Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Pengantar Tidur


__ADS_3

Bab 40 Pengantar Tidur


Hari-hari berlalu, Azka dan Dea layaknya pasangan yang sedang dimabuk cinta, mereka berdua selalu berdua, tak terpisahkan. Meski tak pernah ada pengakuan dan ungkapan cinta, namun hubungan mereka sangat harmonis. Tak ada pertengkaran sampai level adu urat.


Mereka tampak serasi, bukan hanya masalah keserasian fisik, kecerdasan mereka berimbang, menjadikan mereka lebih sering seperti teman diskusi, teman untuk dimintai pendapat dan bisa memberi solusi dan setelah diskusi-diskusi panjang mereka tentang segala hal, biasanya akan ditutup dengan aktifitas yang menguras tenaga.


Azka menatap lembut Dea yang tertidur setelah kelelahan berolahraga malam dengannya. Sebuah harapan diucapkannya di dalam hati, semoga kebaikan tanpa henti terus lahir di dalam pernikahan mereka. Ia sadar, bahwa hanya dengan memberi dan membuktikan cintanya terus menerus maka Dea akan bertahan di sisinya. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang waktu kebersamaan.


Azka meyakini, cinta itu tidak perlu diucapkan, terlalu rendah nilai cinta itu jika hanya dibatasi oleh sebuah kata. Cinta adalah tingkah laku yang terus melahirkan kebaikan-kebaikan yang sempurna seperti pohon;  akarnya terhujam di dalam hati, batangnya tegak dalam ketulusan dan buahnya menjumbai dalam perbuatan.


Ia merentangkan satu lengannya kemudian mengangkat kepala Dea agar berbantalkan lengannya. Satu lengannya yang bebas ia selipkan di bawah kepalanya sendiri. Menatapi langit-langit kamar yang disinari lampu tidur yang cukup redup.


Fikirannya melayang jauh, mengingat kejadian beberapa tahun silam.


#Flashback on.


"Dea..."


Sebuah suara mengalihkan perhatian Dea yang sedang asyik bermain basket bersama teman-temannya saat jam istirahat sekolah.


"Bang Abi!" Dea segera keluar dari lapangan menghampiri lelaki tampan berusia sekitar 20 tahun yang menunggunya di sisi lapangan.


Abimanaf tiba-tiba berlutut di depan Dea, setangkai bunga mawar merah yang sedari tadi ia sembunyikan di belakangnya sekarang ia sodorkan pada Dea.


"Mau gak jadi wanita terspesial buat aku?"


Dea terlihat shock, kemudian matanya mengitari sekian banyak siswa-siswi yang menyoraki mereka.


Dan akhirnya, Dea mengangguk dan menerima bunga pemberian Abimanaf tersebut.


"Nah, bener kan apa kata gue selama ini? Anak itu hanya sok polos gak mau pacaran. Lihat tuh, baru dikasi bunga mawar aja udah luluh. Murahan sekali!!!" Ucap Chyntia memanas-manasi gue.


Gue berdiri, mendorong tangan Chyntia yang sedari tadi memegang ponselnya menunjukkan video itu padaku kemudian keluar dari kelas. Hatiku terasa panas seperti terbakar bara api yang begitu dahsyat. Gue benci melihat Dea mengangguki tawaran Abimanaf.

__ADS_1


"Azka! Tunggu, videonya belum selesai." Teriak Chyntia berusaha menahan gue, namun gue abaikan.


Seharian mood gue hancur lebur, gue bahkan membolos hari itu, sudah tak ada semangat untuk menjalani sisa hari di sekolah. Tiba di rumah, gue malah dikagetkan mendengar ayah sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


"Iya, baik. Jangan biarkan Yudha kemana-mana dulu, jaga ruangannya dan jangan izinkan siapapun menyentuh barang-barangnya sebelum saya tiba di sana."


" ............. "


"Pastikan orang-orang yang terlibat dalam penggelapan dana perusahaan segera terungkap semuanya. Jangan ada yang tersisa!"


" ............ "


Ayah memutus sambungan telponnya kemudian bergegas keluar rumah.


Jika pendengaran gue tidak salah, om Yudha terlibat dalam penggelapan dana perusahaan.


"Kurang ajar!" Gue mengepalkan tinju. Om Yudha yang diangkat ayah dari yang bukan siapa-siapa menjadi pemilik 10% saham di BM Shipyard ternyata seorang pengkhianat. Anak dan ayah sama saja, pengkhianat! Ternyata keberadaan mereka hanyalah parasit di dalam keluarga gue. Gue tidak akan memaafkan mereka.


Hingga beberapa hari kemudian, Dea berlari mengejar gue, akhirnya gue tidak bisa mengontrol emosi saat melihatnya dan keluarlah kata-kata kasar yang mungkin tidak akan pernah terlupakan dan termaafkan.


