Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Marah


__ADS_3

Bab 17 Marah


Badai


"Lo sih, tidur apa mati?" Tanya Dea masih dengan sisa tawanya sambil memberekan tas ranselnya.


"Lo sih kelamaan kencannya. Udah ditembak blom?" Aku balik bertanya padanya, soalnya aku nunggunya sampe bosan, aku seperti orang bodoh menunggunya sendri di sini.


Aku terus menumpahkan berbagai kekesalanku padanya sampai nyinggung-nyinggung malasah pak GM teman masa kecilnya Dea yang kurang ajar yang bikin emosiku naik tiba-tiba jika teringat curhatan Dea tempo hari di apartemen bahwa ternyata laki-laki yang telah menyakiti hati Dea saat dulu adalah laki-laki yang sama dengan yang menjadi atasan mereka saat ini.


Wajah Dea seketika memerah, lalu tiba-tiba memucat kemudian wajahnya menunjukkan berbagai ekspresi, bibirnya dimonyong-monyongin, matanya dipelotot-pelototin, kepalanya digeleng-gelengin ke arah pintu, sampe akhirnya Dea mengambil bundel kertas yang lumayan tebal di atas mejanya lalu melemparku.


"Lo apa-apaan sih Dea, jahat banget tau!"


"Eekkkhhhmmm..."


Tiba-tiba ada suara deheman laki-laki hadir diantara kami. Aku membalik tubuhku ke arah pintu.


"Subhanallah.." Aku kaget. Orang yang tadi kumaki-maki sekarang berada tepat di depanku. Matilah aku, aku sudah ikhlas jika harus dipecat meskipun baru lebih sebulan bekerja di sini.


"Se..selamat malam pak, Azka!" Sapaku tertunduk lemah dan pasrah.


"Malam!" Terdengar suaranya datar, sepertinya tidak terganggu dengan makianku tadi.


"Ayo!" Ajak pak Azka yang seperti perintah pada Dea yang masih berdiri mematung di dekatku.


Pak Azka berjalan keluar meninggalkan ruangan disusul Dea kemudian. Saat melewatiku, Dea sempat bicara satengah berbisik.


"Gak usah takut, kamu gak bakal dipecat kok!" Dea menepuk dua kali pundakku kemudian pergi.


Aku terduduk lemas berusaha menenangkan diri. Tapi setelah kufikir-fikir, aku tidak menyesali semua yang tadi aku ucapkan. Orang itu layaknya mendapatkan beberapa bogem mentah dariku karena sudah pernah menyakiti Dea di masa lalu.


*****


Azka


Apartemen Dea tidak terlalu jauh dari kantor, tidak cukup 20 menit, kami sudah sampai di parkiran apartemennya. Selama di perjalanan tadi tak ada satu pun diantara kami yang membuka percakapan.


Bagaimana gue tau alamat Dea, tentu saja dari bunda karena salah satu topik pembicaraan favoritnya adalah tentang Dea. Kadang gue bosan karena terkadang bunda sudah menceritakan hal itu tapi diceritakan lagi berulang-ulang.


"Terima kasih, pak" Ucapnya kemudian membuka seatbelt dan keluar dari mobil.


Hanya itu?


Hanya itu, Dea sudah berjalan masuk ke dalam lobby apartemennya dan memghilang. Gue kemudian melajukan mobil untuk pulang ke rumah.


Setelah malam itu, gue sudah sangat jarang melihat Dea, paling seminggu sekali saat meeting mingguan dengan para project manager untuk mengetahui weekly progress report mereka. Itupun terkadang Dea tidak ikut meeting jika tidak ada issue yang dianggap terlalu penting olehnya.

__ADS_1


Dua bulan ini gue juga terlalu sibuk melakukan banyak perubahan, gue menemukan banyak permainan yang merugikan perusahaan. Ada satu orang project manager yang gue pecat karena terbukti bermain mata dengan salah satu perusahaan sub-contractor kami.


Beberapa karyawan di lapangan juga gue pecat karena mencuri barang-barang di atas kapal yang sudah launching yang bersandar di jetty. Kebanyakan yang mereka curi adalah kabel-kabel listrik yang seharusnya digunakan di kapal malah mereka ambil bekerja sama dengan kapal-kapal nelayan di sekitar. Gue yakin, bukan hanya kabel yang mereka ambil, pasti sudah banyak fasilitas lain yang mereka angkat pergi melalui kapal nelayan saat malam hari.


