
"Aku ini keluarga kamu juga, Dea. Pak Azka dan keluarganya adalah keluarga kamu juga. Kamu jangan pernah berfikir kalau kamu hanya sendiri di dunia ini. Ada aku di sini yang tidak akan pernah meninggalkan kamu."
"Iya, bawel." Dea menyunggingkan senyumnya kepada Rara.
"Kita itu sahabat udah lama, kalau semua orang di dunia ini memilih meninggalkan kamu, maka aku akan berdiri sebagai satu-satunya yang akan tetap menemani kamu!"
"Hueeekkk.. jadi pengen muntah, ini kalau si Deon yang dengar bisa klepek-klepek dianya, untung gue!" Mereka berdua tertawa.
"Nah..gitu dong! Happy.. sekarang kamu sudah hamil jadi kamu wajib bahagia, ada anak kamu yang membutuhkan ibu yang selalu bahagia."
"Iya, iya bu!"
__ADS_1
"Aku boleh iri gak?" Tanya Rara menoleh sebentar ke Dea kemudian kembali fokus menyetir.
"Iri kenapa?" Tanya Dea tidak mengerti.
"Aku juga pengeeeennnn banget hamil secepatnya, tapi belum dikasi sama Allah." Ucap Rara dengan wajah sedikit sendu.
"Sabar, Ra. Segala sesuatu itu ada waktunya. Mungkin belum waktunya saja, kalian masih dikasi waktu buat puas-puasin pacarannya dulu. Positif thinking sama Allah." Sedikit rasa tidak enak dalam hati Dea, bagaimamapun ia tau ada perasaan mengganjal di hati sahabatnya itu karena ia lebih duluan nikah dibanding dirinya.
"Iya, kamu benar. Lagian kami memang masih menikmati banget hidup berdua aja, orang tua mas Deon juga santai, jadi kami juga ikut santai."
"Tuh.. asyik dong. Kalau di rumah, bunda sama ayah sering bahas cucu, apalagi oma, setiap kali nelpon yang ditanyain selalu urusan cucu. Jadi wajar jika aku kefikiran."
"Yang sabar yah, De. Setiap rumah tangga ada ujiannya. Lagian aku yakin keluarga pak Azka ngomong masalah anak itu bukan untuk membuat kamu tertekan, tapi lebih kepada usaha mereka agar kalian berdua menjadi lebih dekat lagi dan harapannya, setelah ada anak, ikatan kalian akan semakin kuat karena sudah ada pengikatnya." Ucap Rara panjang lebar.
"Luar biasa sahabatku yang satu ini, sudah bisa nih buka kelas bimbingan kondeling kerumahtanggaan. Bijak banget, nasehat-nasehatnya selalu menenangkan, bikin gue meleleh." Ucap Dea menggoda Rara.
"Iya, kamu benar. Tapi yang ikut kelasnya kamu doang." Kembali mereka tergelak. "Nah, udah sampe. Jangan lupa minum vitaminnya. Salam sama pak bos yah."
"Iya, hati-hati di jalan yah. Maaf merepotkan!"
"Jangan ucapkan kata-kata itu lagi atau aku akan ngambek 1000 tahun sama kamu!"
"Iya, iya.. udah pulang sono, dah malam banget. Hati-hati nyetirnya."
"Oke. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam wr.wb." Dea memandangi mobil Rara sampai menghilang dari pandangannya kemudian masuk ke rumah.
Dea membulatkan matanya saat melihat kamarnya kini seperti kapal pecah.
"Darimana saja kamu? Apa begini kelakuan seorang perempuan yang sudah menikah, pulang larut malam setelah ketemu mantan pacarnya?"
"Ah.. bukan! Sepertinya bukan mantan, tapi mungkin selingkuhan kamu!"
__ADS_1
Deg!!!
×××××