Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Api Cemburu


__ADS_3

Bab 44 Api Cemburu


Azka


Azka memarkirkan mobilnya kemudian naik ke ruangannya melalui jalan khusus untuk dirinya seorang. Ia tidak ingin mendengar bisik-bisik karyawannya jika melihat ia ke kantor tanpa membawa Dea.


"Nyonya besar mana?" Tanya Aldo saat memasuki ruangan Azka dan tidak melihat keberadaan Dea di sana.


"Di rumah, ada Caca minta ditemani." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor yang ada di hadapannya.


"Oh, kirain dia udah melipir duluan ke lapangan." Ucap Aldo tersenyum kecut. "Ini lo pelajari!" Aldo meletakkan sebuah map merah di meja Azka.


Azka langsung membukanya dan mulai membaca. Sesekali ia nampak mengerutkan keningnya.


"Ini diabaikan saja, gue malas dapat client terlalu banyak minta additional work seperti ini. Untuk sementara kita tidak akan menerima proyek ship repair. Drydock sama syncrolift kita udah penuh. Kalaupun beberapa bulan lagi sudah ada yang kosong, tapi kita juga akan segera memulai fabrikasi proyek baru. Jadi yang seperti ini ditolak saja dulu."


"Oke, nanti gue yang bereskan mereka." Ucap Aldo enteng.


Ponsel Azka tiba-tiba bergetar menampakkan panggilan telpon dari bundanya. Aldo mengundurkan diri saat Azka mulai menjawab telponnya.


"Assalamu'alaikum, bunda."


"Wa'alaikum salam. Sehat, Ka?"


"Alhamdulillah, bagaimana kabar oma?"


"Alhamdulillah, sudah mulai sedikit membaik, tapi belum boleh keluar dari Rumah Sakit. Dea mana? Bunda telpon gak diangkat."


"Mungkin dia gak dengar, dia lagi sama Caca ke mall."


"Ooo.. bagaimana hubungan kalian?"


"Alhamdulillah, bunda doakan kami selalu."


"Iya, doa bunda selalu menyertai kalian berdua. Kamu baik-baik sama istrimu. Muliakan dia dengan bersikap lembut padanya. Perempuan itu sama seperti kaca saking begitu cepatnya mereka berubah dari ikhlas menjadi tidak ikhlas,  perempuan itu sangat cepat berubah sikap dan fikirannya sebagaimana kaca yang mudah pecah dan tidak menerima kekerasan." Bunda menjeda kalimatnya sesaat.


“Kamu tau nak, sebuah kata yang kamu ucapkan bisa menjadikannya menjauh darimu sejauh bintang di langit, dan dengan sebuah kata yang kamu ucapkan bisa menjadikannya dekat hingga tepat di sisimu. Maka pandai-pandailah merawat hati dan perasaan istrimu. Jangan dikasari, jangan dibentak, jangan diejek, jangan dicemooh, jangan dilecehkan, jangan dibandingkan. Jangan dimarahi, jangan dipukul, jangan disakiti, jangan ditinggalkan, jangan diabaikan, jangan ditelantarkan, jangan dilukai, jangan dijelek-jelekkan. Muliakan dan berlaku lembutlah kepadanya."


Suara bundanya terdengar bergetar menyampaikan nasehatnya panjangnya kepada putra sulungnya itu. Beliau sadar, fondasi rumah tangga anaknya tersebut belum terlalu kuat dan mengakar. Sementara cobaan dan ujian pasti akan datang silih berganti menghampiri mereka.


"Iya bunda, Abang akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Dea." Mata Azka kini berkaca-kaca. Sungguh nasehat bundanya tadi begitu menghujam jauh ke dasar hatinya.


Azka cukup tau diri bahwa dirinya masih banyak kekurangan sebagai suami untuk Dea, ia masih pemula dalam urusan cinta dan rumah tangga.


Meskipun baru dua bulan lebih menikah, namun Azka sudah merasakan bahwa urusan kerumahtanggan itu sulit namun sangat-sangat berharga dan layak untuk diperjuangkan. Tidak perlu repot-repot apalagi sampai bersusah payah mengharapkan semuanya terasa mudah.

__ADS_1


There's no short cut to make it easy!


"Ayah dan bunda tidak bisa berada di dekat kalian saat ini, jadi jangan pernah membuat istri kamu tidak diperhatikan, merasa diabaikan. Dia sekarang adalah prioritas utama kamu. Jangan sampai ia merasa tidak dicintai, buat ia merasa senyaman mungkin hidup bersama kamu. Okey?"


"InsyaaAllah bunda. Terima kasih, ini berasa habis kuliah kerumahtanggan 5 SKS." Azka tertawa sumir.


Setelah pembicaraan itu Azka tiba-tiba diserang rasa rindu yang mengalihkan semua keinginannya dari apapun selain hanya ingin memandang wajah Dea saat ini.


Tiba-tiba Azka merasa sesuatu bergejolak di dalam perutnya, ia segera berlari ke kamar mandi ingin memuntahkan semua isi perutnya. Namun tak ada apa-apa yang keluar, yang ada hanya rasa mual yang tiba-tiba datang tapi sesaat kemudian perasaan mual itu hilang.


Rasa rindunya pada Dea semakin menggelora, membuatnya ingin segera menemui istrinya itu.


