
Bab 16 Kencan?
Dea
Aku terus mondar mandir di dalam ruanganku seperti setrikaan. Sebentar lagi jam 7 malam, waktu dimana aku harus menemui bang Azka di ruangannya untuk mendiskusikan segala hal yang menjadi catatannya setelah seharian melakukan pengamatan di departemen planning. Telat sedikit sepertinya tidak apa-apa, sholat Isya dulu. Sore tadi semua project planner ia kumpulkan. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan karena aku tidak dilibatkan dalam meeting tersebut, aku sebenarnya ingin protes karena meskipun aku adalah kepala departemen planning, tapi aku juga merangkap sebagai project planner.
Kalau di perusahaan swasta rengkap pekerjaan mah udah biasa, kalau bisa jadi superman dan wonderwoman, pemilik perusahaan pasti senang. Lumayan bisa menghemat gaji karyawan. Tidak ada aturan, conflict of interest bisa dipastikan tidak akan terjadi.
Berbeda dengan di negeri wkwkwk land, udah jelas ada undang-undangnya tentang larangan rangkap jabatan bagi abdi negara, tetap saja dirangkap-rangkap.
Dengar-dengar ada seorang Rektor yang juga merangkap sebagai komisaris perusahaan negara. Melanggar statuta kampus dan juga melanggar aturan pemerintah dan dengan tanpa malu mereka mengubah peraturan tadi, jadi sekarang rangkap jabatan boleh-boleh saja. Siapa yang bisa menolak gaji fantastis dari menjadi komisaris perusahaan negara? Rasa malu sudah dikalahkan oleh kerakusan dan keserakahan. Memalukan! Menjijikkan bukan?
Kadang aku bertanya sendiri, pernah tidak para anak-anak pejabat dan pegawai pemerintahan ini bertanya, "berapa take home pay ayahku/ibuku dari kantornya?"
Kemudian pernah tidak mereka membandingkan jumlah pengeluaran mereka perbulan dengan pendapatan orang tuanya tadi?
Berapa sih gaji menjadi kepala dinas misalnya?
Berapa gaji menjadi seorang walikota?
Berapa gaji menjadi PNS?
Lalu hanya dalam hitungan tahun tiba-tiba rekening menggendut, aset ada dimana-mana, gaya hidup berubah drastis, tiap tahun jalan-jalan ke luar negeri sekeluarga dan sekolah mereka semuanya di sekolah mahal!!!
Apakah semua itu mungkin ter-cover dari take home pay orang tuanya? Apalagi jika orang tuanya tidak memiliki sumber penghasilan lain misalnya sebagai pengusaha sejak awal misalnya.
Pernah gak mereka bertanya??? Karena pertanyaan ini sering terngiang di fikiranku tiap kali menatap wajah-wajah yang ada di baliho-baliho memenuhi pinggir jalan.
Nah, udah lewat jam 7 saja, bisa telat kalau aku kalau terus memikirkan orang-orang di wkwkwk land, mending sekarang aku siap-siap menghadapi kenyataan, karena kenyataan itu untuk dihadapi bukan dibelakangi.
Aku mengetuk pintu yang di situ menggantung tulisan General Manager dan Arazka A.A.
Sudah tiga kali kuketuk namun tidak ada balasan dari dalam. Aku memilih menunggu di depan pintu dari pada masuk tanpa izin.
"Eh, Dea..mau ketemu Azka?" Tiba-tiba bang Aldo keluar dari ruangannya.
"Iya pak, saya sudah ada janji sama beliau tapi dari tadi saya ketuk pintunya gak ada jawaban."
"Gak usah seformal itu sama gue, macam sama orang lain aja." Protes bang Aldo tidak terima.
"Maaf pak, tapi ini di kantor." Elakku.
"Terserah kamu sajalah, kamu masuk aja, paling dia lagi tiduran atau mungkin tadi lagi di kamar mandi makanya gak dengar kamu." Ucap bang Aldo sambil membukakan pintu ruangan bang Azka.
"Nah, tuh..benar kan? Orangnya lagi tiduran di sofa." Bang Aldo langsung menghampiri bang Azka dan mencoba membangunkannya. Aku memilih tetap berdiri di dekat pintu.
Bang Azka akhirnya terbangun, sepertinya ia sudah sempat terlelap. Nampak wajahnya bermuka bantal, rambut sedikit berantakan dan dua kancing kemejanya sudah terlepas di bagian atas.
