
Bab 66 Afirmasi
"Abang dari mana?" Tanya Dea saat Azka masuk ke ruangannya.
"Dari ruang sebelah, Aldo." Jawabnya kemudian duduk di kursi kebesarannya. "Abang minta Aldo saja yang menemui client 'penting' ini." Imbuhnya.
"Client dari mana?" Tanya Dea penasaran.
"Dari Papua, katanya utusan salah satu orang penting di sana."
Dea mengerutkan keningnya. "Urusan apa? Bukannya semua prosedur sudah dipenuhi?"
Azka mengangkat bahu, "dugaanku, biasalah, kesepakatan di dalam kesepakatan, mungkin mereka gak kebagian kue raksasa yang kita beri, makanya mengirim utusan untuk cari potongan kue lainnya."
Dea berdecak, "kelakuan pejabat zaman now gak berubah-berubah. Bagaimana negara mau maju kalo apa-apa nyari untung buat diri sendiri. Sudah syukur ada yang mau investasi besar-besaran di daerahnya. Harusnya didukung, selama tidak menyalahi aturan undang-undang dan ketentuan adat yang berlaku."
"Gak usah dipikirin, abang malas meladeni mereka. Abang ingin semuanya berjalan bersih, sesuai prosedur, biaya pembebasan lahan di sana sudah lumayan besar, alurnya ribet, belum lagi ada urusan hak ulayat yang perlu penanganan khusus. Abang pusing, hampir setiap hari pekerja kita di sana kena teror." Keluh Azka memijat kepalanya.
Dea berjalan menghampiri Azka kemudian berdiri di belakangnya dan mengambil alih kepalanya untuk dipijit.
"Abang yang sabar, mudah-mudahan tidak ada kendala berarti dan yard di sana bisa segera beroperasi sesuai jadwal."
"Aamiin.. makasih doanya, sayang." Ucap Azka mengambil satu tangan Dea dan mengecupnya berkali-kali.
"Bang, aku makan siang bareng Badai sama Rara yah, boleh gak?" Izin Dea.
"Lah, abang bagaimana?"
"Katanya mau makan bareng Deputi Manager baru, abang aja yah, lagian aku belum sempat cerita banyak sama dua koncoku itu. Boleh yah, please!" Ucap Dea memelas.
Kalau sudah lihat muka Dea memelas begini, Azka mana tega.
"Ya udah, tapi ajak mereka makan di sini aja. Dadipada keluar, habis waktu di jalan."
"Siap bos!" Dea begitu bersemangat, tidak masalah di kantor, yang penting bisa ketemu sama Badai dan Rara.
*****
"Kalian berdua enak banget, bisa pelukan, gue? Peluk angin!" Protes Badai melihat Dea dan Rara yang tak henti-hentinya berpelukan.
Saat bertemu, heboh pelukan. Pada tahu sama-sama hamil, pelukan lagi, cerita sedikit, heboh, pelukan, pelukan terus. Dan Badai harus duduk tidak boleh ikut bergabung dengan mereka saat berpelukan.
"Kan udah berapa kali dibilangin, mau pake daster sekalipun, kamu gak bakak dibolehkan peluk-peluk kami, resiko sahabatan sama cewek. Memangnya kamu mau dibikin peyek sama mas Deon dan pak Azka?" Ucap Rara tertawa jahat.
"Nyesal gue comblangin lo sama si Deon. Gue dikacangin, harusnya kalian berdua tanggung jawab cariin jodoh buat gue. Soalnya jodoh gue harus sefrekuensi sama lo berdua, kalo tidak, bisa bubar hubungan kekerabatan kita." Keluh Badai
"Yakin mau dicarikan jodoh?" Tanya Dea serius.
__ADS_1
Namun giliran Badai yang salah tingkah ditatap seperti itu oleh Dea dan Rara.
"Mau kasi makan apa anak gadis orang?"
"Ya elah, Bad! Gaji udah berapa digit juga, takut amat sih. Sahabat Nabi aja dulu, ada yang miskin tapi tetap nikah, poligami pula, bahkan ada yang kasi mahar pake cincin besi." Sela Rara.