Hanya saja, setelah beberapa waktu tinggal di Jepang, akhirnya gue tau sebuah kenyataan bahwa ternyata om Yudha saat itu hanya dijadikan umpan untuk menjerat pelaku yang sebenarnya. Om Yudha rela dihujat bahkan dikucilkan demi mengikuti skenario penyelamatan perusahaan yang diambang kebangkrutan kala itu.


Dan untuk Dea, dia seperti hilang ditelan bumi, bahkan kabar kedekatannya dengan Abimanaf tak pernah lagi sampai ke telinga gue.


Dan sejak saat itu, gue memilih mematikan perasaan gue terhadap makhluk Tuhan yang berjenis perempuan.


#Flashback off


Gue memalingkan wajah ke arah Dea, menatapi wajah damainya yang menenangkan. Sesungguhnya gue merasa malu, sampai sekarang gue belum punya nyali untuk meminta maaf atas kejadian tersebut.


Karena dikuasai emosi, gue kembali melayangkan kata-kata tidak berperasaan sesaat setelah Dea resmi menjadi istri gue. Harga diri gue seperti diinjak-injak saat Dea menolak menikah dengan gue, membuat bunda seperti seorang pengemis cinta untuk gue. Ini sungguh memalukan. Gue masih bisa terima jika Dea memang ingin menolak, tapi gue sulit menerima melihat bunda memohon-mohon pada Dea saat itu.


Awalnya, gue hanya ingin memberi pelajaran kepada Dea, namun belakangan gue sadari, gue sayang banget sama dia, Dea adalah orang yang paling ingin kulindungi di sepanjang hidup gue. Dan yang paling gue senangi dari pribadinya, meskipun ia keras kepala, namun ia begitu penurut, ia sangat jarang membantah perkataan gue. Kekeras kepalaannya lebih pada teguh memegang prinsip, penuh komitmen! Kecerdasannya tidak lantas ia pakai untuk berbantah-bantahan dengan gue, dia benar-benar memposisikan dirinya sebagai istri yang baik dan disaat yang lain dia adalah orang yang sangat profesional dalam bekerja.

__ADS_1


Gue suka melihat semburat merah di wajah malu-malunya, gue senang melihat bibir manyunnya saat kesal, dan yang paling menarik dari kepribadiannya adalah sikap dewasa dan ketegarannya menghadapi situasi tersulit di dalam hidupnya.


Dea menggeliat kemudian membalik tubuhnya memunggungi gue, karena mata gue masih sulit terpejam, gue melangkah ke kamar mandi buat mandi junub sekalian ingin mendirikan sholat tahajjud.


Gue merasa sedang dipandangi seseorang saat sholat tadi, dan rupanya benar, Dea sedang menatapku saat ini.


"Kenapa bangun?" Tanya gue mendekatinya dengan sajadah yang sedang gue lipat di tangan.


Dia mengedikkan bahunya. Dia tampak berantakan namun justru terlihat sangat seksi.


Ditambah lagi saat ini ia hanya memakai kemeja gue yang dua kancingnya terlepas di bagian atas. Akhir-akhir ini Dea kelihatan aneh, ia lebih suka memakai kemeja ataupun kaos milikku. Katanya memakai pakaian gue lebih aman dibanding gaun malamnya.


Tentu saja itu bukan masalah buat gue, gue malah bahagia melihatnya, sepertinya ia sudah tergila-gila dengan aroma tubuhku.


"Jangan terlalu lama menatapku, nanti kamu jatuh cinta!" Ucapku duduk di sisi tempat tidur.


Ia memutar bola matanya jengah, seharusnya wajahnya saat ini sudah memerah, sayang sekali cahaya lampu di kamar cukup redup jadi tidak bisa menampakkan wajah malu-malunya yang menggemaskan itu.


"Kalau jatuh cinta sama aku, ngomong aja. Gak usah ditahan-tahan." Gue terkekeh menggodanya.


"Pede banget!" Ucapnya singkat kemudian memunggungi gue.


Gue ikut berbaring, memeluknya dari belakang, merapatkan tubuh gue dengannya, menciumi tengkuknya beberapa kali yang membuatnya menggeliat kegelian.


"Bobo! Ini sudah hampir jam 2 malam, besok kerja." Ucapnya mengingatkan.


Rasa kantuk pun akhirnya menghampiri, degup jantung Dea seperti nyanyian pengantar tidur yang terdengar indah lewat tangan kekar gue di atas dadanya. Mungkin ini adalah alunan nada terindah yang pernah gue dengar di sepanjang hidup gue.


×××××


Hallooooo readers..


Tak bosan-bosannya author ingatkan untuk membaca novel "KAPAL CINTA AYANA" agar lebih dapat feel-nya saat membaca novel in.

__ADS_1


Thanks😘


__ADS_2