Sungguh, baru kali ini aku melihat laki-laki kelihatan seksi dengan ketampanan maha sempurna setelah bangun tidur, biasanya kalau lihat Badai juga malah enggak banget.
__ADS_1
Aku berusaha menepis fikiran liarku kemudian membuang pandangan ke arah lain sebelum bang Azka menyadari kelakuanku tadi yang diam-diam kembali mengagumi ketampanannya.
Bang Azka langsung menuju kamar mandi sementara bang Aldo tampak menyiapkan LCD proyektor, sepertinya ini untuk meeting kami nantinya, tebakku.
"Duduk De, santai aja. Azka gak makan orang kok." Ucapnya sambil bercanda.
Aku mengangguk kemudian mengambil tempat duduk di dimana bang Aldo menyiapkan proyektornya.
Ruangan ini cukup luas, sepertinya tidak kurang dari 6x6 meter luasnya. Ada meja kerja yang cukup besar, kemudian ada 2 buah sofa panjang bersandar di dua sudut berbeda ruangan ini yang menghadap ke arah laut. Terakhir ada sebuah meja panjang dengan 6 kursi mengelilinginya menghadap ke papan tulis yang cukup besar, di sinilah aku duduk sekarang.
Pemandangan malam dari atas ruangan bang Azka ini sangat indah. Karena semua dinding terluarnya ditutupi oleh kaca tebal transparan, membuat mata bisa memandang lepas ke hamparan lautan sejauh mata memandang. Kerlap kerlip lampu kapal-kapal nelayan nampak dari kejauhan. Dari dekat lampu-lampu kapal yang bersandar di jetty juga tidak kalah menariknya. Setahun bekerja di sini, baru kali ini aku mendapati pemandangan malam seindah ini.
"Sudah selesai menikmati keindahan pemandangannya?" Suara bang Azka mengalihkan perhatianku. Aku mencoba memperbaiki posisi dudukku demi mengusir rasa gugup yang tiba-tiba melanda.
"Iya, pak. Maaf!" Jawabku berusaha sedikit tersenyum. Tipis memang, hanya sekedar membentuk sedikit garis di bibirku. Tidak mungkin bukan aku memasang muka datar bin jutek, sebagai penghormatan kepada atasan. Seandainya ini bukan bang Azka, mungkin aku akan sedikit berbasa-basi dengannya, tapi sudahlah.
"Maaf untuk?" Tanyanya membuatku mengerutkan kening.
"Ya maaf!" Ucapku bodoh lalu pura-pura fokus ke dokumen-dokumen yang tadi kubawa ke sini.
"Sudah makan?" Lagi-lagi aku mengerutkan kening menatapnya, aku ke sini untuk meeting, bukan untuk makan malam romantis.
"What? Makan malam romantis?" Fikiranku sepertinya sudah mulai bermasalah.
"Nanti aja di apartemen." Jawabku singkat lalu kembali melirik dokumen yang ada depanku.
"Do, pesankan kami makanan yang di tempat biasa." Perintahnya kemudian pada bang Aldo yang sejak dari tadi bersiap-siap menjadi operator di depan laptop dan proyektor.
"Gak usah!"
Jawab kami bersamaan.
Namun bang Aldo langsung beranjak keluar meninggalkan kami berdua. Suasana terasa semakin canggung buat aku. Sekali lagi ini karena dia adalah bang Azka. Aku sudah terbiasa meeting dengan bapak-bapak, tua muda, sudah menikah dan masih single, kadang hanya berdua, kadang lebih 10 orang dan hanya aku seorang perempuan di sana, tapi bagiku biasa saja, tidak sekalipun aku merasa gugup. Dan aku yakin, bang Azka pasti menyadari kegugupanku saat ini.
Bang Azka pindah ke tempat duduk bang Aldo tadi, yang itu artinya saat ini kami duduk berhadapan. Ia memainkan jarinya di atas pad laptop, kemudian membuka file power point yang tadi pagi aku berikan padanya.
Sepertinya ia sudah meng-highlight poin-poin yang mungkin menurutnya penting.
"Langsung saja, project kapal 50, saya perhatikan s-curve-nya, ini plan vs actual-nya sudah terdeviasi 15%. Kenapa tidak dibuatkan recovery plan-nya?" Tanyanya tanpa basa basi.
"Oh, itu karena main engine-nya delay pak dan setelah melakukan beberapa simulasi, ini bisa diatasi dengan membuka akses, bisa dari atas atau bisa juga dari bagian depan dengan sistem katrol. Saat ini sedang di-review oleh pihak design engineering. Jadi, proses erection block tidak perlu ikut delay. Setelah main engine di-install, paling deviasinya tinggal 5% atau kurang." Jawabku panjang lebar membuatnya terdiam sejenak sepertinya mencoba mencerna informasi yang aku sampaikan tadi.