"Itu kan sahabat Nabi, Ra! Sahabat Nabi boleh miskin harta, tapi mereka kaya iman. Lah gue? Gak punya duit aja udah pusing tujuh keliling, bagaimana kalo ada anak istri, mungkin gue udah depresi duluan." Ucap Badai sedikit kesal.
"Udah..udah.. " Dea melerai, "nikah itu memang butuh modal, tidak harus banyak, tapi kalo bisa, jangan ajak anak orang nikah kalau masih mulai dari nol, karena lo bukan pom bensin, apalagi kalau mulai dari minus, alias uang nikah dari utangan, kasihan..bukannya tenang setelah nikah, malah pusing bayar utang, mending gak usah nikah dulu kalau begitu, daripada bikin susah hidup anak gadis orang. Jadi, nikah itu harus benar-benar dipertimbangkan kemampuannya, mampu memberi mahar dan mampu memberi nafkah. Apalagi kalo lo dapat cewek Makassar, uang pannaik beda sama maharnya, belum lagi kalau tiba-tiba nenek kau yang di Toraja meninggal, ingat-ingat kirim uang kerbau!"
Seketika tawa Rara pecah mendengar ucapan Dea tentang uang Kerbau untuk acara hajatan kematian. Berbeda dengan Rara, muka Badai berubah masam. Adat istiadat seperti inilah yang membuatnya malas pulang ke kampung halamannya. Pesta kematian lebih besar daripada pesta pernikahan. Menurutnya ini memberatkan, karena sudah seperti hutang warisan. Belum lagi, keluarga Badai masuk dalam kalangan keluarga bangsawan tinggi di Toraja, meskipun orang tuanya sudah mu'allaf, namun adat masih mengikat.
Salah satu tradisi yang masih dipegang teguh oleh masyarakat asli Toraja adalah upacara adat Rambu Solo atau disebut juga Aluk Rambu Solo. Aluk adalah adat kepercayaan, nilai-nilai adat, aturan, atau ritual tradisional ketat yang sudah ditentukan nenek moyang.
Masyarakat Toraja memandang kematian sebagai perpindahan orang dari dunia ke tempat alam roh untuk peristirahatan (Puya).
Maka, untuk mencapai tujuan itu, mayat harus diperlakukan dengan baik oleh keluarga yang ditinggalkan.
Bagi suku Toraja, orang yang sudah meninggal dikatakan telah benar-benar meninggal ketika seluruh kebutuhan prosesi upacara Rambu Solo telah terpenuhi. Jika belum, orang meninggal akan diperlakukan layaknya orang sakit, sehingga masih harus disediakan minuman, makanan, dan dibaringkan di tempat tidur.
Dea dan Rara pernah menghadiri pemakaman kakek Badai yang mayatnya disimpan sampai 1.000 hari karena biaya pengadaan upacara adat baru bisa terkumpul.
Biayanya sangat tinggi karena harus menyembelih kerbau, babi, dan lamanya prosesi upacara. Selain itu daging kerbau dan babi ini nantinya akan dibagikan ke warga sekitar. Untuk kalangan bangsawan tinggi seperti keluarga Badai, jumlah kerbau dan babi yang disembelih bisa mencapai 100 ekor. Luar biasa!
"Sepertinya kalian bahagia banget lihat gue menderita. Bukannya didoakan, dibantu menabung gitu biar bisa melamar cucunya mantan wakil Presiden dua periode itu."
Bantal sofa melayang ke kepala Badai.
"Kalau mimpi jangan ketinggian, Bad! Itu mau butuh berapa uang pannaiknya? Kamu jual semua sawah dan kerbau milik bapakmu di kampung juga gak bakal cukup." Potong Rara mengingatkan.
"Afirmasi.. namanya juga afirmasi, Ra! Kali aja ada malaikat lewat sini trus diaminin, kan untung banyak gue." Jawab Badai nyengir.