Gue benar-benar ingin membenahi perusahaan ini agar menjadi lebih baik dan menjadi Galangan Kapal terbesar dan tersukses di Indonesia. Akan banyak yang dikorbankan, akan banyak suara-suara merendahkan, namun bagi gue itu tidak masalah. Bukan berjuang namanya kalau jalannya selalu mulus-mulus saja.


"Braakkkkk..." Gue membanting sebuah helmet putih ke lantai.


"Bagaimana mungkin kalian membuat satu block kapal seberat 400 ton?" Kecamku keras memandang semua wajah-wajah tegang yang ada di hadapanku.


"Otak kalian dimana?"


"Sudah tau kita hanya memiliki satu crawler crane 500 ton, ini di slipway, bukan di drydock. Kalian mau angkat pakai apa? Mau saya gantung blocknya di kuping kalian?" Gue mendengus menyandarkan punggung ke kursi. Gue masih tidak habis fikir mengapa tidak ada satupun di antara mereka yang memikirkan hal ini.


"Maaf pak!" Sebuah suara berani memecah suasana tegang diantara peserta meeting. Gue hafal suara itu.


"Saya ingin mengusulkan dua hal!" Imbuhnya.


"Silahkan!" Gue memandangnya dengan memangku dagu dengan satu telapak tangan.


"Kita bisa memecah block ini menjadi dua bagian, itu usulan pertama. Tapi konsekuensinya ini akan memakan waktu lagi. Waktu untuk membelah dan waktu untuk menyatukan kembali setelah erection block, termasuk beberapa outfitting-nya yang mungkin akan terkena imbas juga."


"Yang kedua, block ini akan tetap kita install, tapi dengan menggunakan 4 crawler crane sekaligus. Saya rasa operator kita adalah orang-orang expert semuanya. Kita punya satu crane 500 Ton, 2 crane 250 ton dan kita bisa rental crane 250 ton milik perusahaan tetangga." Tatapan kami sesaat saling mengunci.


"Menurut bapak bagaimana?" Tanyanya kemudian memutus kontak mata denganku kemudian mengedarkan pandangannya kepada semua peserta meeting seolah meminta dukungan.


"Tolong buat simulasi skenario ke-2 tadi kemudian segera infokan ke saya!" Ucap gue dan langsung meninggalkan meeting.


Gue berjalan cepat ke ruangan gue, mumet kepala gue memandang wajah-wajah mereka semua tadi. Kecuali Dea yang lagi-lagi mampu memberikan jalan keluar yang cepat. Sebenarnya gue merasa sedikit bersalah saat membanting helmet tadi, gue bisa melihat wajah pucat Dea. Gue tau banget dia paling takut melihat orang marah dengan membentak-bentak dan membanting barang. Untungnya tadi tidak nangis, bisa lain ceritanya andai dia nangis guling-guling di lantai.


*****


Dea


Dea mengajak Badai dan Rara menemaninya makan siang di mall, sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama. Apalagi setelah Rara sudah menikah dengan Deon, Rara ikut tinggal bersama Deon, jadi mereka benar-benar tidak pernah lagi makan siang bersama.


Akhirnya mereka ber-4 memilih makan di salah satu restoran yang cukup mewah di sana. Dea yang akan traktir, kebetulan Deon juga ikut, jadi kata Dea sekalian buat syukuran pengantin baru.


"Kalian berdua masih belum kefikiran nikah gak setelah lihat kami berdua udah nikah?" Tanya Deon saat mereka masih memilih-milih menu.


"Gue tunggu bu manager laku dulu, kasihan kalo gue tinggal juga. Cukup Rara!" Jawab Badai sambil mencibir ke arah Rara.


"Aku gakpapa kok Bad, namanya jodoh, bisa datang kapan saja. Kalo aku gak nikah-nikah sampe jadi nenek-nenek, yakin kamu masih mau nungguin?" Tanya Dea meledek membuat tawa meraka semua pecah.