"Oke, baik! Terus pantau di bagian procurement status main engine-nya." Ucapnya kemudian.
"Oh, yang saya tau seharusnya hari ini sudah tiba di pelabuhan tanjung priok, pak. Jadi, jika tidak ada masalah di bea cukai, dua atau tiga hari lagi barangnya sudah tiba di yard."
"Oke, bagus kalo begitu. Selanjutnya, project kapal 63, jika mengikuti milestone-nya di schedule, minggu depan sudah keel laying. Kenapa mesti dimulai dari block107, kenapa tidak dari block104 sebagai center block of double bottom?"
"Itu karena block107 adalah posisi letak main engine pak, semakin cepat tempat main engine siap, semakin cepat main engine di-install, maka semakin cepat pula pre-commissioning dimulai." Bang Azka kemudian mengangguk-anggukan kepalanya, seharusnya dia sudah cukup paham dengan strategi pembangunan dengan work sequence seperti ini.
__ADS_1
Saking asyiknya berdiskusi panjang, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Diskusi yang mengalir bagai aliran induk sungai yang mengisi anak-anak sungai yang didapatinya. Tidak ada kecanggungan, kami sangat lepas berbincang seperti teman lama yang baru saja berjumpa setelah sekian tahun berpisah, terkadang kami tidak sependapat, ia memberikan skenario-skenario yang jujur tidak sempat saya fikirkan.
Luar biasa, berjam-jam duduk berdua membahas pekerjaan. Saking seriusnya, aku tidak ingat kapan makanan dan snacknya kami habiskan, kapan bang Aldo datang membawanya dan dimana dia sekarang?
"Pak, sepertinya ini sudah sangat larut malam, saya harus segera pulang!" Ucapku menyela mencoba mengingatkan bang Azka karena jika mengikuti pembicaraan kami, rasanya tidak akan habis dibahas selama tujuh turunan.
"Saya antar!" Ucapnya tegas lalu berdiri mengambil barang-barangnya di meja kerjanya.
"Ayo!" Ajaknya kemudian membukakan pintu.
"Tapi, saya bisa pulang sendiri pak. Di bawah ada teman yang menunggu?" Kenyataannya, aku memang sudah meminta Badai menungguku sejak tadi sore.
"Tidak baik anak gadis naik motor malam-malam apalagi dengan laki-laki yang bukan mahramnya!" Ucapnya dengan sorot mata yang tajam dan sulit aku artikan.
Aku berjalan mengikutinya sampai kami sudah tiba di ruanganku. Lagi-lagi dia membukakan pintu untukku. Di dalam sudah ada Badai sedang tidur di kursiku dengan dua kakinya ditaruh di atas meja. Mulutnya mangap, dengkurannya lumayan keras, aku bisa melihat ilernya di salah satu sudut bibirnya.
Demi apapun, aku tidak bisa menahan diri untuk menjahili Badai.
"Kebakaran..kebakaran! Woi..kebakaran!!!"
Badai terjatuh dari kursi saking paniknya, masih setengah sadar dia seperti orang linglung berdiri hendak berlari keluar.
Aku tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi panik Badai.
"Woi.. bangun..bangun!!!" Kataku memukul-mukul pundaknya.
Seketika kesadaran Badai sudah terkumpul.
"Sialan lo monyong! Gue dikerjain?"
"Lo sih, tidur apa mati?" Tanyaku sambil merapikan tas ranselku.
"Lo sih kelamaan kencannya. Udah ditembak blom?" Ucapnya bodoh karena belum menyadari kalau orang yang dia maksud dari tadi berdiri di depan pintu.
Wajahku sudah tidak berbentuk demi memberi Badai kode agar menghentikan ocehannya, namun bibirnya tetap meletup-letup seperti mesin jagung tembak di pasar-pasar tradisional. Akhirnya aku melemparnya dengan sebuah bundel di atas meja.
"Lo apa-apaan sih Dea, jahat banget tau!"
"Eekkkhhhmmm..."
×××××
Dear Readers tersayang,
Author minta maaf yah kalau terlalu banyak memakai istilah asing, pengen tak jelasin satu-satu tapi jempol udah lelah.
Soalnya author nulis di HP. Maaf yah..
Jika ada kesalahan, mohon koreksinya😍
__ADS_1
_big hug_