Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Tawaran


__ADS_3

Bab 55 Tawaran


Total E&P Denmark, sebagai operator Tyra Field telah menginvestasikan 300 juta dollar untuk proyek Redevelopment Tyra ini. Ladang minyak Tyra sendiri adalah ladang terbesar di Denmark yang memenuhi 90% kebutuhan gas alam di negeri tersebut. Sumur tersebut sudah berproduksi sejak tahun 1984.


Saat ini telah berkumpul perwakilan lima perusahaan besar untuk memperebutkan proyek EPCC (Engineering, Procurement, Construction and Commissioning) Tyra tersebut. Selain itu masih ada banyak perwakilan dari perusahaan lain untuk jenis pekerjaan diluar EPCC ini, seperti  DNV-GL untuk verifikasi dan support services-nya selama proyek ini berlangsung dari fabrikasi sampai install di lapangan. Ada yang kerjakan Subsea-nya, ada yang dikontrak untuk membongkar platform lama, dan banyak lagi.


Tapi, yang terpenting saat ini adalah bahwa BM Shipyard berhasil mendapatkan proyek pembangunan Topside, wellhead dan bridges-nya. Nilai kontrak proyek ini sendiri antara 500 - 750 juta dollar.


"Say what?"


"Alhamdulillah..."


Azka dan tim seperti tak percaya setelah mendengarkan pengumuman nama perusahaan mereka disebut sebagai salah satu pemenang tender proyek tersebut. Waktu terasa berhenti sejenak, ini sungguh luar biasa. Andai Aldo ada di sini saat ini juga mungkin Azka akan menciumnya, feeling-nya benar!


Tak henti-hentinya Azka mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada tim yang mendampinginya atas kerja keras mereka hingga mereka mendapatkan proyek ini. Ini adalah kabar besar bagi keluarga besar BM Shipyard dan juga masyarakat Papua tentunya. Ribuan tenaga kerja akan terserap dan perekonomian warga sekitar tentu saja akan terdampak baik dengan hadirnya salah satu perusahaan besar di pulau ujung timur Indonesia itu.


Semua orang tahu bahwa tanah Papua sangatlah potensial untuk investasi perusahaan besar. Selain kaya dengan sumber daya alamnya, garis pantainya yang membentang sepanjang 1.170 mil dengan luas perairan territorial mencapai 45.510 km.


Jika saat ini Papua terkenal dengan ladang emasnya di Timika, ada sumur minyak dan gas di Sorong dan teluk Bintuni, ke depannya Azka akan menjadikan Kota Jayapura menjadi kawasan industri galangan kapal dan bangunan lepas pantai.


Kalian tahu? Di saat kalian bisa menikmati gas murah bersubsidi untuk memasak, masyarakat di Papua masih masak pake kompor minyak tanah. Kalau mau masak pake gas, siapkan duit tebal-tebal. Kalian tidak pernah tau rasanya jadi orang Papua saat berasnya habis, gasnya habis, listriknya juga habis secara bersamaan. Kalau kalian tidak punya duit jutaan di saat itu, maka selamat bergelap ria, jika kalian putuskan tidak mengisi pulsa listrik, atau masaklah pakai kompor minyak jika yang di skip adalah beli gas.


Papua yang memiliki sumur gas, tapi mereka yang harus beli gas mahal-mahal. Mereka yang punya gunung emas, tapi masih ada diantara mereka yang harus mencari uang dengan cara memalak masyarakat pendatang. Ironi negeri +62, negeri kaya raya akan sumber daya alam, tetapi yang menikmati hanya segelintir orang. Lihat saja pak lurah kalian, baru setahun menjabat sudah bisa punya mobil mewah, rumah mewah, dan lain-lain. Dari lurah sampai atas-atasnya, sejahtera bukan? Kalian yang dapat 100 ribu saat nyoblos kemarin dapat apa?


(Eh, readers di sini mah pemilih cerdas😍)


Azka mengambil ponselnya kemudian mengirimkan pesan kepada kedua orang tuanya tentang kabar keberhasilannya. Ia sadar, dibalik keberhasilannya, ada doa yang tak pernah putus dari orang tuanya. Kalau kata ustadz AH, bisa jadi kesuksesan yang kita dapatkan saat ini, 70%nya adalah karena doa seorang ibu, 30% barulah hasil dari usaha kita.


Dan tentu saja ini adalah rezeki anak dan istrinya. Ah, Azka harus menekan kekecewaannya, ia tidak tau bagaimana caranya memberi tahu istrinya akan kabar bahagia ini, ada peran penting langsung dari Dea dalam persiapan materi tender saat sebelum di submit dulu.


*****


Dea sedang menikmati akhir pekannya dengan memasak bersama uni Rika. Atas permintaan kak Limpo, mereka masak coto Makassar (olahan dari perut, limpa, jantung dan daging sapi) sebagai menu utamanya, kemudian barobbo (bubur jagung) sebagai menu tambahan.


"Minggu depan kami mau umroh, mau ikut gak?" Tanya uni Rika sambil memblender kacang tanah goreng untuk bahan coto.


"Apa uni?" Dea tidak begitu dengar ucapan uni Rika tadi karena suara blender yang cukup memekakkan telinga.


Uni Rika mematikan blendernya. "Uni bilang mau umroh, berangkatnya minggu depan bareng anak-anak dan abahnya. Kamu mau ikut gak?"

__ADS_1


"Oooo.." Dea membulatkan mulutnya, kemudian berfikir sebentar. "Sepertinya belum bisa, uni. Aku belum dua bulan kerja masak udah ambil cuti?" Ucap Dea menggeleng.