"Ngomongnya itu yang baik-baik, bu! Jadi gadis tua beneran nyesel lo baru tau rasa." Badai agak kesal melihat Dea.


"Iya..iya.. serius amat. Orang bercanda doang." Dea jadi ikut-ikutan kesal sama Badai.

__ADS_1


"Udah ah, bertengkar mulu." Rara berusaha melerai.


"Gimana rasanya nikah sama si Deon yang katanya anak elektrical terganteng se-BM?" Tanya Dea menampakkan wajah bangga Deon demi mendengar pertanyaan Dea.


"Gue nyesel, De?" Jawab Rara spontan tanpa rasa bersalah di wajahnya.


Mereka bertiga memandangnya heran penuh dengan tanda tanya. Wajah Deon sudah memerah, entah apa yang dirasakannya saat ini.


"Nyesel, kenapa tidak dari dulu-dulu ketemu sama mas Deon kesayangan aku." Imbuhnya sambil menatap penuh cinta pada Deon yang duduk di hadapannya.


"Huh..kirain!!!" Ujar Badai menghela nafas lega.


"Woi..woi..nyebut! Ini di tempat umum!" Ucap Dea merasa jijik melihat kelakuan pengantin baru itu. Namuan protes Dea tidak dipedulikan oleh Deon yang terus sibuk mengecup mesra punggung tangan Rara.


"Kok gue tiba-tiba rasa gerah yah?" Ujar Badai.


"Makanya nikah..nikah bro!" Ucap Deon sarkas.


Mereka terus melemparkan candaan sambil menikmati makan siang. Sayang sekali waktu istrirahatnya hanya satu jam, jadi tidak terasa waktunya sudah habis.


Saat menuju ke parkiran, tidak sengaja mereka bertemu Azka dan Chyntia di sana. Saat menyadari kehadiran mereka, Chyntia langsung bergelayut manja di lengan Azka. Azka yang merasa tidak nyaman berusaha melepaskannya namun Chyntia enggan melepasnya.


Dea merasa itu bukan urusannya, terserah bang Azka mau jalan dengan perempuan manapun yang disukainya. Hanya demi menunjukkan kesopanan kepada atasannya di kantor, Dea terpaksa melemparkan senyum terbaik yang dimilikinya kepada pasangan tersebut. Namun, entah mengapa seperti ada yang mencubit hatinya saat melihat pemandangan itu.


"Selamat siang, pak!" Sapa mereka yang dijawab anggukan oleh Azka.


"Wah, Dea udah move on yah, udah punya gandengan yah sekarang. Kenalin dong!" Ucap Chyntia dengan suara dibuat selembut mungkin.


"Oh, mba mau kenalan sama yang mananya nih? Soalnya gandengan saya sekarang ada dua." Jawab Dea asal membuat wajah Chyntia bermuram durja. Niatnya mau menekan Dea malah dibalas dengan enteng oleh Dea.


Tanpa basa basi lagi mereka langsung masuk ke mobil dan berlalu pergi.


"Kok bisa yah pak Azka suka sama perempuan macam mak lampir gitu?" Tanya Rara merasa menyayangkan Azka yang punya pacar seperti Chyntia.


"Cantik, seksi! Laki-laki mana yang kuat iman?" Ujar Deon.


"Oh, jadi kalo mas Deon digoda cewek macam mba Chyntia, mas gak bakal nolak gitu?" Rara melotot tajam pada suaminya itu.


"Enggak yang..bukan itu masuk aku. Makanya doakan mas biar imannya selalu kuat. Okey yang..yah..yah.." Deon kelabakan menenangkan Rara.


"Rasain, makanya jaga mata, biar imannya juga kejaga." Ujar Badai menyentil Deon.


"Alah.. yang melotot liat mba Chyntia sampe gak berkedip tadi itu siapa?" Tanya Rara yang ternyata tadi sempat-sempatnya memperhatikan reaksi Badai.


Dea hanya geleng-geleng kepala dan sesekali ikut tertawa mendengar percakapan sahabat-sahabatnya itu selama dalam perjalanan pulang ke kantor. Senang rasanya menghabiskan waktu bersama mereka.


×××××

__ADS_1


__ADS_2