"Aamiin. Gue doakan lo dapet jodoh crazy rich-nya Makassar deh biar kami berdua nanti bisa punya ipar dari kalangan high class." Ucap Dea terkekeh.
"Udah ah.. laper! Ngomongin jodoh mulu, malah bikin lapar." Badai langsung membuka menu makanan yang sudah disiapkan Dea sebelum mereka datang.
"Wow... Kapurung (makanan khas Sulawesi yang terbuat dari sagu dan aneka sayuran)! Thanks yaa Allah, akhirnya dapat makanan ini setelah sekian purnama hidup di ibu kota." Ucap Badai antusias. "Beli di mana, De?"
"Ada warung makanan langganan mama, kemarin lewat sana dan ternyata masih buka dan bisa delivery." Jawab Dea.
"Aku paling suka sayurnya, sagunya gak begitu suka." Ucap Rara. "Pak Azka gak diajak makan, De?"
"Dia makan siang sama pak, Wong. Deputi baru kita." Dea mulai menikmati makanannya.
"Lebih enak bertiga, gak asyik kalau suami kamu ada di sini." Sela Badai dan diangguki Rara tanda setuju.
"Orangnya baik kok, kalian aja yang terlalu sungkan sama dia. Makanya sering-sering main ke rumah!"
__ADS_1
"Malu De, gak enak sama mertua kamu!" Ucap Badai lagi.
"Mereka semua orang baik, kapan-kapan deh kita buat we time lagi seperti di rumah Makassar dulu, biar aku punya baby sitter gratis nantinya." Ucap Dea melirik Badai dan membuat mereka bertiga tertawa terbahak sampai Badai hampir keselek kapurung.
"Ramai banget!"
Tiba-tiba suasana hening seketika saat Azka masuk ke ruangan. Menyadari suasana yang seketika berubah sepi seperti di kuburan, Azka berusaha mencairkan suasana.
"Wah.. sepertinya lagi makan besar. Apa ini, sayang?" Ucapnya duduk di samping Dea.
"Kapurung. Makanan khas Makassar, abang mau coba?" Tanya Dea.
Sebenarnya Azka sangat tidak minat melihat bentuknya yang kenyal-kenyal seperti lem, namun demi membuat istri tercinta senang, ia pun menurut mengangguk.
"Buka mulut." Dea mengambil satu sendok dan menyuap Azka.
Saat melihat Azka mengunyah makanannya, Dea tegur, "ditelan bang, jangan dikunyah."
Sementara Badai dan Rara sudah hampir tidak kuat menahan tawanya demi melihat muka Azka yang sudah berubah demi mencoba makanan tersebut.
"Enak?" Tanya Dea.
Azka mengangguk, keringatnya mulai bercucuran. "Pedas, De!"
"Astaghfirullah, maaf bang! Dea lupa."
Tawa Badai dan Rara akhirnya pecah melihat muka Azka yang berubah memerah menahan rasa pedas dan asam dari makanan yang baru pertama kali dimakannya itu.
"Jangan kapok, pak. Lama-lama juga ketagihan." Ucap Rara.
Akhirnya mereka melanjutkan menghabiskan makan siang mereka dengan penuh rasa kekeluargaan. Ternyata Azka bisa juga beramah tamah dengan dua sahabat istrinya itu. Azka sadar betul bahwa bagi Dea, dua orang sahabatnya itu sudah dianggap seperti keluarganya sendiri dan Azka berjanji akan memperlakukan mereka dengan baik sebagaimana Dea berlaku baik kepada keluarga Azka.
×××××
\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=
Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.
Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.
Thanks, 😘
\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebenarnya pengen banget masukin logat/dialek Makassar, tapi nanti ribet bikin terjemahan bahasa bakunya😁
Dan untuk urusan adat dari Toraja tadi, maaf, tidak bermaksud mengkritik apalagi menyinggung. Beberapa teman author yang asli orang Toraja mengeluhkan adat mereka karena merasa memberatkan, namun dibalik itu semua tetap saja ada nilai positif yang mereka bisa ambil di sana. Terutama untuk pariwisata di Toraja.
__ADS_1