"Iya juga. Uni lupa."


"Lain kali aja Uni, rugi udah dekat tapi gak sempat ke Mekkah."


"Iya, ini udah yang ke tiga kalinya buat uni selama ikut abahnya anak-anak di sini. Alhamdulillah tahun lalu kami haji sekeluarga. Kalau bisa, naik hajinya saat masih muda karena haji itu betul-betul ibadah fisik. Kalau fisik tidak prima, jangan sampai ibadahnya tidak lancar."


"Iya juga sih, uni. Selagi di sini yah. Kalau hajinya saat sudah di Indonesia, daftar tunggunya panjang banget. Kalau mau cepat, lumayan mahal juga."


"Iya, lama dan mahal." Ucap uni Rika memperjelas. "Negara kita itu, kalau ada yang susah kenapa mesti dikasi mudah? Kalau ada yang mahal, kenapa harus murah? Padahal, kalau pemerintah serius, bisa bikin hotel di Mekkah, saat diluar musim haji, hotelnya disewakan, kan jamaah umroh juga banyak, satu sumber biaya selesai. Masalah kedua, pesawat! Tinggal beli pesawat, disewakan juga saat bukan musim haji. Dua masalah keuangan selesai. Bahkan kemungkinan penghasilan dari pesawat dan hotel ini bisa mensubsidi balik ke calon jamaah ke depannya. Haji jadi murah, tinggal lobi-lobi aja biar kuota ditambah, biar daftar tunggunya bisa ditekan." Ucap uni Rika semangat mengeluarkan semua uneg-unegnya.


"Wah, udah bisa jadi menteri agama nih, uni!" Ucap Dea bercanda.


Mereka berdua pun tertawa.


"Bukan menteri, tapi komisaris BUMN."


Kembali mereka tertawa keras.


"Bukannya harus jilat sana sini dulu baru bisa jadi komisaris." Tanya Dea.


"Kalo solusinya mesti dari rakyat jelata semacam kita, mereka kerjanya apa dong?"


"Kerjanya yah ngebacot sama abisin duit negara!"


"Wah.. cerita apa nih sampai heboh gitu?" Tiba-tiba kak Limpo datang menyela diskusi yang lumayan berat untuk ukuran emak-emak seperti mereka.


"Gak ada kok kak, intinya kami gak nge-ghibahin tetangga unit kita yang orang India itu kok." Jawab uni Rika malas menceritakan bahan pembicaraannya tadi dengan Dea.


Ia teringat dengan cara memasaknya yang sungguh membuat perutnya seperti diaduk-aduk sementara tetangganya itu sangat rajin berbagi makanan dengannya. Awalnya uni Rika sangat suka, menurutnya sangat enak, tapi saat berkunjung ke unit tetangganya itu dan melihatnya membuat makanan yang biasa ia kirim untuk dirinya, sejak saat itu uni Rika puasa memakan makanan khas India lagi.


*****


Sudah tiga hari Azka berada di Mekkah, setelah semua urusannya di Denmark selesai, ia segera bertolak ke Mekkah. Rencananya, setelah seminggu berada di Mekkah, ia akan ke Palestina kemudian ke Turki.


Azka lebih banyak menghabiskan waktunya di mesjid daripada di hotel tempatnya menginap. Ia akan ke mesjid dari jam tiga dini hari dan kembali setelah sholat isya.


Seperti saat ini, ia masih memilih tinggal duduk membaca Al Qur'an di depan ka'bah setelah sholat Isya.

__ADS_1


Seseorang menepuk pundaknya.


"Azka!"


Azka berbalik ke arah sumber suara.


"Kak Limpo? MaasyaAllah.. bagaimana kabar kak? Udah lama banget baru ketemu." Azka langsung menjabat tangan kak Limpo kemudian berpelukan.


"MaasyaAllah, Alhamdulillah.. baik, baik.. sama siapa? Udah lama di sini?"


"Sendiri saja kak, Alhamdulillah, ini sudah hari ketiga. Anak istri ikut?" Tanya Azka semangat.


"Iya, tapi mereka di Hotel istirahat. Masih capek setelah perjalanan dari Dubai. Udah nikah belum?"


Azka tersenyum kecut menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah kak, tapi ada masalah sedikit. Makanya ke sini untuk menenangkan diri dan memohon petunjuk. Semoga setelah ini diberi jalan terbaik."


"Aamiin.. InsyaaAllah. Berapa lama di sini? Gak mau sekalian ke Dubai? Berkunjunglah ke tempat tinggal kami." Ucap kak Limpo menawarkan.


"Terima kasih kak, tapi saya sudah punya rencana lain." Tolak Azka lembut.


"Sayang sekali, padahal baru juga ketemu setelah sekian tahun dari Jepang dulu." Ada sedikit raut kekecewaan di wajah kak Limpo.


"Iya kak, saya juga sudah resign dari Mitsui hampir setahun ini. Masih di McDermott atau sudah pindah?"


"Alhamdulillah, masih. Oh yah, saya mau balik hotel dulu, ini kartu namaku, kali aja berubah fikiran mau ke Dubai."


Azka mengambil kartu nama tersebut kemudian memasukkannya ke saku celananya.


"Siap kak?"


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Gimana? Kira2 Azka bakal berubah fikiran atau tetap dengan rencana awal???


Kasi like dan comment serta votenya yah, biar author semangat. Hehe..

__ADS_1


Thanks😘🤗


__ADS_2