*****


Dea


Saat bangun pagi tadi, sebenarnya Dea sudah melakukan testpack di kamar mandi, testpack itu dibelinya saat pulang kerja kemarin. Ia tidak berani banyak berharap, meskipun sudah terlambat datang bulan hampir dua bulan ini, namun ia ingin memastikannya sendiri terlebih dahulu.


Ada sedikit keraguan menghampirinya, meskipun alat testpack tersebut menunjukkan dua garis, namun satu garis terlihat sangat buram. Oleh karena itu ia meminta Rara menemaninya ke dokter kandungan setelah Rara pulang kerja. Kebetulan seharian ini Dea berada di luar rumah bersama Caca dan sorenya ia mengantar Caca ke Bandara.


Dea sengaja menunggu Rara di mall biar ia bisa sekalian sholat maghrib dan setelah itu makan malam dulu dengan Rara kemudian ke tempat praktik dokter kandungan yang ada di seberang mall.


Setelah beberapa saat menunggu Rara di musholla mall namun belum datang juga, Dea memutuskan jalan-jalan sebentar ke toko-toko jam tangan. Ia kefikiran hendak memberi sebuah jam tangan untuk Azka. Tapi sebelum itu ia sudah mengirim pesan kepada Rara posisinya saat ini.


Dea berjalan keluar masuk di beberapa toko jam tangan namun belum ketemu yang menarik di matanya.


"Dea!" Dea berbalik ke arah datangnya suara, Rara memanggilnya kemudian menghampirinya cepat. "Maaf telat, tadi agak macet dan aku sholat dulu tadi baru ke sini."


"Iya gak papa." Ucapnya tersenyum mengalihkan pandangannya ke arah dimana tadi ia melihat orang itu. Sesaat ia mengedarkan pandangannya mencari sosok itu dan akhirnya kembali ia melihatnya lagi.


"De, aku ke toilet dulu yah. Kebelet nih!"


"Iya, aku tunggu kamu di sini" jawab Dea tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok tersebut.


"Lihat siapa sih?" Tanya Rara penasaran.


"Kamu ingat bang Abimanaf gak? Sepupu bang Azka yang kemarin banyak bantu-bantu saat resepsi nikahan aku kemaren.Tuh, kayaknya orangnya." Ucap Dea menunjuk dengan memonyongkan bibirnya.


"Iya, bener-bener. Kamu sapa dia aja duluan, aku ke toilet dulu." Rara sudah tidak tahan.


Dea berjalan ke toko perhiasan tersebut.


"Bang Abi!" Tegurnya.


"Dea." Ujar Abimanaf atusias namun matanya seperti mencari-cari seseorang. "Sama siapa? Azka mana?"

__ADS_1


"Aku sama temenku bang, bang Azka masih di kantor." Jawab Dea tersenyum.


"Lagi ngapain bang?"


Abimanaf meletakkan kotak cincin yang masih dipegangnya, ia tersenyum kecut jemudian menggosok-gosok tengkuknya. Ia bingung mencari alasan, namun setelah difikir-fikir, tak apa mengatakannya pada Dea, mungkin Dea bisa membantunya memilih cincin yang cocok.


"Abang mau melamar seseorang, jadi milih cincinnya dulu, biar jadi kejutan buat dia."


"MaasyaAllah!" Dea begitu antusias dan bahagia mendengarnya, akhirnya setelah sekian tahun Abimanaf move on juga dari dirinya. "Selamat yah bang? Aku turut bahagia buat abang." Ucapnya tulus.


"Thanks." Abimanaf kembali menggaruk tengkuknya. "Tapi aku bingung, mau pilih yang mana, aku juga gak tau ukurannya." Abimanaf terlihat sedikit bingung.


"Hmmm.. memangnya abang gak bisa kira-kira aja gitu?"


Abimanaf menggeleng. Namun sesaat kemudian ia mendapat ide.


"Coba lihat jari kamu!" Dea mengangkat kedua tangannya.


"Sepertinya ukurannya sama dengan kamu, iya aku yakin!" Abimanaf kembali antusias.


Sambil memilih-milih cincin, ia akhirnya menemukan yang dianggapnya akan terlihat manis di jari perempuan yang sekarang mulai mengisi hatinya.


"Mas, tolong yang ini!" Pinta Azka kepada pegawai di toko tersebut.


"Ini pak!"


"Kamu coba dulu ini!" Abimanaf langsung mengambil tangan Dea dan langsung memasangkan cincin tersebut. "Cantik." Ucap Abimanaf.


"Iya bang, ini cantik banget. Pasti calon kakak ipar menyukainya." Ucap Dea memberi penilaian dengan senyum merekah di wajahnya.


Tanpa mereka sadari, seseorang memandang mereka dari jarak kejauhan sedang dibakar api cemburu, tangannya mengepal kuat hingga menampakkan buku jari tangannya memutih.


Sebuket bunga mawar yang dibawanya luruh jatuh ke lantai tanpa ia pedulikan lagi. Ia berbalik pergi dengan hati yang luka, luka sedalam-dalamnya luka.


Masalah!!!


×××××


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=****\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum Readers!


Thanks banget atas supportnya yah. Jangan lupa terus dukung novel ini dengan memberi like, comment dan vote-nya agar popularitas novel ini terus naik. Tekan tombol Favorit agar kalian bisa cepat tau saat ada update terbarunya. Karena InsyaaAllah author akan usahakan untuk update tiap hari.


Maaf jika banyak kekurangan, sarannya author tampung. Sekali lagi terima kasih.

__ADS_1


_Big Hug_


__ADS_2